Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
UNTUK SAHABAT


Seusai sedikit berolahraga dengan kedelapan pria yang mabuk itu. Kini Daniel, Leny, dan kedua adiknya sedang menuju ke sebuah mall yang berada di kota Paris.


Perjalanan menuju ke mall tersebut mengalami sedikit kendala karena banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya untuk menikmati weekend mereka.


Setelah hampir satu jam mereka melewati jalan raya yang lumyan akan kendaraan yang melintas, akhirnya mereka berempat sampai di sebuah salah satu mall yang begitu besar di kota tersebut.


Dengan semangat Leny mengajak sang suami langsung masuk menuju mall tersebut untuk mencari barang-barang yang akan di butuhkan oleh bayi dari sahabatnya itu.


Daniel yang menggendong Damin hanya mengikuti Leny dari belakang untuk mencari barang-barang bayi yang baru lahir.


Mengingat kalau uang mereka yang terlalu banyak dan sulit untuk menghabiskannya, jadi Leny langsung mengambil barang yang menurutnya bagus tanpa melihat harganya terlebih dahulu.


"Ayah, sepertinya Damin juga butuh pakaian yang baru" ucap Leny sembari memilah-milah pakaian untuk anak seusia Damin.


"Ambil aja yang menurut Bunda bagus untuk putra kita" balas Daniel.


Di sisi lain, Wulan dan Kevin juga ikut sibuk memilih hadiah untuk calon keponakan mereka yang kedua. Wulan begitu semangat mencari barang-barang untuk bayi dari Windy kelak. Sedangkan Kevin terlihat kebingungan mengingat kalau dia tidak begitu paham dengan barang-barang yang berbau bayi dan wanita.


"Kau kenapa capung?!" tanya Wulan yang melihat Kevin kebingungan.


"Ini, aku gak tau harus kasih apa ke mereka, hehe" jawab Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Dasar kamu ini!. Kalau untuk mencari lokasi target-target kamu paling tau, tapi kalau soal ini seketika isi otakmu jadi kosong" ucap Wulan.


"Hehe, ya mau gimana lagi, aku tidak paham tentang yang seperti ini" jawab Kevin cengengesan.


"Hmm" Wulan menghela nafasnya sambil memicingkan mata menatap Kevin.


"Yaudah. Apa yang ingin kamu berikan untuk mereka?" tanya Wulan yang ingin membantu pria yang ia cintai itu.


Apa ya?, emm.." Kevin berfikir.


"Kalau mainan aja gimana?. Seperti mobil-mobilan, anime figur, robot-robotan, dan lain-lain gitu" tanya Kevin meminta saran.


"Bodoh" tegur Wulan sambil memukul pundak Kevin.


"Bayinya aja belum lahir, udah mau kamu kasih yang begituan. Gak sekalian aja kamu kasih kapal pesiar" timpal Wulan mengomel.


"Hehe, maaf dong kucing kecilku. Gak salah aku jatuh cinta sama kamu" ucap Kevin sembari mencolek dagu Wulan.


"Cinta, cinta. Cari yang bener hadiahnya" ucap Wulan lalu pergi melanjutkan niatnya untuk mencari hadiah tersebut, sedangkan Kevin hanya mengikuti langkah sang kucing kecilnya itu.


Ketika Wulan dan Kevin tiba di tempat pakaian bayi, Wulan berhenti di tempat itu dan kedua bola matanya tertuju pada sebuah baju bayi yang menurutnya terlihat sangat manis.


Akan tetapi karena terlalu banyaknya pakaian di tempat tersebut, ia sampai bingung harus memilih yang mana, dan akhirnya Wulan meminta bantuan dari Kevin.


"Capung, menurut kamu mana yang cantik?" tanya Wulan sambil menunjukkan beberapa pasang pakaian bayi.


"Bukan masalah cantik atau apanya kucing kecil, kita kan belum tau jenis kelamin dari anak kak Riski dan kak Windy" jawab Kevin menjelaskan.


"Iya juga sih. Kadang-kadang otakmu bisa berfungsi juga ya" ucap Wulan dan meletakkan baju itu ke tempatnya semula.


"Kenapa gak ambil semuanya aja?" ucap seorang pria yang tidak lain adalah Daniel.


"Aku sih mau aja memborong semua ini kak, tapi aku takut kalau kak Windy tidak ingin menerima hadiah yang begitu banyak ini. Kita semua kan tau kak Windy dan kak Riski itu bagaimana" jawab Wulan menjelaskan.


"Itu masalah gampang sayang, biar kakak yang mengurus mereka berdua. Kalau kamu ingin membeli semua itu, yaudah beli aja" sambung Leny.


"Masalah kakakmu si Riski, biar kakak yang mengurusnya" ucap Daniel meyakinkan.


Tiba-tiba Kevin datang dengan beberapa mainan yang ada di kedua tangannya. sampai-sampai kedatangannya sampai membuat Wulan menggeleng.


"Kamu membawa mainan sebanyak itu untuk Damin?" tanya Leny yang merasa heran.


"Tapi kenapa ada mainan untuk anak perempuan?, anakku kan laki-laki" tambahnya bertanya.


"Bukan kak, ini untuk anak kak Riski dan kak Windy" jawab Kevin dengan polosnya.


"Astaghfirullah" ucap Leny menepuk jidatnya.


"Ya Allah... Kenapa adik aku yang satu ini bisa begitu bodoh?!" ucap Leny menggeleng.


"Padahal tadi udah ku kasih tau loh sama kamu. Kenapa malah makin eror aja otakmu itu capung" sambung Wulan.


"Ya kan bisa di simpan dulu, terus kalau anak mereka udah seusia Damin, baru di kasih ini" ucap Kevin tersenyum.


"Iya kakak tau adikku. Tapi yang di takutkan, kalau anak mereka udah seusia Damin, pasti mainan itu sudah ketinggalan zaman" jawab Leny menjelaskan.


"Adikku. Daripada kau memberikan ini, lebih baik kau membelikan popok untuk bayi mereka nanti, lebih bermanfaat juga. Dari pada mainan ini, yang harus menunggu beberapa bulan untuk bisa di mainkan oleh anak mereka" ucap Daniel menyarankan.


"Hehe. Ada benarnya juga" ucap Kevin cengengesan.


"Yaudah deh, aku bakal borong semua popok di mall ini" timpalnya dan langsung menuju ke tempat popok bayi berada.


Karena saran dari sang kakak, akhirnya Wulan juga membeli semua baju bayi yang menurutnya cantik dan begitu manis jika di gunakan anak mereka kelak.


Sudah lebih dari satu jam mereka berempat menelusuri mall tersebut, dan mereka juga sudah mulai merasakan lelah serta perut yang sudah keroncongan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi mencari tempat makan yang berada di dalam mall tersebut.


Mereka berempat menghabiskan waktu di dalam mall tersebut sampai sore hari, dan kini mereka sedang menuju jalan pulang untuk bersiap-siap kembali ke Indonesia besok agar bisa menemani Riski dan Windy yang sebentar lagi akan memilik seorang bayi.


Sesampainya di rumah, orang-orang yang berada di rumah juga sudah mempersiapkan hadiah-hadiah mereka untuk di berikan pada Riski dan juga Windy.


"Oiy Kevin, apa yang kau beli itu? kok besar banget?" tanya Fauzi.


"Apa jangan-jangan kau membeli sebuah kulkas untuk bayi mereka ya?" timpal Fauzi.


"Kulkas, kulkas. Gigimu ompong itu kulkas" ucap Kevin sedikit kesal.


"Ini popok bayi, ini hadiahku untuk anak kak Riski dan kak Windy" timpalnya menjawab.


"Ini popok?, sebanyak ini?" sambung Alvin bertanya dan di anggukan oleh Kevin.


"Gila banyak banget?. Ini sih bisa lebih dari enam bulan" tambah Fauzi menggelengkan kepalanya.