Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERNIKAHAN RISKI


Daniel tersenyum dan menjawab


"Wah ternyata ustazah Nurul sangat hebat"


Nurul berkata


"Ah kamu ini, aku hanya mengikuti ajaran agama. Darah mereka halal untuk di bunuh"


Setelah 15 menit berkendara, akhirnya mereka sampai di kediaman Nurul terlebih dahulu dan 5 menit kemudian sampai di kediaman Novi. Sebelum turun Novi memperingati Leny


"Jangan lupa beritahu Windy untuk mengundangku dan Nurul"


"Haha. kamu tenang saja"


jawab Leny


Daniel Dan Leny pulang ke rumah. Sebelum pulang, Leny dan Daniel mencari sesuatu untuk Wulan yang telah menunggu kepulangan mereka. Karena sudah pukul 20.00, mereka membelikan sebuah nasi goreng untuk Wulan


Sampai mereka dirumah, ternyata Wulan sudah berdiri didepan pintu depan dengan kedua tangan yang menyilang dan wajah cemberut. Leny dan Daniel melangkah mendekati Wulan.


"Eh adikku sayang belum tidur"


Leny menggoda Wulan


Wulan menjawab dengan nada merajuk


"Kakak apa tidak mengingat aku?, aku sudah lelah menunggu kalian pulang!"


Daniel tersenyum dan memberikan bungkus plastik yang berisikan sebuah makanan kesukaan Wulan itu


"Nih! makan, jangan ngambek"


Wajah Wulan tersenyum dan berkata


"Wah kakak tahu aja kalau aku sedang lapar"


Leny tersenyum dan merangkul tangan Wulan


"Ayo sayang kakak temani kamu makan"


Daniel menggelengkan kepalanya


"Dasar kamu, dari dulu tidak pernah berubah. Jika sudah di berikan nasi goreng, langsung tidak jadi ngambek"


Wulan menjulurkan lidahnya


"Wekl. Biarin"


Wulan dan Leny duduk di meja makan. Dan Leny melihat Wulan yang melahap makanan itu dengan sangat lahap. Wajahnya sangat bahagia melihat adiknya yang sangat laham memakan nasi goreng itu.


"Kakak mau?"


Leny menggelengkan kepalanya


"Tidak sayang, itu memang kakak belikan sepesial untuk kamu"


Wulan tersenyum dan memeluk Leny


"Terimakasih kak"


Daniel mengejek Wulan


"Makan dulu, jangan sampai nasi goreng kamu di makan oleh pussy itu"


Wulan menjawab


"Kakak tidak bisa melihat adiknya manja kepada kakak iparku. Tenang saja aku tidak akan mengambilnya darimu"


Daniel melambaikan tangannya dan menyalakan sebatang rokok


"Ya baiklah-baiklah, terserah apa katamu saja sayang"


"Hmp" Wulan memanyunkan bibirnya


Leny hanya tertawa melihat tingkah adik dan suaminya. Dia terus membelai kepala Wulan dengan kasih sayang yang sangat mendalam. Setelah selesai makan Wulan pamit untuk kembali ke kamarnya


Daniel dan Leny duduk di sofa. Leny menyandarkan kepalanya pada pundak Daniel dan bertingkah sangat manja kepada suaminya itu


Daniel membelai kepala Leny dan berkata


"Aku juga belum kepikiran sayang"


Lalu Leny memeluk Daniel kemudian tertidur dalam pelukannya. Daniel tersenyum dan memanjakan istrinya itu.


Daniel menatap jam. Ternyata sudah pukul 23.15, matanya lama kelamaan menjadi semakin berat, mulutnya terus saja menguap dan mempertandakan bahwa dia sudah lelah dan ingin meregangkan tubuhnya di atas tempat tidur


Dia mengendong Leny dan masuk menuju kamar. Sebelum tidur Daniel menyempatkan untuk mandi, karena sudah lelah satu harian menghadiri acara dari istrinya tadi. Setelah selesai mandi, Daniel mencium kening Leny dan ikut tertidur.


2 Bulan telah berlalu, akhirnya hari kebahagiaan untuk Riski dan Windy terlaksanakan. Daniel, Leny, dan juga Wulan bersiap-siap untuk pergi ke gedung pernikahan dari Riski dan Windy.


Daniel meminta Ronny dan anak buahnya untuk mengamankan acara pernikahan dari Riski. Dengan senang hati Ronny menerima tugas itu.


Seluruh luar gedung sudah di jaga oleh Ronny dan anak buahnya sesuai perintah dari Daniel. Karena masih pukul 07.00, jadi belum terlambat untuk Daniel menyaksikan Riski melakukan sumpah di depan para saksi nikah mereka.


Sesampainya Daniel di gedung, dia langsung mendapatkan sambutan hangat dari Ronny yang menjaga di pintu utama gedung.


"Selamat datang bos"


Daniel memegang pundak Ronny dan berkata


"Santai saja, jangan terlalu formal"


Ronny tertawa dan menjawab


"Haha. tidak bos, kamu memang cocok dengan panggilan itu"


Tak lama Daniel sampai, kedua orangtua mereka juga tiba di gedung pernikahan. Rani langsung memeluk Leny dan Wulan


"Ibu sangat merindukan kalian berdua sayang"


Wulan tertawa dan menjawab


"Hehe. aku juga sangat rindu ibu"


Rani menatap perut Leny yang sudah semakin membesar dengan usia kandungan yang menginjak 3 bulan. Dia mengelus perut Leny


"Cucu nenek tidak nakal kan sayang"


Daniel tersenyum dan berkata


"Ibu, usia kandungan Leny masih berusia 3 bulan lebih satu minggu. Jadi masih belum di beri nyawa, jika sudah 4 bulan barulah tuhan memberikannya sebuah kehidupan"


Yuni berjalan menghampiri Leny dan Wulan


"Anak-anak mama. Apa kalian sehat-sehat, saja sayang?"


Wulan menjawab


"Sehat kok ma"


Leny mengajak mereka semua masuk menuju gedung itu. Mereka mendapatkan sebuah meja yang muat untuk dua keluarga. Ketika mereka duduk, tiba-tiba sosok pengantin wanitanya keluar dengan dandanan yang sangat cantik.


Riski yang telah menunggu kedatangan Windy, dia juga tidak bisa berkedip melihat wanita cantik itu sedang melangkah dengan anggun menuju kearahnya.


Setelah semua berkumpul. Penghulu langsung mempercepat proses ijab Kabul antara Windy dan Riski. Riski melakukannya dalam sekali saja tanpa mengulang.


Semua tamu undangan sangat bahagia. apalagi untuk Siska dan juga Ady, mereka berdua sangat bahagia melihat anak semata wayangnya akhirnya sudah memiliki seorang istri yang sangat berbakti kepada mereka.


Nurul dan Novi hadir bersaman dalam pernikahan Windy dan Riski. Kedatangan mereka berdua langsung menjadi sorotan para tamu undangan


Leny menghampiri mereka


"Akhirnya kalian sampai juga"


Novi menjawab


"Sembarangan, tentu saja aku akan datang lebih awal"


Nurul berkata


"Benar, aku juga sangat merindukan saat-saat kita yang dulu pada masa kuliah"