Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
TERLALU MENYAYANGINYA


Seluruh orang menikmati pesta mewah yang di buat oleh keluarga Daniel. Banyak makanan enak dan permainan untuk anak-anak kecil yang hadir.


Namun berbeda dengan Joe. Sahabat Daniel yang terlihat selalu ceria dan suka mencari keributan pada Daniel, kini malah hanya duduk diam di sofa seorang diri.


Daniel yang sedang asyik bercanda dengan keluarganya langsung terdiam saat pandangan matanya mengarah ke arah sahabatnya yang tengah duduk termenung di atas sofa.


"Tumben tu orang" gumam Daniel sedikit khawatir.


Daniel yang merasa sedikit khawatir dengan keadaan sahabatnya yang biasanya selalu ceria dan mencari masalah dengannya, ia pun mendekati Joe. Daniel merasa kalau sahabatnya itu tengah memiliki beban besar dan bingung harus menyelesaikan masalah tersebut.


Daniel berjalan mendekati Joe dengan membawa dua buah gelas sirup untuk menemani obrolan mereka. Kemudian Daniel menyerahkan gelas yang berisikan air sirup itu pada Joe setelah ia berdiri di depannya dan sampai membuat Joe tak sadar kalau Daniel sudah ada di depannya karena terus melamun.


"Tidak baik terus-terusan melamun seperti itu" tegur Daniel sambil menyerahkan sebuah gelas dari tangan kanannya.


"Eh kapten" jawab Joe terkejut dari lamunannya.


"Terima kasih" timpalnya setelah menerima gelas dari tangan Daniel. Lalu Daniel langsung duduk di sebelah Joe dan meminum minumannya, sedangkan Joe hanya menunduk sambil memutar-mutar gelasnya saja.


"Ada apa?, dari tadi aku melihatmu terus melamun saja?" tanya Daniel khawatir dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Joe.


Daniel mengenal nafasnya lalu merangkul pundak Joe, kemudian ia berkata "Kita ini saudara, tidak ada yang boleh di tutup-tutupi, jika salah satu diantara kita mengalami masalah, maka kita harus saling membantu. Kau sendiri yang mengatakannya kan?".


Joe masih terdiam menunduk sambil terus memutar-mutar gelasnya. Bibirnya ingin berkata sesuatu pada sahabat baiknya itu, akan tetapi ia bingung harus memulai darimana, karena tak ingin membuat suasana bahagia di keluarga Daniel menjadi berantakan jika ia mengatakan yang sebenarnya.


"Sudahlah, katakan saja. Aku pasti akan membantumu" ucap Daniel sambil menepuk-nepuk pundak Joe.


"Apa kau masih ingat dengan Adik perempuanku yang sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah, kau menyelamatkannya dari penculikan di bar waktu itu kapten?" tanya Joe dengan posisi masih menunduk.


"Maksudmu Hanabi Megumi? tanya Daniel menebak dan di anggukan oleh Joe.


"Dengar-dengar Adik perempuanmu itu saat ini sedang meneruskan sekolah perguruan tingginya di Amerika kan?" timpal Daniel.


"Memangnya ada apa dengannya?, apa sedang menghadapi masalah lagi di negara sana?" tanya Daniel lagi, dan Joe hanya menggeleng.


"Dia akan kembali ke sini untuk sementara waktu kapten" jawab Joe dengan posisi masih menunduk.


"Bagus dong, kalian kan sudah lama tidak bertemu. Kenapa kau malah bersedih begini saat tau dia akan kembali?" tanya Daniel bingung.


"Kau tau kalau dia Adikku satu-satunya, aku sangat menyayanginya, aku tak ingin melihat ia terluka saat tau kalau kau sosok pahlawannya selama ini sudah menikah dan memiliki seorang anak" jawab Joe dan membuat Daniel semakin kebingungan.


"Maksudnya?" tanya Daniel bingung.


"Setelah kau menyelamatkannya dari penculik yang menyanderanya di bar waktu itu, dia langsung jatuh cinta padamu, baginya kaulah sosok pahlawan dalam hidupnya. Tujuan ia kembali ke sini itu untuk mengungkapkan rasa cinta yang selama ini ia simpan selama bertahun-tahun" jawab Joe menjelaskan.


"Namun, jika ia tau kalau kau sudah berkeluarga, aku yakin hatinya pasti akan sangat hancur kapten. Aku tak ingin melihat dia terluka" timpalnya, sedangkan Daniel hanya diam menyimak saja.


Flash back....


Daniel sedang berjalan menuju ke arah kelas, ia tau kalau sahabatnya yaitu Joe pasti akan menyambut kedatangannya. Akan tetapi pada hari itu Daniel sama sekali tidak mendapatkan Joe berdiri didepan pintu kelas untuk menyambut, ia malah melihat sahabatnya tengah duduk di kursinya dengan wajah sedih bercampur amarah sambil kedua bola mata yang terus menatap ke arah ponselnya. Sebagai seorang sahabat, Daniel bisa merasakan kalau Joe tengah memiliki masalah, dan ia bingung harus berbuat apa.


"Ada apa denganmu?, kelihatannya kau sedang memiliki masalah yang sangat besar?" tanya Daniel khawatir.


"Adik perempuanku sedang di culik kapten" jawab Joe sedih.


"Saat ini, ia sedang di sandera di sebuah bar. Jika aku ingin dia selamat, aku harus menjadi bawahannya bergabung dalam kelompok Yakuza yang ia pimpin" timpalnya.


"Yakuza?, sebuah bar?" batin Daniel bertanya-tanya.


"Apa nama bar itu?" tanya Daniel yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.


"Venom" jawab Joe.


"Venom?, jadi tempat sampah itu masih beroperasi?, sudah ku suruh tutup masih saja membangkang!" batin Daniel geram.


Daniel tersenyum tipis sambil menepuk kepala Joe, lalu tanpa berkata apa-apa Daniel keluar lagi dari kelasnya. Joe yang merasa bingung mencoba memanggil Daniel namun Daniel tak menghiraukannya dan Joe masih terus mencoba memanggil Daniel yang semakin menjauh dari kelas mereka.


Joe yang juga merasa khawatir pada sahabatnya, akhirnya memutuskan untuk menyusul dan mencoba untuk menghentikannya.


"Kapten!" panggil Joe sedikit berteriak dari kejauhan.


Merasa namanya di panggil, Daniel pun berhenti dan Joe langsung berlari menghampiri Daniel.


Setibanya Joe di hadapan Daniel, Joe mencoba mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan karena mengejar Daniel tadi.


"Kau...hos... hos... mau kemana?" tanya Joe masih sedikit ngos-ngosan. Tanpa menjawab, Daniel melanjutkan langkahnya dan menuju ke arah mobilnya.


"Kapten!" panggil Joe sedikit kesal.


Daniel menghentikan langkahnya lagi lalu menjawab dengan nada dinginnya tanpa berbalik badan "Aku ada urusan, kau kembalilah ke kelas. Jika guru menanyakan ku, katakan saja aku tak masuk" dan Daniel berjalan lagi dengan raut wajah yang berubah menjadi marah.


Mendengar itu Joe terdiam sejenak. Ia merasa bingung dengan sahabatnya yang tiba-tiba berubah seperti itu. Ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Adik perempuannya itu dan juga Daniel.


Merasa sedikit kesal, Joe malah memilih untuk mengikuti Daniel. Karena ia yakin kalau sahabatnya itu akan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.


"Tunggu kapten!" panggil Joe tegas dan Daniel lagi-lagi menghentikan langkahnya. Lalu Joe langsung menghampiri Daniel.


"Aku ikut!" timpalnya.


Daniel tersenyum dan menjawab "Terserah kau saja" Lalu Daniel berjalan menuju ke tempat parkir yang dimana mobilnya berada dan Joe hanya mengikutinya saja.


Setibanya mereka berdua di dalam mobil, Daniel masih tak berkata apa-apa dan membuat Joe semakin khawatir dengan perubahan sahabatnya itu secara tiba-tiba setelah mendengar kabar kalau Adik dari Joe di culik.


"Kita mau kemana kapten?" tanya Joe khawatir. Sedangkan Daniel hanya diam sambil menghidupkan mesin mobil Lamborghini yang seharga di atas 4 miliar pada masa itu.


"Jangan banyak tanya, duduk dan nikmati saja perjalanan ini" jawab Daniel dingin kemudian langsung menancap pedal gasnya dengan laju kecepatan tinggi.


NB : MAAF BUAT PEMBACA SETIANYA AUTHOR.. AUTHOR TELAT UPDATE KARENA ADA KESIBUKAN YANG HARUS DI SELESAIKAN DAN ITU MEMANG TIDAK BISA AUTHOR TINGGAL...🙏✌️