
Pria tua yang bernama Alif itu sangat terkejut melihat kedatangan Daniel di markasnya. Dia tau betapa kejamnya tuan muda mereka saat tuan mudanya mengetahui kalau ada yang membelot padanya. Alif takut akan bernasib sama seperti Eko yang mati dengan cara yang sangat mengesankan.
"A..apa yang tuan muda lakukan di markas saya?" tanya Alif yang sudah berkeringat dingin
"Apa aku tidak boleh berkunjung?, lagian aku di undang oleh para Anak buahmu pak tua" jawab Daniel santai
"Bu..bukan begitu tuan. Tempat ini begitu kecil, tak sebanding dengan markas besar kita di Jepang" jawab Alif gugup
"Tidak masalah denganku. Tapi sepertinya para Anak buahmu bisa menjelaskannya kepadamu kenapa aku bisa di sini" jawab Daniel turun dari kursinya dan bersandar pada meja sambil memandangi para Anak buahnya Alif.
Alif memandangi para Anak buahnya yang sudah ketakutan karena melihat tatapan dingin dari Daniel dan Alif berkata "Apa yang kalian lakukan pada tuan muda? apa kalian menyinggungnya?!"
"Ti..tidak tuan, justru tu..tuan mudalah yang menyinggung kami terlebih dulu" jawab Tony ketakutan
"Cih!. Untuk apa aku menyinggung kalian!. Bos besar kalian sudah sangat mengenalku" jawab Daniel acuh
"Jangan memfitnah tuan muda!. Aku sudah mengikuti tuan muda Daniel sudah lebih 5 tahun, jadi aku tau siapa beliau!" ucap Alif geram
"Begini pak tua. Kemarin mereka sudah membuat rusuh di sebuah pasar, nasib baik aku disana, jadi aku bisa membereskan mereka" jawab Daniel
"A..apa yang mereka lakukan tuan?" tanya Alif mulai takut lagi.
"Mereka mencuri dompet salah satu pengunjung disana!. Dan yang lebih parah salah satu dari mereka sudah membentak Nenekku!" jawab Daniel menyilangkan kedua tangannya
"APA?!" Alif terkejut
"Apa kalian gila! hah?!. Aku tidak pernah menyuruh kalian melakukan kejahatan!. Itu sudah menyimpang dari kelompokku!" ucap Alif tak terima
"Ma..maaf tuan kami khilaf!, kami gak sengaja!" ucap Tony memohon ampun dan bersujud di kaki Alif
"Kenapa tuan muda hanya membuat mereka cidera saja?. Seharusnya tuan membunuh mereka atau suruh Gaon untuk memakan mereka semua!" ucap Alif merasa emosi
"Kamu yang tenang pak tua. Aku tau ini juga bukan salahmu, kau paham kan bagaimana kejamnya aku jika ada yang berani berkhianat?" tanya Daniel dengan santai
"I..iya aku paham tuan, dan aku takut kalau tuan muda berbuat seperti itu padaku" ucap Alif ketakutan
"Aku tidak akan melakukan itu padamu, karena kau adalah orangku yang paling setia" jawab Daniel tersenyum tipis
"Iya tuan muda, tapi saya sudah tidak bisa membiarkan mereka semua hidup!. Lebih baik tuan muda lenyapkan saja mereka semua!" ucap Alif marah menatap para anak buahnya
"Itulah kesalahanmu pak tua. Pandai-pandailah memilih anggota / Anak buah. Hatimu yang terlalu baik dan lembut itu menjadi kelemahanmu dalam masalah ini, sampai-sampai kau bisa di tipu oleh mahkluk-mahkluk seperti ini" ucap Daniel menasehati
"Iya tuan muda. Maafkan atas kebodohan saya yang lalai ini. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi" ucap Alif memohon ampun pada Daniel
"Iya aku akan pegang omonganmu pak tua" ucap Daniel serius
"Lalu apa yang akan di lakukan pada sampah-sampah ini?" tanya Alif meminta saran
"Jangan di buang atau di lenyapkan!. Kirim mereka ke Jepang, biar mereka di bimbing oleh orang-orangku" ucap Daniel santai
"Bersyukurlah kalian karena tuan muda sedang berbaik hati!. Jangan sia-siakan kesempatan yang di berikan olehnya, apalagi sampai berkhianat!" ucap Alif memberi peringatan
"I..iya tuan!. Saya akan menebus kesalahan yang telah saya perbuat selama ini!" ucap Tony dengan mata yang telah berkaca-kaca
"Sekali lagi terimakasih tuan muda, saya sangat senang ternyata saya akan di bimbing langsung oleh Dark Shadow. Dan saya berjanji tak akan mengecewakan tuan muda lagi" ucap Tony serius
"Bagus!. Jadilah orang yang menepati janji, apalagi kalian seorang lelaki!. Lelaki sejati itu yang di pegang omongannya!" ucap Daniel memperingati
"Siap tuan!" ucap mereka memberi hormat
"Aku harus pulang!. Istri dan calon Anakku pasti sudah menungguku di rumah" ucap Daniel melangkahkan kakinya menuju keluar
"Apa perlu aku antar tuan?" tanya Alif membungkukkan badannya
Daniel berjalan santai dengan kedua tangan yang berada di dalam saku, lalu ia menjawab "tidak perlu pak tua"
"Iya tuan muda, akan saya laksanakan sesuai perintah anda" ucap Alif membungkukkan badannya.
Daniel langsung keluar menuju mobilnya dan segera meninggalkan gedung tua itu agar bisa sampai kerumah sang Nenek.
"Pasti Istriku sudah bangun nih" gumam Daniel fokus menyetir
"Hujan semakin deras, akan sulit untuk melihat jalan jika aku mengebut" timpalnya
Dengan perlahan Daniel mengendarai mobil mewah miliknya, membelah jalanan kota Bandung yang telah basah karena hujan yang turun mengeroyok bumi, dan pukul 5 sore Daniel baru sampai ke kediaman Nek Ani.
Mobil mewah yang basah karena hujan sudah terparkir rapih di pekarangan rumah mewah milik Nek Ani. Daniel keluar dari mobilnya dan membawa beberapa kantong plastik yang berisikan makanan untuk sang Istri dan orang-orang yang berada di dalam rumah mewah itu.
Hujan juga sudah berhenti mengeroyok bumi, dan Daniel tak perlu harus kebasahan untuk masuk dari tempat parkir menuju rumah karena air hujan sudah tak menetes lagi.
Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah Nek Ani. Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita cantik yang tengah berdiri di depan pintu masuk dengan raut wajah yang sepertinya menahan amarah.
"Darimana?" ucap wanita itu menyilangkan kedua tangannya
Daniel menelan ludahnya dan menjawab "Ini aku membeli keinginan kamu Honey. Kan kamu tadi mengigau ingin makan sushi"
"Wah benarkah?" tanya Leny dengan mata yang berbinar
"Tentu saja Istriku" jawab Daniel mengangkat kantung plastik yang ia bawa
"Wah terimakasih Suamiku. Kamu memang yang terbaik" ucap Leny memeluk dan menciumi sang Suami dengan gemas
Amarah Leny seketika langsung hilang karena sang Suami berhasil menyogok dirinya dengan membawakan makanan yang ia inginkan tadi. Jadi Daniel tak akan mendapatkan hukuman dari sang Istri cantiknya.
Dengan perasaan gembira Leny membuka kantung plastik yang berisikan makanan keinginannya tadi, dan di barengi dengan air luar yang hampir keluar dari rongga mulutnya.
"Wah-wah makan apa Cucuku ini?" tanya Nek Ani yang tiba-tiba muncul
"Eh sini Nek, kita makan bareng" ucap Leny meminta sang Nenek untuk duduk di sampingnya
"Nek titip Leny ya, Daniel mau memanggil Wulan dulu" ucap Daniel lalu berdiri
"Nek, Leny itu kalo makan, kadang suka belepotan" ucap Daniel berbisik dan membuat Nek Ani menahan tawa
"Apa yang kalian bisikan?" tanya Leny dengan mulut penuh makanan
"Tidak ada Istriku" ucap Daniel tersenyum
Leny memicingkan matanya dan menatap Daniel dengan wajah yang sedikit cemberut namun tetap imut karena mulutnya masih mengunyah sushinya itu.
Daniel tersenyum sambil membelai kepala Leny dan mencium keningnya lalu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar sang Adik.
"TOK TOK "(Suara ketukan pintu)
"Kakak boleh masuk dek?" tanya Daniel dari luar kamar
"Iya Kak masuk aja. Pintunya gak Wulan kunci kok" jawab Wulan sedikit berteriak
Daniel membuka pintu kamar sang Adik dan terlihat sosok Adik kecilnya itu yang tengah duduk di meja rias sembari menyisir rambutnya.
"Ada apa Kak?" tanya Wulan dan fokus menyisir rambutnya
"Tadi Kakak bertemu pak tua Alif" ucap Daniel menyilangkan kedua tangannya sambil bersandar pada meja rias sang Adik
Wulan menghentikan aktivitasnya dan mengerutkan keningnya "Apa yang tua bangka itu lakukan?" tanya Wulan penasaran
"Dia mengawasi Anak buahnya di sini, dan kebetulan Kakak ada disana" ucap Daniel santai
Kemudian Daniel menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan para anak buah dari Rembulan Hijau dan bagaimana ia bisa sampai ke markas mereka. Semua Daniel ceritakan tanpa ada yang kurang satu katapun, dan membuat sang Adik langsung mengerti.