Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PEMBAJAKAN HOTEL


Mereka semua langsung kembali ke hotel untuk beristirahat, begitu juga dengan Irwan dan Chika yang kembali ke tempat mereka tinggal.


Daniel terus menggendong sang istri berjalan menuju ke hotel mereka, sesekali pasangan Syahputra itu melakukan kemesraan di depan Fauzi dan Angel.


"Enak banget kalian berdua bisa bermesraan seperti itu. Sedangkan kami hanya menjadi penonton saja" keluh Fauzi mengejek.


"Sayang!" tegur Angel geram dan hanya di balas dengan Fauzi memutar bola matanya jengah.


"Kenapa sih kamu?, iri banget ngeliat Kakaknya bahagia?" tanya Leny ikut kesal.


"Biarkan saja mereka seperti itu sayang. Lagian pula, mereka berdua juga pasangan suami istri. Jadi sah-sah saja dong" sambung Angel.


"Ya tapikan aku juga ingin seperti itu sayang" jawab Fauzi cemberut.


"Enggak usah cemberut seperti itu deh!. Mau muntah aku ngeliatnya" tegur Leny mengejek.


"Udah-udah, jangan ribut terus. Kita sudah mau sampai ini" sela Daniel melerai.


Mereka berempat berjalan dengan santai menuju ke hotel milik Daniel. Namun saat baru sampai di depan gerbang, pandangan mereka berubah menjadi sedikit terkejut karena melihat banyaknya mobil asing yang terparkir sembarangan di halaman hotel tersebut, serta banyak orang-orang bersenjata yang berada di luar gedung besar itu.


"Ada apa ini?, kenapa tempatku menjadi seperti sarang *******?" gumam Daniel sedikit bingung.


"Sepertinya ada yang tidak beres Kak" sambung Fauzi ikut penasaran.


"Kak, coba lihat itu. Bukanya itu penjaga keamanan di hotel kamu ya?" tanya Angel menunjuk ke arah beberapa pria yang terkapar tak berdaya.


Melihat itu, Fauzi langsung buru-buru mendatangi ke lima pria yang tengah terluka tak berdaya tersebut.


"Ada apa ini?, apa yang terjadi?" tanya Fauzi khawatir.


"Tu...tuan Zi...Zi" ucap salah satu pria yang tengah terluka itu mencoba memaksakan diri untuk berdiri. Namun di tahan oleh Fauzi mengingat kondisi pria itu yang mengalami luka cukup parah.


"Sudah, jangan paksakan diri kamu" ucap Fauzi sembari membantu pria yang terluka itu untuk tetap duduk.


"Apa yang terjadi?, coba kamu jelaskan?" tanya Fauzi dengan lembut, sambil memberikan noda darah yang bercucuran di area wajah penjaga hotel milik Daniel, dan tak lama kemudian Daniel tiba di hadapan pria itu dengan posisi masih menggendong Leny.


"Tu...tuan Daniel" panggil penjaga hotel itu menahan rasa sakitnya bercampur takut saat melihat kedatangan si pemilik hotel tersebut.


"Ayah, turunkan Bunda" pinta Leny, dan Daniel menurunkan sang istri dengan sangat hati-hati.


"Kamu kenapa pak?, apa yang terjadi pada kalian?, sampai kalian terluka parah seperti ini?" tanya Leny khawatir.


"No...nona, tu...tuan, tolong maafkan kami" jawab pria itu itu ketakutan.


"Meminta maafnya nanti saja. Yang terpenting, tolong kalian jelaskan apa yang terjadi di sini?, kenapa banyak orang-orang asing bersenjata di tempatku?, dan kenapa banyak kendaraan yang terparkir sembarangan?" tanya Daniel sambil memperhatikan seluruh tempat miliknya yang sudah hancur porak poranda.


"Te...tempat ini sudah di bajak tuan, mereka dan merekalah yang melakukan hal ini" jawab salah satu penjaga hotel milik Daniel ketakutan.


"APA?!, DI BAJAK?" tanya Leny terkejut.


"Bagaimana bisa?, siapa mereka semua?, lalu bagaimana keadaan orang-orang yang berada di dalam sana?" timpalnya khawatir.


"Dan, para tamu menjadi tawanan para pembajak itu" sambungnya.


"Kemana yang lain?, apa mereka tidak bisa menghancurkan para kecoa-kecoa ini?" tanya Fauzi geram sambil mengepalkan tangannya.


"Tu...tuan Kevin dan tuan besar, mencoba untuk menghentikan mereka. Akan tetapi, para penjahat itu malah menangkap nona Wulan dan mereka jadikan sebagai sandera agar tuan Kevin dan tuan besar tidak berbuat macam-macam" jawab salah satu dari penjaga hotel milik Daniel tersebut.


"HAH?!, ADIKKU DI SANDERA?!" tanya Leny terkejut.


"Tolong maafkan kami nona, tuan. Kami tidak bisa menjaga keamanan di tempat ini" ucap salah satu dari mereka ketakutan.


Sedangkan Leny hanya diam dan bercampur emosi, saat mendengar kalau Wulan menjadi sandera para pembajak hotel miliknya.


"Sudah, tak apa. Kalian sudah melakukan yang terbaik untuk tempat ini" ucap Daniel dengan nada dinginnya, namun membuat para penjaga itu semakin ketakutan.


"HOY! SIAPA KALIAN HAH?, MAU APA KALIAN?!" teriak salah satu dari pembajak itu sambil menyodorkan senjata api miliknya.


"Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku!" jawab Daniel yang secara tiba-tiba sudah berada di belakang pria itu sambil meletakkan pisau kecil miliknya di leher pria itu.


"Cepat sekali pergerakan orang ini?, aku sampai tidak sadar kalau dia sudah ada di belakangku" batin pembajak itu berkeringat dingin.


"Siapa kalian?!, kenapa kalian melakukan hal ini di tempatku?!" tanya Daniel dengan nada dinginnya dan semakin menusukkan pisau yang berada di tangannya sampai membuat leher pria itu mengeluarkan sedikit darah.


Pria itu semakin ketakutan saat merasakan aura yang begitu gelap keluar dari tubuh Daniel. Tubuhnya tak berhenti bergetar, dan bahkan kedua tangannya sudah tak mampu untuk mengangkat senjata api miliknya lagi.


"Jawab!, atau pisau ini akan menembus urat nadi di lehermu" ucap Daniel mengancam, namun pria itu masih enggan untuk menjawab.


Saat Daniel ingin menggorok leher pria itu, tiba-tiba rekan dari pembajak itu langsung berteriak dan langsung menekan pelatuk senja api miliknya. Namun Daniel juga sudah menghilang dengan begitu cepat, hingga alhasil tembakan senjata api miliknya malah membunuh rekannya sendiri.


Pria itu langsung terbelak saat tau kalau yang ia tembaki adalah rekannya sendiri. Setelah ia selesai membunuh rekannya sendiri, tubuhnya secara tiba-tiba berubah menjadi merinding dan ia merasakan kalau ada seseorang yang tengah berada di belakangnya.


Saat ia menoleh ke arah belakang, ia langsung terkejut melihat wajah menyeramkannya Daniel. Wajah dingin namun sangat membuat orang yang menatapnya tak mampu berbuat apa-apa lagi.


Pria itu melihat Daniel yang berada di belakangnya sedang memegang sebuah katana yang sangat panjang dan Daniel sudah bersiap-siap untuk menebas kepala pria itu.


"SI... SIAPA SAJA!, TO...TOLONG!!" teriak pria itu ketakutan. Teriakan dari pria itu berhasil menarik perhatian dari rekan-rekannya yang bertugas untuk menjaga area luar.


Setelah mereka tau kalau rekannya sedang dalam bahaya, pada pembajak itu langsung mengarahkan senjata api milik mereka ke arah Daniel. Namun lagi-lagi Daniel berhasil menghilang dari pandangan para pembajak itu, dan satu persatu dari mereka tumbang dengan kondisi tubuh yang sudah tak menyatu pada tubuhnya lagi.


Daniel seorang diri menebas satu persatu para orang-orang yang telah berani membuat kegaduhan di tempatnya. Dengan begitu cepat ia berhasil membuat setengah dari pembajak yang bertugas di luar hotel tewas mengenaskan.


Setelah seluruh pembajak yang berada di luar itu tewas, hanya tersisa satu orang yang sedang menunggu gilirannya untuk segera pergi menuju ke akhirat.


Dengan penuh rasa takut, pembajak yang hanya tinggal seorang diri itu menoleh ke sekelilingnya mencari keberadaan orang yang sudah membunuh rekan-rekannya.


Saat ia melihat sebuah bayangan, ia langsung berteriak sambil menembaki bayangan hitam itu secara membabi buta sampai peluru yang berada di dalam senjatanya habis tak tersisa.


Setelah pelurunya habis, dengan panik dan buru-buru ia mencoba mengisi peluru di senjata miliknya. Namun, karena terlalu panik, ia sampai tak menyadari kalau Daniel sudah ada di depan matanya.


Ketika cadangan pelurunya sudah berhasil di pasang, ia juga langsung mendapatkan sebuah hadiah dari Daniel. Yaitu sebuah tebasan yang membelah lehernya, dan seluruh pembajak yang berada di luar hotel milik Daniel sudah habis tak tersisa di buat oleh Daniel seorang diri.