Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
TAK KUNJUNG PULANG


Leny dan Wulan masih merasa cemas. Di depan pintu mereka tidak bisa beranjak dari tempat itu dan terus memandangi mobil Daniel yang telah melaju.


Wulan dan Leny saling berpelukan dan mengkhawatirkan Daniel. Mereka berdua tidak bisa berfikir dengan tenang, Mereka terus memandangi jam dan menunggu kepulangan Daniel.


Waktu sudah pukul 10.00, namun Daniel tak kunjung pulang. Leny terus khawatir, dia tidak bisa tenang, dia mondar-mandir dan mengigit kukunya.


"Aduh suamiku mengapa belum kembali"


Wulan berdiri dan menenangkan Leny


"Kak, jangan panik begitu. Ingat kata kak Daniel, kakak tidak boleh terlalu stres"


Wulan merangkul Leny untuk duduk dan menenangkan hatinya yang gelisah. Sebenarnya Wulan juga sangat mengkhawatirkan Daniel, namun dia harus tetap tenang dan berfikir positif.


Wulan mengelus punggung Leny dan berkata


"Aku yakin kakak akan pulang"


Leny mengangguk dan menjawab


"Iya dik, kakak berharap kakak kamu bisa kembali dan berkumpul bersama kita"


Wulan tersenyum dan memeluk Leny


"Kakak tenang saja, kakak aku pasti akan bisa mengatasinya"


Keadaan Daniel


Ketika Daniel sampai di kantor polisi, ada dua orang wanita yang telah menunggu Daniel.


Ternyata mereka adalah salah satu pihak keluarga korban yang telah Daniel bunuh waktu itu.


Seorang ibu tua menghampiri Daniel dan menangis dihadapannya


"Nak, mengapa kamu membunuh anak saya?"


Wajah Daniel menjadi sedih. Dia tak tega melihat ibu tua itu menangis di hadapan Daniel, lalu Daniel menenangkan wanita tua itu dan memberi tahu hal yang sebenarnya.


"Bi, maaf kalau saya sampai melukai hati bibi. Namun yang sebenarnya terjadi sebenarnya anak bibi bekerja di tempat yang haram dan berbahaya"


Mata wanita tua itu melotot dan sangat terkejut


"Apa maksud kamu nak?, apa yang di lakukan anakku?"


Daniel menghela nafas dan menjawabnya


"Anak ibu bergabung dalam kelompok pembunuh bayaran. pekerjaan itu sangat berbahaya. Kalau bukan dia yang membunuh, maka dialah yang terbunuh"


Ibu itu menangis histeris dan masih tidak percaya


"Tidak! tidak! tidak!. Anakku tidak seperti itu, dia sangat berbakti kepada kedua orangtuanya"


Daniel mengelus punggung wanita tua itu dan menenangkannya


"Bi, apa yang aku katakan itu benar. Bahkan kelompok tempat dimana anak bibi bekerja sempat membuat istri saya mengalami koma. Saya hanya membalas perbuatan mereka"


Wanita tua itu menatap Daniel dan berkata


"Apa?!, kamu tidak berbohong kan nak?"


Daniel tersenyum dan berkata


"Apa yang aku katakan itu benar bi. Awalnya aku tidak ingin berurusan dengan anak bibi dan teman-temannya, tapi mereka sudah berani melukai istriku"


Tiba-tiba ada wanita yang sedang mengandung menghampiri Daniel dan juga menangis. Wanita tua itu merangkul wanita yang tengah hamil itu


"Nak, orang yang terbunuh olehmu adalah suami wanita ini, dia menantu bibi. sekarang anak yang dia kandung mau tidak mau akan hidup tanpa seorang ayah"


Daniel jadi merasa bersalah dan dia meminta maaf kepada wanita tua dan menantunya itu


"Bi, kak, maafkan aku ya. Aku hanya ingin melindungi istriku saja, aku juga tak bermaksud berbuat seperti itu. Semua itu diluar kendali"


"Tidak, kamu benar, sudah sewajarnya seorang suami harus melindungi harga diri dan keselamatan istrinya. Jadi kamu tidak salah, hanya saja suamiku yang terlalu bodoh memilih pekerjaan seperti itu dan akhirnya mendapatkan bayarannya"


Wanita tua itu akhirnya tenang, dan bisa berfikir dengan jernih


"Yang dikatakan menantuku itu benar juga. Sudah berapa banyak orang yang dia bunuh, dan sekarang dia telah mendapatkan karmanya"


Wanita itu juga berkata


"Iya, sudah sepantasnya dia menanggung dosanya itu. meskipun aku ibunya, namun jika dia melakukan dosa, maka aku juga akan mendukung kamu untuk menghukumnya"


Wanita hamil itu berkata


"Kak, terimakasih telah menghukum suami saya, jika bukan karena kakak, mungkin aku dan ibu mertuaku akan terus-menerus memakan uang haram darinya"


Wanita tua itu memegang pipi Daniel dan berkata


"Kami tidak berniat untuk menghukum kamu dan memasukkan kamu ke dalam penjara. Oh iya dan satu lagi, tolong sampaikan permintaan maaf kami kepada istri kamu ya nak"


Daniel mengangguk dan memeluk wanita tua itu. Wanita tua itu tak sanggup menahan air matanya lagi, dan dia menangis dalam pelukannya.


Lalu Daniel memberikan sebuah cek yang berjumlah 1 milyar untuk menebus kesalahannya kepada anaknya itu. Namun mereka menolaknya, karena niat mereka bertemu Daniel hanya untuk meminta penjelasan saja.


Wanita tua itu berkata dengan tegas


"Nak apa ini? bibi tidak minta kamu untuk mengganti nyawa anak bibi, tujuan kami kemari hanya ingin meminta penjelasan dari kamu saja. Karena akhir-akhir ini kami sangat mencurigai anak itu tentang pekerjaannya"


Daniel memegang tangan wanita tua itu dan berkata


"Bi, tolong di terima, aku hanya ingin membantu keluarga bibi. Begini saja, anggap saja cek ini untuk biaya membesarkan cucu bibi, jika kurang aku berjanji akan memberikannya lagi"


Istri korban memotong pembicaraan mereka


"Kak, tidak perlu, aku tidak ingin uang itu. meskipun kedepannya kami akan susah, tapi kami tak ingin membuat orang susah juga"


Daniel menatap wanita itu dan berkata


"Kak, aku hanya ingin bertanggung jawab untuk bayi kakak saja. anggap saja ini pemberian nafkah untuk anak kakak"


Dengan terpaksa mereka berdua menerima pemberian dari Daniel itu. Sebelum pergi, Daniel menyelipkan uang sebesar 50juta lagi di tas wanita tua itu.


Karena masalah ini sudah selesai, maka Daniel pergi pulang. Dia mengkhawatirkan istri dan adiknya itu, pasti mereka berdua sangat panik menunggu kepulangannya.


Sebelum pulang Daniel membelikan hadiah untuk Leny dan Wulan. Lalu Daniel buru-buru menancapkan gas mobilnya dan berusaha sampai rumah dengan cepat.


Leny dan Wulan yang dari pagi hingga sore tidak memasukkan 1 makanan pun kedalam lambung mereka, karena masih mengkhawatirkan Daniel yang tak pulang-pulang.


Leny yang sudah tanda dengan suara mobil milik suaminya, dia langsung berlari keluar saat mendengar suara mobil Daniel masuk ke pekarangan rumahnya. Wulan yang bingung bertanya kepada Leny, dan Leny menjawabnya kalau Daniel sudah pulang.


Dengan perasaan yang tadinya tegang kini telah berubah menjadi bahagia karena kepulauan orang yang telah mereka tunggu dari pagi. Leny dan Wulan sudah berada di depan pintu dan menunggu kepulangan Daniel.


Leny berteriak dan langsung berlari menghampiri Daniel yang baru keluar dari mobilnya


"Suamiku! akhirnya kamu pulang juga, betapa khawatirnya aku menunggu kepulangan kamu"


Wulan tersenyum dan memandangi Daniel dan Leny dari pintu rumah


"Sebaiknya aku tidak menggangu mereka, yang paling penting kakakku pulang"


Daniel memberikan apa yang dia beli kepada Leny, dan Leny menerima hadiah itu dan berkata


"Suamiku, hadiah terbaik yang aku inginkan hanya kamu"


Daniel mencium kening Leny dan berkata


"Iya istriku. Aku sudah berjanji kepada kalian, maka aku harus menepatinya"


Leny terus memeluk Daniel dengan manja dan meminta di gendong oleh Daniel. Dengan senang hati Daniel menggendong Leny, dan dengan mesra mereka masuk kedalam rumah