
Setelah selesai bermain dengan pria yang sudah membuat Nek Ani sakit, kini Daniel harus buru-buru pulang ke rumahnya karena waktu juga sudah malam dan ia pasti berpikir kalau sang istri bakal marah padanya, bahkan mungkin akan memberikan sebuah hukum untuk Daniel.
Di dalam mobil Daniel terus melihat ke arah jam yang tertera pada layar monitor mobil mewahnya itu. Ia semakin risau karena sedari tadi Leny terus menelpon dirinya namun tak terjawab karena ia tengah fokus menyetir.
"Waduh, nyonya besar terus nelponin lagi nih" gumam Daniel dan semakin mempercepat laju mobilnya.
"Udah jam 8 malam lagi nih" timpalnya yang semakin khawatir akan keselamatan dirinya sendiri dari amukan sang singa betina.
Sedangkan Leny terus mondar-mandir di depan meja makan, Wulan yang melihat tingkah sang kakak merasa heran karena sedari tadi ia melihat kalau Leny sedikit kesal bercampur khawatir karena Daniel tak menjawab telepon darinya.
"Duh, kemana sih kakakmu itu dek" ucap Leny kesal dengan masih dalam posisi mondar-mandir di depan wulan.
"Dari tadi kakak telepon gak di angkat-angkat" timpalnya.
"Sabar kak, mungkin kak Daniel lagi di jalan dan fokus menyetir, jadi dia gak bisa menjawab telepon dari kakak" jawab Wulan.
"Mending kakak duduk aja dulu, apa gak capek dari tadi terus mondar-mandir seperti setrika" timpal wulan.
"Liat aja entar, bakal ku sikat kau" ucap Leny geram dan Wulan hanya menggeleng saja.
"Sabar kak, sabar. Jangan emosi begitu" ucap Wulan menasehati.
"Bagaimana kakak gak kesal coba dek. Kakak kamu sudah pergi dari siang tadi, dan sampai sekarang belum juga kembali" jawab Leny meluapkan uneg-unegnya.
"Bilang aja kakak kangen sama kak Daniel kan?. Makanya kakak kesal seperti ini karena belum di belai oleh suaminya" ucap Wulan tersenyum menggoda.
"Ya itu juga termasuk sih" jawab Leny.
"Damin juga dari tadi terus manggil-manggil Ayahnya juga" timpal Leny sambil melihat sang putra yang tengah duduk tenang di kursi bayi miliknya.
"Ayah!!! buruan dong!!" ucapnya lagi sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Tak lama kemudian mereka mendengar sebuah suara mesin mobil yang berhenti di depan halaman rumah, dan mereka yang sudah hapal dengan suara mobil tersebut langsung merasa sedikit lega terutama Leny.
"Yayah" ucap Damin dengan polosnya.
"Wah keponakan Tante tau ya kalau itu suara mobilnya Ayah kamu?" tanya Wulan dan Damin hanya tersenyum menampakkan barisan giginya yang baru tumbuh, membuat Wulan menjadi semakin gemas melihat senyuman dari bayi laki-laki yang tampan tersebut.
Di luar rumah, Daniel langsung buru-buru keluar dari mobilnya, lalu ia langsung melangkah sedikit lebih cepat menuju ke rumahnya karena takut jika sang istri akan ngambek padanya.
"Semoga aja istriku gak ngambek" ucap Daniel sambil berjalan mendekati pintu masuk.
Pada saat Daniel membuka pintu, terlihat seorang wanita yang sudah berdiri bersilang dada di depannya dengan raut wajah yang nampak menyeramkan untuk dirinya.
"Eh, Bu..Bunda" ucap Daniel tersenyum cengengesan karena merasa takut melihat raut wajah sang istri.
"Jam berapa ini Ayah?" tanya Leny dengan tatapan mata yang seakan ingin mencengkeram Daniel.
"Ja..jam setengah 9 malam Bunda" jawab Daniel sambil melihat ke arah jam dinding yang terletak di dinding rumahnya.
"Tadi Ayah pergi dari jam berapa?" tanya Leny kembali dengan tatapan yang sama.
"Ja..jam 1 siang Honey" jawab Daniel semakin ketakutan.
"Terus kenapa baru pulang?" tanya Leny lagi.
"Ta..tadi.."
"Tadi ada urusan di kantor?" ucapan Daniel terpotong karena Leny langsung menyambarnya.
"Ayah udah mulai pinter berbohong ya sama Bunda" ucap Leny sambil menjewer telinga Daniel dengan geram.
"Tadi Bunda ke kantor dan bertemu dengan Riski, lalu Bunda tanya keberadaan Ayah. Riski bilang Ayah gak ada datang ke kantor" ucap Leny semakin geram.
"Hahaha. Ini namanya raja di atas raja" tawa Wulan mengejek sang kakak.
"Aduh, ampun dong Honey. Malu tuh di liatin anaknya" rengek Daniel sambil melihat Damin yang nampak bahagia melihat kelakuan dari kedua orangtuanya itu.
"Biarin aja. Biar Damin tau kalau Ayahnya ini nakal" jawab Leny semakin geram.
"Iya-iya, Honey Ayah minta maaf. Ayah janji gak seperti ini lagi" ucap Daniel memohon.
"Bener?, gak mau bohongin Bunda sama Damin lagi?" tanya Leny memastikan dan di anggukan oleh Daniel.
"Iya Honey, janji" jawab Daniel sambil membentuk jarinya seperti huruf V.
"Awas aja sampai di ulangi lagi" ucap Leny geram sambil melepaskan jewerannya.
Setelah jari lembut Leny terlepas dari telinga Daniel, Daniel langsung mengelus-elus telinganya yang sedikit memerah.
Kemudian Daniel mendekati sang putra yang tersenyum bahagia melihat kedatangan dirinya, dan Daniel langsung mengangkat Damin dari kursinya untuk ia gendong.
"Aduh Anak Ayah" ucap Daniel sambil mencium pipi putranya itu.
"Ayah sebaiknya berbicara jujur. Apa yang Ayah lakukan siang tadi, sampai-sampai Ayah pulang malam begini" tanya Leny penasaran.
"Bunda tau penyebab penyakit yang membuat Nenek Ani sampai seperti itu?" tanya Daniel balik, dan Leny hanya menggeleng saja.
"Sebenarnya Nenek Ani bukan terkena sebuah penyakit. Nenek Ani terkena serangan ghaib dari seorang dukun yang sudah di bayar seseorang" jawab Daniel menjelaskan.
"Hah?!, apa?" Leny terkejut.
"Kenapa bisa Ayah?, Apa nenek pernah melakukan kesalahan pada orang tersebut sampai-sampai dia melakukan hal musyrik seperti itu?" tanya Leny.
"Orang yang membuat Nenek Ani sampai menderita seperti itu adalah ulah dari salah satu musuh Ayah. Awalnya dia ingin melakukan itu pada Bunda, namun ilmu hitam dari dukun yang dia bayar gak sanggup menembus rumah kita dan tubuh Bunda, jadi pria itu menyuruh dukun tersebut untuk menyerang salah satu keluarga kita yang lainnya" jawab Daniel panjang lebar menjelaskan.
"Kurang ajar!. Berani-beraninya binatang itu melakukan hal keji seperti itu pada Nenekku" ucap Leny geram.
"Terus bagaimana dengan dukun dan orang yang membayarnya Ayah?" tanya Leny penasaran.
"Dukun itu sudah meminta maaf pada Ayah. Karena dia juga Ayah rasa tidak bersalah" jawab Daniel.
"Dukun itu ternyata di ancam oleh orang yang membayarnya. Jika dia tak mau melakukan pekerjaan tersebut, maka orang tersebut bakal melakukan hal keji pada istrinya" tambah Daniel mencoba membela si dukun yang sudah bertaubat itu.
"Lalu bagaimana dengan orang yang membayar dukun itu?" tanya Leny lagi.
"Sudah Ayah bereskan. Mungkin saat ini mayatnya sudah di makan binatang buas yang ada di hutan tempat Ayah membuangnya" jawab Daniel.
"Kenapa Ayah gak bilang dari awal sih?, seharusnya Bunda yang turun tangan untuk membantai orang itu" ucap Leny dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal setelah mendengar cerita dari sang suami.
"Kalau kakak yang melakukannya, pasti tubuh orang itu bakal tidak utuh lagi" ucap Wulan menyambung yang sudah tau dengan sikap kakak iparnya itu.
"Tentu saja dong dek, itu hukuman buat orang-orang yang sudah berani mengganggu keluarga kita" jawab Leny.
"Supaya tidak ada lagi orang-orang bodoh yang berani mengusik keluarga kita" timpal Leny.
"Udah deh Honey. Lagian orangnya udah jadi mayat juga, buat apa di bahas lagi?. Ayah udah memberikan hukuman yang setimpal untuk pelakunya" ucap Daniel sambil mengelus punggung Leny untuk menenangkannya.
"Ayah lapar, tadi Ayah sedikit mengeluarkan tenaga untuk menghukum orang itu" timpal Daniel.