Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
BANYAK MUSUH


Setelah urusan dengan pria yang bernama Tono itu selesai, kini Daniel beserta istri pergi menuju ke kediaman sang Ibunda tercinta untuk menjemput putra kesayangan mereka yang sudah dari pagi berada di sana.


Sesampainya mereka di rumah mewah tersebut, Daniel langsung membawa sebagian barang-barang yang di beli Leny tadi untuk Ayah dan Ibu Rani.


Damin yang sadar akan kedatangan kedua orangtuanya langsung kegirangan dan ingin segera di peluk oleh Leny karena sudah sangat merindukan Bundanya.


"Anak Bunda gak nakal kan?" ucap Leny bertanya setelah Damin berada dalam gendongannya.


"Yayah yah" oceh Damin yang membuat mereka semua tersenyum gemas.


"Kenapa selalu Ayah yang kamu sebut sih sayang?" tanya Leny dan langsung menciumi sang putra dengan gemas.


"Kamu sendirian sayang?, mana suami kamu?" tanya Ibu Rani yang mencari keberadaan sang putra.


"Ada Bu. Dia lagi ngambil bahan dapur untuk Ibu" jawab Leny.


"Tadi sebelum kesini, Leny mampir ke mall untuk beli stok dapur, yaudah deh sekalian Leny beli untuk dapur Ibu juga" timpalnya


"Ya ampun kok repot-repot sih sayang" ucap Ibu Rani sambil mengelus kepala sang menantu.


"Gak repot kok Bu, itung-itung ucapan terima kasih kami karena udah menjaga Damin" jawab Leny tersenyum.


"Damin kan Cucu Ibu, jadi sudah sewajarnya Ibu ikut merawatnya" balas Ibu Rani.


Daniel yang sedikit kesulitan membawa barang-barang yang di belikan oleh Leny, dengan buru-buru ia langsung melangkah ke arah dapur agar barang yang ia bawa tidak terjatuh dan berserakan di lantai.


"Pelan-pelan sayang" tegur Ibu Rani saat melihat Daniel berjalan dengan buru-buru.


"Iya Bu" jawab Daniel yang langsung menuju dapur.


"Ayah kemana Bu?" tanya Daniel setelah keluar dari dapur.


"Ada apa?" tanya sang Ayah yang tiba-tiba turun dari tangga.


"Ini soal pak tua itu" jawab Daniel.


"Siapa sayang?" tanya Ibu Rani yang ikut penasaran.


"Tono Bu" jawab Daniel lagi.


"Bukanya kamu sudah memasukan dia ke penjara 7 tahun yang lalu?" tanya Ayah Leo.


"Iya, dan itu juga di Jepang" tambah sang Ibu.


"Tadi aku bertemu dengannya, dan dia juga sudah menghajar para polisi yang ingin memindahkannya ke penjara yang berada di sini" jawab Daniel menjelaskan.


"Apa bedanya penjara di Jepang sama di Indonesia sih?, kan sama-sama di hukum juga" sambung Leny bertanya.


"Tadi salah satu dari anggota polisi menjelaskan tentang mereka yang memindahkan si tua itu ke sini" jawab Daniel.


"Dia akan di hukum mati, tapi dia meminta hukuman itu di lakukan di tanah kelahirannya" timpalnya.


"Jadi maksud dari penjelasan kamu. Dia berencana melarikan diri dari pengawalan?" tanya Ayah Leo, dan di anggukan oleh Daniel.


"Untung dia tidak sengaja bertemu denganku, dan aku bisa mengirimnya ke penjara lagi" jawab Daniel menyambung.


"Untung saja Ayah kamu hebat, dan dia bisa mengalahkan semua musuh yang mencoba melukainya" timpal Leny tersenyum bahagia menatap sang putra.


"Ya mau gimana lagi Honey, itu resiko dari apa yang Ayah pegang" sambung Daniel sembari mengelus kepala sang istri.


"Ayah berjanji akan menjaga kalian, dan tidak akan Ayah biarkan siapapun yang berani mengusik kalian selama Ayah masih bernyawa" timpal Daniel tersenyum mengelus kepala Damin.


"Kenapa sih Ayah gak keluar saja dari Dark Shadow, dan hidup layaknya orang normal" ucap Leny yang merasa khawatir akan keselamatan sang suami jika terus berperang.


"Kalau Ayah keluar dari sana, otomatis banyak musuh yang akan mengambil kesempatan untuk berbuat nekat Honey" jawab Daniel menjelaskan.


"Yang di katakan suami kamu itu benar nak. Dark Shadow adalah puncak terkuat di dunia gelap. Jika mereka tau kalau pemimpin Dark Shadow keluar, pasti akan jadi perebutan kekuasaan dan akan banyak menumpahkan darah" sambung Ayah Leo.


"Dulu kak Elang, mertua kamu sebenarnya sudah ingin di tunjuk menjadi penerus Dark Shadow menggantikan posisi kakeknya Daniel, namun dia menolak itu semua dan meneruskan cita-citanya menjadi seorang dokter" timpal Ayah Leo.


"Jadi karena Papa Elang menolak, kakek meminta Ayah yang mengambil alih?" tanya Leny dan di anggukan oleh Ayah Leo.


"Tapi Dark Shadow berada di puncak setelah suami kamu yang memimpin, dan dia adalah pemimpin termuda dalam sejarah Dark Shadow" tambah Ayah Leo menjelaskan.


"Sebenarnya Ibu juga sangat mengkhawatirkan Daniel jika bertugas, tapi dia selalu berkata kalau tidak ada yang bisa membunuhnya kecuali kehendak Tuhan" sambung Ibu Rani.


"Banyak musuhnya yang mencoba untuk membunuhnya, namun semua usaha mereka tidak ada satupun yang berhasil justru mereka yang kalah telak jika berhadapan dengan Daniel" timpal sang Ibu.


"Daniel sudah melampaui para pemimpinnya terdahulu, dan Ayah yakin Kakeknya pasti bangga padanya. Bahkan dendam pada Petir Hitam selama berpuluh-puluh tahun sudah terbalaskan oleh suami kamu" ucap Ayah Leo.


"Jika saja waktu itu Ayah yang berada di sana, mungkin Papa, Mama kamu masih hidup dan bisa melihat kamu serta Dion hidup bahagia dengan pasangan kalian" timpal Ayah Leo tersenyum pahit.


"Ayah, sudahlah yang sudah berlalu biarkan berlalu. Sekarang kan Daniel sudah punya Ayah dan Ibu yang mau merawat Daniel setelah kehilangan Nenek" ucap Daniel sembari mengelus pundak sang Ayah.


"Juga ada istri dan anakku yang selalu mendukungku" timpal Daniel tersenyum menatap Leny yang ikut tersenyum juga.


"Wah-wah romantisnya" sambung seorang pria yang tiba-tiba langsung merusak suasana hangat mereka semua.


"Kau!" ucap Daniel dengan geram menatap pria itu.


"Tumben kau kesini sendirian, biasanya selalu menempel terus bareng istrimu" timpal Daniel mengejek.


"Baru juga muncul, udah ngajak ribut" ucap pria itu memutar bola matanya jengah.


"Untung aja Damin gak punya kembaran. Kalau kamu kembar, Bunda bisa tambah pusing sayang" ucap Leny berbicara pada sang putra.


"Ayu kemana sayang?" tanya Ibu Rani.


"Ada di rumah sakit Bu, katanya pekerjaannya tidak bisa di tinggal" jawab pria itu tidak lain adalah Dion.


"Oh iya Damin sayang, ini Papa Dion ada mainan baru sayang. Ini Mama Ayu loh yang pilihkan" timpal Dion sembari menyerahkan sebuah benda yang berada di tangannya.


"Suami, istri sama aja. Damin belum paham lah sama yang beginian" ucap Leny menggelengkan kepalanya.


"Eh, eh. Tapi lihat tu, dia senang kok" ucap Dion menatap Damin dengan sangat gemas.


Suasana rumah menjadi semakin ramai ketika Dion ikut datang berkunjung karena ia juga merindukan Ayah dan Ibunya.


"Nanti kamu jemput Ayu ya sayang. Kita makan malam bersama di rumah" ucap Ibu Rani tersenyum dan di anggukan oleh Dion masih asik menggendong Damin.