Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PENCULIKAN YANG SALAH


Daniel hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang begitu nampak bahagia memasak di dapur hotel milik mereka. Ia tak mau melarang Leny untuk melakukan hal yang menurutnya itu adalah bukan pekerjaan yang semestinya di kerjakan oleh sang istri.


"Seharusnya seorang ratu hanya duduk dan memberi perintah pada para prajuritnya untuk melayani semua kebutuhannya" ucap Daniel.


"Tapi tidak dengan ratuku ini. Dia malah ikut membantu para bawahannya mempersiapkan sambutan untuk nanti malam" timpalnya tersenyum.


"Suamiku, cobain dong hasil masakan dari Ratu mu ini" ucap Leny menyuapi salah satu dari hasil masakannya.


Daniel tersenyum dan langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya. Kemudian ia berkata "Masakan istriku memang yang terbaik" dan Daniel tersenyum sambil membelai kepala istrinya.


Sedangkan mereka yang berada di dapur hanya tersenyum bahagia melihat keromantisan dari tuan dan nona mudanya itu.


"Kalian juga boleh mencicipi hasil masakan yang aku buat itu kok" ucap Leny tersenyum menunjuk ke arah makanan dari hasil tangan lembutnya itu.


"Ba..baik nona" jawab mereka gugup.


Kepala koki itu langsung mencicipi hasil masakan yang barusan Leny buat tadi. Lalu setelah ia mencicipinya, wajahnya langsung berubah menjadi terkejut karena makanan yang Leny buat sangat cocok di lidah dan tenggorokannya.


"Masakan anda sangat lezat nona" ucap kepala koki itu memuji.


"Iya, aku sangat menyukai ini" sambung salah satu koki lainnya.


"Hahaha, kalian begitu memujiku. Padahal hasil masakan ku sangat jauh berbeda dari masakan lezat yang kalian buat" jawab Leny.


"Tidak nona. Masakan anda memang sangat lezat" bantah kepala koki itu tersenyum.


"Hehehe, kalau begitu terima kasih" jawab Leny tersenyum bahagia.


"Apakah nona bersedia untuk memberi tau resep masakan anda?" tanya kepala koki berharap.


"Tentu saja, aku akan memberikan resepnya" jawab Leny tersenyum.


"Terima kasih banyak nona muda" ucap kepala koki itu tersenyum senang karena mereka akan mendapatkan menu makanan baru untuk restoran hotel milik Daniel.


"Aku yakin para tamu akan sangat menyukai ini nona" ucap kepala koki tersebut.


Setelah selesai dengan urusan dapur, Leny mengajak Daniel kembali ke kamar mereka untuk bersiap-siap menyambut kedatangan para karyawannya serta Olivia yang akan datang malam nanti ke hotel mereka.


"Sebaiknya kita juga kembali ke kamar Ayah" ajak Leny menggandeng tangan Daniel menuju ke kamar mereka.


"Baiklah istriku" jawab Daniel lalu mereka berdua segera pergi dari dapur menuju ke kamar.


Di sisi lain Wulan sedang berjalan-jalan seorang diri untuk menikmati suasana dari Ibu kota di negara sakura tersebut karena sudah lama ia tidak berjalan-jalan di sekitar kota tersebut.


Di saat Wulan sedang asyik berjalan menikmati suasana kota, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya dan bertanya padanya.


"Permisi nona, apakah kamu tau stasiun di kota ini?" tanya pria itu.


"Stasiun?" tanya Wulan balik dan di anggukan oleh pria itu.


"Kamu kan asli dari negara ini, kenapa kamu tidak tau di mana letak status di kota ini?" tanya Wulan merasa sedikit bingung.


"Saya baru pindah ke kota ini, jadi saya masih belum begitu paham mengenai tempat ini" jawab pria itu menggaruk tengkuknya.


"Baiklah kalau begitu. Ayo saya antar" jawab Wulan tersenyum mengajak pria itu.


Kemudian Wulan berjalan di depan pria itu untuk menuntun pria itu menuju ke sebuah salah satu stasiun yang berada di kota tersebut. Namun pada saat mereka berdua melewati sebuah jalanan yang sedikit sepi dan tidak di lewati oleh banyak orang, tiba-tiba pria itu menyodorkan sebuah pistol dari arah belakang Wulan dan membuat Wulan sedikit terkejut.


"Jika kamu ingin selamat, maka ikut denganku dan jangan melawan ataupun berteriak" ancam pria itu berbisik.


Wulan hanya menaikkan sebelah alisnya dan menuruti perintah dari pria yang mengancamnya itu. Ia terus berjalan ke depan dengan pistol yang masih berada di pinggul bagian belakang.


Setelah mereka berdua sampai di sebuah gudang kosong dan tak berpenghuni, tiba-tiba Wulan menghentikan langkahnya lalu ia memutar tubuhnya hingga membuat pria itu terkejut. Dengan wajah yang terlihat panik, pria itu langsung mengarahkan pistol itu ke wajah Wulan berharap Wulan merasa takut.


"Ke.. keluarkan ponselmu!" perintah pria itu namun dalam keadaan gugup.


"Ponsel?, untuk apa?" tanya Wulan kebingungan.


"U...untuk meminta uang tebusan dari keluargamu" jawab pria itu masih dalam keadaan gugupnya.


Namun di luar ekspektasi dari si pria. Wulan hanya menghela nafasnya lalu ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang pistol itu dan membuat pria tersebut semakin panik.


Kemudian Wulan langsung menepis pistol itu hingga terlepas dari genggaman pria tersebut. Lalu pada saat pistol itu akan terjatuh ke lantai, kaki Wulan langsung menendang pistol itu ke arah atas dan pria itu malah semakin panik ketakutan karena kaki Wulan hampir mengenai wajah si pria asing tersebut.


"Aku tau ini hanya mainan" ucap Wulan tersenyum sambil menyerahkan pistol milik pria tersebut.


Pria itu semakin panik dan ketakutan pada saat Wulan ingin mengembalikan pistol miliknya. Dengan perasaan takut ia mencoba mengambil kembali senjata miliknya dari tangan Wulan.


Setelah pistol itu kembali pada si pemiliknya, Wulan langsung pergi meninggalkan pria itu yang sudah tak bisa bergerak seorang diri. Dengan berjalan santai, Wulan melangkahkan kakinya pergi dari gudang yang tak berpenghuni itu.


Namun secara tiba-tiba pria itu bertanya dengan perasaan yang penuh dengan rasa takut pada Wulan yang hendak pergi meninggalkan pria itu seorang diri.


"Si..siapa kamu sebenarnya?!" tanya pria itu dengan gugupnya.


Lalu Wulan memutar tubuhnya menatap pria yang terlihat sangat ketakutan setelah semua yang baru saja ia lihat tadi ketika Wulan yang dengan mudahnya menepis pistol dari genggaman tangannya.


"Meskipun penampilanku seperti ini, tapi aku adalah seorang assassin" jawab Wulan tersenyum.


"A..a... Assassin?!" tanya pria itu ketakutan.


"Ya. Tepatnya assassin Dark Shadow, dan aku juga Adik dari pemimpin Dark Shadow itu sendiri" jawab Wulan.


Wajah pria itu langsung berubah menjadi berkeringat dingin, ia sangat tau rumor tentang Dark Shadow itu sendiri. Dia sangat mengetahui bagaimana kekejaman dari pemimpin Dark Shadow tersebut. Apalagi dia sudah salah target dengan mencuri Adik dari pemimpin Dark Shadow itu sendiri.


Pria itu langsung bersujud di hadapan Wulan dengan wajah yang penuh rasa takut ia terus meminta maaf kepada Wulan dan berharap Wulan mau melepaskannya.


"Ma..maafkan saya nona, sa..saya menyesal, to.. tolong lepaskan saya" ucap pria itu yang masih bersujud di hadapan Wulan.


Wulan hanya bingung saja melihat tingkah dari pria tersebut yang sangat aneh sedari tadi ketika lelaki itu menodongkan pistol ke arah wajahnya Wulan namun dengan ekspresi wajah yang ketakutan seakan ia melakukan ancaman itu dengan terpaksa.


Kemudian Wulan mendekati pria yang masih terus bersujud itu. Lalu Wulan menyentuh punggung pria tersebut hingga membuat pria itu semakin ketakutan karena sentuhan dari Wulan barusan.


"Bangkitlah Pak tua, jangan seperti ini" ucap Wulan membantu pria itu menaikan tubuhnya dan meminta pria itu untuk duduk.


"Aku tau anda sama sekali tidak punya niatan untuk melakukan kejahatan ini" timpal Wulan sedangkan pria itu hanya menunduk saja.


"Kamu benar nona, sebenarnya saya terpaksa harus melakukan ini" jawab pria itu tertunduk lemas.


"Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan, dan setelah sekian lama aku bekerja di sana, aku memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Aku ingin mencoba membuka usaha sendiri dengan uang tabungan yang aku miliki. Namun aku masih kekurangan modal. Jadi aku meminjam pada salah satu kenalanku dan ia memberikan pinjaman untukku" ucap pria itu menjelaskan.


"Lalu apa yang membuatmu melakukan hal kotor ini?. Sedangkan kamu sudah mempunyai usaha sendiri?" tanya Wulan.


"Ternyata orang yang meminjamkan uang padaku adalah seorang rentenir yang sangat kejam. Ia terus memeras uang hasil usahaku hingga semuanya habis namun hutang tersebut masih juga belum lunas" jawab pria itu sedih.


"Hingga sampai usahaku bangkrut dan aku juga sudah tidak memiliki apa-apa lagi, dia masih saja terus meneror ku" timpalnya.


"Memangnya berapa lagi sisa hutangmu padanya?" tanya Wulan.


"Dia berkata hanya tinggal 30juta lagi" jawab pria itu menunduk pasrah.


Wulan hanya tersenyum lalu ia langsung mengeluarkan ponselnya. Pria itu hanya kebingungan melihat ekspresi wajah Wulan. Kemudian Wulan menghubungi seseorang melalui ponselnya dan pria itu hanya menatapnya saja.


"Halo Kak. Aku sedang di culik, tolong siapkan uang sebesar 300juta" ucap Wulan dalam berbahasa Jepang agar pria itu mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh Wulan.


Mendengar ucapan itu, pria tersebut langsung merampas ponsel milik Wulan dan langsung memutuskan panggilan telepon yang sedang di lakukan oleh Wulan.


"Apa yang anda lakukan nona?!" tanya pria itu ketakutan.


"Bukankah kau membutuhkan uang?" tanya Wulan.


"Jadi aku menelepon Kakakku untuk menyiapkan uang tebusan itu" timpalnya menjawab.


"Tapi aku tidak mau nona, aku masih sayang nyawa. Lagipula aku hanya butuh 30juta, bukan 300juta" ucap pria itu ketakutan.


"Tolong hubungi lagi Kakak anda nona, aku akan memintanya untuk membatalkannya" pinta pria itu yang semakin ketakutan.


Kemudian Wulan menuruti permintaan dari pria itu. Ia menelepon Daniel lagi. Setelah Daniel mengangkat panggilan telepon dari Wulan, pria itu langsung berbicara pada Daniel agar ia membatalkan perkataan dari Wulan barusan.


"Ha...halo tuan, tolong jangan dengarkan perkataan dari adik anda tadi. Tolong di batalkan saja" ucap pria itu ketakutan.


"Oo.. Jadi kau yang sudah berani menculik Adikku?" tanya Daniel dengan nada suara yang begitu dingin namun berhasil membuat pria itu berkeringat dingin.


"Tunggu di situ!, jangan kemana-mana!. Aku akan segera kesana" timpal Daniel dan langsung mematikan panggilan teleponnya.


Wajah pria itu langsung tercengang. Tubuhnya langsung gemetaran setelah mendengar kalau Daniel akan menghampiri dirinya. Tangannya bergetar hebat saat ia ingin mengembalikan ponsel milik Wulan.