Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
BUKAN TEMPATNYA


Kevin terus berlari menuju ke dalam, dan ia melihat banyak orang-orang yang terkapar di lantai hingga membuat Kevin semakin gelisah karena aura dari kakaknya tak kunjung menurun atau pun menghilang.


Kevin mendatangi salah satu pria yang sudah di kalahkan oleh Daniel namun pria itu masih bernafas walaupun hampir tak sadarkan diri. Lalu Kevin berjongkok dan langsung bertanya pada pria yang sudah tak berdaya itu.


"Hey, ada apa ini? kenapa tempat ini begitu berantakan?" tanya Kevin sambil melihat ke arah sekitarnya.


"I..i..ini bu...bu..kan urusanmu" jawab pria itu terbata-bata menahan sakitnya akibat pukulan dari Daniel.


"Tidak perlu kau jelaskan aku juga sudah tau jawabannya. Ini semua pasti ulah mu dan para sampah-sampah lainnya kan?!" tanya Kevin menatap tajam ke arah pria yang terkapar di bawahnya.


Kemudian pria itu melihat ke arah belakang Kevin, lalu ia tersenyum karena ia melihat kalau ada rekannya berdiri tepat di belakang Kevin dengan sebuah senjata di tangannya.


"Hahaha. Kalau memang iya, kau mau apa?" tanya pria itu menantang Kevin.


Pria itu tersenyum menatap rekannya dan menganggukkan kepalanya seakan memberikan sebuah kode untuk segera menyerang Kevin selagi Kevin sedang lengah.


Rekan pria itu juga tersenyum dan berjalan menuju ke arah Kevin dengan langkah yang selembut mungkin agar Kevin tidak bisa mendengar suara langkah kakinya.


Lalu terdengar suara tembakan senjata api, sontak membuat orang-orang yang sedang fokus pada pertarungan antara Daniel dengan bos Yakuza itu sangat terkejut.


Tiba-tiba pria yang berada di belakang Kevin jatuh ke tanah dengan kepala yang sudah bolong.


"Permainan anak-anak" ucap Kevin dengan sombongnya dan tangan kiri yang memegang sebuah pistol.


Leny dan Wulan juga di buat terkejut dengan suara tembakan barusan. Leny berfikir kalau suara tembakan itu berasal dari dalam sekolah itu dan pikirannya langsung tertuju pada suaminya, ia takut kalau yang tertembak itu suaminya.


"Kakak seperti mendengar suara tembakan dek!" ucap Leny dengan wajah paniknya.


"Jangan-jangan mereka yang menembak" timpalnya semakin berfikir yang tidak-tidak.


Wulan tersenyum lalu menjawab "Tidak Kak, suamimu baik-baik saja kok, dia masih hidup dan suara tembakan itu memang berasal dari dalam, tapi bukan Kak Daniel yang tertembak".


"Benarkah?, darimana kamu tau sayang?" tanya Leny menatap Wulan penuh harap.


"Aku masih merasakan aura miliknya, dan ini semakin kuat" jawab Wulan tersenyum.


"Syukurlah" ucap Leny dan menyandarkan tubuhnya ke kursinya.


Kevin menatap dingin ke arah pria itu dan menyodorkan pistolnya tepat di atas kepala pria tersebut. Raut wajah pria itu berubah menjadi pucat karena takut kalau Kevin akan menarik pelatuk pistol yang ia pegang.


"Jawab!. Apa tujuan kalian datang ke tempat ini dan membuat keributan di sini?!" tanya Kevin menatap dingin pria itu dan membuat pria itu semakin ketakutan.


"Ji...jika aku menjawabnya apa kau akan mengampuni ku?" tanya pria itu gugup ketakutan.


"Semua itu tergantung jawaban yang keluar dari mulutmu!. Jika kau berkata jujur, maka peluru ini tidak akan menembus ke otakmu" jawab Kevin semakin menekan pelatuk pistolnya.


"Ba...ba.. baik-baik, aku akan berkata dengan jujur. Tolong jauhkan benda berbahaya itu dariku" ucap pria itu memohon.


"Tcih!" decak Kevin sambil menyimpan senjatanya.


"Se.. sebenarnya aku ini adalah salah satu dari anggota Yakuza, dan bos kami sedang berada di dalam sana. Kami semua hancur berantakan begini karena ada seorang guru yang habis-habisan menghajar kami semua, bahkan bos kami sampai pucat ketakutan ketika melihat wajah guru itu" jawab pria itu.


"Padahal dia hanya seorang guru biasa, tapi entah kenapa guru itu memiliki aura yang sangat besar sampai-sampai bos kami tak berdaya di buatnya" timpal pria itu.


Tiba-tiba tanpa berkata apa-apa Kevin langsung mengeluarkan senjatanya lagi kemudian. "Dor" suara tembakan dari pistol milik Kevin, dan peluru itu tepat mengenai kepala pria itu hingga bolong.


"Guru itu kakakku!. Kalian sudah berani membuat dia sampai seperti ini, maka nyawa kalian juga tidak akan ku ampuni" ucap Kevin santai dengan pistol yang masih mengeluarkan asap.


Setelah melakukan tembakan dua kali, dan dua orang itu juga sudah tewas mengenaskan di dekat pintu gerbang, Kevin langsung berlari ke dalam meninggalkan dua mayat itu.


Sesampainya dia di sana, ia langsung melihat Kakaknya yang sedang berdiri dengan tatapan mata yang sangat menakutkan, tengah menatap seorang pria dengan tubuh yang di penuhi sebuah tato. Bahkan Kevin sampai menelan ludahnya, ia juga ketakutan melihat wajah Daniel yang seperti itu, di tambah aura milik Daniel yang begitu menyeramkan.


"Kak!" teriak Kevin sambil melemparkan sebuah benda dari tangan kanannya.


Daniel melihat ke arah suara tersebut dan ia juga langsung menangkap benda yang di lemparkan oleh Kevin barusan.


"Ryu Ken?!" batin Daniel sambil menatap pedang miliknya. Sedangkan pria yang terduduk di depan Daniel semakin ketakutan melihat Daniel dengan senjata di depan matanya.


"Ja.. jangan-jangan i..i..itu pedang legendaris yang selama ini di ceritakan pada dunia gelap?. Konon kabarnya katana yang akan haus dengan darah itu sudah menebas ratusan kepala manusia yang berani menentang tuan muda" batin pria itu ketakutan.


"Semakin terkena noda darah, maka semakin tajam mata katana tersebut. Karena darah adalah makanannya" timpalnya.


Mata pria itu semakin terbuka lebar setalah Daniel mengeluarkan pedangnya dari dalam sarungnya. Ia langsung tau kalau pedang itu memang pedang legendaris yang beredar di dunia kegelapan.


"Benar dugaan ku. Kali ini aku benar-benar bisa melihat katana legendaris itu" batin pria itu menelan ludahnya karena melihat pedang itu dengan sebuah logo bergambar bintang di pinggir pedang tersebut.


"Kalian orang-orang yang ikut serta dalam dunia gelap pasti tau benda ini kan?!" tanya Daniel sambil mengelus katana miliknya. Sedangkan pria itu hanya diam saja karena sudah terlalu takut.


"Mitosnya katana tersebut, memiliki nyawa sendiri. Karena tidak sembarang orang yang bisa memilikinya kalau bukan katana itu sendiri yang memilih siapa tuannya" batin pria tersebut.


"Siapapun musuhku yang sudah melihat Ryu Ken ini dengan matanya sendiri, maka nyawanya sudah tak bisa di selamatkan lagi" ucap Daniel dingin sambil menatap kejam ke arah pria itu.


"Katana ini seakan berbisik padaku kalau dia sangat lapar, dia sangat tertarik dengan darah yang ada di tubuhmu" timpal Daniel tersenyum seperti orang yang terkena gangguan psikopat.


Semua orang yang mendengar kata itu dari mulut Daniel sendiri sangat terkejut. Mereka tidak menyangka Daniel bisa sekejam itu pada orang-orang yang sudah menentang dirinya.


"Apa jangan-jangan Daniel Sensei itu orang yang ada di buku itu?" batin Haruka bertanya-tanya.


"Karena di dalam buku juga tertulis kalau pemimpin Dark Shadow memiliki senjata yang sangat mengerikan. Tapi, tidak di tuliskan nama senjata itu. Namun di buku juga tertulis kalau ciri-ciri dari pedang itu. Ukurannya sepanjang tubuh manusia dewasa dengan logo bintang di pinggir mata pedang itu, dan senjata yang di pegang oleh Daniel Sensei sama persis dengan apa yang ada di buku" timpalnya menatap ke arah Daniel dengan tatapan kagum dan jantung yang semakin berdebar.


"Tapi sepertinya ini bukan tempat untuk kuburan mu. Aku akan menyiapkan tempat yang lebih layak untukmu" ucap Daniel.


"Kevin!. Bawa orang ini ke tempat itu, jangan apa-apakan dia sebelum aku ada di sana" ucap Daniel memerintah.


"Hahaha, baik Kak. Akan ku lakukan" jawab Kevin dan langsung melangkah menuju ke arah bos Yakuza tersebut.