Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENIKMATI FESTIVAL


Daniel dan Kevin kembali menuju ke tempat dimana keluarga mereka menunggu. Pada saat Daniel berjalan, ia berhenti sejenak dan melihat kendaraan yang di bawa oleh pria yang tengah Kevin seret itu. Tanpa berkata-kata, Daniel mengambil korek di dalam sakunya dan ia langsung membakar motor tersebut kemudian ia melanjutkan perjalanannya lagi.


Kevin hanya menggaruk kepalanya, ia kebingungan melihat tingkah Kakaknya yang sedari tadi hanya diam saja dan tiba-tiba membakar motor pria itu.


Rani menyerahkan Damin pada Ayu agar ia bisa menenangkan menantunya yang masih terduduk di atas tanah dengan keadaan yang masih syok dan melamun.


"Sayang.. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rani dengan lembut sambil mengelus kepala Leny. Namun Leny masih terdiam menunduk.


"Kak, tolong jangan diam saja seperti ini. Jika Kakak mengalami luka, katakan saja, kita akan bawa ke rumah sakit" ucap Wulan merasa khawatir dan Leny masih enggan mengeluarkan suaranya.


"Kak.." rengek Wulan dan Leo hanya menyentuh punggung Wulan mengisyaratkan agar ia tidak terus menekan Kakaknya yang masih mengalami syok.


"Sudahlah nak, biarkan Kakak kamu tenang terlebih dahulu" ucap Leo sambil mengelus kepala Wulan.


"Berani sekali bajingan itu mencoba melukai Kakakku!" ucap Wulan geram penuh emosi.


"Leny sayang, sudah ya menantu ku, kamu sudah baik-baik saja kok" ucap Ibu Rani menenangkan sang menantu. Namun Leny masih saja termenung dengan wajah penuh rasa terkejut.


Tak lama kemudian Daniel datang dengan tangan yang di penuhi darah, dan Kevin berada di belakangnya sambil menyeret pengendara motor itu yang sudah terluka pada bagian wajahnya.


Kemudian Daniel menghampiri istrinya dan berusaha untuk menenangkannya agar rasa syok yang Leny alami bisa menghilang.


"Honey, sudah ya, ada Ayah di sini. Bunda tidak usah takut lagi" ucap Daniel dengan nada yang begitu lembut sambil terus membelai kepala sang istri.


Leny menoleh ke arah Daniel dan ia langsung memeluknya dengan erat. Daniel hanya tersenyum sambil terus mengelus kepala Leny yang masih terus memeluk dirinya.


"Bunda takut banget Ayah" ucap Leny sambil terus memeluk erat Daniel.


"Jika tadi Bunda sampai tertabrak motor itu, pasti Bunda sudah tidak bisa bersama dengan Ayah dan Damin lagi" timpalnya merengek.


"Tidak Honey, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi selama Ayah masih bernafas. Ayah akan melindungi keluarga kita dengan sekuat tenaga. Tidak akan Ayah biarkan kalian sampai kenapa-kenapa, itu janji Ayah seumur hidup" jawab Daniel menenangkan Leny dengan terus mengelus kepalanya.


Kemudian Leny melepaskan pelukannya dari sang suami lalu berkata dengan manja "Janji?" dan Daniel tersenyum sambil mengangguk. mendengar jawaban dari Daniel, sontak membuat Leny langsung tersenyum.


"Ayah tidak mau hal kelam itu terulang lagi. Cukup sekali Ayah kecolongan, untuk kedepannya tidak akan pernah Ayah biarkan satu kecoa pun mendekati kalian" ucap Daniel mengelus pipi Leny dan membuat Leny tersenyum.


Perlahan rasa syok dalam diri Leny mulai menghilang, dan dia sudah bisa tersenyum seperti biasanya lagi. Lalu Leny menatap ke arah Damin yang tengah dalam gendongannya Ayu.


"Untung saja tadi Damin tidak bersamaku. Jika tadi dia tidak merengek meminta di gendong oleh Neneknya, mungkin aku dan dia akan terluka" ucap Leny tersenyum sambil terus menatap putranya yang ikut tersenyum menatap dirinya.


"Apa sebaiknya kita kembali ke hotel saja?" sela Chelsea bertanya.


"Tidak!. Kita sudah jauh-jauh pergi ke tempat Festival ini. Jadi, kita harus menikmatinya" jawab Leny menolak usulan dari Chelsea barusan.


"Tapi, kamu baru saja mengalami hal yang menakutkan Leny. Aku takut kamu masih syok berada di dalam keramaian" ucap Chelsea merasa khawatir.


"Kamu tenang saja Chelsea. Selama ada suami dan putraku di sisiku, aku pasti akan baik-baik saja dan akan selalu bahagia" jawab Leny tersenyum menatap Daniel dan Daniel ikut tersenyum menatap sang istri.


Ibu Rani tersenyum melihat kalau menantunya sudah baik-baik saja dan sudah tak lagi mengalami syok berat. Ia membelai kepala sang menantu lalu berkata "Yasudah, jika memang ini kemauan menantunya Ibu. Maka Ibu dan Ayah ikut saja".


"Iya, Ayah pasti akan mengikuti mau kamu nak. Asalkan itu di jalan yang benar" sambung Ayah Leo tersenyum.


"Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu" jawab Leny tersenyum bahagia.


"Iya sayang, sama-sama" jawab sang mertua ikut tersenyum.


"Ikat dia, lalu masukkan ke dalam bagasi mobil!. Aku akan membuat perhitungan padanya nanti" jawab Leny dengan tatapan menyeramkan dan Daniel hanya terkekeh melihat ekspresi wajah sang istri.


"Apa yang akan kamu lakukan Kakak ipar?" tanya Ayu khawatir karena tidak mau kalau Leny sampai kenapa-kenapa.


"Ada deh" jawab Leny tersenyum penuh arti.


"Kamu jangan macem-macem loh Kakak ipar" ucap Ayu memperingatkan.


"Tidak kok, aku hanya satu macam saja" jawab Leny tersenyum manis.


"Tunggu apa lagi?. Cepat bawa binatang busuk itu ke dalam bagasi mobil!. Ingat ya, ikat yang kuat!" timpal Leny memerintah dan Kevin hanya bisa menuruti perintah dari Leny.


Dengan buru-buru Kevin langsung mengambil sebuah tali, lakban hitam, dan sebuah kain untuk menutupi mata si pengendara motor yang ingin membuat Leny terluka. Setelah selesai melakukan perintah dari Leny tadi, Kevin langsung memasukkan pria yang masih tak sadarkan diri itu ke dalam bagasi mobil miliknya.


"Sebaiknya kau berhati-hati!. Karena nyawamu sudah di ujung" ucap Kevin tersenyum psikopat lalu ia mengunci bagasi mobil miliknya.


Setelah usai melakukan perintah dari Leny, kini mereka semua langsung menuju ke tempat Festival yang masih berlangsung itu. Suasana ramai serta orang-orang yang berjualan di dalamnya, membuat suasana hati Leny menjadi semakin membaik bahkan ia sampai bisa melupakan kejadian yang menimpanya barusan.


Leny melihat ke arah stand yang tengah menjual makanan yang bernama takoyaki, lalu ia mengajak sang suami menghampiri kedai tersebut dan Daniel hanya menuruti permintaan sang istri dengan senang hati.


"Ayah, Bunda mau ini" rengek Leny pada sang suami.


"Iya Honey" jawab Daniel tersenyum sambil mencubit hidung sang istri.


"Bunda mau berapa porsi?" timpal Daniel bertanya.


"Hmmm" Leny berfikir sejenak.


"10 saja deh Ayah" jawab Leny tersenyum.


"Bunda yakin?, itu terlalu banyak loh" tanya Daniel memastikan.


"Yakin dong suamiku. Lagian kan kita tidak berdua di sini, masih ada Ibu dan yang lainnya juga kok. Pasti mereka juga mau makanan ini" jawab Leny cemberut.


"Iya deh Honey iya" ucap Daniel tersenyum sambil membelai kepala istrinya itu.


"Permisi. saya pesan 10 porsi ya" ucap Daniel menggunakan bahasa Jepang pada penjual takoyaki tersebut.


"Baik tuan, mohon tunggu sebentar ya" jawab penjual takoyaki tersebut dan di anggukan oleh Daniel.


Leny terus memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Ia sangat bahagia bisa berada di tempat Festival tersebut, karena di tempat itu dia bisa melihat apa yang tidak ada di negara tempat ia lahir.


"Seru banget ya Ayah" ucap Leny tersenyum bahagia sambil memperhatikan keadaan di tempat yang di kunjungi begitu banyak orang-orang.


"Bunda senang?" tanya Daniel tersenyum.


"Tentu saja dong suamiku" jawab Leny tersenyum bahagia.


"Terima kasih ya suamiku sudah mau mengajak kami jalan-jalan" timpalnya sambil memeluk lengan sang suami.


"Apapun itu Honey, demi kebahagiaan kalian Ayah akan lakukan" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Leny yang terus memeluk lengannya.