
Setelah Iyan mengurus semuanya, Leny sudah bisa segera untuk menyusup ke dalam kantornya agar ia bisa langsung memantau orang yang di katakan selalu membuat onar dan berbuat sesuka hatinya.
Saat ini Leny sedang bersiap-siap di kamarnya, berdandan layaknya sebagai seorang karyawati biasa dan tidak terlalu mencolok agar tidak membuat orang-orang yang berada di kantornya merasa curiga.
"Apa Bunda yakin?" tanya Daniel sambil memeluk Leny dari belakang yang sedang bercermin.
"Memangnya kenapa suamiku?" tanya Leny balik sambil memakai lipstiknya.
"Ayah takut sampai beradu fisik di sana" jawab Daniel merasa khawatir.
"Jika terjadi hal seperti itu, tidak mungkin Bunda hanya diam saja" ucap Leny.
"Bunda pasti akan membalasnya lebih kejam Ayah. Kan Bunda sudah belajar bela diri sama Ayah" timpal Leny membalik tubuhnya dan langsung mencium bibir Daniel.
"Bunda harus memberi kabar pada Ayah" ucap Daniel masih khawatir.
"Ayah gak perlu takut, Bunda pasti bisa menyelesaikan mereka. Bahkan Bunda juga bakal membuang sampah itu" jawab Leny tersenyum membelai kedua pipi Daniel.
"Yaudah ayo kita sarapan" ajak Leny menggandeng tangan sang suami.
"Oh iya, Damin mana Ayah?" tanya Leny mencari keberadaan sang putra.
"Lagi main sama Papa Mamanya" jawab Daniel.
Lalu Daniel dan Leny pergi ke restoran hotel untuk menikmati sarapan pagi mereka. Ternyata di meja makan mereka sudah di tunggu oleh keluarga mereka yang lainnya.
Damin langsung memanggil Leny saat matanya melihat kehadiran sang Ibunda sedang bergandengan tangan bersama sang Ayahanda.
"Kakak mau kemana?" tanya Wulan.
"Kok berdandan sangat cantik seperti ini?" timpalnya.
"Kakak sedang menjalankan sebuah misi dek" jawab Leny tersenyum.
"Misi?, misi apa Kak?" tanya Kevin menyambung.
"Coba kamu cek cabang kantor Kakakmu yang berada di kota Tokyo" ucap Leny memerintah.
"Kan kamu pandai dalam membobol sistem" timpalnya tersenyum.
"Untuk apa di bobol Kak. Kalau masalah perusahaan milik suamimu, aku mempunyai seluruh datanya dari cabang manapun bahkan semua bisnis yang dia punya" jawab Kevin mengeluarkan ponselnya.
"Sombong banget si capung ini" sambung Wulan mencubit pipi Kevin.
Kevin langsung mengecek data-data yang ada di dalam salah satu kantor cabang milik Daniel. Dia sangat terkejut karena banyaknya kritik yang sangat tidak enak dari pada karyawan tentang kinerja dari manager di tempat tersebut.
"Apa-apaan ini?!, kenapa masih ada aja yang berani berbuat semena-mena di perusahaan milikmu Kak?!" tanya Kevin sedikit geram.
"Itulah yang akan aku selidiki. Aku akan membuang sampah itu dengan tanganku sendiri" jawab Leny tersenyum penuh arti.
"Aku ikut ya Kak" pinta Wulan merasa khawatir.
"Kamu tenang saja Adikku, Kakakmu ini pasti bisa mengatasinya kok" jawab Leny tersenyum sambil mengelus pipi Wulan.
"Jika ada kekerasan fisik, ya tinggal Kakak balas saja. Kan Kakakmu ini udah di ajarkan bela diri" timpal tersenyum agar Wulan bisa merasa lebih tenang.
"Udah ya udah. Ayo kita makan" ucapnya lagi mencairkan suasana agar mereka semua tidak tegang.
Mau tak mau mereka melanjutkan sarapan pagi dalam suasana hening dan Daniel terus memperhatikan istrinya yang tengah lahap memakan makanannya dengan senyuman yang selalu membuat pikiran Daniel lebih tenang.
"Honey, nnti Ayah yang mengantarkan Bunda kesana ya" ucap Daniel sambil membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut bibir Leny.
Leny tersenyum sambil mengangguk lalu ia berkata "Baiklah suamiku".
Setelah selesai sarapan pagi bersama, mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan Wulan masih kekeh ingin tetap menemani Leny ke kantor agar ia bisa melindungi sang Kakak dari serangan fisik. Namun Leny terus mencoba meyakinkan Adik kesayangan itu kalau dia pasti bisa menjaga dirinya.
"Adikku sayang, kamu tenang saja ya, Kakak pasti bisa melindungi diri Kakak sendri kok" bujuk Leny tersenyum sambil membelai kepala Wulan.
"Kak, tolong bujuk istrimu agar aku bisa ikut membantunya" ucap Wulan meminta bantuan pada Daniel.
Daniel tersenyum kecut dan membelai kepala Wulan dan ia menjawab "Maafkan Kakak ya adikku".
"Bahkan Kakak sebagai suaminya saja tidak bisa melakukan apa-apa" timpalnya menatap Leny yang tengah tersenyum.
"Ayo buruan suamiku, ini sudah telat ini" sela Leny melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Iya Honey ayo" ajak Daniel.
Lalu Leny menggandeng tangan Daniel dan mereka berdua berjalan menuju ke tempat parkir yang dimana terdapat beberapa mobil mewah milik Daniel yang bersarang di tempat tersebut. Kemudian Daniel membukakan pintu mobil untuk bidadrinya itu setelah itu mereka berdua langsung pergi menuju ke salah satu kantor Daniel yang sedang mengalami masalah itu.
45 menit mereka berjalan membelah jalanan kota Tokyo itu, dan akhirnya mobil mewah itu sudah sampai di sebuah gedung bertingkat yang memiliki nama Wijaya Syahputra tertulis besar di gedung tersebut.
Awalnya Daniel ingin membawa mobilnya sampai masuk ke dalam dan parkir di tempat itu. Akan tetapi Leny melarangnya karena ia yakin kalau para orang-orang yang bekerja di kantor itu pasti mengenali mobil milik Daniel dan akan membuat rencana mereka menjadi ketauan oleh target mereka. Jadi mau tak mau Daniel harus mengantarkan Leny hanya sampai depan gerbang saja.
Ketika mobil mewah milik Daniel berhenti di depan gerbang, satpam yang bertanggung jawab atas gedung itu langsung terkejut dan langsung keluar untuk menyambut bos besarnya karena ia memang tau kalau orang yang berada di dalam mobil itu adalah pemilik gedung tersebut.
"Se...selamat pagi tuan" sapa satpam itu menunduk.
Daniel membuka jendela mobilnya lalu memberi sebuah pesan pada satpam itu agar merahasiakan kedatangannya dan Leny yang ia utus menjadi pengawas di tempat itu.
"Tolong kamu rahasiakan ini ya. Jangan sampai ada yang tau kalau aku mengutus istriku untuk mengawasi tempat ini" ucap Daniel.
"Iya tuan muda, tuan tenang saja. Semuanya akan aman, dan saya akan menjaga nona muda" jawab satpam itu.
"Saya juga sudah sangat muak dengan manager itu tuan. Semakin hari semakin semena-mena sama bawahannya. Bahkan kami sampai harus mengerjakan pekerjaan yang sama sekali di luar tanggung jawab kami" timpalnya mengeluh.
"Orang seperti itu memang harus di beri pelajaran 10 kali lipat" ucap Leny geram.
"Pak satpam tenang saja. Aku akan segera membereskan hama-hama yang ada di kantorku, dan tidak akan ada yang aku perbolehkan orang seperti itu lolos dari genggamanku" timpal Leny menatap serius.
"Saya akan mendukung nona muda 100 persen. Bahkan seluruh karyawan yang selalu merasa tindas bakal menyetujuinya" jawab satpam itu senang.