Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KEBAIKAN HATI LENY


Leny dan Ayu yang khawatir karena mendengar suara Wulan yang sedang marah-marah, mereka berdua semakin mempercepat langkahnya untuk memeriksa keadaan sang adik karena mereka takut jika terjadi apa-apa pada Wulan.


Sedangkan Daniel yang memang sudah tau bagaimana sang adik hanya berjalan dengan santai sembari bermain-main dengan sang putra yang tengah dalam gendongannya.


"Kak!, kau apa gak khawatir dengan Wulan?" tanya Dion yang ikut merasa khawatir.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Semua aman-aman saja, dan Wulan juga pasti baik-baik saja" jawab Daniel dengan wajah santai.


"Memang kakak gila kau ini" ucap Dion merasa heran dengan sikap Daniel yang sama sekali tidak ada ke khawatiran pada wajahnya.


"Wulan itu bukan wanita lemah, dia juga salah satu petarung hebat di Dark Shadow" ucap Daniel menjelaskan.


"Jadi kau tenang saja, adik kita pasti baik-baik saja" timpalnya.


"Iya deh tuan muda" gerutu Dion memutar bola matanya jengah.


Sesampainya Leny dan Ayu di dalam rumah, mereka berdua langsung di kejutkan dengan sosok pria yang sudah terkapar di lantai dan sudah tak sadarkan diri.


Kemudian mereka melihat Wulan yang tengah menendangi ketiga pria lainnya yang sudah kelihatan pasrah dan wajah ketiga pria itu terlihat sangat ketakutan melihat amukan Wulan.


"Astaghfirullah Wulan!" panggil Leny, dan Wulan langsung menghentikan aksinya.


"Eh, kakak udah pulang?" tanya Wulan cengengesan.


"Ada apa ini? apa yang sedang terjadi?" tanya Ayu kebingungan melihat ke arah seorang pria yang terkapar di atas lantai.


"Mereka semua tadi mencoba untuk mencuri di rumah kita kak, untung masih bisa Wulan handle" jawab Wulan menjelaskan.


"HAH?!, APA?!" Ayu sangat terkejut mendengar penjelasan dari Wulan.


"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?, ada yang luka?, sini biar kakak periksa" tanya Ayu yang begitu mengkhawatirkan keadaan Wulan.


"Wulan gak apa-apa kak" jawab Wulan yang sedikit geli karena tubuhnya di cek-cek oleh Ayu.


"Syukurlah kamu gak kenapa-kenapa dek. Bikin khawatir saja" ucap Ayu sembari menoyor kepala Wulan dengan lembut.


"Hehe, semua aman kok kak" sambung Wulan.


"Terus mau di apakan para pencuri ini kakak ipar?" tanya Ayu.


"Tolong nona, jangan sakiti kami lagi. Kami sudah cukup menderita di hajar habis-habisan oleh adik nona" pinta salah satu dari mereka memohon.


"Makanya cari pekerjaan yang halal, jangan malah mencuri!" tegur Wulan sembari menjewer telinga salah satu dari mereka.


"Dek, dek. Udah dong jangan galak-galak" tegur Leny mengelus kepala sang adik.


"Geram Wulan kak, mulut mereka juga sudah kurang ajar!" jawab Wulan menatap tajam ke arah ketiga pria yang semakin ketakutan.


"Tadi berkoar-koar seperti singa kelaparan, sekarang terdiam tak bersuara seperti ayam sakit" ejek Wulan sembari bersilang dada.


"Ampun nona" ucap mereka semakin memelas.


"Idih. Giliran tertangkap minta di kasihani, memangnya pemilik harta yang selama ini kalian curi, pernah kalian pikirkan perasaan mereka?!" tanya Wulan semakin geram, sedangkan mereka hanya terdiam menunduk.


"Ah udahlah!. Kak biar aku matikan saja orang-orang seperti ini!" timpal Wulan semakin emosi.


"Jangan nona, ampun. Tolong jangan bunuh kami, kasian anak dan istri kami" pinta mereka memohon dan bersujud di kaki Leny.


Wulan" tegur Leny dengan lembut.


"Jangan bersujud padaku, aku bukan Tuhan kalian" timpal Leny yang langsung melangkah mundur karena tak nyaman.


Daniel hanya diam saja seakan tidak peduli dengan kelima pria yang mencoba mencuri di rumahnya, dia menyerahkan semuanya pada sang istri yang mengambil keputusan.


"Terserah Bunda, semua keputusan ada di tangan Bunda, Ayah hanya ikut saja" jawab Daniel sembari bermain-main dengan Damin.


"Hmmm" Leny berpikir akan apa yang dia lakukan untuk kelima pria itu.


Ada rasa iba dalam dirinya saat melihat wajah memelas dari ketiga pria yang belum di hajar oleh Wulan. Leny terus berfikir apa yang akan ia lakukan untuk kelima pria pencuri itu.


"Kalian kan masih muda, kenapa harus mencuri?, apa kalian tidak kasian pada anak dan istri kalian jika terus-terusan di kasih makan dari uang haram?" tanya Leny.


"Zaman sekarang mencari pekerjaan susah nona, di tambah lagi kami hanya tamatan SMP dan SD. Apa ada yang mau memperkerjakan kami dengan ijazah itu?" jawab salah satu dari mereka.


"Menjadi driver taksi atau ojek online kan bisa?!, pekerjaan itu juga tidak membutuhkan ijazah kan?, apa lagi itu pekerjaan halal" ucap Ayu memberi saran.


"Surat-surat motor kami pada mati, karena tidak membayar pajaknya nona, kami juga tidak memiliki SIM" jawab salah satu dari mereka.


"Hmmm" Ayu menghela nafasnya.


"Bagaimana ini kakak ipar?" tanya Ayu menatap Leny.


"Ayah, rumah kita sepertinya butuh satpam deh" ucap Leny.


"Jangan bilang kalau kakak mau memperkerjakan mereka?" tanya Wulan risau dan di anggukan oleh Leny.


Ketiga pria itu yang tadinya hanya menunduk dan pasrah akan nasibnya, perlahan tersenyum bahagia karena masih ada kesempatan untuk mereka memiliki pekerjaan yang halal.


"Kakak yakin?" tanya Wulan sekali lagi.


"Kalau mereka berulah bagaimana?" timpal Wulan.


"Kita berikan mereka kesempatan satu kali lagi dek, kakak percya mereka bisa berubah kok" jawab Leny.


"Mereka menjadi seperti ini pasti karena keadaan yang memaksa" timpal Leny tersenyum.


"Tapi kelima orang ini mau kakak pekerjaan di rumah semuanya?" tanya Wulan.


"Dua orang untuk di rumah, yang tiga lagi di kantor" ucap Daniel menyambung.


"Di kantor apa kekurangan pihak keamanan Ayah?" tanya Leny.


"Tidak sih, tapi biar pekerjaan Ronny sedikit lebih ringan" jawab Daniel.


"Te.. terima kasih banyak tuan, nyonya, kami berjanji akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengkhianati kepercayaan dari kalian" ucap salah satu dari mereka dan di iyakan oleh rekan-rekan.


"Ta..tapi bagaimana dengan kedua teman kami ini nyonya, tuan?" tanya salah satu dari mereka.


"Tenang saja, aku akan mengobatinya" jawab Ayu tersenyum.


"Tapi nyonya, lengan dia patah. Apa bisa sembuh dengan cepat?" tanya mereka lagi.


"Kalian jangan khawatir, di rumah sakit milik kami, kami memiliki seorang dokter yang ahli dan sangat hebat" jawab Ayu lagi.


"Kalian memang keluarga yang sangat baik. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian" puji ke tiga pria itu.


"Ingat ya, jangan berbuat jahat lagi. Kita hanya sementara di dunia ini, lakukan yang terbaik untuk keluarga kalian, jadilah sosok kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dengan memberikan yang halal untuk keluarga" ucap Leny menasehati.


"Iya nyonya, kami berjanji akan berubah dan akan lebih bertanggung jawab lagi" jawab mereka.


"Dan untuk nona Wulan, kami minta maaf atas perlakuan kami yang tadi" ucap salah satu dari mereka dengan tulus.


"Untuk kali ini aku memaafkan kalian. Tapi ingat kalian harus benar-benar berubah, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah kakakku berikan" jawab Wulan menasehati.


"Iya nona, kami pasti akan menepatinya" jawab mereka serius.