Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERAWATAN EKSTRA


Daniel dan yang lainnya sedang dalam perjalan menuju kembali ke hotel untuk menikmati makan siang bersama keluarga serta Dion juga bisa beristirahat supaya tubuhnya menjadi sehat kembali.


Dion hanya bersandar pada kursi penumpang di sebelah Daniel yang tengah fokus menyetir. Sesekali Daniel melirik ke arah sang Adik yang sepertinya menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya akibat latihan yang di berikan olehnya. Ada rasa bersalah pada diri Daniel saat ia melihat tubuh Dion di penuhi dengan luka memar dan mungkin ada juga luka dalam.


"Maaf jika tadi aku menghajar mu terlalu berlebihan" ucap Daniel menatap Dion


"Ha...ha..ha. Tidak perlu sampai meminta maaf begini Kak, ini juga kn keinginanku" jawab Dion dengan nada lemas.


"Di setiap keberhasilan, pasti ada kesakitan yang harus di lewati terlebih dahulu" timpalnya tersenyum menatap ke arah depan.


"Sok bijak" ejek Daniel sambil menoyor kepala Dion sedangkan Dion hanya tertawa dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama.


"Aku jadi tak sabar melihat ekspresi dari istrimu saat tau ke adaan kamu ini" timpal Daniel tertawa.


"Oh iya, bagaimana menjawab pertanyaan darinya ya Kak kalau melihat keadaanku ini?" ucap Dion bertanya.


"Nanti akan aku coba untuk meyakinkan dia" jawab Daniel sembari berfikir.


"Kakak sih enak, karena Kakak ipar sudah tau identitas Kakak. Jadi tidak perlu pusing lagi menjawab pertanyaan darinya" ucap Dion mengeluh.


"Di tambah kalian berdua ini sama-sama kejam kalau sedang mengeksekusi musuh" timpalnya.


"Jika kamu ingin memberi tau kebenarannya pada istrimu, silahkan saja" ucap Daniel santai.


"Lagi pula dia juga bagian dari keluarga kita. Tidak masalah jika ia mengetahuinya" timpal Daniel dengan pandangan ke arah depan untuk fokus menyetir.


"Itu semua ada waktunya Kak. Untuk saat ini sepertinya Ayu belum boleh tau tentang semuanya" jawab Dion menjelaskan.


"Jika dia tau, aku yakin dia pasti akan terus merasa khawatir ketika suaminya sedang berperang. Lalu ketika menang dari perang dan kita kembali, ia akan syok karena melihat penampilanku seperti ini " timpal Dion terkekeh-kekeh membayangkan hal tersebut.


Tak lama kemudian mobil yang mereka kendarai sudah tiba di tempat parkir. Daniel membantu Dion keluar dari dalam mobil dan memapahnya untuk masuk ke dalam hotel agar ia bisa segera di obati kemudian beristirahat supaya tubuhnya kembali seperti semula.


Leny dan Ayu yang tengah menunggu kedatangan dua pria tampan itu hanya saling tatap seakan bertanya-tanya karena melihat suami mereka berdua yang seperti habis mengalami kecelakaan. Timbul rasa khawatir pada kedua wanita cantik itu melihat para suami yang sudah mulai mendekat.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Leny terkejut melihat wajah bagian kiri milik Daniel terpadat sebuah lebam berwarna biru gelap.


"Jangan khawatirkan Ayah, lihat ini" jawab Daniel sambil menunjuk ke arah Dion yang memiliki luka lebih parah darinya.


"Astaghfirullah, kamu kenapa bisa begini suamiku?" tanya Ayu sedih sedangkan Dion hanya tersenyum.


"Kenapa hanya kalian berdua saja yang memiliki luka seperti itu?. Sedangkan yang lainnya tidak ada luka sedikit pada tubuh mereka?" timpal Ayu bertanya setelah melihat Leo dan yang lainnya sudah berada di belakang Daniel.


"Sudah Adik ipar, jangan emosi seperti itu" ucap Leny menenangkan Ayu. Karena Leny tau dengan apa yang terjadi pada pria kembar itu.


"Sebaiknya kita obati saja mereka" timpal Leny tersenyum menyentuh kedua pundak Ayu dan Ayu hanya bisa mengangguk saja.


"Suruh saja Alvin untuk mengobati suami kamu Ayu. Jika dia yang mengobati Dion, aku yakin Dion bisa cepat sembuh" sela Rian memberi saran.


"Iya Kak" jawab Ayu sedih karena melihat sang suami yang di penuhi dengan luka lebam bahkan untuk berjalan pun sedikit kesulitan.


Kemudian Daniel membawa sang Adik masuk kedalam kamar Ayu dan Dion, agar Dion bisa mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Leny menelpon Chelsea untuk meminta Alvin segera mengobati Adik iparnya itu.


Sedangkan yang lainnya diminta oleh Daniel untuk menunggu di restoran hotel. Mendengar itu Fauzi langsung bersemangat berjalan menuju ke tempat yang di suruh oleh Daniel, mengingat perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.


Saat Daniel memapah Dion menuju ke kamarnya, mereka berdua berpas-pasan dengan Ibu Rani yang tengah menggendong Damin dan Anna juga. Melihat kondisi sang putra, membuat Ibu Rani terkejut.


"Biasa Bu" jawab Daniel tersenyum, sedangkan sang Ibu cuma bisa menggeleng saja.


"Yaudah, buruan bawa Adik kamu ke kamarnya gih. Supaya dia bisa istirahat" ucap Ibu Rani.


"Iya Bu" jawab Daniel dan berjalan kembali menuju ke kamar Dion dan Ayu.


"Dasar putra-putraku" gumam Ibu Rani menggeleng memandang kedua putra tampannya itu yang tengah menuju ke kamarnya Ayu dan Dion.


Setelah Leny menelpon Chelsea, Alvin dan Chelsea langsung menghampiri mereka berdua, lalu Alvin membantu Daniel memapah Dion agar mereka bisa segera sampai di kamar.


"Ini pasti ulah mu?" tanya Alvin menebak dan menatap heran ke arah Daniel.


"Sudah, jangan banyak protes!. Cepat obati Dion agar ia bisa segera sembuh secepatnya" jawab Daniel.


"Siap Pak bos" jawab Alvin sedikit kesal pada sahabatnya itu.


Setibanya mereka di dalam kamar, Daniel dan Alvin langsung membaringkan tubuh Dion di atas tempat tidur, lalu Alvin segera mengobati luka-luka yang Dion alami. Ia hanya bisa menggeleng melihat Dion sembari mengobati wajahnya yang penuh luka lebam itu.


"Suamiku baik-baik saja kan Alvin?" tanya Ayu yang begitu mengkhawatirkan suaminya.


"Tenang, suami kamu baik-baik saja kok" jawab Alvin sambil memberi kompres pada wajah Dion. Sedangkan Dion hanya mengadu kesakitan saat kapas yang sudah di berikan obat oleh Alvin menyentuh wajahnya yang lebam.


"Apa ada luka pada bagian dalamnya?" tanya Ayu lagi masih belum bisa tenang.


"Ada, tapi tidak parah kok. Dion cuma butuh istirahat saja. Setelah istirahat yang cukup dan meminum obat yang aku racik nanti, suami kamu akan baik-baik saja" jawab Alvin yang masih fokus membersihkan wajah Dion menggunakan kapas agar tidak mengalami infeksi.


"Parah banget Daniel ini. Ia melatih Adiknya begitu kejam, sampai seluruh wajahnya biru lebam begini seperti blueberry" batin Alvin.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat saja. Aku akan meminta pelayan untuk membawa makan kita ke sini ya" ucap Ayu dan Dion hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu berikan salep saja pada wajah suami kamu dulu. Aku akan meracik obat herbal untuk mengobati luka dalam pada tubuhnya" ucap Alvin dan anggukan oleh Ayu.


"Kamu istirahat saja, jangan kemana-mana dulu. Ayu, beri perawatan ekstra pada suamimu agar ia segera bisa sembuh" ucap Daniel tersenyum penuh arti.


"Iya Kakak ipar" jawab Ayu tersenyum juga.


"Yaudah, kami pergi ke restoran dulu. Kasian mereka sudah menunggu" ucap Daniel.


"Iya Kakak ipar. Tolong sampaikan permintaan maaf ku karena aku dan suamiku tidak bisa ikut makan siang bersama" jawab Ayu dan di anggukan oleh Daniel.


Daniel dan Leny segera berjalan menuju ke restoran hotel dengan Leny yang terus menggenggam tangan suaminya seakan tak ingin melepaskannya.


"Oh iya suamiku. Luka Ayah itu harus di obati juga loh, supaya tidak terjadi infeksi" ucap Leny.


"Iya istriku" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus kepala sang istri.


"Selama ini Bunda belum pernah melihat Ayah sampai terluka seperti itu. Ya, walaupun hanya luka sedikit saja, tapi membuat Bunda heran saja gitu" ucap Leny.


"Sewaktu latihan tadi, Ayah sangat kewalahan menghindari serangan yang di berikan oleh Dion" jawab Daniel menjelaskan.


"Tapi Ayah sangat senang karena Dion sudah berubah dan sudah menjadi pria sesungguhnya" timpal Daniel tersenyum dan Leny ikut tersenyum.