Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENCARI INFORMASI


Koury dan Joe langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Kedua bola mata Koury terbelak saat tau siapa pemilik suara barusan.


"Leny?" Koury terkejut bercampur bahagia karena bertemu dengan sahabatnya kembali.


Spontan Koury berlari dan langsung memeluk Leny. Leny hanya tersenyum membalas pelukan dari Koury yang secara tiba-tiba terdengar suara senggugukan.


"Kamu kenapa?, kok tiba-tiba menangis?" tanya Leny khawatir. Namun Koury masih belum menjawabnya, ia justru semakin histeris dan semakin erat memeluk Leny.


"Apa yang sudah kamu perbuat pada istrimu ini Hyuga?!" tanya Leny menuduh dengan tatapan elangnya.


"E..e..eh, bu...bukan aku nona muda" jawab Hyuga ketakutan saat melihat sorot mata Leny yang sangat menyeramkan.


"Terus, kenapa dia sampai sesedih ini?!, tidak mungkin karena bertemu denganku kan?!. Pasti karena adalah sesuatu yang menimpah dirinya hingga sampai seperti ini?!" tanya Leny menebak.


Pada saat Hyuga ingin menjelaskan, tiba-tiba Daniel muncul dari balik pintu lift yang baru saja terbuka, lalu Damin langsung berlari menuju ke arah Daniel dan Daniel langsung menggendong putranya.


"Damin rindu Ayah ya?" tanya Daniel sambil berjalan menuju ke tempat Leny dan yang lainnya berdiri.


Kemudian perhatiannya tertuju pada Koury yang tengah memeluk istrinya sambil menangis senggugukan dalam pelukan itu.


"Apa belum dapat informasi dari mereka?" tanya Daniel pada Hyuga. Sedangkan Leny dan Wulan merasa kebingungan karena tak tau apa yang tengah mereka bahas.


"Ada apa sebenarnya ini suamiku?, kenapa Koury sampai sesedih ini?" tanya Leny khawatir.


"Adik perempuannya Koury tengah di culik, dan kami sedang berusaha mencari tempat itu" jawab Daniel menjelaskan.


"APA?!, DICULIK?" Leny terkejut.


"Kenapa bisa kak?" tanya Wulan khawatir.


"Sudah 1 harian dia tidak pulang ke rumah. Biasanya setelah selesai kuliah, dia pasti pulang ke rumah tepat waktu" jawab Hyuga.


"Di...hiks...dia gadis yang baik... hiks... penurut, dan dia juga tidak pernah pergi ke club-club malam ataupun mabuk-mabukan hiks... Aku yakin dia pasti di culik" sambung Koury menjelaskan.


"Sebaiknya kita pegi ke tempat lain. Kita ke ruangan keluarga saja" ajak Daniel, dan di anggukan oleh mereka.


Daniel dan yang lainnya pergi menuju ke tempat yang di sebutkan oleh Daniel tadi. Tak henti-hentinya Leny mencoba menenangkan Koury yang sedari tadi terus saja mengeluarkan air mata.


"Sudah-sudah, kamu yang tenang ya. Suamiku dan saudaraku yang lainnya pasti akan menemukan Adik kamu kok" ucap Leny mencoba menenangkan Koury sambil memapah sahabatnya itu.


"Aku berani jamin, kalau Adik kamu akan pulang dengan selamat dan tidak lecet sedikitpun" timpalnya tersenyum.


Mereka memasuki pintu lift dan menuju ke lantai paling atas agar bisa memberikan efek tenang untuk Koury yang sedari tadi menitihkan air matanya.


Di dalam lift, tak henti-hentinya Koury terus menangis memikirkan keadaan sang Adik yang sangat ia sayangi. Tak henti-hentinya juga Leny menyeka air mata Koury dan terus mencoba menenangkannya.


Setelah sampai di lantai paling atas, Leny menuntun sahabatnya itu menuju ke sebuah ranjang yang tersedia di ruangan tersebut.


Sedangkan Daniel dan Hyuga duduk di sebuah sofa. Daniel menyuruh Wulan untuk membawa Damin ke ranjang bersama Leny agar Daniel bisa menikmati beberapa batang rokoknya sembari menunggu kabar dari yang lainnya.


Daniel dan Hyuga duduk santai sambil menikmati rokoknya, sudah lumayan banyak puntung rokok yang berserakan di asbak karena menunggu kabar dari Rian dan yang lainnya. Daniel sampai memutar-mutar ponselnya karena sudah terlalu bosan menunggu informasi tempat para penculik itu berada.


"Aku juga sudah tak sabar ingin mencincang mereka kapten" sambung Hyuga ikut geram.


Daniel bangkit dari tempat duduknya lalu berkata "Sebaiknya kita juga mencari keberadaan mereka" sedangkan Hyuga hanya melongo mendongak menatap Daniel.


"Memangnya kau tau tempatnya?" tanya Hyuga bingung.


"Ada sebuah daerah di bagian selatan, di sana banyak orang-orang kriminal dan sarang para sampah-sampah. Kita kesana dan mencari informasi dari mereka" jawab Daniel


"Kenapa tidak dari tadi?" tanya Hyuga dan bangkit dari duduknya dengan semangat karena ada satu harapan walau masih abu-abu.


Lalu Daniel dan Hyuga menghampiri para wanita yang tengah berbaring di ranjang untuk pamit pergi mencari keberadaan Adiknya Koury. Hyuga melihat wajah istrinya yang tengah tertidur namun dengan dahi yang mengkerut karena sangat mengkhawatirkan Adiknya. Namun ada Leny yang dengan sabar dan penuh kasih sayang terus mengelus kepala Koury yang sedang tertidur di sebelahnya sambil menggenggam tangan Damin yang ikut tertidur.


"Bunda, Ayah dan Hyuga akan pergi untuk mencari keberadaan Adiknya Koury" ucap Daniel.


"Apa Ayah sudah tau dimana tempat para penculik itu?" tanya Leny sambil terus membelai kepala Koury yang tertidur pulas.


"Ayah akan mendatangi sebuah tempat yang dimana banyak para kriminal atau markas para sampah-sampah masyarakat. Mungkin di sana kita bisa dapat petunjuk" jawab Daniel.


"Baiklah suamiku. Tolong jangan sampai membunuh orang yang tidak terlibat dalam penculikan Adiknya Koury ya" ucap Leny menasehati.


"Bunda tenang saja, kami kesana bukan untuk memusnahkan tempat itu. Tujuan kami hanya untuk mencari informasi saja" jawab Daniel tersenyum.


"Apa Ayah yakin?, apa Ayah bisa menahan emosi pada orang-orang seperti mereka?" tanya Leny belum yakin.


"Nona muda tenang saja, kan di sana ada aku yang akan menjaga suami anda" sambung Hyuga yang menjawab.


"Kamu pikir aku bisa percaya begitu saja?, secara kalian berdua itu sama. Kalau dengan Kak Rian, aku masih bisa yakin kalau tidak akan ada pertikaian" ucap Leny mengejek.


"Kami akan meminimalisir terjadinya keributan Honey" jawab Daniel meyakinkan sang istri.


"Baiklah-baiklah. Cepat pergi, dan cepat kembali" ucap Leny mengizinkan.


"Pasti istriku" jawab Daniel tersenyum dan ia mencium kening istrinya tak lupa juga dengan putra tampannya.


"Nona muda, titip istri saya ya" ucap Hyuga yang masih khawatir dengan istrinya.


"Kau tenang saja, istrimu aman bila bersamaku" jawab Leny tersenyum.


"Dek, tolong jaga mereka ya" ucap Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Wulan.


"Iya Kak. Hati-hati ya, di ingat pesan dari istrinya tadi, jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, apa lagi sampai mental" jawab Wulan mengejek.


"Bawelnya" ucap Daniel mencubit pipi Wulan dengan gemas.


"Udah dong, kalau mau pergi, ya buruan. Jangan malah nyakitin Adikku" sela Leny membela Adiknya.


"Hehehe, iya Honey ampun" jawab Daniel dan langsung beranjak dari ruangan keluarga mereka.


Daniel dan Hyuga pergi menuju ke sebuah tempat yang dimana seakan tak ada keamanan setempat. Sarang para kriminal yang tersebar luas di daerah tersebut.