
Wulan masuk terlebih dahulu dan ia melihat sang Kakak sedang terbaring lemas di atas tempat tidur pasien dengan mata yang masih terpejam. Wulan mendekati Leny yang tengah terbaring dengan infus yang tertancap pada tangan kanannya.
"Kak, kenapa bisa seperti ini?!" lirih Wulan yang sudah berkaca-kaca melihat keadaan Leny yang masih tak sadarkan diri
"Ayah.. Ayah.. Ayah.." lirih Leny memanggil sang suami masih dalam keadaan tak sadarkan diri
Wulan semakin sedih melihat sang kakak terus mengkhawatirkan sang suami meski ia juga masih tak sadarkan diri.
"Kak, kakak jangan seperti ini dong, Wulan jadi tau" ucap Wulan sambil menangis
Kemudian Wulan menggenggam tangan Leny berharap sang kakak bisa lebih tenang, namun Leny masih terus saja memanggil sang suami.
Tiba-tiba tangan Leny juga menggenggam erat tangan milik Wulan, sembari ia terus memanggil sang suami.
"Ayah...Ayah...Ayah..." lirih Leny dengan kepalanya yang juga terus bergerak ke kanan dan ke kiri
"Kak..., Kak...!!" ucap Wulan semakin panik dan mengelus kepala Leny dengan lembut
"AYAH!!!" teriak Leny langsung membuka matanya dan ia langsung terduduk
"Kak?, kakak tidak apa-apa?" tanya Wulan memegang pundak Leny
"Sebentar aku panggilkan dokter dulu" timpalnya dan langsung berlari memanggil sang dokter
Pintu UGD terbuka dan keluarlah Wulan yang sudah bernafas dengan cepat karena panik dengan keadaan sang Kakak.
"Ada apa sayang?" tanya Mama Yuni yang menjadi semakin panik melihat Wulan yang seperti itu
"Kak.. ha... kak Leny.. ha.. ha.." jawab Wulan menunjuk kearah dalam
"Kenapa dengan kakakmu?" tanya Ibu Rani semakin panik
"Kak Leny sudah sadar, dan dia terus memanggil kak Daniel" jawab Wulan lagi
"Sebentar saya periksa keadaan pasien terlebih dahulu, kalian tunggu saja di luar" ucap sang dokter dan langsung menuju ke dalam untuk segera memeriksa keadaan Leny
Pintu UGD di tutup kembali, dan mereka semua juga menunggu dokter memeriksa Leny, berharap kalau anak dan menantunya baik-baik saja.
"Ya Allah selamatkanlah anak dan menantuku" ucap Mama Yuni berdoa
Didalam ruangan UGD dokter Jasmine langsung memeriksa keadaan Leny. Namun Leny masih saja memanggil sang suami, membuat dokter Jasmine menjadi tak tega melihatnya.
"Nona, jangan terlalu banyak pikiran dulu ya" pinta dokter Jasmine
"Suamiku dimana?!" tanya Leny dengan paniknya
"Suami nona sedang baik-baik saja kok, sekarang nona harus tenang agar nona bisa cepat membaik" bujuk sang dokter
"Kamu tidak berbohong kan?" tanya Leny dengan selidik
"Enggak nona, suami nona baik-baik saja kok" jawab dokter Jasmine tersenyum ramah
"Yaudah aku ingin melihatnya" ucap Leny memerintah
"Tidak bisa nona, nona harus istirahat" jawab dokter Jasmine membantah
"Aku sudah sembuh!" jawab Leny tak mau kalah
"Tapi nona.." ucapan sang dokter terhenti saat ia melihat kalau Leny ingin memaksa melepaskan jarum infus yang berada pada tangannya
"Oke baik-baik nona, nona boleh melihatnya. Tapi harus menggunakan kursi roda dan jangan di lepas infusnya" bujuk dokter Jasmine
"Nah gitu dong, dari tadi kek" jawab Leny tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan sang dokter hanya menggeleng heran saja
Kemudian dokter Jasmine membantu Leny untuk duduk di sebuah kursi roda. Dengan hati-hati dokter Jasmine menuntun Leny untuk duduk, namun karena sudah tak sabar, Leny langsung buru-buru ingin mencoba berlari, akan tetapi tangan Leny langsung di pegang oleh sang dokter dan di suruh duduk di atas kursi roda tersebut.
"Nona tolong jangan seperti itu" tegur dokter Jasmine
"Hehe, maaf dokter saya khilaf" jawab Leny cengengesan, dan sang dokter hanya menggeleng saja
"Ya ampun anak Mama" ucap Mama Yuni langsung memeluk Leny sambil menangis
"Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Ibu Rani penuh kekhawatiran
"Hehe. Leny gapapa kok Ma, Bu" jawab Leny tersenyum manis
"Oh iya, kemana putraku yang tampan itu?" tanya Leny celingak-celinguk mencari keberadaan sang putra tampannya
"Damin kan masih sangat kecil, gak baik kalau di bawa ke rumah sakit. Jadi Ibu menitipkannya kepada Riski dan Windy" jawab Ibu Rani dengan lembut
"Yah, padahal aku sangat merindukannya" keluh Leny menyebikkan bibirnya
"Makanya kamu harus sembuh sayang" ucap Mama Yuni membelai kepala sang putri
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Anita dan Yoga ke rumah sakit dimana Daniel di rawat.
"Leny sayang, maaf ya mama telat" ucap Mama Anita langsung memeluk Leny
"Gapapa kok Ma, Leny malah senang kalau Mama dan Papa yoga mau datang menjenguk kami" jawab Leny tersenyum bahagia
"Lalu, bagaimana keadaan Daniel?" tanya Mama Anita
"Dia masih di dalam ICU. Semoga aja tu anak gak kenapa-kenapa" jawab Ibu Rani dengan wajah sedihnya
"Ran, putra kita pasti kuat kok" ucap Mama Anita memegang pundak Ibu Rani sembari memberikan senyuman
"Iya, aku juga berharap begitu" jawab Ibu Rani masih dalam raut wajah sedihnya
Sudah hampir satu jam mereka menuggu kabar tentang keadaan Daniel, namun pintu ICU belum juga terbuka, dan Leny juga semakin mengkhawatirkan keadaan sang suami yang masih dalam penanganan dokter di dalam ruangan tersebut.
"Ayah..." lirih Leny dengan wajah lesuhnya.
Wulan langsung memeluk Leny agar bisa memberikan sebuah efek ketenangan untuk sang kakak. Benar saja, setelah mendapatkan sebuah pelukan dari sang adik, secara perlahan perasaan Leny sudah mulai membaik
"Kakak kamu akan sembuh kan dek?" tanya Leny dengan sedihnya
"Pasti kak!, kak Daniel bakal segera sembuh dan akan berkumpul kembali bersama kita semua" jawab Wulan semakin erat memeluk Leny
Sedangkan Ibu Rani sedari tadi terus menerus mondar-mandir di depan pintu dimana sang putra sedang di rawat. Terlihat kalau Ibu Rani sangat mengkhawatirkan keadaan Daniel yang sudah seperti putra kandungnya sendiri.
"Daniel sayang, kamu harus sembuh nak!. Ibu gak mau kalau kak Aqila dan kak Elang memarahi Ibu karena tidak becus menjaga kamu sayang" ucap Ibu Rani
Saat semua sedang menunggu kabar tentang keadaan Daniel, tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka, dan keluarlah seorang dokter berjenis kelamin laki-laki. Dokter itulah yang menangani untuk keselamatan Daniel, namun dokter tersebut keluar dengan raut wajah yang seakan kecewa.
Semua orang mengerubungi sang dokter dan mulai mengintrogasi tentang keadaan Daniel. Mereka semua sudah sangat khawatir dengan kondisi tubuh Daniel pada saat ini.
"Bagaimana keadaan putraku dok?!" tanya Ibu Rani dengan paniknya
"Iya, suami saya baik-baik saja kan?" sambung Leny yang masih terduduk di atas kursi roda
"Apa kalian keluarga dari pihak pasien?" tanya sang dokter
"Iya!, kami semua keluarganya" jawab Mama Yuni
Kemudian dokter itu menghela nafasnya dan mulai menjelaskan tentang keadaan tubuh Daniel pada saat ini.
"Keadaan beliau sangat parah, saraf-saraf pada tubuhnya sudah menegang dan hampir rusak, jantungnya juga sangat lemah, pendarahan yang keluar dari mulutnya juga sulit untuk di hentikan" jawab sang dokter menjelaskan
"APA?!" teriak Leny terkejut dan hampir pingsan kembali, namun langsung di tangkap dan di tenangkan oleh Wulan.
"Tapi putraku masih bisa selamat kan dok?" tanya Ayah Leo
"Bisa tuan, namun persentase kesembuhannya sangat sedikit, kemungkinan hanya 35% beliau bisa sembuh!" jawab sang dokter dengan perasaan sedihnya juga
"HAH?! 35%?!" ucap Ibu Rani yang sudah terduduk lemas di lantai karena mendengar keadaan sang putra yang sangat mengkhawatirkan.
"Enggak!, enggak! suamiku harus sembuh!" ucap Leny yang sudah menangis histeris