
Setelah kejadian malam itu, kini ketiga pria itu sudah bekerja di kantor Daniel, sedangkan kedua rekannya masih di rawat oleh Alvin dan Ayu di rumah sakit.
Alvin mengatakan kalau untuk menyembuhkan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama, dan mereka berdua sangat senang mendengarnya. Karena jika sudah sembuh, mereka berdua akan langsung bekerja di rumah Daniel sesuai yang di janjikan oleh Leny.
"Gila, baik banget bos kita ya" ucap si mantan pencuri itu yang bernama Rendi.
"Iya, mereka seperti malaikat" sambung rekannya yang bernama Haikal.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Daniel yang tiba-tiba mendatangi mereka.
"Eh, pak bos" sapa Rendi sedikit terkejut melihat kedatangan Daniel.
"Alhamdulillah kami sangat nyaman bekerja di sini, di tambah lagi pak Ronny dan pak bos sangat baik" timpal Haikal menjawab.
"Syukurlah kalau kalian betah bekerja di kantor ini" ucap Daniel tersenyum ramah.
"Sekali lagi terima kasih ya pak bos. Berkat kebaikan pak bos dan buk bos, kami berlima sudah memiliki pekerjaan yang halal" ucap Rendi sedikit terharu.
"Tidak apa-apa, aku senang kalau ada orang yang di sekitarku ikut bahagia" jawab Daniel tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Rendi.
"Yaudah, kalau begitu aku kedalam dulu" timpal Daniel pamit ke dalam kantor.
"Siap pak bos, selamat bekerja" jawab mereka berdua memberi hormat.
Selang beberapa waktu Daniel masuk menuju keruangannya, tiba-tiba banyak mobil yang berhati dan terparkir sembarangan di depan kantor Daniel sampai membuat Haikal dan Rendi sedikit terkejut.
"Ada apa ini?" tanya Rendi yang langsung bangkit dari duduknya.
"Sepertinya ada yang tidak beres" sambung Haikal yang ikut bangkit.
Puluhan pria langsung keluar dari mobil itu dengan tangan yang di penuhi senjata. Kemudian dengan langkah cepat para pria bersenjata itu langsung menghampiri Haikal dan Rendi yang sudah bersiap siaga menjaga pintu utama kantor milik Daniel.
"Serang!" teriak salah satu dari mereka.
"Maaf ni tuan-tuan, tolong tenang, jangan membuat keributan di wilayah kantor ini" tegur Haikal dengan lembut.
"Ada apa kalian semua ingin menyerang kantor kami?" tanya Rendi.
"BANYAK BACOT KAU!" teriak salah satu dari mereka dan langsung mengayunkan sebuah stik baseball.
Tiba-tiba sebuah tangan menahan stik baseball tersebut dan langsung melemparkannya sampai pria yang mengayunkan stik tersebut ikut tersungkur.
"Ada apa ini ha?!, berani sekali mengganggu kenyamanan di kantor kami?!" tanya Ronny yang sudah berdiri di depan Haikal dan Rendi.
"Hajar!" ucap mereka lagi.
Tanpa mendengarkan perkataan Ronny, puluhan para preman itu langsung berlari dan ingin menyerang mereka bertiga. Terlihat Rendi dan Haikal sudah ketakutan karena jumlah musuh yang terlalu banyak. Namun tidak dengan Rony, justru dia malah tersenyum remeh menyambut para preman itu yang ingin menyerangnya.
"Jika tidak bisa di bicarakan, maka tinju ini yang akan berbicara" ucap ronny yang langsung berhasil memukul salah satu dari preman itu.
"Bagaimana ini?, bantu atau lapor pak bos?" tanya Rendi kebingungan.
"Mas Rendi, tolong kamu lapor ke pak Kevin dan pak bos. Biar ini aku dan mas Haikal yang tangani" ucap Ronny memerintah.
"Iya, yang di katakan pak Ronny benar. Pergi cepat!, yang disini aku dan pak Ronny akan mengambil alih" sambung Haikal dan langsung ikut menyerang para preman itu.
"Baiklah, bertahan sampai aku kembali" jawab Rendi dan langsung buru-buru berlari ke dalam.
"Tenang saja, mereka semua bukan tandinganku" ucap Ronny santai dan dengan asik memukul para musuhnya.
Dengan buru-buru Rendi masuk menuju lift dan segera meluncur ke lantai atas dimana Alvin dan Daniel berada. Sedangkan suasana kantor menjadi ricuh karena para karyawan juga sudah menjadi heboh dengan inside yang terjadi di kantor tempat mereka bekerja.
"Ada apa ini?, kenapa tiba-tiba kantor kita di serang?" ucap salah satu karyawan wanita yang sedikit takut melihat kejadian itu tepat di depan matanya.
"Apa ada musuh pak Daniel yang memiliki dendam pribadi padanya?" tanya rekannya.
"Tidak mungkin. Kita semua tau tuan Daniel gimana orangnya. Pasti ini ulah seseorang yang iri dengan kemajuan kantor yang tuan kita pimpin" jawab temannya yang lain dan di iya kan oleh mereka.
Setelah pintu lift terbuka, dengan tergesa-gesa Rendi langsung berlari menuju ke tempat meja Kevin untuk memberi tahu Kevin terlebih dahulu.
Kevin sedikit terkejut melihat Rendi yang begitu tergesa-gesa menghampiri dirinya, dan dengan cepat Kevin langsung mendatangi Rendi yang sudah ngos-ngosan.
"Ada apa pak Rendi?" tanya Kevin.
"Di hosh.. di depan.. hosh.. hosh.. di depan ada penyerangan pak" jawab Rendi sembari mengatur nafasnya.
"APA?!" ucap Kevin dan Mey secara bersamaan.
"Saya juga tidak tau nona, tiba-tiba mereka datang dan langsung menyerang kantor.
"Masih ada aja orang-orang bodoh yang mencari masalah dengan kakakku" batin Kevin sembari memijit pelipisnya.
"Yaudah, pak Rendi ke depan saja dulu bantuin yang lain. Aku akan memanggil kak Daniel di dalam" ucap Kevin.
"Baik pak" jawab Rendi dan langsung pergi menuju lift lagi.
"Bodoh, bodoh" gumam Kevin dan langsung menuju ruangan sang kakak.
"TOK... TOK...." Kevin mengetuk pintu
"Masuk" ucap Daniel yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Ada apa Kevin?" tanya Daniel.
"Di luar ada kecoa kak" jawab Kevin to the point.
"Haaaa" keluh Daniel menghela nafas panjang.
"Siapa lagi sih" ucap Daniel dengan malas.
"Aku juga tidak tau kak" ucap Kevin menaikkan kedua bahunya.
"Ayo lah kita bereskan langsung kecoa pengganggu itu" ajak Daniel melangkahkan kakinya keluar ruangan di ikuti oleh Kevin.
Setelah usai melapor pada sang bos, Rendi langsung menerjang salah satu preman yang ingin menyerang Ronny dari belakang. Ronny yang melihat aksi Rendi langsung tersenyum dan menepuk pundak Rendi.
"Apa kau masih sanggup mas Haikal?" tanya Ronny tersenyum.
"Hahaha, ini masih belum seberapa pak" jawab Haikal tertawa.
"Kalau begitu kita percepat kerja kita ini" ajak Ronny yang mulai menyerang para preman itu.
Karena jumlah mereka yang terlalu banyak, dan Ronny hanya bertiga saja menghadapi para preman yang tak ada habisnya. Secara perlahan tenaga mereka mulai melemah.
"Kenapa gak ada habis-habisnya sih" keluh Haikal yang sudah kelelahan.
"Sebaiknya kalian bertiga istirahat saja dulu, sisanya serakah kan pada kami berdua" ucap Kevin yang sudah berdiri di belakang ketiga pihak keamanan kantor.
"Kenapa pak bos harus turun tangan hanya untuk menghabisi sampah-sampah tidak berguna ini?" tanya Ronny yang menatap Daniel.
"Kalian istirahat saja, biar aku yang meneruskannya" ucap Daniel sembari meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku masih sanggup pak bos" ucap Ronny membantah.
"Apa kau ingin Silvia marah jika kau sampai terluka?" tanya Daniel mengejek.
"Hahaha, pak bos tenang saja. Aku pasti akan baik-baik saja" jawab Ronny.
"Eh, eh. Lihat, tuan Daniel akan melawan mereka semuanya" ucap salah satu karyawan wanita.
"Wah. Dengar-dengar pak bos tampan kita sangat hebat loh, bahkan banyak penjahat yang belum mampu mengalahkan bos tampan kita" sambung rekannya.
"Kalau begitu ini kejadian sangat langka, kita tidak boleh melewatkannya begitu saja" tambah temannya.
"Pak Haikal, pak Rendi!" panggil Kevin.
"Iya pak?" jawab mereka berdua.
"Pertarungan ini akan segera berakhir dengan cepat, kalian berdua jangan sampai kelewatan" ucap Kevin tersenyum.
"Yosh!!!. Ayo kita pecahkan kepala mereka semua!" ucap Daniel yang langsung berlari menuju ke tempat para preman itu.
"Wah curang!. Kak tunggu kak!, sisakan untukku" ucap Kevin yang ikut berlari.
Baru saja bergerak, Daniel sudah berhasil menumbangkan 5 preman itu dan di susul oleh Kevin yang juga berhasil mengalahkan keempat preman dengan sangat mudah.
"Bagaimana kalau kita bertaruh saja kak?" ucap Kevin menantang sang kakak.
"Siapa yang berhasil membuang sampah-sampah ini paling banyak, maka yang kalah harus mentraktir yang menang" timpal Kevin menantang.
"Oke siapa takut" jawab Daniel tersenyum licik.