Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
UNTUK KEDEPANNYA


Daniel di kejutkan dengan kedatangan para sanak saudaranya yang sudah menunggu kepulangannya sedari pagi tadi, namun Daniel sampai ke rumah pada siang harinya.


Mata Daniel justru mencari keberadaan sang putra yang sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Rasa rindu pada Damin sudah tidak bisa di bendungnya lagi, begitu juga pada sang putra yang sangat merindukan pelukan dari Ayahnya itu.


"Damin..." panggil Daniel sembari membentangkan kedua tangannya dan membuat sang putra ingin langsung di peluk oleh Ayahnya.


"Yayah, Yayah" ucap Damin bermaksud memanggil-manggil Daniel.


Mereka semua yang melihat pertemuan kembali antara Ayah dan anak itu merasa sangat bahagia, terutama pada diri Leny yang merupakan istri dan Ibu dari Damin. Leny yang sudah tak sanggup menahan air mata bahagianya lagi, ia langsung menangis dalam pelukan Daniel dan sang putra yang tengah berpelukan, akhirnya mereka bertiga berpelukan bersama untuk melepaskan rasa rindu yang sangat mendalam.


"Damin kasih tau sama Ayah kamu. Jangan berbuat ceroboh lagi" ucap Leny dengan suara harunya.


"Maafin Ayah ya sayang. Kalian jadi seperti ini gara-gara Ayah yang terlalu ceroboh" ucap Daniel sembari menatap putranya dengan tatapan sedih.


"Ayah seperti ini, karena ada orang yang sudah berani menggangu Bunda kamu sayang. Jadi Ayah gak terima dong" timpalnya tersenyum dan langsung memeluk Damin.


"Udah ya kangen-kangenannya. Aku lapar ni" ucap Fauzi dan membuat semua orang memandang dirinya dengan tatapan membunuh.


"Eh, ampun, ampun" ucap Fauzi tersenyum kikuk sembari mengangkat kedua tangannya.


"Damin jangan menatap pamanmu ini seperti itu dong" timpalnya melihat Damin yang ikut menatapnya dengan tajam.


"Kamu ya Pa" tegur Angel dengan gemas dan langsung mencubit pinggang suaminya.


"Aduh, aduh. Ampun Ma" ucap Fauzi mengadu ampun.


"Merusak suasana aja" ucap Kevin yang langsung memiting leher Fauzi sampai membuat Damin tertawa bahagia.


"Tega kamu Damin. Paman kamu sedang di siksa, tapi kamu malah tertawa bahagia" ucap Fauzi berpura-pura sedih.


"Udah-udah. Ayo kita makan dulu, benar yang dikatakan Fauzi tadi" tegur Mama Anita.


"Tu kan api ku baling" ucap Fauzi.


"Apa ku bilang!. Ngomong segala di balik-balik" tegur Kevin semakin geram, dan semakin membuat Damin kegirangan.


Setelah perdebatan yang tidak penting selama kali itu, akhirnya mereka semua pergi menuju ke meja makan untuk menikmati hasil masakan dari para wanita yang sudah menguras tenaga mereka demi memuaskan rasa lapar mereka semua.


Damin yang memang masih merindukan sang Ayah, jadi Daniel yang memangku putranya yang semakin hari semakin tampan menurut mereka yang melihat wajah Damin.


"Win, kandungan kamu udah 8 bulan ya?" tanya Leny sembari mengelus-elus perut dari sahabatnya itu.


"Iya Len-Len. Sebentar lagi Damin bakal punya temen bermain" jawab Windy tersenyum sembari membelai perutnya juga.


"Ya semoga aja anak-anak kita tidak seperti para Ayahnya ya" bisik Leny pada Windy dan membuat mereka berdua tertawa.


"Apa yang kalian bisikkan?" tanya Riski dengan tatapan menyelidik.


"Suttt!!. Ini urusan wanita, para pria dilarang ikut campur" jawab Leny menatap tajam Riski.


"Awas berpikir macam-macam ya" ucap Riski seakan mengancam.


"Enggak Papa" jawab Windy.


"Liat tu Papa kamu sayang, curigaan mulu sama Mama" timpalnya berbicara pada calon anaknya.


"Kamu tenang saja Kak, kami para istri yang setia, dan tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh di belakangmu dan Ayahnya Damin tu" sambung Leny sembari menatap sang suami yang tengah asyik bermain dengan putra mereka.


"Ini mau makan, apa mau debat pejabat?" tegur Mama Siska yang sedari tadi hanya menyimak.


"Iya Mama" jawab Windy tersenyum manis.


"Nak Alvin, apa kamu sudah berniat untuk segera menikah?" tanya Ibu Rani secara tiba-tiba.


"Uhuk-uhuk" Alvin terbatuk-batuk karena terkejut mendengar pertanyaan itu secara tiba-tiba.


"Minun nak" ucap Ibu Rani menyodorkan segelas air pada Alvin.


Kemudian Alvin langsung meminum minumannya agar meredakan tenggorokannya yang sedikit perih akibat terbatuk-batuk tadi.


"Terima kasih Bu" ucap Alvin.


"Sama-sama sayang" jawab Ibu Rani tersenyum.


"Alvin belum kepikiran untuk itu Bu. Lagipula menurut Alvin tidak ada wanita yang mampu menggantikan posisi Aisyah di hidup Alvin Bu" ucap Alvin menjawab pertanyaan dari Ibu Rani tadi.


"Maaf ni nak, memangnya ada dengan kamu dan wanita yang bernama Aisyah itu?" tanya Mama Yuni penasaran.


"Aisyah itu matan kekasih Alvin dulu jeng. Ia meninggal dunia karena mengidap tumor otak stadium 4" ucap Ibu Rani yang menjawab.


"Astaghfirullah, innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Mama Yuni terkejut.


"Maafkan Tante ya nak, Tante gak bermaksud untuk mengungkit masa kelam kamu" ucap Mama Yuni merasa tidak enak.


"Eh tidak apa-apa kok Tante, Alvin gak masalah, hehe" jawab Alvin tersenyum.


"Untuk saat ini, Alvin hanya fokus untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita penyakit" timpalnya tersenyum.


"Tapi kau juga harus memikirkan untuk kedepannya" ucap Daniel menyambung.


"Itu di dekat rumahku ada seorang cantik wanita yang sering lalu lalang. Jika kau ingin tau, aku akan mengenalkannya untukmu" timpalnya.


"Wanita yang mana Ayah?" tanya Leny penasaran


"Itu loh Honey. Mbak Bella" jawab Daniel cengengesan.


"Ih Ayah ini. Itu kan wanita yang kurang waras, masa mau kamu kenalkan ke Alvin" tegur Leny sambil memukul lengan Daniel dengan pelan.


"Haha. Mana tau jika ia bersama Alvin si mbak Bella bisa sembuh" ucap Daniel tertawa.


"Aku ini dokter umum, bukan dokter jiwa" tegur Alvin dan membuat mereka semua tertawa.


"Oh iya. Setelah Kak Daniel sembuh, apa yang kamu lakukan?, apa kamu akan kembali ke Jepang?" tanya Fauzi.


"Tidak!. Alvin akan membantu Ayu di rumah sakit milikku, dan dia akan menetap di sana" sambung Daniel menjawab.


"Apa-apaan kau ini?!. Memutuskan sepihak begitu saja" ucap Alvin sedikit terkejut.


"Tapi kau mau kan?" tanya Daniel yang sudah paham akan jawaban yang keluar dari mulut Alvin.


"Iya, aku mau" jawab Alvin serius.


"Huu..!" tegur Daniel sembari melempar sebuah pisang ke arah Alvin.


"Hehe" tawa Alvin sembari memakan buah pisang yang di lemparkan oleh Daniel tadi.


Seperti biasanya, setelah selesai makan. Para pria berkumpul di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi dan rokok mereka masing-masing tidak lupa pula beberapa cemilan, untuk menemani obrolan mereka. Sedangkan para wanita berkumpul di dalam menemani para anak-anak mereka bermain bersama.