
Setelah para bawahannya Daniel kembali ke markas mereka masing-masing, Leny langsung menggandeng sang suami yang tengah bermain dengan Damin kembali ke dalam hotel dan menyuruh Daniel mandi kemudian mereka akan makan bersama.
Kini Daniel dan keluarganya sudah berada di restoran hotel. Mereka semua tengah menikmati makan siang bersama dengan penuh nikmat, lalu Leny mengatakan sesuatu yang membuat mereka semakin gemas dengan bayi tampannya itu.
"Oh iya Ayah. Damin sudah bisa berdiri loh" ucap Leny tersenyum sambil menyuapi makanan ke mulut putranya itu.
"Benarkah sayang?" tanya Daniel pada sang putra dan di balas dengan senyuman manis oleh Damin.
"Anak Mama sudah bisa berdiri?" sambung Ayu bertanya.
"Iya dong Mama" jawab Leny tersenyum menirukan suara anak kecil.
"Makin pinter dong anak Ayah" ucap Daniel tersenyum sambil mengelus kepala putranya.
"Iya Ayah, Bunda udah gak sabar ingin segera melihat Damin bisa berjalan" jawab Leny tersenyum bahagia.
Suasana makan mereka menjadi semakin bahagia setelah mendengar kalau putra dari Daniel dan Leny sudah bisa berdiri. Leny juga tak henti-hentinya memanjakan putranya yang semakin pintar itu. Damin juga sesekali bisa menyebutkan kata Bunda dan membuat Leny semakin gemas dengan Damin.
"Sebenarnya ada apa tadi Kak?, kenapa mereka semua berkumpul dan mengantar Kakak pulang?" tanya Kevin penasaran.
"Biasalah, para bawahannya si Pak tua itu berbuat ulah lagi" jawab Daniel santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ulah?, ulah apa suamiku?" sambung Leny bertanya.
"Salah satu bawahan si Pak tua itu adalah guru di tempat Ayah mengajar. Namun, cara dia mengajar sangat tidak pantas dan membuat Ayah sedikit jengkel" jawab Daniel.
"Memangnya bagaimana cara ia mengajar suamiku?" tanya Leny penasaran.
"Begitu keras dan bahkan sampai ingin memukul salah satu dari murid-murid Ayah" jawab Daniel lagi.
"Namun Ayah menahannya hingga membuat dia merasa tidak terima bahkan menantang Ayah untuk bertarung" timpalnya menjelaskan.
"Lalu Ayah menghajarnya sampai bonyok seperti yang tadi Bunda lihat?" tanya Leny menebak sambil menatap Daniel dengan tajam.
"Hahaha, tidak Honey. Ayah sama sekali tidak menghajar atau memukulinya sampai seperti itu" jawab Daniel tertawa.
"Lalu kenapa tadi Bunda lihat salah satu dari mereka ada yang terluka?" tanya Leny penasaran.
"Itu perbuatannya si Pak tua. Ia menghajar bawahannya sampai terluka, jika tidak Ayah tahan, mungkin dia sudah membunuh bawahannya" jawab Daniel menjelaskan.
"Terus kenapa pemimpin dari kelompok lain ikut bersama Pak tua Banba?" tanya Kevin.
"Kakak sengaja mengumpulkan mereka semua dan menemui Kakak. Karena ketika Kakak pulang dari sekolah, guru yang Kakak permalukan itu menaruh dendam dan ingin mencoba membalas dendam dengan membawa ke tujuh rekannya" jawab Daniel.
"Jadi Kakak mengumpulkan para pemimpin yang lainnya hanya untuk membuat mereka sadar kalau di atas langit masih ada langit" timpalnya menjelaskan.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian bahas?. Pemimpin?, pemimpin apa?. Apa yang kamu sembunyikan dariku Kakak ipar?" potong Ayu bertanya-tanya.
"Bukan apa-apa kok. Suamiku hanya melindungi diri saja. Dia punya kenalan orang-orang hebat, jadi ia meminta bantuan pada mereka agar orang-orang yang ingin mengeroyok Kakak ipar kamu menjadi takut dan tidak jadi membuat Ayahnya Damin sampai terluka" jawab Leny menjelaskan.
"Sudah sayang sudah, kita makan aja lagi" sela Dion memotong agar Ayu tidak terus menekan sang Kakak.
Setelah usai makan siang, mereka semua kembali dengan kesibukan masing-masing dan Leny mengajak Daniel untuk berjalan-jalan menikmati negara sakura itu bersama keluarga kecil mereka.
Daniel dengan senang hati menuruti permintaan dari istrinya itu. Mereka mengelilingi negara Jepang dan menyuruh setiap kota yang terdapat di negara tersebut.
Mereka bertiga nampak begitu menikmati liburan mereka di negara tersebut. Tak lupa pula Daniel mengajak istri dan putranya menyinggahi tempat-tempat yang begitu indah.
Sangking terlalu menikmati jalan-jalan keluarga, sampai membuat mereka bertiga lupa waktu. Mereka bertiga berjalan-jalan hingga malam hari dan Damin pun sudah tertidur pulas dalam pangkuan Leny. Akhirnya mereka bertiga memutuskan kembali ke hotel karena sudah lelah mengelilingi negara sakura tersebut.
Sesampainya di hotel, mereka bertiga memutuskan untuk segera istirahat mengingat tubuh yang juga sudah terasa sangat lelah dan butuh waktu untuk beristirahat agar Daniel tidak kelelahan saat mengajar esok hari.
Pagi harinya seperti biasa Leny dan Damin mengantarkan Daniel pergi menuju ke tempat parkir mobil milik mereka. Leny selalu berpesan kepada sang suami untuk tidak melukai atau sampai membunuh orang lagi, karena ia sudah lelah berurusan dengan darah dan tubuh manusia yang sudah tidak utuh lagi.
Daniel juga terus berkata kalau ia tidak pernah mencari masalah dengan seseorang karena ia merasa itu semua tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu serta tenaga saja menurutnya.
Setelah berpamitan pada istri dan putra tercinta, Daniel melajukan mobilnya pergi menuju ke tempat ia mengajar dengan perasaan gembira karena terus membayangkan putra kecilnya yang sudah berdiri bahkan bisa berjalan beberapa langkah.
Di dalam mobil ia terus tersenyum sendiri karena mengingat ketika putranya tengah berdiri dan berusaha menghampiri dirinya malam hari tadi.
"Anakku sudah mulai besar, aku semakin tidak sabar melihat ia tumbuh besar nanti dan akan aku latih agar bisa menjadi penerus ku. Aku yakin dia akan menjadi pemimpin yang jauh lebih hebat dariku dan bisa melindungi kedua orang tuanya" gumam Daniel tersenyum bahagia sambil membayangkan putra kecilnya yang tumbuh besar.
Setelah sampai di gerbang sekolah, penjaga sekolah itu langsung membukakan pintu gerbang sekolah dan menyambut kedatangan Daniel dengan sangat hangat.
"Selamat pagi Daniel Sensei" sapa sang satpam tersenyum.
"Pagi juga Pak" jawab Daniel tersenyum dan melajukan mobilnya ke dalam sekolah tersebut.
Seusai Daniel memarkirkan mobilnya, tak lama kemudian Takaoka juga tiba di sekolah dan langsung menghampiri Daniel yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Se..selamat pagi tuan muda" sapa Takaoka sedikit membungkuk sedangkan Daniel hanya sedikit terkejut dan langsung menenggak kan tubuh Takaoka karena ia tak ingin menjadi pusat perhatian para orang-orang yang berada di sekolah tersebut.
"Jangan seperti itu. Ini di sekolah, bukan di tempat umum" bisik Daniel sambil membenarkan tubuh Takaoka yang membungkuk tadi.
"Ma..maaf tuan muda, hehehe" jawab Takaoka sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
"Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan muda. Di tempat ini kita sama-sama seorang guru, jadi panggil saja Daniel Sensei" bisik Daniel lagi.
"Baik tuan, eh maksudnya Daniel Sensei" jawab Takaoka merasa gugup. Sedangkan Daniel hanya tersenyum sambil menepuk pundak Takaoka dan langsung pergi menuju ke ruangan guru.
Saat Daniel berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Takaoka memanggilnya lagi dan mau tak mau Daniel harus menghentikan langkahnya.
"Tu..eh Daniel Sensei" panggil Takaoka gugup.
Daniel membalikkan badannya lalu bertanya "Ya, ada apa Takaoka Sensei?".
"A..ada yang ingin saya bicarakan secara empat mata pada anda tuan" jawab Takaoka menunduk.