Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
NASEHAT DANIEL


Sedari tadi kakak-beradik itu selalu ribut memperdebatkan hal yang sama sekali tidak penting, sampai membuat Ayu dan Leny malu sendiri melihat tingkah dari suami mereka masing-masing.


"Udah dong!. Dari tadi ribut mulu, malu di liatin orang" tegur Ayu.


"Suami kamu dulu yang mulai" jawab Daniel sembari membuka handle pintu ruangan Alvin.


Alvin yang tengah sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya terpaksa harus terhenti karena mendengar suara pintu terbuka di tambah lagi ada keributan yang ikut masuk.


"Masuk bukannya mengucap salam, ini malah seperti orang hutan" ucap Alvin menegur namun matanya masih menatap lembaran-lembaran kertas di atas meja.


Ayu yang sudah mengetahui rumor tentang kehebatan Alvin yang merupakan dokter terbaik menurut orang-orang malah terdiam terpaku saat melihat sosok pria hebat itu berada tepat di depan matanya.


"Do.. dokter Alvin?" ucap Ayu dengan rasa gugup yang mendalam.


"Iya?, saya" jawab Alvin sambil mengangkat kepalanya.


Saat Alvin melihat ke arah Daniel dan juga Dion, ia langsung terkejut sampai sedikit melompat dari kursi duduknya.


"Astaghfirullah, innalilahi!" ucap Alvin terkejut.


"Apa kau bisa melakukan jurus membelah diri tuan?!" timpalnya bertanya dan terus menatap Daniel dan Dion secara bergantian.


"Gak usah sampai istighfar seperti itu!. Kami ini manusia, bukan setan" ucap Daniel menegur.


"Bagaimana aku tidak istighfar saat aku melihat dua orang yang memiliki wajah yang sama berdiri tepat di depanku?" jawab Alvin.


"Apa kau tidak pernah melihat orang-orang kembar?" tanya Daniel sedikit kesal.


"Bukan seperti itu tuan!. Karena aku tidak pernah tau kalau kau punya saudara kembar" jawab Alvin menjelaskan.


"Yalah yalah!" ucap Daniel memutar bola matanya jengah.


"Udah-udah, gak usah di tanggapi dua orang aneh ini Alvin" ucap Leny.


"Padahal aku gak ada ngomong apa-apa loh" ucap Dion menjawab.


"Suuttttt!!" tegur Leny meletakan telunjuknya ke arah bibirnya.


"A..anda dokter Alvin kan?" tanya Ayu yang masih dalam keadaan gugup.


"Iya" jawab Alvin tersenyum.


"Apa aku bermimpi?, aku bisa berbicara secara langsung pada dokter terhebat?" ucap Ayu bertanya-tanya.


"PLETAKKK!!! " ( Daniel tiba-tiba memukul kepala Dion )


"Woy!, sakit bodo!" ucap Dion memprotes sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa kau tiba-tiba memukulku?!" timpalnya bertanya.


"Tadi istri kamu bertanya, dia sedang bermimpi atau tidak. Jadi, untuk membuktikannya, aku menggunakan cara itu" jawab Daniel seakan tanpa dosa.


"Kenapa harus aku yang jadi korbannya?!" tanya Dion semakin kesal.


"Karena cuma kau yang berada di dekatku" jawab Daniel dengan santainya.


"Gadak otak!. Kakak durhaka!" ucap Dion sembari memukul kepala Daniel balik.


"Hadeh" keluh Leny menggelengkan kepalanya sambil memegangi kebingungannya.


"Berantem aja teros!. Sampe Damin lulus kuliah!" timpalnya menegur.


"Kalian berdua!. Jangan merusak suasana!" sambung Ayu dengan tatapan yang mengerihkan, dan sukses membuat keduanya langsung terdiam.


"Maaf ya Dok, mereka berdua memang seperti itu" ucap Ayu tak enak hati pada sang panutan.


"Haha!. Untuk apa kamu meminta maaf adik ipar?. Alvin dan mereka bertiga sama saja konyolnya" ucap Leny menahan tawanya, sedangkan Alvin hanya salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya.


"Sudah dulu ya bercandanya. Kali ini kita masuk ke inti pembahasannya" ucap Daniel dengan wajah serius.


"Ha, iya. Ada apa kau membawa kami kemari kak?" tanya Dion.


"Aku akan memberitahu pada kalian kalau Alvin akan bekerja di sini, dan dia akan menjadi wakil kamu Ayu" jawab Daniel.


"Hah?!" Ayu terkejut mendengar perkataan dari Daniel.


"Dan kalian tau siapa yang menyelamatkanku dari kematian?" tanya Daniel.


"Hanya Alvin yang bisa" timpal Daniel.


"Terima kasih sudah menyembuhkan kakakku yang bodoh ini" ucap Dion menjabat tangan Alvin.


"Sabar, sabar" gumam Daniel menghela nafasnya.


"Ta..tapi yang aku tahu. Kalau dokter Alvin tidak pernah mau terikat pada siapapun" ucap Ayu merasa heran.


"Jika dengan tuan Daniel, lain lagi ceritanya" jawab Alvin.


"Dia sudah sangat berjasa dalam hidupku" timpalnya.


"Ah, iya. Aku pernah mendengar kalau ada seseorang yang sangat berjasa di balik kehebatan dan kesuksesan kamu" ucap Ayu.


"Dialah orangnya" jawab Alvin menunjuk ke arah Daniel.


"APA??!!!" ucap Ayu dan Dion sedikit berteriak karena terkejut.


"Berisik banget suami istri ni" tegur Daniel sembari memegangi telinganya.


"Jadi orang yang membantu dokter Alvin adalah kakak iparku sendri?" tanya Ayu seakan belum percaya.


"Of course" jawab Alvin tersenyum yakin.


"Kenapa kau merahasiakan hal ini Daniel?!" tanya Ayu.


"Kalian tidak bertanya. lagian untuk apa aku menceritakan hal seperti itu?, mau di anggap sombong?" jawab Daniel santai.


Siang harinya, setelah pengantin baru itu sudah pulang kerumah karena kondisi badan masih lelah akibat perjalanan jauh.


Hanya ada Daniel, Leny dan Alvin di ruangan tempat Alvin bekerja. Waktu juga sudah menunjukkan untuk makan siang, dan mereka bertiga juga sudah harus mengisi perut masing-masing.


"Apa kalian tidak pulang?, ini sudah waktunya makan siang" tanya Alvin.


"Kasian juga putra kalian sudah terlalu lama kalian tinggal" timpalnya.


"Kau tenang saja, Damin sedang bersama Neneknya" jawab Daniel.


"Ada yang ingin ku bicarakan padamu, oleh sebab itu aku di sini dan mengajakmu makan siang bersama" timpalnya.


"Terus Bunda?" tanya Leny dengan wajah manja.


"Tentu saja ikut juga dong" jawab Daniel mencubit hidung sang istri.


"Ngebucin mulu" tegur Alvin memutar bola matanya jengah.


"Udah ayo, aku sudah lapar!" ajak Daniel sembari merangkul sang istri.


"Iya-iya bawel" jawab Alvin sembari membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.


"Ayo" timpalnya mengajak.


Mereka bertiga langsung menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari rumah sakit milik Daniel, agar tak memakan waktu dan Daniel bisa segera membicarakan hal penting pada Alvin.


Sesampainya di restoran, karena sudah terlalu lapar, tanpa basa-basi mereka bertiga langsung memesan makanan favorit masing-masing.


Selesai makan siang, Daniel baru mulai membuka suaranya dan berbicara sesuatu pada Alvin.


"Alvin. Bukannya aku ingin ikut campur dalam urusan pribadimu dan Chelsea" ucap Daniel.


"Tapi sepertinya wanita itu memang benar-benar tulus padamu. Terlihat dari cara dia memandang matamu dan perlakuan dia padamu" timpalnya.


"Darimana kau tau?" tanya Alvin santai seakan tak perduli pada masa lalunya.


"Dia menganggap aku seakan aku ingin mengincar hartanya saja" timpalnya menjawab.


"Sepertinya dia menyesal sudah berbicara seperti itu, aku yakin dia tidak ada maksud untuk berkata seperti itu" ucap Daniel menasehati.


"Selama ini dia terus mencari keberadaanmu melalui aku. Karena kau memintaku untuk tidak memberitahunya, maka aku bilang padanya untuk mencari tahu sendiri" timpal Daniel.