
Daniel dan para saudaranya langsung pergi menuju ke markas mereka yang merupakan neraka bagi musuh-musuh Dark Shadow.
Awalnya Daniel berniat untuk mengantar Leny pulang ke rumah mereka, mengingat kalau mereka juga baru tiba dari Jepang dan langsung melakukan pekerjaan yang akan memakan banyak tenaga. Jadi Daniel harus mengantarkan sang istri pulang untuk beristirahat. Akan tetapi Leny tak mau pulang ke rumah mereka dengan alasan jika ia tidur tanpa pelukan dari sang suami, ia merasa tak nyenyak. Jadi mau tak mau Daniel harus membawa istrinya meskipun ia tau apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu.
Daniel menyuruh Fauzi dan yang lainnya untuk pergi terlebih dahulu ke markas mereka karena ia dan Leny harus pergi ke sebuah restoran agar mereka semua bisa mengisi tenaga sebelum melakukan interogasi pada mangsa mereka nantinya.
Daniel juga berpesan pada mereka untuk tidak melakukan apa-apa pada tawanannya, karena Daniel sudah mempersiapkan hadiah yang sangat besar pada Betran dan para bawahannya itu.
Setibanya Daniel dan Leny di sebuah restoran, mereka berdua langsung memesan banyak makanan untuk mereka serta saudara mereka semua yang sudah pergi menuju ke markas terlebih dahulu.
Kevin dan yang lainnya sudah tiba di markas mereka yang merupakan tempat yang akan bisa menjadi neraka dunia bagi musuh Dark Shadow.
"Aku merasa bosan, sudah tak sabar aku ingin menyiksa mereka semua" ucap Fauzi lesu.
"Sabar, sebaiknya kita menunggu Daniel dan Leny ke sini" jawab Kevin tersenyum sambil menepuk bahu Fauzi yang sudah memasang wajah kesal karena terlalu lama menunggu sang Kakak untuk memulai permainan mereka.
"Aku heran pada Leny. Kenapa dia ingin ikut ke sini, dan Daniel juga mengapa mengizinkannya?" tanya Jasmine penasaran.
"Jelas-jelas ini akan menjadi hal yang sangat kejam untuknya jika ia menyaksikan suaminya melakukan interogasi pada sampah-sampah itu" timpalnya bingung.
"Nanti kamu akan tau sendiri jawabnya Jasmine" jawab Fauzi tersenyum penuh arti.
"Meskipun Leny telah tau indentitas kita, tapi masih terlalu mengerikan untuknya jika tau apa yang akan terjadi pada mereka" ucap Jasmine khawatir dengan mental Leny jika melihat siksaan yang akan dilakukan oleh Daniel kelak.
"Makanan sampai" ucap Leny tiba-tiba sampai bersama sang suami yang tengah membawa banyak kantong plastik.
Melihat Leny tiba, Jasmine langsung menghampirinya dan berniat mengajaknya keluar dari markas mereka agar ia bisa menghindari Leny dari pemandangan yang mengerikan nanti.
"Ayo kita sarapan di luar sana, biarkan para lelaki yang berada di sini" ajak Jasmine tersenyum sambil merangkul lengan Leny.
"Kenapa kita harus pergi?, aku juga mau sarapan di sini bersama suamiku" tanya Leny sedikit heran melihat senyuman Jasmine yang sedikit aneh karena tercampur dengan rasa khawatir.
"Tidak ada, aku hanya ingin lebih dekat denganmu dan menghabiskan waktu berdua saja bersamamu" jawab Jasmine terkekeh.
"Hahaha. Jika kamu mengkhawatirkan tentang hal itu, masih banyak waktu untuk kita berdua menikmatinya" jawab Leny tersenyum sambil menyentuh kedua lengan Jasmine.
"Aku tau kok apa yang ada di pikiran kamu. Jangan risau, aku bisa menyaksikannya" timpalnya tersenyum karena sudah tau dengan apa yang dimaksud oleh Jasmine.
"Tapi, ini akan menjadi hal yang sangat mengerikan untuk kamu. Aku takut kamu akan trauma kedepannya" jawab Jasmine khawatir.
"Daripada kamu terus mengkhawatirkan hal yang aneh, lebih baik kita sarapan saja dulu. Biarkan para lelaki yang bekerja, aku sudah lapar sekali" sela Leny tersenyum dan langsung mengandeng lengan Jasmine menuju ke sebuah meja agar mereka berdua bisa makan bersama.
Saat berjalan beberapa langkah, Leny tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik badan, kemudian ia berkata "Oh iya suamiku, jangan lupa sisakan untuk Bunda ya". Setelah mengatakan itu, Daniel hanya mengangguk saja, dan Leny tersenyum kemudian mengajak Jasmine pergi dari tempat itu. Sedangkan Jasmine hanya memasang wajah bingung saja.
"Apa yang ada di pikiran mereka berdua ini?" batin Jasmine sembari mengikuti Leny yang terus menggandeng lengannya.
Setelah sampai di tempat yang di rasa cocok untuk menikmati sarapan, Leny langsung duduk di sebuah sofa dan bersiap-siap untuk menikmati makanan yang sudah ia beli bersama dengan suaminya tadi.
Akan tetapi ia tersadar karena melihat Jasmine yang tengah berdiri saja dengan sebuah lamunan yang membuat Leny ikut bingung melihatnya.
"Sudah, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal aneh. Lebih baik kita sarapan saja, aku sudah tak tahan ini" timpal Leny sambil mengelus perutnya yang sedari tadi terus mengeluarkan suara.
Daniel memerintahkan pada Fauzi dan yang lain untuk mempersiapkan mainan mereka yang masih terikat dan mata tertutup oleh kain hitam. Setelah kain hitam yang menutup mata tawanan mereka di buka, Betran langsung terbelak saat melihat kesekelilingnya. Ia melihat begitu banyak benda-benda yang sangat mengerikan tertempel di seluruh dinding tempat ia berada.
"Dimana ini?!, apa yang kalian inginkan hah?!" tanya Betran panik dan berusaha untuk melepaskan ikatan pada kaki serta tangannya.
"Lepaskan aku B4ngsat!" teriak Betran.
Fauzi berdecak remeh sembari melangkahkan kakinya mendekati Betran yang tengah terduduk dengan kaki dan tangan terikat. Kemudian ia menjambak rambut Betran sembari berbisik "Jangan banyak tingkah!. Nyawamu sudah tidak bisa di selamatkan lagi" setelah mengatakan hal itu, Fauzi langsung melepaskan cengkeramannya pada rambut Betran dengan kasar lalu pergi ke tempatnya kembali.
"Semua itu tergantung padamu. Jika kau ingin lepas dari tempat ini, jawab semua dengan jujur, dan jangan coba-coba untuk menutupi semuanya" ucap Daniel dengan nada dinginnya.
"Hahaha, kau pikir aku takut?" tanya Betran menantang.
"Mau sehebat apapun kalian menyiksa aku, sampai tak bernyawa pun kalian tidak akan mendapatkan satu informasi sedikitpun dariku!" timpalnya meremehkan.
"Aku suka dengan mainan yang keras kepala sepertimu ini" jawab Daniel tersenyum sinis.
"Tapi semua mainan yang sepertimu, sudah banyak aku miliki, bahkan lebih keras kepala dari kau" timpalnya sambil menyalakan rokoknya.
"Semakin keras kepala, semakin semangat aku memainkannya" ucapnya lagi setelah membuang uap rokok dari mulutnya ke arah wajah Betran.
Betran tersenyum sinis, lalu ia berkata "Mau sehebat apapun kalian melakukan itu, aku tidak akan pernah mengkhianati keluargaku!" Namun Daniel seakan acuh tak acuh dan langsung menendang kepala Betran hingga membuat kursi yang didudukinya terpental bersama dengan tubuhnya yang masih terikat di kursi tersebut.
"Arkkkhhhh" ucap Betran yang tengah tergeletak di atas lantai dengan posisi masih terikat di atas kursi.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa sangat pusing setelah mendapatkan sebuah tendangan yang cukup keras pada kepalanya.
"Sial!, tendangannya begitu menyiksa" batin Betran yang terus menggeleng-gelengkan, kepalanya karena merasa masih pusing.
"Apa dia sudah mati?" tanya Fauzi merasa sedikit kecewa.
"Kenapa Kakak langsung membunuhnya?, bahkan aku belum dapat giliran" keluh Fauzi kesal.
"Apa inderamu sudah tumpul?" sela Kevin bertanya.
"Lihat itu" timpalnya sembari menunjuk ke arah Betran yang masih tergeletak menggunakan dagunya.
"Wah, syukurlah kecoa itu masih bernafas" jawab Fauzi dengan mata berbinar melihat mainan mereka masih bisa bertahan.
"Apa yang kau lamunan?!, cepat ambil dia, dan dudukkan lagi kursinya" ucap Daniel sedikit kesal sambil menoyor kepala Fauzi.
"Aih!, bikin susah aja" keluh Fauzi sambil mengangkat Betran yang tergeletak bersama dengan kursinya.
"Bikin susah aja" kesal Fauzi sambil memukul kepala Betran setelah ia berhasil mengembalikan pada posisinya semula.