Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
HADIAH UNTUK BABY BOY


Kini Daniel dan sang istri sudah berada di dalam kamar yang di tempati Windy setelah di pindahkan dari ruang bersalin. Meskipun tadi Daniel baru selesai berolahraga dengan seseorang yang mengaku mengenal dirinya, tak terlihat sedikitpun rasa lelah dalam tubuhnya.


"Ayah tidak lelah?" tanya Leny yang mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Hanya sedikit mengantuk saja Honey" jawab Daniel sambil menguap.


"Yaudah tidur kau sana di sofa itu" ucap Riski.


"Jangan berisik, nanti putraku bangun" timpalnya.


"Aku mau tidur, bukan mau konser bernyanyi bodoh" ucap Daniel yang langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Leny dan Windy hanya menggeleng melihat tingkah dari suami mereka berdua.


"Udah sama-sama menjadi seorang Bapak, tapi tingkah anak-anak kalian belum juga hilang" ucap Leny dan di anggukan oleh Windy.


"Oh iya ini aku ada sesuatu untuk baby boy" timpal Leny mengeluarkan sebuah bungkusan yang lumayan besar.


"Apa ini?, kenapa kamu repot-repot?" tanya Windy.


"Hanya hadiah kecil saja" jawab Leny tersenyum.


"Apanya yang kecil?, ini terlalu banyak Lenlen" ucap Windy sembari mengecek isi bungkusan itu.


"Mahal-mahal pula" timpalnya yang melihat harga baju dan perlengkapan bayi yang di belikan Leny untuk bayi mereka.


"Enggak kok. Harga segitu juga tidak membuat limit saldo kami koyak" jawab Leny santai.


"Iya ini tapi terlalu mahal Leny, kami aja tidak bisa memberikan yang seperti ini untuk Damin" ucap Windy merasa tak enak hati.


"Apa yang kami berikan belum cukup untuk membalas kebaikan mertua kamu Windy" jawab Daniel yang masih memejamkan matanya.


"Itu hanya sebagian ujung kuku saja, dari kebaikan kedua tangannya Riski" timpalnya.


"Lah, belum tidur kau?" tanya Riski sedikit terkejut.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau cacing di perut ini sudah mulai berdemo" jawab Daniel sambil terduduk di sofa itu.


Kemudian Daniel merenggangkan tubuhnya sembari berkata "Ayo kita cari makan, kau juga lapar kan?". Riski mengangguk dan keluar bersama Daniel menuju tempat makan terdekat.


"Oh iya, Leny?. Kamu juga belum makan kan?" tanya Riski, dan di anggukan oleh Leny.


"Mama mau makan apa?" tanya Riski lagi pada Windy.


"Bubur kacang hijau aja deh Pa" jawab Windy.


"Bunda, mau makan apa?" tanya Daniel.


"Ayam bakar, tapi di banyakin nasinya ya" jawab Leny.


"Oke bosku" ucap Daniel tersenyum dan Leny juga ikut tersenyum.


"Kalau begitu Papa berangkat dulu ya jagoan" ucap Riski sambil mengelus pipi putranya.


"Ah kelamaan, buruan aku udah lapar banget" ucap Daniel sembari merangkul leher Riski.


"Iya sabar keong, leherku sakit woy" jawab Riski, sedangkan Leny dan Windy hanya menggeleng saja melihat tingkah dari suami mereka itu.


Daniel dan Riski berjalan melewati setiap lorong rumah sakit yang besar tersebut sembari dengan obrolan kecil, tak lupa pula pada pekerja di rumah sakit itu menyapa Daniel saat ia melewati mereka, dan Daniel membalasnya dengan senyuman.


"Lalu bagaimana orang-orang yang membuat ancaman tadi?" tanya Riski sembari mereka berjalan menuju ke lobby rumah sakit.


"Sudah ku bereskan, gak sampai mati kok" jawab Daniel santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Apa kau mengenal mereka?" tanya Riski lagi.


"Entahlah, tapi Silvia bilang kalau dia itu penguasa di sekolah kami dulu. Aku sih gak ingat dia itu siapa" jawab Daniel.


"Mungkin dulu kau dengan pria itu pernah bertarung, dan dia tak terima dengan kekalahannya itu" ucap Riski.


"Kau sudah berubah ya" ucap Riski tersenyum.


"Berubah apanya?. Kau pikir aku Ultraman?" tanya Daniel bercanda.


"Dulu waktu kecil kau selalu terhina dan ditindas. Bahkan orang yang dulu sangat membencimu kini menjadi bawahan dan sangat menghormati dirimu" ucap Riski.


"Untung saja dulu kau tidak menaruh dendam pada Ronny. Jika kau menghajarnya karena dendam, mungkin dia sudah tak bernyawa lagi" timpal Riski.


"Aku tak pernah membenci mereka. Yang lalu biarlah berlalu, lagian dulu kita kan masih anak-anak" ucap Daniel.


"Udah ayo buruan, cacing di perutku sudah mulai membakar ban" ucap Daniel mempercepat langkahnya dan Riski juga mengikutinya dari belakang.


"Ternyata olahraga tadi menguras tenaga" timpalnya.


Sesampainya mereka di tempat parkir, Riski ingin menggunakan mobil siapa, dan Daniel menjawab menggunakan mobil Riski saja. Karena Daniel sudah terlalu lapar, dia takut akan tidak konsentrasi kalau mengemudikan mobilnya. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan rumah sakit itu untuk mencari tempat makan terdekat.


Ternyata tak jauh dari rumah sakit, ada sebuah rumah makan Padang. Daniel menyuruh Riski untuk berhenti di tempat tersebut karena dia sudah lama tidak makan nasi Padang.


Setelah memarkirkan mobilnya, Daniel langsung keluar menuju ke tempat tersebut. Ia sudah tak sabar ingin memesan makanan karena perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi.


"Permisi" ucap Daniel, dan membuat beberapa penjual yang notabene wanita muda langsung terpesona dengan ketampanan dari Daniel.


"I..iya mas, mau pesan apa?" tanya salah satu wanita itu sedikit gugup.


Tak lama Riski juga datang setelah selesai memarkirkan mobilnya dan Daniel langsung bertanya pada Riski ingin makan apa. Lalu Riski menjawab kalau dia memesan menu yang sama saja dengan Daniel.


"Kalau begitu, lauknya ikan bakar. Tapi porsinya nasinya di banyakin yang mbak, buat 3 porsi" ucap Daniel menjelaskan.


"Baik mas, mohon di tunggu ya" jawab salah satu wanita yang melayani Daniel.


"Wah gila, tampan banget" gumam wanita itu.


Lalu mata Riski tertuju pada sebuah warung yang bertuliskan menjual berbagai macam bubur, dan Riski mengingat kalau istrinya ingin makan bubur kacang hijau.


"Coy, aku ke sana dulu ya" ucap Riski sembari menunjuk sebuah warung bubur di depannya.


"Okey, jangan lama-lama" jawab Daniel.


Ternyata wanita yang membungkus makanan Daniel, sesekali mencuri-curi pandang pada wajah tampan milik Daniel, dan Daniel tidak menyadari hal tersebut karena dia sibuk dengan ponselnya.


"Hey!, buruan. Jangan melihat pria tampan itu seperti melihat makanan" tegur temannya berbisik.


"Ih kamu ni ganggu aja. Namanya juga rezeki mata" jawab wanita itu terkekeh.


5 menit kemudian Riski datang dan membawa beberapa bungkus dari macam-macam bubur yang ia beli tadi. Daniel melihat apa yang berada di tangan Riski malah menaikan satu alisnya karena heran.


"Banyak banget itu?" tanya Daniel.


"Ya untuk makanan penutup. Kau kan makanya banyak" jawab Riski.


"Matamu itu" ucap Daniel dan Riski terkekeh.


"Mas, ini pesanannya" ucap salah satu wanita itu memanggil Daniel.


Oh ia. Berapa mbak?" tanya Daniel.


"40ribu mas" jawab wanita itu tersenyum.


Lalu Daniel mengeluarkan uang lembaran 100ribu dan dia berkata "Kembalian ambil aja".


"Eh makasih loh mas" jawab wanita itu semakin terpesona dengan senyuman Daniel.


"Duh manisnya" gumamnya sembari terus menatap kepergian Daniel menuju ke mobil.


Setelah selesai membeli makanan, kini Daniel dan Riski langsung menuju ke rumah sakit lagi agar segera bisa menyantap makanan yang mereka beli, dan juga cacing-cacing di perut Daniel bisa berhenti berdemo.