
Nek Ani menyuruh mereka untuk masuk kedalam kamar yang memang sudah disediakan khusus untuk para Cucunya yang ingin menginap di kediamannya.
Daniel membuka kamar dan melihat semua isi didalam kamar tersebut. Rasa kagum terpancar dari wajah tampannya, tak henti-hentinya Daniel berdecak kagum melihat desain dari kamar yang di siapkan oleh sang Nenek untuk mereka.
"Honey lihat itu, foto pernikahan kita juga terpampang sangat jelas" ucap Daniel menunjuk bingkai foto pernikahan mereka yang sangat besar tertempel di dinding kamar mereka"
"Wah Nenek memang benar-benar hebat" puji Leny menatap foto pernikahan mereka tanpa berkedip
"Dan ini foto masa kecil kamu bersama Nenek" ucap Daniel memegang sebuah bingkai foto yang berukuran sedang
"Lihat, dari kecil kamu juga tidak pernah berubah ya Sayang. Makan masih belepotan" kekeh Daniel melihat foto masa kecil sang Istri
"Ah.. Sayang ih" rengek Leny dengan manja
"Lelaki ini siapa Honey?" tanya Daniel menatap bingkai foto yang terdapat seorang lelaki dan sang Istri ketika masih kecil
"Oo itu Kakak sepupuku Sayang, namanya Reza. Dia udah meninggal waktu duduk di bangku SMP" jawab Leny lirih
"Innalilahi" jawab Daniel
"Kak Reza mengidap penyakit tumor otak" timpal Leny
"Kasian banget Honey" ucap Daniel meraih tubuh Leny agar memeluknya
"Aku gapapa kok Suamiku, kejadian itu kan sudah lama. Jadi aku sudah mengikhlaskan kepergian Kak Reza" ucap Leny tersenyum
"Yaudah ayo kita cek si Wulan dulu Sayang, kan kita belum makan siang" ajak Leny menggandeng lengan sang Suami
pada saat mereka sampai didepan pintu kamar sang Adik, mereka langsung di kejutkan dengan sebuah pemandangan yang luar biasa di depan mata mereka berdua.
"Astaga ni anak!, kerjaannya molor mulu" ucap Daniel menggelengkan kepalanya
"Biarlah nak, kasian dia pasti lelah" sela Nek Ani membela Wulan.
"Loh Nenek mau kemana?" tanya Leny melihat sang Nenek sudah rapih dan tentu saja masih cantik, meskipun usianya sudah berkepala 5.
"Nenek mau belanja untuk stok di kulkas Sayang" jawab Nek Ani memperlihatkan tas belanjaannya
"Kok bukan pelayan aja yang pergi belanja Nek?" tanya Daniel tak tega bila melihat sang Nenek harus pergi berbelanja sendirian
"Para pelayan sedang memasak masakan spesial untuk kalian, jadi Nenek gak mau mengganggu konsentrasi mereka" jawab sang Nenek
"Lalu Nenek pergi belanja sama siapa?" tanya Daniel merasa khawatir
"Sendirilah Sayang" jawab sang Nenek dengan santainya
"Yaudah ayo biar Daniel yang temenin Nenek" ucap Daniel mengajukan diri
"Kamu kan capek Sayang, sebaiknya kamu dan Istri kamu istirahat saja" tolak sang Nenek tak mau merepotkan Cucu menantunya itu.
"Daniel masih kuat kok Nek, Daniel gak lelah" jawab Daniel meyakinkan sang Nenek
"Iya Nek, biarkan Suamiku yang menemani Nenek belanja" usul Leny
"Ya kalau itu gak membuat kalian repot, Nenek sih ayo aja" ucap sang Nenek tersenyum
"Kami justru yang merepotkan Nenek. Dengan kedatangan kami bertiga ini, pasti sudah merepotkan Nenek" jawab Daniel tak enak hati dengan sang Nenek
"Ah apa yang kamu bicarakan Cucuku?. Justru dengan menginap disini membuat Nenek merasa bahagia sekali" ucap sang Nenek mengelus kepala Leny
"Yaudah kalo begitu ayo biar Daniel saja yang menemani Nenek" ucap Daniel menuntun sang Nenek
"Yaudah kalau begitu, maaf merepotkan kamu Sayang. Leny, Nenek pinjam Suami kamu dulu ya" ucap sang Nenek dan dibalaskan dengan anggukan serta senyuman manis dari Cucu kesayangannya itu.
Daniel dan Nek Ani berjalan menuju mobil mewah milik Daniel, mobil BMW keluaran terbaru dan tentu saja limited edition. Karena hanya orang yang benar-benar kaya saja yang bisa memiliki mobil super mahal tersebut. Bahkan Daniel mengoleksi setidaknya 7 mobil tersebut.
"Wah kamu memiliki mobil ini nak?" tanya Nek Ani seakan tidak percaya dengan apa yang berada di depan mata mereka
"Hehehe. Dirumah masih ada tujuh lagi Nek" jawab Daniel santai namun tak terdengar sombong di depan sang Nenek
"Wah benarkah Sayang?" tanya Nek Ani dan di anggukan oleh Daniel
"Itu semua hadiah dari Ayah dan Ibuku yang membesarkanku waktu di Jepang Nek" ucap Daniel
"Hebat sekali orang tuang angkat kamu nak" puji Nek Ani
"Ya begitulah lah mereka Nek" jawab Daniel lalu membukakan pintu mobil untuk sang Nenek, dan dengan senang hati sang Nenek masuk ke dalam mobil mewah milik Cucunya itu.
"Terimakasih loh Nak kamu sampe repot-repot nganterin Nenek" ucap Nek Ani tak enak hati
"Ah nenek ini bicara apa?. Sudah menjadi kewajiban aku sebagai Cucu menantumu untuk membantu" ucap Daniel tersenyum
"Tapi kamu yakin mau nemenin Nenek ke pasar Nak?" tanya Nek Ani menyakinkan
"Memang ada apa disana?, sampai-sampai Nenek seperti takut aku kenapa-kenapa" tanya Daniel balik
"Ya gak ada sih, cuma Nenek khawatir aja" jawab Nek Ani
"Apa yang perlu di khawatirkan Nek?" tanya Daniel lagi
"Secara kan kamu Suami dari artis cantik terkenal di Ibukota, masa mau ke pasar?" goda Nek Ani
"Ya kan yang artis Istriku Nek, bukan Daniel. Lagian Daniel tetap Daniel yang dulu pernah Nenek kenal kok" jawab Daniel tersenyum
Nek Ani tersenyum lalu berkata "Gak nyesel Nenek jodohkan kamu sama Cucu kesayangan Nenek"
"Iya Daniel juga beruntung sekali bisa menjadi Suami dari Cucunya Nenek" ucap Daniel tersenyum bahagia.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menitan, akhirnya mobil mewah yang di kendarai oleh Daniel dan Nek Ani sudah sampai di tempat tujuan.
Banyak pasang mata yang terkejut serta kagum melihat ada mobil langkah dan sangat mewah terparkir di parkiran pasar yang menurut mereka pasar itu kumuh dan bau.
"Wah mobilnya mewah banget" ucap salah satu pengunjung pasar
"Iya pasti yang punya ini kaya banget, misalkan pemilik mobil ini adalah seorang pria, pasti aku akan menjodohkan anak gadisku padanya" ucap seorang wanita paruh baya
"Heleh!. Mimpimu terlalu tinggil cyin" ucap temannya tak terima
Seorang pemuda dan wanita tua yang masih terlihat masih cantik keluar dari mobil mewah tersebut, dan membuat para pengunjung yang melihat mereka berdua merasa kagum pada sosok Daniel.
"Lihat pemuda itu!. Sudah tampan, kaya raya, terus berbakti lagi pada orangtuanya, memang sosok menantu idaman banget" bisik salah satu pengunjung wanita
Tiba-tiba ada segerombolan pria yang berjalan dengan terburu-buru masuk kedalam pasar tersebut, dan salah satu pria itu menabrak seorang wanita muda yang sedang ingin berbelanja juga.
"Aduh!, pelan-pelan dong ah!" protes wanita muda tersebut
"Terus mau kamu apa hah?!" tanya pria yang menabrak wanita itu tak terima
"Ih kamu yang salah, kamu yang marah" ucap wanita itu tak terima
"Hey bos santai dong!, jangan kasar sama wanita" sela Daniel berdiri di depan wanita muda itu.
"Dan cepat kamu kembalikan benda yang kamu ambil dari wanita ini" ucap Daniel datar
"Apa maksudmu ha?!" bentak pria itu tak terima
Wanita itu langsung mengecek tasnya, dan benar saja barangnya ada yang hilang, Lalu wanita itu berkata dengan panik "Dompetku hilang"
"Terus kalian menuduhku yang mengambilnya?" tanya pria itu tak terima
"Nanti kamu lupa atau dompet kamu ketinggalan di rumah nona" ucap salah satu rekan pria itu
"Gak mungkin, aku masih ingat betul kalau aku sudah membawanya" ucap wanita itu menjelaskan
Dengan tiba-tiba Daniel sudah mengambil suatu benda dari baju bagian belakang pria itu dan langsung memberikan pada wanita muda itu.
"Ini mbak dompet kamu kan?" tanya Daniel
"Eh, i..iya ini dompet saya Kak. Makasih banyak ya Kak" ucap wanita muda itu kegirangan
"Wah ternyata pria tampan itu bukan orang biasa, dia bisa tau kalau kelompok itu berniat jahat" bisik para pengunjung yang mengerumuni mereka
"Berani sekali orang asing sepertimu menggagalkan pekerjaan kami!" ucap salah satu pria pencuri itu
"Kau gak tau kami dari mana ha?!" teriak temannya
"KAMI INI BERASAL DARI REMBULAN HIJAU!" bentak salah satu dari mereka
"Rembulan hijau?" bisik para pengunjung pasar
"Waduh pria tampan itu dalam bahaya" bisik mereka
"Rembulan Hijau?, siapa lagi kelompok aneh ini?" gumam Daniel bertanya-tanya..