Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
HADIAH UNTUK SI TUA BANGKA


Setelah mengatakan kepada suster, Wulan mempercepat langkahnya menuju ruangan milik Ayu.


sesampainya di depan pintu yang bertuliskan Dr. Ayu Fitriani, tanpa mengetuk pintu Wulan langsung masuk saja.


Memang sudah menjadi kebiasaannya jika masuk keruangan milik Daniel dan Ayu, Wulan tak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu, dan mereka sudah terbiasa dengan sikap sang Adik.


Ayu yang sedang menyuapi makanan untuk sang kekasih di buat terkejut karena ulahnya Wulan yang asal masuk dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Astaga ni anak kebiasaan deh" protes Ayu


"Hosh..hosh.. maaf Kak" jawab Wulan ngos-ngosan


Wulan melihat Dion tengah memegang segelas air, saat sang Kakak ingin meminumnya, tiba-tiba tangan Wulan langsung menyambarnya dan langsung meminum isinya.


"He... Dasar" Dion menggeleng saja melihat tingkah sang Adik


"Ahh... lega. Hehe maaf Kak" ucap Wulan cengengesan


"Ada apa kamu kemari dek?" tanya Dion


"Astaga sampe lupa" Wulan menepuk jidatnya


"Kak ayo Kak tolong Kevin" ucap Wulan menarik paksa tangan Ayu agar bisa ikut dengannya.


"Aduh dek sabar dulu" protes Ayu


"Ini sudah gawat Kak!" jawab Wulan menarik paksa tangan Ayu


Dion menghela nafasnya dan hanya menggeleng saja melihat Adik perempuannya seperti itu.


"Kelakuan Adikku bar-bar sekali, aku heran kenapa Kevin bisa jatuh cinta padanya" gumam Dion


Suster Rahma mendorong brankar yang di tiduri Kevin menuju ke tempat Ayu dan Wulan berada. Betapa terkejutnya Ayu dan Dion melihat perut kiri Kevin sudah berlumuran darah.


"Ada apa ini dek?" tanya Ayu panik


"Nanti aku jelaskan, yang penting segera selamatkan dia terlebih dahulu Kak" ucap Wulan merengek


"Sabar sayang sabar" ucap Dion membelai kepala Wulan.


"Sus, bawa pasien keruangan UGD" ucap Ayu memberi perintah


"Baik Dok" jawab suster Rahma


_______________________________


Daniel, Leny, dan Fauzi menuju ke Jakarta timur mengikuti arahan salah satu anak buah dari Petir Hitam yang sengaja di biarkan hidup oleh Daniel.


Awalnya Daniel ingin mengantarkan Leny untuk pulang atau kerumah sakit milik mereka agar memeriksa keadaan dari sang Istri, namun Leny tetap ngotot ingin ikut dengan sang Suami, jadi mau tak mau Daniel membawa sang istri ikut dengannya kesana.


"Kamu yakin mau ikut sayang?" tanya Daniel memastikan


"Yakin dong Suamiku" jawab Leny tersenyum


"Kakak apa gk takut?" sela Fauzi bertanya


"Iya tadi aku takut banget melihat Suamiku ini mengamuk, sampe membuat tubuh orang hancur begitu. hiiii ngebayanginnya aja sampe mual" jawab Leny merinding


"Itu bayaran mereka karena sudah berani membuat kamu sampai takut seperti itu sayang, di tambah lagi mereka membuat Kevin terluka dan Wulan sampai menangis begitu. Aku tak akan membiarkan satupun dari mereka hidup" jawab Daniel datar


"Dan kamu tau Honey?. Pemimpin merekalah yang membuat mertua kamu sampai meninggal dunia" timpal Daniel


Leny terkejut karena ia memang belum tau apa penyebab orang tua kandung Suaminya itu meninggal dunia, karena yang ia tahu penyebab kematian dari mertuanya hanya sebuah kecelakaan saja.


"Iya memang Papa dan Mama meninggal karena kecelakaan, tapi itu semua sudah di rencanakan mereka" ucap Daniel yang paham dari raut wajah sang Istri yang penuh tanda tanya


"Terus apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Leny memastikan


"Tentu saja membalaskan perbuatan mereka Honey" jawab Daniel


"Membunuhnya?" tanya Leny lagi


Daniel menggeleng dan menjawab "No!. Aku akan menyiksanya, akan ku potong jari-jari tangan dan kakinya, ku potong juga kedua telinganya, ku congkel Kedua bola matanya, ku potong-potong tubuhnya dan..."


"Cukup Suamiku cukup!, kamu dulu apa bekerja di tempat pemotongan hewan?" Leny merasa mual dan langsung menutup mulut sang Suami tampannya itu.


"Semoga aja Anakku ini tidak seperti Ayahnya" ucap Leny mengelus perutnya


Daniel mengerutkan keningnya dan berkata


"Kalau bukan mirip Ayah, lantas mirip siapa honey? kan yang buat kita. Kan lucu kalau Anak kita bisa mirip mahkluk astral yang di belakang kita tu"


"Tidak tau sih, hahaha" jawab Daniel tertawa.


_______________________________


Ayu langsung memeriksa Kevin secara langsung, setelah hampir memakan waktu 1 jam, akhirnya Ayu keluar dari ruangan UGD tempat dimana Kevin mendapatkan perawatan.


"Bagaimana keadaan dia Kak?" tanya Wulan


"Syukurlah lukanya tidak terlalu serius, dan pisau tadi tak sampai mengenai organ vitalnya. Kini dia sudah melewati masa kritisnya dan sedang proses transfusi darah, karena dia banyak kehilangan darah" ucap Ayu panjang lebar menjelaskan


"Untung saja si capung bodoh itu bisa selamat" ucap Wulan bisa bernafas lega


"PELETAKKK" (Dion menyentil kening Wulan)


"Sudah di selamatkan bukanya bersyukur, eh malah mengajaknya berperang lagi" ucap Dion geram


"Ih sakit tau Kak" ucap Wulan dengan nada manja sambil memegangi keningnya


"Kak liat tu calon Suami kamu mengintimidasi Adiknya sendri" ucap Wulan menyebikkan bibirnya mengadu pada Ayu, dan Ayu hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Kakak beradik yang seperti anak kecil.


_______________________


Daniel dan yang lainnya sudah tiba di pedalaman Jakarta timur, dan salah satu anak buah dari Petir Hitam menuntut mereka kesebuah gedung yang sepertinya tak berpenghuni.


"Kau yakin itu tempatnya?" tanya Daniel memastikan


"I..iya benar itu tempatnya tu.. tuan" jawab pria itu gugup


"Jika kau berbohong!, akan ku pisah kepalamu dari badanmu itu" ancam Fauzi


"Su..sumpah aku tidak berbohong tuan" jawab pria itu semakin gugup


"Yaudah ayo kau pimpin jalannya" ancam Daniel mendorong pria yang sudah berkeringat dingin itu


"Sayang aku takut sekali" bisik Leny memeluk lengan sang Suami dengan erat


"Sudah kamu tenang saja Istriku, aku akan melindungimu" ucap Daniel mengelus kepala Leny


Pintu di buka, dan manik mata Daniel mencari keberadaan pemimpin mereka. Pria itu menuntun mereka ke sebuah ruangan khusus dimana sang bos besar bersarang.


"TOK TOK" ( pria itu mengetuk pintu )


"Masuk!" jawab seseorang dari dalam ruangan tersebut


"Bos ini saya mau melap.." ucapan pria itu terhenti karena Daniel sudah menebas lehernya hingga kepalanya terpisah dari tubuh pria malang tersebut.


Semua orang terkejut, dan Leny semakin erat memeluk sang Suami karena terlalu takut melihat mayat yang tak utuh itu.


"Halo bos!" ucap Daniel tersenyum manis


"K..kau?!, siapa kau bocah?" tanya Eko masih syok


"Sebut saja aku penyelamatmu" jawab Daniel masih tersenyum


"Apa mau kalian bocah?!" tanya Eko sedikit panik


Daniel berjalan dan langsung duduk diatas meja depan kursi Eko tengah duduk, lalu Daniel langsung menendang si pria tua itu hingga tersungkur sampai menabrak dinding.


Daniel masih terduduk sila di atas meja dan menatap pria tua itu yang menahan kesakitan karena mendapatkan hadiah tendangan indah dari sang pemimpi Dark Shadow tersebut.


Daniel meletakkan salah satu tangannya di bagian pipinya lalu menatap dingin ke arah Eko. Ia memikirkan sesuatu untuk memberikan sebuah kenang-kenangan pada si pria tua itu.


"Apa yang akan kita lakukan pada si tua bangka ini Zi?" tanya Daniel


"Aku sih terserah Kakak saja" jawab Fauzi santai sambil memain-mainkan tubuh pria yang Daniel tebas tadi.


"Ih Fauzi! jorok banget kamu" protes Leny menjewer telinga sang Adik dan sukses membuat sang Adik mengadu kesakitan


"Bagaimana menurut kamu sayang?, apa yang akan kita lakukan pada si tua bangka yang telah membunuh kedua mertuamu?" Daniel bertanya pada Istri tercinta


"Apa? kedua orangtuanya?, siapa bocah ini rupanya?" gumam Eko


Leny berfikir sejenak lalu mengeluarkan sebuah ide yang tak terduga..


"Bagaimana kalau kamu mutilasi saja sayang?" jawab Leny menaik turunkan alisnya, dan membuat Daniel tersenyum lalu mengangguk


"HAHH?!" Fauzi dan Eko terkejut mendengar perkataan wanita cantik barusan...