
Semakin hari Daniel kian membaik membuat hati Leny semakin senang karena tidak lama lagi suaminya akan pulang kerumah mereka dan mereka bertiga akan berkumpul kembali.
"Pasti Damin bakal bahagia bisa bermain dengan Ayahnya lagi. Dari kemarin dia terus memanggil-manggil kata Yayah" ucap Leny tersenyum bahagia.
"Iya Honey, Ayah juga sudah sangat merindukan putra kita" sambung Daniel sembari mengelus kepala sang istri.
Pintu kamar Daniel terbuka, dan masuklah seorang pria muda yang seumuran Daniel. Pria yang menggunakan baju putih dengan sebuah stetoskop yang bergantung pada lehernya. Pria itu masuk dengan sebuah senyuman manis terukir di bibirnya, namun senyuman itu membuat Daniel merasa jijik.
"Ckckck. Masuk gak pake ketuk pintu, terus ngasih-ngasih senyuman yang menjijikkan seperti itu" ucap Daniel memutar bola matanya jengah.
"Gak usah banyak omong!. Kau harus diperiksa" jawab pria itu yang tidak lain adalah Alvin.
"Gak perlu kau periksa mulu, aku udah sembuh ini" ucap Daniel.
"Ngebantah aja kau jadi pasien, ku suntik rabies juga kau nanti lama-lama" balas Alvin.
"Ampun dah, ribut terus ah" ucap Leny sembari memijat pelipisnya.
"Udah!. Gak usah banyak bicara lagi, kasian istrimu itu, sampe stress menghadapi kamu" ucap Alvin mengejek.
"Kalian berdua sama aja!. Sama-sama membuat stress kalau sudah bertemu" jawab Leny.
"Hehe. Maaf Honey, kami berdua memang selalu seperti ini jika bertemu. Tapi kalau Ayah terkena masalah, maka Alvin lah yang bertidak duluan" ucap Daniel menjelaskan.
"Begitupun sebaliknya" sambung Alvin menambahkan
"Iya-iya. Bunda tau kalau hubungan Ayah dan Alvin sudah seperti saudara. Sama seperti Ayah dengan Riski kan?" ucap Leny dan di anggukan oleh Daniel.
"Udah ya udah. Tolong jangan bermesraan di depanku okey!" tegur Alvin yang melihat Daniel mengelus-elus kepala Leny.
"Makanya cari istri dong!" jawab Daniel mengejek.
"Hadeh!. Kau pikir nyari istri kayak beli kerupuk apa" ucap Alvin sembari mengecek tubuh Daniel.
"Alvin, apa kamu sudah menikah?" tanya Leny.
"Belum nona. Aku belum ada kepikiran untuk menikah untuk saat ini" jawab Alvin yang tengah fokus memeriksa Daniel.
"Mengapa?. Kamu kan laki-laki yang sudah sukses, bahkan kau seorang dokter yang sangat hebat" tanya Leny lagi.
Alvin langsung menghentikan aksinya, kemudian ia menghela nafasnya dan berkata "Dulu, sebelum aku menjadi seperti sekarang ini. Aku pernah mempunyai seorang kekasih"
"Dia sudah tiada di dunia ini nona, dia mengidap penyakit tumor otak stadium 4" jawab Alvin dengan nada yang sedih
"Astaga, Alvin maafkan aku ya, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu mengingat masa kelam kamu" ucap Leny merasa tak enak hati.
"Tidak masalah nona" jawab Alvin tersenyum
"Sebelum ia meninggal dunia, dia sempat memberikanku sebuah surat, dan sampai sekarang surat itu masih aku simpan" timpalnya sembari menunjukkan sebuah surat pada Leny.
"Apa aku boleh membacanya?" tanya Leny meminta izin.
Alvin tersenyum dan mengangguk sembari berkata "Silahkan nona"
Dengan perlahan Leny membuka sebuah kertas yang terkena sebuah noda darah, dan ia mulai membaca isi surat tersebut.
"Assalamualaikum pangeran tampanku. Jika kamu sudah membaca isi surat yang aku tuliskan ini, itu pertanda aku sudah tidak bisa berada di dekatmu lagi hehe. Oiya aku juga mau meminta maaf padamu perihal penyakit yang aku idap ini. Sebenarnya aku terkena tumor otak stadium 4, dan dokter bilang persentase kesembuhannya hanya 30% saja. Tapi aku tak pernah bersedih atau mengeluh atas penyakit yang aku idap ini. Karena aku mempunyai kamu sayangku, dan aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu hehe. Maafkan aku ya pangeran tampanku, aku sudah mengingkari janji kita. Kamu harus janji padaku kalau kamu gak boleh putus asa, kamu harus bisa menemukan pengganti yang lebih baik dariku. Aku sangat mencintaimu, aku ingin kamu bahagia meskipun kamu bahagianya tidak bersama denganku. Oh iya di dalam amplop ini juga terdapat sebuah kartu ATM, dan semua uang tabungan untuk kita menikah aku simpan di dalam sana, gunakan uang itu untuk menikah dengan wanita yang lebih baik dan benar-benar tulus mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu. Mungkin hanya ini saja yang bisa aku ungkapkan untuk kamu sayang, sekarang aku bisa lebih tenang jika harus meninggalkan kamu. Sampai jumpa pangeran tampanku, aku akan selalu mengawasi kamu dari alam sana, aku menunggu kamu bahagia loh, hehehe.
Assalamualaikum pangeran tampanku " ( Isi surat yang di tulis oleh kekasih Alvin )
Leny sampai tak kuasa menahan air matanya saat membaca sebuah surat yang di tulis oleh kekasih Alvin itu. Perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Kemudian Leny menatap Alvin yang tengah tersenyum menatapnya dan membuat Leny semakin merasa sangat sedih melihat raut wajah Alvin.
"Alvin, aku ikut sedih dengan kisah cinta kamu dan kekasihmu yang harus terpisahkan oleh maut" ucap Leny dengan sedihnya.
"Hehe. Tidak masalah nona, aku sudah mengikhlaskannya kok. Mungkin Tuhan lebih sayang padanya. Aku yakin dia juga pasti bahagia di atas sana melihat aku yang sekarang" ucap Alvin tersenyum tulus.
"Semenjak kepergiannya, aku bersumpah pada diriku sendiri. Aku harus menjadi seorang dokter yang hebat, dan menyelamatkan orang-orang yang. Aku tidak mau melihat orang lain merasakan hal yang sama denganku" timpalnya.
"Namun Aku juga sadar dengan kehidupanku dulu. Aku tidak memiliki cukup banyak uang untuk kuliah kedokteran. Jika aku tidak bertemu dengan tuan muda, mungkin sampai sekarang aku belum jadi apa-apa" ucapnya lagi.
"Alvin, kau itu orang yang baik, sangat jujur, dan berbakat. Jika bakat milikmu tidak di wujudkan, maka negara kita akan kehilangan salah satu manusia pintar sepertimu" ucap Daniel dengan serius.
"Dulu aku juga sama sepertimu, tidak memiliki apa-apa, hidup dalam kemiskinan. Bedanya kamu masih memiliki kedua orangtua yang senantiasa mendukungmu" timpalnya.
"Terima kasih tuan, berkat anda saya bisa berbeda di posisi seperti ini. Karena kebaikan anda, saya bisa mewujudkan cita-cita saya" ucap Alvin dengan penuh ketulusan.
"Dan apa yang kulakukan pada kalian semua, masih belum mampu untuk membalas seluruh kebaikan yang tuan muda berikan padaku" timpalnya lagi.
"Alvin, jangan berkata seperti itu. Kau itu sudah seperti saudara bagiku, aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, aku juga tidak menuntut kamu untuk membalas semua yang telah aku berikan padamu. Aku hanya melihat ada diriku yang dulu pada dirimu, oleh sebab itu aku langsung membantumu tanpa berfikir lagi." jawab Daniel tersenyum tulus.