Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SENDIRIAN SAJA SUDAH CUKUP


Akibat keributan yang di buat oleh para siswa dari sekolah lain itu di luar, sontak membuat para guru dan siswa di sekolah milik Joe menjadi ikut heboh karena murid dari sekolah lain itu teros meneriaki nama Hiroto yang terkenal dengan kenakalannya di sekolah itu.


"HIROTO! DIMANA KAU HA?!" teriak pemimpin mereka.


"APA KAU SUDAH TIDAK MEMILIKI NYALI LAGI UNTUK MENGHADAPI KAMI?!" sambung rekannya.


"SEBAIKNYA KAU PULANG DAN MENYUSU PADA IBUMU SAJA DI RUMAH" ucap bos mereka dan mereka semua tertawa.


Para murid Daniel hanya mengepalkan tangannya saja mendengar hinaan mereka pada Hiroto yang masih tak sadarkan diri. Mereka yang ada di kelas kegelapan itu tau sebenarnya Hiroto itu bukanlah siswa yang nakal dan sering di juluki sebagai preman di sekolah mereka. Hiroto hanya tak mau membuat teman-temannya menjadi seperti dirinya.


"Hiroto-San" ucap Gunpei yang memegangi tubuh Hiroto yang pingsan


"Apa Daniel Sensei bisa menghadapi mereka sendirian?" tanya Saki khawatir.


"Meskipun Daniel Sensei itu hebat, tapi yang dia hadapi bukan satu atau dua orang" timpal temannya ikut merasa khawatir.


"Kita doakan saja semoga Daniel Sensei baik-baik saja" tambah Gunpei.


Guru-guru dan para murid dari kelas lainnya melihat Daniel yang berjalan menuju ke tempat para siswa pembuat onar itu dengan seorang diri. Semua orang menjadi khawatir dengan keselamatan dari guru baru di sekolah itu kecuali tidak dengan Joe yang sudah benar-benar memahami siapa sosok Daniel sebenarnya.


"Apa mungkin Daniel Sensei ingin melawan para murid-murid itu sendirian?" tanya Haruka dengan wajah yang penuh rasa khawatir.


"Ini tidak bisa di biarkan, kita harus menghentikan Daniel Sensei atau membantunya" sambung Miu sambil menatap Joe berharap kepala sekolah mereka menyetujuinya.


Namun tanggapan Joe berbanding terbalik dari rasa kekhawatiran mereka semua, ia justru tetap bersantai menikmati secangkir kopinya tanpa mengkhawatirkan kaptennya itu sedikitpun.


"Joe Sensei!. Apakah anda tidak khawatir dengan Daniel Sensei?!" tanya Haruka sedikit emosi.


"Untuk apa harus mengkhawatirkannya?. Aku sangat mengenal dia. Kalian tenang saja, biarkan Daniel Sensei yang mengurus para murid-murid berandalan itu" jawab Joe santai sambil menyantap rotinya.


"Apa yang membuat Anda begitu sangat yakin dengan Daniel Sensei?" tanya Miu yang masih tetap khawatir.


"Kalau boleh jujur, dia itu kapten atau pemimpin kami waktu di bangku sekolah dulu. Selama ini tidak ada yang bisa mengalahkannya. Bahkan aku jauh dibawahnya" jawab Joe sambil menatap rotinya yang tersisa setengah.


"Sehebat itukah Daniel Sensei?" batin Haruka yang terus menatap Daniel berjalan menuju pintu gerbang.


"Aku akan menyuruh pak satpam membukakan gerbang untuk Daniel Sensei" ucap Joe sambil bangkit dari kursinya.


"Apa kami boleh ikut Joe Sensei?" tanya Haruka dengan raut wajah yang penuh dengan rasa khawatir.


"Terserah kalian, mungkin kalian juga bisa menyaksikan kehebatan Daniel Sensei dari dekat" jawab Joe sambil membuka pintu ruangan guru.


Sesampainya Daniel di pos satpam, Daniel langsung meminta satpam tersebut untuk membuka pintu gerbang agar ia bisa langsung menghadapi para siswa-siswa itu seorang diri, akan tetapi sang penjaga sekolah enggan melakukannya karena ia juga tak ingin Daniel sampai terluka.


Daniel terus meyakinkan satpam itu agar dia mau membukakan pintu gerbangnya. Berbagai macam cara ia katakan untuk membujuk satpam tersebut, namun sang satpam masih tidak mau membukanya.


"Pak satpam tenang saja, aku bisa membereskan mereka semua tanpa terluka sendiripun kok" bujuk Daniel agar sang satpam mau membukanya.


"Jangan Sensei, mereka itu sangat banyak. Mustahil bagi anda bisa menang dengan seorang diri" jawab sang satpam.


"Aku tidak akan kenapa-kenapa kok pak satpam" bujuk Daniel lagi.


"Tapi..." ucapan sang satpam terpotong karena kedatangan Joe dengan tiba-tiba.


"Sudahlah pak satpam, turuti saja apa yang dikatakan kapten Daniel. Biarkan dia yang mengurus mereka semua" ucap Joe memotong perkataan sang satpam.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan pak" ucap Joe meyakinkan satpamnya.


"Tunggu apa lagi pak satpam, aku takut mereka malah menjadi semakin meraja rela dan menghancurkan fasilitas di sekolah ini" ucap Daniel terus membujuk satpam tersebut.


Lalu satpam itu menatap ke arah Joe yang hanya mengangguk saja pertanda bahwa sang kepala sekolah menyetujui kalau Daniel yang akan menghadapi puluhan siswa dari sekolah lain itu seorang diri. Dengan ragu-ragu satpam itu membuka pintu gerbang yang ia kunci. Ia masih khawatir akan keselamatan Daniel, dan tak lama kemudian Haruka serta guru yang lainnya menghampiri Joe karena mereka sangat mengkhawatirkan Daniel.


"Daniel Sensei..." panggil Haruka dan membuat langkah Daniel terhenti.


"Apa anda yakin ingin melawan para murid nakal itu sendirian?" tanya Miu khawatir.


"Mereka itu banyak dan membawa senjata, sedangkan Sensei hanya seorang diri dengan tangan kosong juga" timpal Miu.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Tapi kalian semua jangan takut, aku akan kembali karena aku juga harus mengajar murid-murid ku yang bodoh itu" jawab Daniel sambil menunjuk ke arah kelasnya.


"Tapi..." ucapan Haruka langsung terhenti karena Joe memegang pundaknya.


"Haruka Sensei, biarkan Daniel Sensei pergi. Kamu jangan takut, setelah ia kembali, kita akan minta dia mentraktir kita semua" ucap Joe sambil menatap Daniel dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha. Baiklah, sesuai perkataan pak kepala sekolah" jawab Daniel tertawa.


"Setelah urusanku dengan mereka selesai, aku akan mentraktir kalian, kalian boleh makan sepuasnya" timpalnya tersenyum agar mereka semua tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Janji?" tanya Haruka penuh harap.


"Aku ini laki-laki, seorang laki-laki itu yang di pegang omongannya" jawab Daniel serius dan para guru wanita itu tersenyum menatap Daniel.


"Oke, kami akan menagih janji kamu Daniel Sensei. Oiya, jangan lupa ajak Leny dan juga Damin ya" ucap Haruka tersenyum paksa karena cukup berat baginya menyebut namanya Leny.


Daniel berbalik badan dan berjalan keluar pagar lalu ia mengangkat tangan kanannya sambil mengacungkan jempolnya tanpa melihat kearah para guru yang terus berdoa untuknya.


"Daniel Sensei... Semoga anda baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun" batin Haruka berdoa.


"Sepertinya Haruka Sensei memiliki rasa pada kapten, namun dia kurang beruntung karena kapten sudah berkeluarga" batin Joe tersenyum pahit menatap Haruka yang terus menatap Daniel yang terus berjalan.


Para murid nakal itu menatap Daniel yang berjalan mendekati mereka, mereka semua hanya heran melihat Daniel yang berani mendatangi mereka seorang diri bahkan tanpa senjata apapun di tangannya.


Sesampainya Daniel di hadapan mereka, Daniel langsung di sambut dengan kata-kata yang sangat tidak sopan karena umur mereka jauh bawah Daniel.


"Aku menyuruh Hiroto untuk datang, tapi kenapa malah ada seorang om-om yang menghampiri kita?" tanya siswa itu menatap remeh Daniel.


"Apa mau kalian?!, ada urusan apa kalian pada murid-murid ku? tanya Daniel dengan nada dinginnya.


"Ayolah paman, paman tidak usah ikut campur, ini urusan kami. Orang tua seperti paman sebaiknya berada di rumah saja" ejek salah satu dari mereka.


"Tentu saja ini menjadi urusanku. Yang kalian kunjungi ini sebuah sekolah, aku juga guru di sekolah ini, dan kalian datang di saat jam pelajaran sedang berlangsung, apa kalian bolos sekolah?!" tanya Daniel.


"Sudah di bilang ini bukan urusanmu paman!. Sebaiknya kau menyingkir dari kami sebelum kami menghabisi mu di tempat ini" ancam ketua dari siswa tersebut.


"Apa kalian tidak diajarkan sopan santun oleh kedua orang tua kalian?, atau di sekolah juga tidak di ajarkan?!" tanya Daniel sedikit emosi karena para siswa itu sudah semakin keterlaluan.


"Apa kalian tidak bertanya-tanya kenapa hanya aku saja yang berada di depan kalian?!" tanya Daniel lagi.


"Ya!. Karena aku sendiri saja sudah cukup untuk mengusir kalian dari tempat ini!" sambungnya dengan tegas.