
Leny meminta sang Suami untuk melakukan eksekusi pada tahanan terakhirnya, dan Leny juga berkata kalau itu permintaan dari putra kecil mereka, karena Damin terus saja menatap sang Ayah tanpa berkedip.
Awalnya Daniel sama sekali tak tertarik untuk melakukan eksekusi itu, namun karena demi putra tercinta, ia mau tak mau harus melakukan pekerjaan kotor itu lagi.
Daniel menyerahkan ponselnya kepada Fauzi agar ia bisa membantu Kakak Iparnya untuk menyaksikan pertunjukan yang akan di lakukan oleh Ayah Damin kecil.
"Ayah!. Ingat ya, harus lebih memuaskan Bunda dan juga Damin loh!" ucap Leny sedikit berteriak
"Iya Honey" jawab Daniel berjalan santai menuju ke tempat Nino berada
Daniel hanya memperhatikan calon mainannya itu. Pria itu terlihat sudah tak semangat untuk menjalani hidupnya, matanya terasa kosong, dan ekspresi wajahnya seakan sudah tak bernyawa lagi.
"Ckckck!. Kalau sudah di kasih hati, jangan minta jantung!" decak Daniel dan langsung menendang perut milik Nino.
pria malang itu langsung terpental beberapa meter kebelakang. Tendangan dari Daniel tak sanggup di tahan oleh tubuh Nino, meski tubuhnya sedikit lebih besar dari kedua Adiknya Daniel, namun itu tak berarti apa-apa bagi kekuatan yang di miliki oleh pemimpin Dark Shadow itu.
Nino tersungkur di lantai dan tak kunjung bangkit, Daniel takut pria itu langsung tewas karena ia belum puas melakukan permainannya.
"Yaelah!, baru sekali tendang saja masa sudah mati sih!" ucap Leny sedikit kecewa
Tiba-tiba Damin menangis tanpa sebab dan membuat mereka semua terkejut melihatnya. Leny menjadi sedikit bingung karena setelah sekian lama putra kecilnya tak pernah menangis dan kini ia malah menangis tanpa sebab.
"Anak Bunda kenapa sayang?" tanya Leny menimang Damin yang tak kunjung mereda tangisannya.
"Apa kamu belum puas melihat Ayah menghajar orang yang telah berani menggangu Nenek Yuni ya sayang?" timpalnya
Kemudian dengan tiba-tiba Nino terbatuk-batuk dan langsung membuat Damin kecil langsung terdiam. Sampai membuat mereka semakin bingung melihat tingkah dari bayi kecil itu.
Fauzi dan Kevin juga merasa heran melihat keponakan mereka itu, ia bisa langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar orang yang di siksa Ayahnya masih bernyawa.
"Kenapa dengan keponakanku?, dia seakan mengerti ini semua?" gumam Fauzi terus menatap Damin yang tengah asyik bermain ludah.
"Apa Damin paham apa yang kita lakukan Kak?" tanya Kevin menatap Damin yang tiba-tiba langsung ceria kembali.
"Aku juga gak tau Vin, mungkin memang keponakan kalian ini sangat spesial" jawab Leny semakin gemas melihat tingkah sang putra.
"Sungguh keluarga sengklek" batin Fauzi
"Untung saja Istri dan putriku tak seperti mereka" timpalnya menatap heran melihat keponakannya itu.
"Apa yang kau pikirkan?!" tanya Kevin memukul kepala bagian belakang milik Fauzi
"Aku rasa Damin akan meneruskan kepemimpinan Dark Shadow di masa depan" jawab Fauzi sedikit berbisik agar tak di dengar oleh Leny
"Semua itu keputusan Damin kelak saja" ucap Kevin
"Memangnya kenapa?" tanya Fauzi penasaran
"Kak Daniel pernah bilang kau dia tak mau memaksa Damin untuk meneruskan kepemimpinannya kelak" jawab Kevin
"Bisa jadi Aska yang akan mengambil alih Dark Shadow" timpalnya
"Tapi aku berharap Damin yang akan mengambilnya, aku bisa merasakan betapa besarnya aura dia" ucap Fauzi kagum melihat keponakannya.
"Dia bukan anak biasa pada umumnya" timpalnya merasa senang
"Aku tau saudaraku, Damin itu anak yang luar biasa, bahkan ia bisa mengetahui apa yang sedang kita lakukan saat ini" ucap Kevin
"Kita memiliki dua Kakak dan satu keponakan bersifat psikopat" ucap Kevin
"Semoga aja Anakku dan Wulan kelak tidak semengerihkan keponakanku" timpalnya membayangkan masa depan dia dan si kucing kecilnya
"Terlalu tinggi hayalanmu capung!" ucap seorang wanita dari sebrang telepon
"Haha, ke'gep" ejek Fauzi tertawa
Saat Kevin dan Fauzi asyik mengobrol, ternyata Wulan juga sudah ada di samping Leny, ia juga sudah mendengar semua obrolan dari kedua pria somplak itu, dan pada saat Kevin membayangkan pernikahan mereka, itu membuat Wulan merasa sangat senang, namun di tutupinya agar si capungnya itu tidak merasa puas hati.
"Kalau kau ingin menikahiku, kau harus bisa mengalahkan Kakakku terlebih dahulu, karena itu memang sudah keinginanku sejak dulu" ucap Wulan menantang
"Permintaan macam apa itu?, kamu gila ya kucing kecilku?!, memangnya siapa yang bisa mengalahkan Kak Daniel?, bahkan Ayah dan Kak Rian saja bisa ia lampaui begitu saja, apa lagi aku" ucap Kevin sedikit terkejut
"Haha, berusaha dong!. Katanya kamu sangat mencintaiku" ejek Wulan menjulurkan lidahnya kearah Kevin
"Cinta boleh, tapi gak sampe mencari penyakit juga dong" gerutu Kevin menyebikkan bibirnya
"Tolonglah ya!, jangan mengacaukan kesenangan aku dan putraku!" sela Leny melerai perdebatan tak penting diantara kedua Adiknya itu
"Ayah ayo buruan lanjut!, nanti putramu ini menangis lagi!" timpal Leny memerintah
"Iya Bunda iya" jawab Daniel pasrah
"Kalian bertiga diam ya!, cukup menyaksikan saja" ancam Leny menatap tajam ke arah tiga Adiknya itu
"Damin yang meminta semua ini?!" gumam Wulan tak percaya melihat sang keponakan yang tegah serius menatap sang Ayah.
"Kamu masih kecil loh sayang, masa meminta hal aneh begini" gumamnya lagi
"Dan kedua orangtua kamu juga aneh, masa anak sekecil kamu sudah di suguhkan adegan penyiksaan seperti ini" batin Wulan lagi semakin tak percaya melihat keluarga kecil milik Kakaknya itu.
Daniel melanjutkan aksinya kembali yang sempat tertunda tadi. Dengan santai Daniel memaksa tubuh Nino untuk bangkit. Saat pria itu sudah berdiri, Daniel langsung memukul wajah pria malang itu dan sampai membuatnya tersungkur kembali.
Darah mengalir dari hidung Nino yang malang, tubuhnya juga sudah babak belur akibat ulah Daniel. Ia hanya berharap kematian segera mendatanginya, pria malang itu sudah tak sanggup lagi menerima pukulan keras dari mantan pemimpinnya itu.
Ingin melawan pun juga tak mungkin, mengingat betapa hebatnya kekuatan dari pria yang menyandang bos besar di Asia tersebut.
Nino hanya pasrah jika dirinya harus mati di tangan Daniel, dia juga sadar karena kesalahan yang telah ia lakukan sehingga membuat Daniel sampai seemosi itu.
"Jika saja kau tak berulah, mungkin kau masih bisa menikmati waktu hidupmu yang panjang. Tapi sayangnya kau terlalu bodoh karena sudah berani mengusik keluargaku" ucap Daniel menjambak rambut milik Nino
"Aku sudah mengatakan kepada kalian semua yang berada di jalan gelap!, jika kalian ingin tetap hidup tentram!, jangan pernah melanggar peraturan yang telah aku berikan!" timpalnya menendang wajah Nino
Kemudian Daniel mengambil pedang kesayangan, dan dengan cepat ia memotong leher Nino. Dari bercucuran dari pergelangan lehernya, nyawa Nino otomatis sudah hilang.
Belum sampai puas, Daniel langsung mencincang-cincang tubuh pria yang sudah terkapar tak berdaya itu hingga dagingnya halus dan memudahkan Gaon untuk menelan daging segar itu.
Ekspresi sang putra semakin senang melihat yang di lakukan oleh Ayahnya itu, sedangkan Wulan terheran melihat kelakuan dari keponakannya itu.
"Gila ni bocah!, masih kecil udah paham yang beginian" batin Wulan tak percaya melihat Damin
"Kalau sudah dewasa nanti, pasti bakal tumbuh lebih kejam dari Ayahnya ini" timpalnya menggelengkan kepalanya.