
Setelah permasalahan dari mereka selesai, Leny mengajak Hanabi untuk menikmati pesta putranya itu. Awalnya Hanabi ragu dan takut karena orang-orang tidak akan menerimanya di dalam sana.
Namun Leny terus mencoba meyakinkan wanita cantik itu untuk tidak memperdulikan pandangan orang-orang terhadapnya selama ia tidak berbuat salah dan merugikan orang lain.
"Aku pulang saja ya" ucap Hanabi menolak ajakan Leny dengan sopan.
"Kok pulang?" tanya Leny dengan nada sedikit kecewa.
"Aku takut Kak" jawab Hanabi sambil menengok ke arah gedung yang terdapat banyak orang di dalamnya.
"Apa yang harus kamu takutkan sayang?" tanya Leny tersenyum sambil memegangi kedua tangannya Hanabi.
"Aku takut dengan kehadiranku di pesta ulang tahun putra kalian, malah membuat suasana menjadi buruk dan tak nyaman bagi tamu-tamu yang lainnya" jawab Hanabi sendu.
"Apa yang membuat mereka merasa seperti itu?, memangnya kamu membawa penyakit untuk mereka?, apa wajah cantik kamu ini membuat mereka merasa jijik dan tak berselera makan lagi?. Enggak kan?" tanya Leny mencoba membujuk dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Hanabi.
"Untuk apa kamu pikirin pandangan buruk orang-orang tentang kita?. Selama kita tidak melakukan hal yang ada di pikiran mereka, merugikan mereka, jangan di pedulikan. Lagi pula kita hidup tidak meminta makan dari mereka. Jadi tidak usah takut" timpal Leny menasehati.
"Tapi Kak..." ucapan Hanabi langsung di potong Leny.
"Sudah, tidak usah takut. Selama ada aku di sini, tidak akan ada yang berani menghina ataupun mengusir kamu" sela Leny dan langsung menarik tangan Hanabi menuju ke dalam gedung.
Mau tak mau Hanabi hanya pasrah dan mengikuti Leny melangkah karena tangannya juga terus di genggam oleh Leny.
Sorot mata para tamu langsung tertuju padanya dan membuat Hanabi semakin merasa risih bercampur takut.
Akan tetapi Leny tersenyum sambil terus meyakinkan Hanabi kalau tatapan dari mereka adalah tatapan kagum akan paras cantiknya.
"Kok Mereka jadi akrab?, seakan-akan tak terjadi apa-apa di antara mereka berdua?" Jasmine bertanya-tanya.
"Itulah hebatnya Kakakku. Kebaikan hatinya yang begitu tulus itu membuat orang-orang sangat hormat dan mengagumi dirinya" sambung Wulan tersenyum.
"Bahkan Silviana dan Koury bisa tersadar dari sifat maniac mereka terhadap Kak Daniel. Malahan sekarang mereka berdua menjadi sahabatnya Kakak" timpalnya.
Jasmine semakin kagum dengan kebaikan dari Leny, dan membuatnya ingin lebih dekat dengan sosok nyonya Syahputra itu.
"Aku jadi semakin penasaran dengan nona muda, aku ingin semakin dekat dengannya" ucap Jasmine tersenyum sambil terus memperhatikan Leny yang tengah bersenang-senang dengan Hanabi.
Daniel semakin bangga pada istrinya. Dia bahagia karena banyak orang-orang yang mau bersahabat dengan sang istri. Kelembutan hatinya juga bisa membuat orang-orang menjadi luluh terhadapnya.
"Kak, kenapa mata mereka terus mengarah ke kita?" bisik Hanabi gelisah.
"Tapi tatapan mereka membuatku takut Kak" ucap Hanabi merasa risau.
"Apa yang harus di takutkan?. Kita semua sama kok di mata sang pencipta, tidak ada yang beda kan?. Mereka makan?, kita juga makan. Mereka tidur?, kita juga. Jadi apa yang harus di takutkan dari sesama manusia?" tanya Leny menasehati.
"Percaya diri saja, jangan merasa minder, apa lagi berprasangka buruk pada orang-orang yang melihat kita. Kita harus berfikir positif kalau tatapan itu adalah tatapan kagum" timpalnya. Sedangkan Hanabi hanya menatap kagum ke arah Leny yang terus tersenyum.
"Untuk apa kamu takut pada tatapan mata mereka?, memangnya mereka tau siapa kamu?, apa yang kamu lakukan pada mereka?, enggak kan?" sambung Joe bertanya.
"Kamu tenang aja. Tidak akan ada yang berani berbuat tidak baik atau menghina kamu, setelah kamu sudah menjadi bagian dari istriku. Tidak akan ada yang berani menyentuh kamu, tenang saja" sela Daniel tersenyum.
"Kenapa mereka bisa begitu yakin?, siapa sebenarnya pasangan ini?. Mereka kan bukan asli penduduk di negara ini. Tapi kenapa orang-orang yang ada di sini seperti sangat begitu menghormati pasangan ini?, bahkan Kakakku juga?" gumam Hanabi bertanya-tanya.
Merasa terus di perhatikan, Daniel juga merasa sedikit risih oleh pandangan orang-orang yang terus menatap ke arah Adik dari sahabatnya itu.
Daniel memberi kode agar pandangan para bawahannya dan seluruh orang yang ada di sana tidak lagi mengarah kepada mereka. Akhirnya semua pandangan untuk Hanabi terlepas setelah ancaman dari Daniel.
Pesta mewah itu berjalan menjadi semakin meriah dengan adanya Hanabi di tengah-tengahnya. Kebahagiaan Leny sudah tak di ungkapkan dengan kata-kata lagi karena melihat banyak orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam pesta putranya dan seluruh keluarganya yang ikut hadir.
Acara tersebut berjalan sampai malam hari karena itu semua memang permintaan dari Leny yang ingin membuat acara ulang tahun pertama dari putranya menjadi yang paling membahagiakan bagi keluarga kecilnya.
"Meskipun ini hanya sekedar pesta ulang tahun, akan tetapi pesta ini bisa mengalahkan pesta pernikahan seorang selebriti" ucap Mama Yuni pada Ibu Rani.
"Mama tidak tau saja siapa menantu Mama itu. Pesta seperti ini masih terbilang kecil oleh keluarga mereka" batin Papa Galuh tersenyum.
"Beruntung banget ya putri kita Pa. Bisa memilik suami dan keluarga yang bisa menerimanya, menyayangi dia seperti putri mereka sendiri" ucap Mama Yuni terharu melihat kebahagiaan putri semata wayangnya itu.
"Ha?, i...iya Ma" jawab Papa Galuh tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kalian bicarakan?, jangan berkata seperti kita ini orang asing. Kita ini keluarga, sudah menjadi hal wajar bagi kami untuk menyayangi menantu kami" sela Ibu Rani memotong.
"Iya jeng, kamu benar. Kami juga sangat menyayangi putra kalian. Kehebatan dia, rasa cinta dia pada keluarga kami. Aku sangat beruntung memiliki menantu seperti Daniel" jawab Mama Yuni tersenyum haru.
"Mungkin karena Daniel dari kecil tidak memiliki kasih sayang dari orang tuanya. Itu yang membuat dia sangat menyayangi keluarganya dan begitu menghargai waktu bersama orang-orang yang ia sayangi" sambung Ayah Leo.
"Bagaimanapun juga, kita ini keluarga. Tidak ada yang namanya saling tidak enakan, apa lagi saling menutupi kesulitan yang sedang kita hadapi. Kita harus saling terbuka satu sama lain dan saling membantu" ucap Ibu Rani tersenyum sambil memeluk Mama Yuni.
Mohon maaf karena baru bisa update. Author sangat di sibukkan dengan urusan yang tidak bisa di tinggal dan terpaksa harus mengorbankan novel ini untuk beberapa hari ke belakang. Jangan pernah bosan dengan Author yang low up ya😇, jika ada waktu yang lebih senggang author akan lebih sering up🙏🙏