Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KAMAR YANG MENJADI SAKSI


Pagi harinya Leny terbangun dari tidurnya, ia melihat sosok pria tampan yang tengah tertidur pulas sambil memeluk dirinya.


Leny tersenyum melihat wajah tampan dari suaminya yang masih tertidur. Dengan perlahan ia membelai pipi suaminya dan Daniel juga masih belum bangun dari mimpi indahnya.


Namun lama kelamaan Daniel terbangun karena ada sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Dengan perlahan Daniel membuka matanya, dan ia melihat seorang wanita cantik tengah tersenyum manis menatapnya.


"Selamat pagi tampan" sapa Leny tersenyum manis menatap sang suami.


"Hmm... Pagi juga Honey" jawab Daniel dengan suara khas orang yang baru bangun tidur dan ia merenggangkan tubuhnya.


"Bunda udah bangun dari tadi?" timpal Daniel bertanya.


"15 menit yang lalu" jawab Leny dan langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


"Kenapa Bunda gak bangunin Ayah?" tanya Daniel sembari memeluk Leny.


"Gak mau ah. Kan Bunda mau liat sosok pangeran tampan yang tengah tertidur pulas" jawab Leny yang ikut memeluk Daniel.


"Nakal" ucap Daniel sembari mencolek hidung Leny dan semakin erat memeluk sang istri.


Tiba-tiba dengan nakalnya Leny memasukkan tangannya kedalam celana pendek yang tengah Daniel gunakan. Daniel langsung tersentak karena istrinya yang tiba-tiba langsung melakukan hal tersebut.


"Bunda..." tegur Daniel yang melihat wajah sang istri tengah tersenyum nakal.


"Oo... Udah mulai nakal ni ya" timpal Daniel.


Karena dirasa sudah cukup lama melakukan pemanasan, dan mereka juga sudah sama-sama berkeringat, akhirnya Daniel segera menuntaskan semuanya dengan menyerang inti milik Leny.


Sudah hampir satu jam mereka berperang di atas ranjang, dan Leny juga sudah 4 kali sampai klimaksnya, sedangkan Daniel belum sekalipun.


Saat ini Leny yang berada di atas dan ia yang melakukan pergerakan, sedangkan Daniel menikmati goyangan sang istri dan tangannya sambil bermain dengan gumpalan lemak Leny.


Daniel sudah mulai merasakan puncak klimaksnya, Leny yang sadar jika sang suami sudah ingin keluar karena ia bisa merasakan sebuah kedutan pada tombak sang suami.


Kini Leny semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan Daniel juga sudah semakin memuncak..


"Arkhh... Bunda..." ucap Daniel dan senjatanya juga langsung mengeluarkan sebuah cairan hangat pada rawa milik Leny.


"Haaa...." Leny menikmati cairan hangat pada rawa miliknya.


Kini mereka berdua sudah sama-sama lemas tak berdaya setelah berperang di atas kasur. Leny langsung tumbang di atas tubuh sang suami dan Daniel juga langsung memeluk tubuh sang istri sambil mencium keningnya.


"Terima kasih Honey, Ayah puas banget" ucap Daniel sembari membenarkan rambut Leny yang sedikit berantakan. Kemudian mereka berdua berpelukan dan tertidur dalam keadaan telanjang dengan posisi Leny yang menindih tubuh sang suami.


Mereka berdua tertidur dalam keadaan tanpa benang sedikit yang menempel tubuh mereka berdua. Mereka juga sudah tertidur lebih dari dua jam.


Setelah itu mereka berdua sama-sama terbangun dan Leny mengajak sang suami untuk mandi bersama, dengan senang hati Daniel mengiyakan ajakan dari istri cantiknya itu.


Kemudian Daniel menggendong Leny menuju ke dalam kamar mandi dan setelah mereka sudah sampai di dalam kamar mandi, Daniel langsung meletakkan Leny ke atas bathub dengan sangat lembut dan tak lupa ia mencium bibir lembut istri itu.


Lalu Daniel menyalahkan keran yang berisi air panas dan mengisi bathub dimana Leny sedang berendam di dalamnya. Setelah di rasa sudah cukup, kemudian Daniel langsung ikut bergabung dengan sang istri dan mereka berdua mandi bersama, saling memberi sabun.


Kini dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu berperang kembali di dalam kamar mandi, bahkan sudah hampir 1 jam mereka berdua berada di dalam kamar mandi tersebut.


Dirasa sudah cukup puas dan juga sudah sama-sama lelah, akhirnya mereka berdua menyudahi peperangan itu lalu membersihkan diri sebelum pergi ke bawah untuk sarapan.


Seusai mandi dan dengan di bumbui sebuah peperangan di dalamnya, kini mereka berdua bersiap-siap untuk turun ke bawah dan menikmati sarapan di hotel mewah milik Daniel.


Daniel melihat jam dinding di kamar, dan waktu menunjukkan pukul 11 waktu setempat. Ternyata mereka berperang sudah lebih dari 3 jam, wajar saja jika mereka berdua sama-sama lelah karena peperangan tersebut.


Setelah mereka berdua selesai berpakaian, Daniel dan Leny segera keluar dari kamar dan berniat untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.


Pada saat mereka berdua membuka pintu kamar, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong seorang anak kecil yang wajahnya begitu mirip dengan Daniel.


"Astaghfirullah Ibu" panggil Daniel sedikit terkejut melihat sang Ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Ibu udah dari tadi?" timpal Daniel bertanya.


"Enggak kok, Ibu baru sampai dan berniat ingin memanggil kalian, eh rupanya kalian tiba-tiba keluar, Ibu juga terkejut" jawab sang Ibu menjalankan.


Damin yang sudah sangat merindukan pelukan dari sang Ibunda tercinta langsung meronta-ronta saat melihat Leny yang tersenyum menatap dirinya.


"Utut-utut, anak Bunda" ucap Leny yang sudah mengambil alih gendongan Damin.


"Damin rindu sama Bunda ya?" tanya Leny dan langsung menciumi wajah sang putra.


Damin hanya terkekeh geli menerima ciuman dari Bundanya yang terus melakukan itu berulang kali. Tak mau kalah, Daniel juga ikut menciumi sang putra yang sudah sangat ia rindukan.


"Hey, hey. Udah dong, kasian cucuku kalian serang begitu" tegur sang Nenek.


"Aku sangat rindu pada ni tuyul Bu" jawab Leny yang terus memeluk sang putra.


"Udah dulu, kasian Damin ketawa terus" ucap sang Ibu yang gak tega melihat cucunya seperti itu.


"Lebih baik kita ke bawah, yang lainnya juga sudah menunggu" timpal sang Ibu.


"Loh mereka datang juga?" tanya Daniel


"Iya, sudah hampir 2 jam kami menunggu kalian, tapi gak keluar juga dari sarangnya" jawab sang Ibu menyindir.


Kemudian Daniel dan Leny yang asyik bermain dengan Damin dalam gendongannya berjalan mengikuti sang Ibu menuju lantai bawah menemui keluarganya yang sudah menunggu mereka sejak 2 jam yang lalu.


Pintu lift terbuka dan kedua orang yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya sampai di sebuah meja yang sudah ramai di tempati oleh keluarga besar Daniel dan Leny.


"Akhirnya pengantin baru kita keluar juga dari kandangnya" ucap Alvin menyindir.


"Haha. Habis berapa ronde bosku?" tambah Fauzi ikut mengejek.


"Ya gak terlalu lama, hanya sekitar 3-5 ronde aja" jawab Daniel santai sembari menarik sebuah kursi untuk sang istri duduki.


"Hahaha" mereka semua tertawa.