
Setelah sukses membalaskan dendam atas kematian Kedua orangtuanya, Daniel juga membakar markas tempat Petir Hitam itu.
Gudang tempat dimana Eko mengakhiri hidupnya sudah di bakar oleh Daniel, tentu saja jasad Eko masih ada di dalam sana.
"Lihat itu sayang, sesuai keinginanmu, mayatnya sudah aku bakar beserta dengan tempat persembunyian mereka" ucap Daniel menatap lurus kearah kobaran api yang sangat besar.
Leny memeluk Daniel dari samping dan berkata "Terimakasih Suamiku, kamu memang yang terbaik. Aku sangat mencintaimu" dan Leny semakin mempererat pelukannya.
"Sungguh di luar dugaan permintaan dari Kakak iparku" gumam Fauzi masih tak percaya dengan perubahan sikap sang Kakak iparnya itu.
"Apa masih ada musuh lagi di luar sana Suamiku?" tanya Leny dan masih memeluk lengan sang Suami.
"Aku juga tidak tau sayang. Siapapun yang berani menggangu kalian, itu akan ku anggap musuh" jawab Daniel tersenyum
"Oh iya, aku sudah menyimpan video pembantaian tadi loh" ucap Leny tersenyum bahagia
"Kak, Kak. Kakak pikir itu adegan film?" sela Fauzi bertanya
"Suuuutttt. Jangan banyak komentar!" tegur Leny memberikan isyarat satu jari telunjuknya di bibirnya, dan membuat Fauzi hanya menggeleng tak percaya
"Sudah ayo kita ke rumah sakit, aku ingin tau keadaan Kevin" ucap Daniel merangkul Leny
"Sayang, kalau video ini aku kirim ke Ibu dan Wulan bagaimana?" tanya Leny memeluk pinggang Daniel
"Terserah kamu Istriku" jawab Daniel mengelus kepala Leny dan mereka berjalan menuju mobil mereka.
"Kuharap Istriku tak seperti Kakaknya itu" gumam Fauzi berjalan di belakang Daniel dan Leny.
__________________________________
Kevin sudah di pindahkan ke kamar rawat VIP karena ia sudah melewati masa kritisnya, namun dia belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang di berikan padanya.
Rani dan Leo datang menuju rumah sakit dan tentu saja para pekerja di sana memberi hormat kepada mereka berdua.
Mereka berdua menuju ke kamar tempat di mana Kevin dirawat. Saat berada di lorong menuju kamar Kevin, mereka bertemu dengan Ayu yang juga ingin mengecek keadaan capungnya Wulan itu.
"Ayu!, sayang!" ucap Rani sedikit berteriak
Ayo menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya tadi "Eh Ayah?, Ibu?"
"Kamu mau ke kamarnya Kevin ya?" tanya Rani
"Iya Bu" jawab Ayu
"Yaudah ayo kita bareng aja Ayah, Ibu" timpal Ayu, dan di balas anggukkan oleh kedua orang paruh baya itu.
"Apa Dion ada disini sayang?" tanya Rani
"Ada Bu, dia lagi nemenin Wulan menjaga Kevin" jawab Ayu.
"Oh iya, Mama Anita gak datang Bu?" tanya Ayu mencari keberadaan calon mertuanya
"Dia ada kerjaan di butik miliknya, mungkin mengurus gaun pernikahan kamu dengan Dion" jawab Rani, dan membuat Ayu tersipu malu.
Setelah beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sudah sampai di depan kamar yang bertuliskan nomor 230, dan tentu saja itu kamar dimana Kevin di rawat.
Handle pintu di buka oleh Ayu, dan masuk lah mereka. Rani di buat terkejut melihat Anak tampannya tengah tertidur pulas di atas sofa, siapa lagi kalau bukan Dion.
"Haih, anak ini!" ucap Rani menggelengkan kepalanya
"Ibu!, Ayah!" ucap Wulan lalu langsung memeluk sang Ibu dan dia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sang Ibu
"Hiks..hiks.. Kevin Bu" ucap Wulan menangis
"Iya sayang, kamu tenang ya, Kevin pasti baik-baik saja kok" ucap Rani menenangkan Wulan
"Hiks..hiks.. kalau bukan karena melindungiku, pasti dia gak bakal seperti ini Bu" ucap Wulan masih tetap memeluk sang Ibu.
Leo tersenyum dan mengelus kepala Wulan "Kalau dia hanya melihat saja, pasti bakal kamu yang berada di tempat tidur itu sayang. Kevin melakukan itu pasti karena kamu itu sangat sepesial untuknya"
"Iya Ayah, Wulan tau. Tapi kalau Wulan gak ceroboh tadi, pasti tidak akan ada yang terluka" jawab Wulan menyesalkan kebodohan dirinya
Rian masuk kedalam kamar rawat Kevin, dan membawa beberapa makanan serta minuman untuk Wulan, karena sedari tadi ia enggan untuk mengisi perutnya.
"Dek, ini makan dulu, kamu kan belum ada makan" ucap Rian menyerah kantong plastik yang berisikan makanan kepada Wulan.
"Wulan gak lapar Kak, aku masih memikirkan Kak Leny" jawab Wulan khawatir
"Kakak disini sayang" ucap seorang wanita dari luar kamar
"Kakak!" ucap Wulan histeris dan langsung memeluknya
"Hiks... maafkan Wulan Kak" rengek Wulan dalam pelukan Leny
"Udah gapapa dek, kan Kakak baik-baik saja" jawab Leny mengelus kepala dan punggung Wulan
"Syukurlah menantu Ibu baik-baik saja" ucap Rani ikut memeluk Leny
"Daniel, ikut Ayah" ucap Leo melangkah keluar lalu di ikuti oleh Daniel, Rian, dan Fauzi
"Bagaimana?" tanya Leo setelah mereka duduk di kursi
"Semua sudah aku musnahkan Ayah" jawab Daniel datar
"Bahkan aku juga sudah membakar markas beserta mayat si tua bangka itu" timpal Daniel
"Itu semua karena permintaan dari Kakak ipar" potong Fauzi
"Apa maksudnya?" tanya Rian bingung
"Mereka berdua ( Daniel dan Leny ) adalah pasutri yang sangat mengerikan Kak" ucap Fauzi bergidik ngerih
"Kakak Ipar menyuruh Kak Daniel untuk menyiksa si pemimpin Petir Hitam itu, bahkan permintaannya di luar nalar" timpal Fauzi
"Jadi maksud kamu yang menentukan penyiksaan untuk pemimpin mereka itu atas permintaan Leny?" tanya Rian terkejut dan di balas anggukkan yakin oleh Fauzi
"Gila, aku gak percaya" ucap Rian masih tak percaya
"Bahkan seperti di jadikan sebuah Film olehnya" timpal Fauzi
"Kamu apakan Istri kamu itu?, kok bisa mengikuti kekejaman darimu nak?" tanya Leo menginterogasi
"Aku juga gak tau Ayah, mungkin itu karena permintaan dari cucumu" jawab Daniel menaikan kedua pundaknya
_______________________________
"Kak Ayu, itu calon Suami kamu tidurnya seperti kerbau. Ngoroknya keras banget, mengganggu telinga saja" protes Leny
"Is, is is. Jangan panggil aku dengan sebutan Kakak lagi, aku ini calon Adik Ipar kamu loh Kakak Ipar" ucap Ayu protes juga
"Aku belum bisa Kak, hehehe" jawab Leny menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Nanti bakal terbiasa" ucap Ayu menepuk pundak Leny
"hmmm" ( Leny menghela nafasnya )
"Oh iya, aku punya film yang seru loh" ucap Leny mengeluarkan ponselnya
"Film apa sayang?" tanya Rani penasaran
"Filmnya seru Bu, kebetulan pemerannya Suamiku sendri dan sutradaranya Leny" jawab Leny mencari rekaman video yang ia rekam tadi.
"Maksud Kakak apa sih?" tanya Wulan bingung
"Ha.. Ini dia" ucap Leny memutar rekamannya dan mereka berempat menyaksikan dengan seksama
"Astaga!. Jijik banget!, mual banget ih" ucap Ayu menutup mulutnya
"Ini kamu yang mengatur semuanya sayang?" tanya Rani tak percaya dengan apa yang ia liat di layar ponselnya milik Daniel dan di balas anggukkan kepala oleh Leny dengan senyuman manisnya
"Parah ini" ucap Rani menepuk jidatnya...