
Daniel tersenyum sinis melihat pria yang sudah berani bermain-main dengannya. Baginya uang bukanlah hal yang terlalu penting, namun rasa kepercayaannya pada pria itu yang membuat Daniel sangat marah padanya.
"Orang seperti kau ini tidak tau arti dari kata terima kasih?!" tanya Daniel.
"Tu..tuan, tolong maafkan saya.. uhuk-uhuk.. berikan saya kesempatan sekali lagi" ucap pria itu yang bersusah-payah untuk berbicara.
"Apa?! maaf?. Memangnya dengan aku melepaskanmu begitu saja kau anggap apa hah?!. Kau itu terlalu bodoh atau terlalu polos?" tanya Daniel sedikit emosi.
"Iya, saya tau saya bersalah tuan. Tapi saya mohon lepaskan saya" ucap pria itu memohon.
"EH BODOH!. AKU SUDAH PERNAH MEMBERIKANMU KESEMPATAN, TAPI KESEMPATAN ITU KAU SENDRI YANG MERUSAKNYA" ucap Daniel berteriak.
"Dari pada aku berbicara denganmu, lebih baik aku berbicara pada seekor anjing" ucap Daniel lagi.
Pria itu menunduk ketakutan melihat Daniel yang semakin mengamuk akibat ulahnya sendiri yang terlihat seperti seekor anjing bahkan lebih rendah dari binatang tersebut.
"Tuhan menciptakan kita dengan sangat sempurna dan dengan akal yang paling baik. Tapi entah kenapa akal yang kau miliki lebih rendah dari seekor binatang" ucap Daniel menyilangkan kedua tangannya.
"Terserah tuan mau menghinaku atau mencaci maki saya. Tapi saya mohon lepaskan saya tuan" pinta pria itu semakin memohon.
"Aku hanya memberikanmu dua pilihan saja" ucap Daniel dengan wajah santai.
"Membusuk di penjara, atau ku tanam di dalam tanah" ucap Daniel tersenyum sinis.
"Kau tenang saja, keluargamu akan ku berikan dispensasi" timpal Daniel tersenyum licik.
"Aku tidak ingin keduanya tuan" rengek pria itu dengan wajah memelas.
"Oke, berarti kau memilih mati" ucap Daniel
"Tidak tuan, ampun tuan!" ucap pria itu yang sudah mulai meneteskan air mata.
"Hahaha!. Kau pikir dengan kau menangis akan merubah semuanya?!. Tidak!" ucap Daniel menatap dingin pria itu.
"Tolong tuan, lepaskan saya. Apapun akan saya lakukan asal tuan mau mengampuni nyawa saya" rengek pria itu semakin menangis.
"Sudah!. Kesempatan yang kuberikan sudah habis!" ucap Daniel membantah.
"Kematianmu sudah mendekat!" timpal Daniel menatap pria itu semakin dingin.
Tatapan mata Daniel membuat pria itu semakin ketakutan. Ingin rasanya ia melarikan diri dari malaikat maut yang berdiri di depannya. Namun apalah daya, seluruh tubuhnya sudah terluka dan tak berdaya karena pukulan dari Daniel tadi.
Di sisi lain tepatnya di kantor milik Daniel. Kevin, Ronny dan kedua rekannya sudah berhasil membersihkan sampah-sampah yang mengotori kantor mereka tadi. Tidak ada yang terluka dari pihak Daniel, namun hanya lelah saja karena jumlah lalat yang begitu banyak, sedangkan mereka hanya berempat saja.
Para pekerja di kantor Daniel sangat kagum dengan kehebatan mereka berempat yang mampu mengalahkan lebih dari 30 orang tanpa ada yang terluka sedikitpun.
"Wah hebat banget pak Kevin ya" ucap salah satu karyawan wanita.
"Iya, aku jadi semakin jatuh hati padanya hehehe" sambung temannya yang memang menyimpan rasa pada Kevin.
"He... Kamu ini" tegur temannya dan dia hanya cengengesan saja.
"Tapi bener loh. Aku saja pernah melihat tuan Daniel bisa mengalahkan buronan negara yang polisi saja kalah telak dengannya. Tapi bos kita bisa mengalahkan orang itu dengan sangat mudah" timpalnya.
"Terus ya, yang aku dengar dari pria itu. Dia seperti menaruh dendam lama pada pak bos" tambahnya lagi.
"Ah yang bener kamu?" tanya temannya penasaran.
"Iya!. Sumpah!" jawabnya sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Wah aku tidak menyangka bisa bekerja di tempat pria sehebat, sebaik, dan setampan tuan Daniel" ucap temannya dengan mata yang penuh harap.
"Inget woy!. Dia itu punya istri yang galak" bisik rekan di sebelahnya.
Puluhan preman itu sudah tumbang tak berdaya dengan luka-luka yang tergambar pada tubuh mereka. Bahkan ada yang sampai kehilangan nyawanya karena perbuatan bodoh mereka semua yang sudah salah menyerang target.
"Pak, sepertinya ada yang mati ni" ucap Haikal melihat salah satu preman yang sudah tak sadarkan diri.
"Biarkan saja. Itu kan salah mereka karena sudah menyerang kita terlebih dahulu" jawab Kevin.
"Tapi pak, jika polisi datang dan menyalahkan kita bagaimana?, aku takut berurusan dengan penjara loh" tanya Haikal ketakutan.
"Haha, tenang saja pak Haikal. Semua akan baik-baik saja, percaya aja pada kami" jawab Kevin menenangkan.
"Mas, mas jangan takut. Pak bos kita bukan orang yang sembarangan, aku yakin dia akan melindungi kita" sambung Ronny.
"Iya, aku juga tau kok kalau pak bos dan buk bos kita itu orang yang sangat baik. Bahkan mereka masih mau memperkerjakan kami yang tadinya ingin berbuat kotor di rumah mereka" ucap Rendi.
Daniel memperhatikan pria yang terduduk di atas tanah, dari atas sampai bawah seakan mencari cara untuk mencabut nyawa pria itu.
"Kau pikir aku bercanda?, kau pikir aku takut untuk membunuh seseorang?" tanya Daniel dingin.
"Apa lagi orang itu sudah berani bermain-main denganku" timpal Daniel.
Kemudian Daniel menuju ke mobilnya dan mengambil sesuatu di dalam mobil miliknya. Setelah Daniel keluar, sampai membuat mata pria itu terbelak saat tau apa yang Daniel bawa.
"Tu..tuan?, a..apa yang ka...kamu ingin perbuat?" tanya pria itu semakin gugup karena ketakutan.
"Lah, kan mau memenuhi permintaanmu tadi bodoh!" jawab Daniel.
"A...aku belum mau ma...mati tuan!" rengek pria itu semakin histeris.
"Ssuuuuuttttttt!. Jangan banyak bacot!" ucap Daniel meletakkan jari telunjuknya ke bibir milik pria itu.
Kemudian dengan cepat Daniel menendang tangan kanan pria itu dan sampai membuat pria itu tergeletak di tanah. Lalu Daniel mulai mengeluarkan katana miliknya dari dalam sarung, dan "CUSHHHH" Daniel langsung menebas pergelangan tangan pria itu sampai terlepas.
"ARKHHHHHHH!!!!" teriak pria itu dengan sangat keras, dan teriakan itu membuat Daniel semakin senang.
"Hahaha!. Sudah lama aku tidak mendengar teriakkan yang semerdu itu" tawa Daniel bahagia.
"Itu tangan yang telah mengambil hak rekan-rekan kerjamu yang lain" timpal Daniel.
Kemudian Daniel berjalan santai ke arah kaki, dan langsung "CUSSSSHHHHHH" Daniel menebas kaki kiri pria itu.
Jeritan terdengar lagi di telinga Daniel, dan membuat Daniel semakin bersemangat untuk melakukan hal gila selanjutnya.
Darah terus bercucuran dari tangan dan kaki pria itu. Wajah pria itu juga sudah mulai memucat karena kehabisan darah. Perlahan jeritannya juga sudah mulai menghilang.
"Kok diam?, mana jeritannya lagi?" tanya Daniel menatap wajah pria itu yang mulai nampak terlihat sayu.
Masih belum puas, kemudian Daniel mengeluarkan sebilah pisau yang berada di pinggangnya. Kemudian Daniel tersenyum sinis menatap pria itu sembari memainkan pisau yang ada di tangannya.
Dengan cepat Daniel menarik telinga kiri pria itu. Lalu Daniel secara perlahan mulai mengiris daun telinganya. Daniel dengan sengaja mengirisnya dengan pelan agar pria itu semakin tersiksa. Benar saja, pria itu mulai menjerit lagi dan rasa gembira Daniel kembali lagi.
"Hahaha!. Lagi! lagi!" tawa Daniel bahagia.
Masih merasa belum puas. Kini pandangan Daniel mengarah pada mata pria itu. Daniel memaksa membuka mata kanan pria itu yang mulai tertutup. Kemudian Daniel langsung mencongkel mata kanan pria itu, dan keluarlah sebuah bola mata yang sebesar bola pingpong.
Daniel tertawa sembari memain-mainkan bola mata yang masih menancap pada ujung pisau miliknya.
Daniel menghela nafasnya dan bangkit dari tempatnya berjongkok, kemudian ia berjalan menuju ke tempat katana miliknya berada.
Kemudian Daniel mengambil katana itu dan berjalan mendekati pria yang sudah cacat akibat Daniel yang begitu bersemangat bermain dengannya. Lalu dengan cepat Daniel langsung menebas leher pria itu dan kepalanya langsung terpisah dari lehernya. Otomatis nyawa pria itu sudah menghilang.
"Waduh, bagaimana ini?. Tidak mungkin aku kembali kekantor dengan baju yang penuh darah seperti ini" gumam Daniel melihat seluruh pakaiannya yang sudah di penuhi dengan noda darah.