Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SAMBUTAN MERIAH


Seusai mandi bersama, kini Daniel dan yang lainnya sudah berada di restoran hotel milik Daniel untuk menikmati makan malam bersama. Terlihat raut wajah Leny yang nampak bahagia dan lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya.


"Wah sepertinya kakakku ini lagi bahagia banget" ucap Wulan menggoda Leny.


"Hehehe, biasa aja kok dek" jawab Leny tersenyum sambil mencubit pipi sang adik.


"Ayo dong cerita, ada apa?" goda Wulan bertanya.


"Gak ada apa-apa loh sayang" jawab Leny.


"Ih kakak mah gitu, main rahasia-rahasia sama adiknya sendiri" ucap Wulan cemberut.


"Damin sayang, Bunda kamu kenapa ni?" tanya Wulan dengan gemas karena melihat keponakannya yang sedang memakan roti. Namun Damin hanya tersenyum menampakkan giginya dan roti yang belepotan di pipinya hingga membuat Wulan semakin gemas pada keponakan tampannya itu.


"Oiya Ayah. Gimana hari pertama menjadi seorang guru?" tanya Leny sambil membersihkan sisa makanan yang menempel di pipi putranya.


"Cukup menyenangkan Honey" jawab Daniel.


"Tadi siang Ayah berkata kalau Ayah sedang berolahraga?" tanya Leny lagi dan di anggukan oleh Daniel.


"Siapa lagi yang mencari masalah kak?" tanya Kevin menyambung.


"Sebenarnya mereka bukan mencari ku. Mereka mencari salah satu siswa di kelasku untuk melakukan peperangan" jawab Daniel menjelaskan.


"Jadi intinya kakak yang menghabisi mereka?" sambung Wulan bertanya.


"Ayah menghajar mereka?, mereka masih anak-anak loh suamiku" sela Leny bertanya.


"Bukan Honey. Sekalipun Ayah tidak ada memukul atau menghajar mereka. Justru mereka kalah dengan saling pukul satu sama lain" jawab Daniel.


"Maksud Ayah?" tanya Leny yang masih belum paham.


"Mereka terus menyerang Ayah secara membabi buta, sedangkan Ayah hanya mengindari pukulan dari mereka sampai-sampai mereka terkena pukulan mereka sendiri" jawab Daniel menjelaskan.


Ditempat lain.....


Siswa-siswa berandalan yang sudah dikalahkan oleh Daniel pagi tadi kini mereka sedang berada di rumah sakit karena salah satu teman mereka atau lebih tepatnya pemimpin mereka semua harus di larikan ke rumah sakit akibat perbuatan mereka sendiri karena telah berani mencari masalah dengan Daniel.


Anak itu harus di bawa ke ruangan UGD karena terlalu banyak mengeluarkan darah pada bagian kepala, hingga membuat kesadarannya belum kembali dan kemungkinan besar akan mengalami koma akibat kekurangan darah.


Tiba-tiba ada seorang pria yang datang berkunjung ke rumah sakit tempat siswa itu di rawat. Kedatangan pria itu membuat seisi rumah sakit merasa takut karena di tubuhnya di penuhi dengan sebuah tato yang menghiasi tubuhnya dan dia juga di kawal beberapa pria berbadan besar dengan wajah yang menyeramkan.


"Bagaimana keadaan anakku?" tanya pria itu setelah tiba di depan ruangan UGD.


"Ma..ma..masih belum sadar tu..tu..tuan" jawab teman dari anak itu gugup ketakutan.


"Katakan!. SIAPA YANG SUDAH BERANI MELUKAI PUTRAKU?!" tanya pria itu sambil mencekik leher salah satu siswa itu.


"A..a...aku tidak ta...ta..tau namanya tuan, tapi dia adalah seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah yang ada di Tokyo" jawab siswa itu semakin ketakutan.


"Hanya seorang guru?" tanya pria itu dan di anggukan oleh siswa yang lainnya.


"Cih!. Cuma seorang guru saja. Lihat saja nanti, kau akan menerima pembalasan yang lebih kejam dari apa yang sudah kau lakukan pada putraku" timpal pria itu sambil mendorong siswa yang ia cekik tadi.


"Kali ini kau akan habis guru sombong" batin salah satu dari siswa itu tersenyum tipis.


"Kau akan mati karena sudah berani melukai putra dari seorang Yakuza" gumam siswa lainnya.


"Beritahu aku dimana sekolah itu berada, apa namanya. Akan ku buat perhitungan pada guru itu" ucap pria bertato itu memerintah.


Pagi harinya Daniel pamit pada istri dan sang putra utama pergi ke sekolah untuk menunaikan tugasnya sebagai seorang guru. Sebenarnya Leny melarang Daniel pergi ke sekolah karena pikiran seperti tidak nyaman dan perasaannya juga sedang terasa tidak enak.


"Ayah, Bunda mohon. Jangan pergi hari ini, besok aja ya" pinta Leny terus menerus menggandeng lengan suaminya.


"Bunda juga tidak tau Ayah. Sedari pagi tadi perasaan Bunda terasa tidak enak" jawab Leny dengan wajah cemberut.


Daniel tersenyum dan mencium kening Leny, lalu ia berkata "Bunda jangan berpikiran yang aneh-aneh ya. Positif saja, Ayah pasti baik-baik saja kok".


"Bunda juga kan tau kalau Ayah ini siapa" ucap Daniel tersenyum agar sang istri bisa berfikir lebih tenang.


"Yaudah, Ayah boleh pergi" jawab Leny dengan wajah cemberutnya.


"Tapi, Ayah harus selalu mengabari Bunda, Ayah pokoknya harus menelpon Bunda setelah Ayah sampai di sekolah ya" timpal Leny mengancam.


"Iya istriku, Ayah bakal menelpon Bunda setelah Ayah tiba di sana" jawab Daniel sambil mengelus pipi Leny.


Dengan terpaksa dan perasaan yang berat hati, Leny mau tak mau harus mengizinkan suaminya pergi ke sekolah untuk menjadi guru. Leny terus menatap mobil Daniel yang terus melaju sampai menghilang dari pandangannya.


"Semoga Ayah kamu baik-baik saja ya sayang" ucap Leny berbicara pada sang putra yang berada dalam gendongannya.


"Yayah" ucap Damin memanggil Daniel dan Leny langsung memeluk putranya seakan perasaannya masih merasa tak nyaman karena terus kepikiran dengan suaminya.


"Perasaan aneh apa ini?!" tanya Leny sambil memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak.


Dari kejauhan Wulan melihat Leny yang terus berdiri di tempat parkir mobil Daniel, ia langsung mendatangi kakaknya karena ia melihat kalau wajah Leny seperti sedang tidak baik-baik saja.


"Kakak kenapa?" tanya Wulan sambil memegangi kakaknya yang terlihat nampak lesu.


Leny menggeleng lalu menjawab dengan wajah yang masih lesu "Kakak juga gak tau dek, entah kenapa perasaan kakak seperti tidak enak dan terus kepikiran dengan kakakmu itu".


"Kak, kakak tenang saja. Kak Daniel pasti baik-baik saja kok, kita doakan saja semoga Ayahnya Damin baik-baik saja dan bisa kembali pada kita dengan selamat" ucap Wulan tersenyum menenangkan sang kakak dan Leny hanya mengangguk saja lalu Wulan menuntun Leny kembali ke kamarnya.


Sesampainya Daniel di sekolah milik Joe, dia langsung di sambut dengan sangat meriah oleh para siswa-siswi di sekolah tersebut karena aksi heroiknya semalam dan membuat Daniel menjadi sosok guru baru yang menjadi idola para murid di sekolah itu.


"Sensei, silahkan cicipi makanan hasil buatan saya" ucap beberapa siswi yang membawa sebuah bekal makan yang di sodorkan pada Daniel.


"Eh, eh. I..i..iya-iya" jawab Daniel bingung.


"Ada apa ini?, kenapa aku seperti seorang artis saja" batin Daniel kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya di pagi hari ini.


"Sensei ini buah dari kebun saya yang saya petik khusus untuk Daniel Sensei" ucap salah satu siswi yang menyerahkan sebuah kantong plastik berisikan beberapa buah.


"I..i.. iya-iya, terima kasih ya semuanya" jawab Daniel dengan kedua tangan yang penuh beberapa kantong dan bekal makanan yang di buatkan oleh para murid di sekolah itu.


Karena merasa tak nyaman, Daniel langsung pergi ke ruangan guru agar ia bisa menghindar dari para murid-murid yang terus mengelilinginya di tempat parkir mobilnya dan menjadi pusat perhatian.


Sesampainya di ruangan Guru, Daniel langsung mendapat ejekan dari sahabat itu karena Joe yang sedari tadi melihat kaptennya dari ruangan Guru.


"Baru dua hari menjadi seorang guru, sudah menjadi idola saja ni" ucap Joe mengejek.


"Berisik" jawab Daniel sambil melemparkan sebuah kantong plastik yang berisikan buah-buahan.


"Hoap, Hahaha" Joe tertawa sambil menangkap pemberian dari Daniel.


Lalu Joe merogoh kantong plastik tersebut dan mengambil buah apel kemudian langsung ia gigit sambil berkata "Sering-sering seperti ini ya kapten" Joe berbicara sambil mengunyah buah apel tersebut.


"Dasar kau ini" ucap Daniel sambil membagikan makanan-makanan yang di berikan oleh beberapa siswi padanya di tempat parkir tadi.


"Ini..." ucap Haruka sedikit terkejut.


"Aku tidak akan sanggup untuk menghabiskan semua ini, jadi tolong bantu aku untuk menghabiskannya ya" jawab Daniel tersenyum.


"Ba..baik" jawab Haruka gugup dengan wajah yang memerah.