Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
LUPA TEMPAT


Seusai melakukan panggilan video dengan suaminya, kini Leny dan Damin sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke tempat dimana Daniel mengajar di temani oleh Kevin untuk mengantarkan bekal makan siang yang di masak oleh Leny dengan penuh rasa cinta.


"Apa sekolah milik Joe jauh dari hotel ini Kevin?" tanya Leny yang sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan suaminya itu.


"Enggak kok kak, paling sepuluh sampai lima belas menit aja dari sini" jawab Kevin sambil fokus menyetir.


"Apa benar Wulan sedang pergi ke markas Dark Shadow?" tanya Leny khawatir.


"Iya kak, tadi dia bilangnya sih seperti itu" jawab Kevin yang fokus melihat ke depan.


"Dia benar-benar akan melakukan sesuatu pada orang-orang yang sudah berani merendahkan Ayahnya Damin?" tanya Leny lagi.


"Itu memang sudah menjadi kebiasaan Wulan kak. Jika kita menahan atau melarangnya pun juga percuma, dia tidak akan mendengarkannya" jawab Kevin.


"Dia itu perempuan loh, kakak gak tenang kalau dia melakukan itu" ucap Leny semakin khawatir.


"Kakak tenang saja, Wulan itu bukan wanita lemah, dia itu bagian dari Dark Shadow, dan dia juga adik wanita kak Daniel satu-satunya. Jika terjadi apa-apa padanya, maka kak Daniel tidak akan tinggal diam, dia pasti bakal memberikan pelajaran kepada orang itu dengan hukuman yang sangat berat. Tentu saja aku juga akan melakukan itu, akan ku musnahkan orang yang berani melukai Wulan" ucap Kevin mencoba menenangkan Leny.


"Dari dulu, setiap ada pertarungan, Wulan tak pernah kalah kak. Bela diri yang ia miliki itu lebih unggul dari bawahan kak Daniel, walaupun dia seorang wanita" timpalnya agar sang kakak bisa lebih tenang.


"Ya ku harap Wulan baik-baik saja dan pulang tanpa luka sedikitpun" ucap Leny berharap.


"Wulan itu tipe petarung yang cerdas dan sangat tenang dalam menghadapi musuh-musuh. Dia tidak pernah melakukan penyerangan secara membabi buta. Bahkan setiap kita berlatih, dia bisa mengimbangi aku dan Fauzi" ucap Kevin menjelaskan.


"Selain Kak Daniel, Fauzi juga bakal sangat murka jika sampai terjadi apa-apa pada Wulan" tambahnya.


Karena terus mengobrol dan membahas tentang Wulan yang membuat Leny menjadi khawatir akan keselamatan adiknya itu, tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah milik Joe.


Ternyata di dekat sana Ada Joe yang sedang asyik mengobrol dan bercanda dengan para satpam atau penjaga sekolah tersebut. Joe memang di kenal sebagai sosok kepala sekolah yang sangat ramah pada para Guru dan orang-orang yang bekerja di dalam sekolah miliknya itu.


Saat melihat ada sebuah mobil mewah yang berhenti di depan gerbang sekolah itu, satpam penjaga sekolah tersebut langsung berdiri dan ingin mencoba mendekati mobil mewah tersebut untuk meminta keterangan kenapa pemilik mobil itu datang.


"Apa jangan-jangan itu salah satu dari orang tua yang bersekolah di tempat ini?" tanya sang satpam sambil bangkit dari duduknya.


Pintu mobil pun terbuka, dan keluarlah seorang wanita cantik yang sedang menggendong bayi. Pada saat sang satpam ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Joe menghentikan langkah satpam itu karena ia tau sosok wanita yang sedang menggendong bayi laki-laki yang tampan tersebut.


"Tunggu Pak satpam" ucap Joe mencegah satpam itu.


"Ada Pak kepala?, kenapa anda menahan saya?" tanya sang satpam kebingungan.


"Biar aku saja yang kesana, aku tau wanita cantik itu siapa" ucap Joe sambil berdiri.


"Pak satpam duduk manis saja di situ sambil menikmati kopi itu" timpal Joe sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat Leny berdiri.


Dengan berlari kecil, Joe buru-buru mendekati Leny untuk membukakan pintu gerbang sekolah miliknya karena ia tak mau kalau Leny harus menunggu lama lagi.


"Wah, wah. Ternyata Bu kapten yang datang" ucap Joe tersenyum ramah menyambut kedatangan Leny.


"Ada apa ini?, apa Bu kapten sudah merindukan suaminya?" tanya Joe menggoda.


"Iya, kapten sedang berada di dalam" jawab Joe dengan sangat sopan.


"Apa dia sedang sibuk?" tanya Leny lagi.


"Sepertinya sih enggak. Soalnya ini juga masih jam istirahat makan siang" jawab Joe sambil melihat arloji miliknya.


"Ngomong-ngomong, Bu kapten ke sini sama siapa?" timpal Joe bertanya.


"Halo Joe-san" sapa Kevin sambil menutup pintu mobil.


"Wah-wah, ternyata Kevin" ucap Joe tersenyum bahagia.


"Apa kabar Joe-san?" tanya Kevin sambil menepuk pundak Joe.


"Seperti yang kau lihat" jawab Joe tertawa.


"Nanti dulu ya reuninya, yang terpenting ini makan siang untuk suamiku" potong Leny sambil mengangkat Tupperware yang berisikan makanan untuk Daniel.


"Hehehe, iya maaf Bu kapten" jawab Joe cengengesan.


"Kalau begitu mari aku antar ke tempat kapten Daniel" ajaknya mempersilahkan Leny masuk.


"Kakak sendirian saja ya. Aku akan menunggu di sini" ucap Kevin dan di anggukan oleh Leny.


Guru-guru dan para murid-murid di sekolah tersebut langsung memandangi Leny yang sepertinya sedang di kawal oleh Joe sang pemilik sekolah serta menjadi kepala sekolah di tempat itu.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian para orang-orang yang melihatnya, di tambah Leny juga sambil menggendong seorang bayi lelaki, membuat mereka berpikir kalau Leny itu adalah istri dari Joe. Tapi mereka juga bingung karena setau mereka kalau kepala sekolah mereka itu belum menikah apa lagi memiliki seorang anak. Akan tetapi mereka berdua terlihat sangat begitu akrab seakan sudah kenal lama dan memiliki sebuah hubungan khusus.


Sesampainya di ruangan Guru, Joe meminta Leny untuk menunggu di depan agar Joe bisa memberikan sebuah kejutan untuk kaptennya itu yang padahal Daniel sudah mengetahuinya lebih dulu karena Leny memang sudah izin kepada Daniel.


"Daniel Sensei?" panggil Joe dari balik pintu.


Daniel yang tengah sibuk dengan layar laptopnya hanya melihat dengan sepintas saja asal suara tersebut dan kembali bekerja.


"Daniel Sensei..." panggil Joe lagi seakan menggoda Daniel.


"Cih!. Berisik banget setan!" jawab Daniel berdecak sambil sedikit berteriak karena mereka berdua memang sering melakukan hal seperti itu.


Daniel yang belum sadar kalau dia sedang berada di tempat berbeda dengan jabatan Joe adalah di atasnya di sekolah tersebut langsung tersadar karena para Guru-guru langsung menatapnya karena ia tadi berbicara sedikit keras dengan kepala sekolah atau pemilik sekolah tersebut.


"Waduh lupa" ucap Daniel sambil menepuk jidatnya.


Daniel menutup laptopnya kemudian ia tersenyum menatap para Guru-guru yang menatapnya dengan tatapan heran karena sikap Daniel tadi pada pemilik sekolah tersebut.


"Iya Pak kepala, saya akan segera kesana" jawab Daniel tersenyum sambil melangkah ke depan pintu dimana sudah ada Joe dan Leny yang menunggunya.