
Daniel beserta kedua Adiknya segera menuju ke markas mereka, namun bagi Nino dan para anak buahnya itu adalah tempat dimana mereka akan berakhir.
Para anak buahnya Nino sedari tadi terus saja mencoba memberontak agar mereka bisa lolos dari maut, namun semua yang mereka lakukan hanya sia-sia saja, karena hal itu tak akan pernah terjadi.
Fauzi dan Kevin juga terus-menerus menakut-nakuti mereka agar mereka sadar kalau mereka salah memilih musuh.
"Kevin, apa kita harus mencongkel kedua bola mata milik mereka?" tanya Fauzi sambil menatap para anak buah dari Gagak Hitam
"Jangan Zi, sebaiknya kita sisakan satu saja" jawab Kevin tertawa
"Bagaimana menurutmu Kak?" tanya Fauzi meminta saran
"Terserah kalian, kali ini aku hanya ingin menjadi penonton saja" jawab Daniel yang tengah fokus memandangi ponselnya
Semenjak kepergian mereka dari markas persembunyian milik Gagak Hitam, sedari tadi Daniel selalu memainkan ponselnya dan ia selalu melihat foto-foto dari putra kecilnya.
"Gak terasa usia kamu sudah dua bulan sayang" gumam Daniel tersenyum melihat foto dari baby Damin
"Ayah ingin cepat-cepat kembali dan bertemu denganmu putraku" timpalnya lagi
Di dalam mobil Daniel hanya termenung dan mengingat kenangan-kenangan bersama putra kecilnya saat di rumah. Memang raga Daniel berada bersama kedua Adiknya, namun hati dan pikirannya sedang memikirkan keluarga kecilnya.
Dari tadi ia ingin segera pulang kerumah dan ingin segera bermain dengan Anak tampannya itu, namun ia juga tidak bisa membiarkan Gagak Hitam melakukan kerusakan lagi, jadi mau tak mau ia harus membereskan sampah yang sudah mengotori kota yang ia tinggali.
Perjalan menuju markas mereka juga semakin dekat, dan sebentar lagi mungkin Nino beserta anak buahnya akan berpesta di dalam markas milik Daniel.
"Persiapkan diri kalian, sebentar lagi kalian sudah tak akan bisa melihat dunia lagi!" ucap Fauzi mengancam
"Hahaha, perkataanmu sungguh kejam saudaraku. Kau membuat mereka ingin kencing di celana saja" ucap Kevin sambil menatap para pria malang itu
Akhirnya Daniel beserta kedua Adiknya sudah sampai di sebuah gedung yang jauh dari kota, jadi mau sekeras apapun target yang sudah di siksa Daniel, tak ada satupun orang yang mampu mendengarnya.
Gedung itu juga sudah menjadi saksi bisu sekejam apa orang yang melakukan penyiksaan itu. Banyak musuh-musuh yang tak bisa keluar lagi setelah di bawa masuk oleh Daniel dan pasukannya.
Dengan sedikit paksaan Kevin dan Fauzi menyeret makanan untuk sahabat kesayangannya Daniel yang sudah menunggu di dalam gedung itu.
Nino selaku pemimpin merekapun sudah menyerah akan nasib buruk yang akan menimpanya di dalam gedung itu nantinya. Ia hanya pasrah mengikuti langkah Daniel menuju kedalam gedung.
Nino melangkah kedepan dengan kaki yang lunglai, tubuhnya juga seakan sudah tak bertenaga lagi, pandangan matanya juga seakan sudah kosong. Terlihat dari mimik wajahnya yang sudah tak memiliki ekspresi lagi, seperti mayat yang di paksa berjalan oleh orang.
Air matanya pun sudah tak bisa membasahi wajahnya lagi, suhu pada tubuhnya sudah terasa dingin, seakan jantungnya sudah berhenti berdetak dan tidak memompa darah lagi.
Nino tak habis pikir, kenapa ia bisa mengalami nasib yang begitu buruk, ia juga tak menyangka akan berurusan dengan seseorang yang dulunya adalah pimpinan dia sebelum ia memutuskan untuk membentuk kelompok sendri.
Daniel juga tak menyangka kenapa Nino bisa sampai menyimpang dari aturan yang telah di tetapkan oleh Pemimpin Dark Shadow itu. Yang Daniel tau, Sosok Nino adalah orang yang sangat setia pada Daniel. Ia juga sangat mengagumi kehebatan dari pemimpin Dark Shadow itu. Tapi setelah Nino membentuk kelompoknya sendiri ia justru malah menyimpang dari ajaran yang telah Daniel sampaikan dulu.
"Jadi kau mengundurkan diri dari Dark Shadow dan memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri, hanya untuk melakukan hal kotor ya?!" tanya Daniel santai sambil menyeret Nino untuk masuk kedalam markasnya.
"Kau adalah salah satu anggota yang menjunjung tinggi kejujuran, kau juga sering membantu orang, menolong yang lemah, dan selalu berbuat kebaikan" timpalnya
"Saat kau mengundurkan diri dari Dark Shadow dan memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri, ku pikir kau akan melakukan lebih banyak lagi kebaikan. Namun setelah aku mengizinkan kau untuk membentuk kelompokmu sendri, kini kau malah berubah 100% dan melakukan banyak kejahatan" ucap Daniel lagi, sedangkan Nino hanya diam saja seperti orang gila yang sudah kehilangan akalnya.
"Aku kecewa padamu Nino!" teriak Daniel
Nino hanya diam seakan sudah tak bisa mendengar dan mulutnya seakan kaku tak bisa berbicara satu huruf pun.
Nino dan para anak buahnya sudah sampai di sebuah tempat yang seperti neraka bagi mereka.
Fauzi dan Kevin juga sudah tak sabar untuk melakukan aksi mereka masing-masing. Sedangkan Daniel kali ini hanya ingin menjadi seorang penonton saja menyaksikan penyiksaan yang akan di berikan oleh kedua Adiknya.
"Apa ada pesan terakhir?!" tanya Fauzi sambil memainkan pisau yang berukuran kecil, namun sangat tajam sampai mampu mencongkel mata musuhnya dengan sangat mudah.
"Kau yakin tak ingin ikut ambil bagian kali ini Kak?" tanya Kevin
Daniel menggelengkan kepalanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya lalu ia berkata "Tidak!, aku sedang bad mood"
"Buatlah sesuka hati kalian, tapi jangan lupa kasih makan untuk Gaon" timpal Daniel dan segera duduk di kursi kebanggaan sambil ingin menyaksikan yang akan di suguhkan oleh kedua Adiknya itu.
Daniel menyangga dagunya dengan kedua tangan sambil menatapi para musuhnya, namun tiba-tiba ponselnya berdering, dan ia melihat siapa yang menghubunginya.
Daniel langsung menaikkan senyumannya saat melihat nama si penelepon di ponselnya, dengan perasaan senang ia langsung mengangkat teleponnya.
"Iya Honey? ada apa?, kamu merindukanku?" tanya Daniel terkekeh
"Ayah dimana?" tanya Leny balik
"Ayah ada urusan Honey" jawab Daniel sambil menatap para mangsa untuk singa peliharaannya
"TOLONG LEPASKAN KAMI!!" ucap salah satu dari anak buah Nino berteriak dan membuat Leny dapat mendengar suara tersebut.
"Ayah dimana?, sepertinya Ayah sedang bersenang-senang?!" tanya Leny sedikit kecewa
Daniel menghela nafasnya dan menjawab "Ayah sedang mengeksekusi orang-orang yang telah berani mengusik Mama Yuni Honey
"Apa Ayah sendirian?!" tanya Leny lagi
"Tidak Honey, kedua Adikmu juga ikut" jawab Daniel menatap kedua Adiknya dan mereka bertiga pun saling pandang
"Benarkah?" tanya Leny penasaran
"Iya Honey!" jawab Daniel
"Ayah tolong nyalakan loud speaker headphone kamu!" ucap Leny memerintah
Kemudian Daniel langsung menuruti perintah dari Istri cantiknya itu dan ia berkata "Sudah Honey"
"Hoy! kedua Adik durhaka!" panggil Leny pada Fauzi dan Kevin
"Puftt" Daniel menahan tawanya
"Ada apa Kak?!" jawab Kevin
"Apa-apaan Kakak ini?!, sejak kapan kami menjadi Adik yang durhaka?!" protes Fauzi tak terima
"Diam!, jangan banyak protes!" jawab Leny mengancam dan membuat Fauzi menyebikkan bibirnya
"Haha" tawa Daniel
Kevin dan Fauzi menatap Daniel dengan wajah masamnya karena perlakuan dari Kakak iparnya itu. Sedangkan Daniel hanya mengangkat kedua bahunya seakan tak ingin ikut campur.
"Fauzi?!, Kevin?!" panggil Leny melalui seluler
"Ada apa Kak?" tanya Fauzi penasaran
"Dengarkan perkataan Kakak kalian ini!" ucap Leny tegas
"Aku mau kalian berdua menghukum orang-orang yang telah berani mengusik Mama!" ucap Leny memerintah
"Iya Kakak Ipar tenang saja" jawab Fauzi tersenyum sinis menatap musuhnya
"Aku belum selesai berbicara!" ucap Leny sedikit berteriak sampai membuat ketiga pria itu sedikit terkejut
"I..iya Kak" ucap Fauzi sedikit terkejut
"Berikan mereka sebuah hukuman yang membuat mereka sampai tak bisa melupakannya" ucap Leny
"Kira-kira apa yang Kakak inginkan?" tanya Kevin meminta saran
"Terserah kalian!. Cincang, mutilasi, congkel kedua bola matanya, potong lidahnya, apapun itu lakukan saja!. Aku mau mereka mati tersiksa!" jawab Leny menjadi geram
"Baik Kakakku" jawab Fauzi semangat
"Ingat!, jika kalian tidak melakukannya dengan benar!. Akan ku hukum kalian!" ancam Leny dan langsung menutup panggilan teleponnya.
Daniel menghela nafasnya lalu menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan permintaan dari Istrinya itu.
"Lakukan saja yang di perintahkan oleh Kakak kalian" ucap Daniel
"Okey Kak!" jawab Kevin dan Fauzi bersemangat