
Setelah selesai menelpon seseorang, Daniel hanya berdasar pada mobilnya dengan santai sampai bersilang dada tanpa ada rasa takut sedikitpun menghadapi Takaoka serta pasukan yang ia bawa.
Rekan-rekan Takaoka menjadi semakin marah karena merasa kalau pria yang sedang mereka kepung itu sama sekali tidak takut pada mereka dan justru malah bersantai sambil mengisap rokoknya.
"Takaoka-San, kenapa tidak kita habiskan pria sombong ini?" tanya salah satu rekan Takaoka merasa geram menatap Daniel yang santai dengan rokoknya.
"Kita biarkan saja dulu dia menikmati rokok terakhirnya" jawab Takaoka tersenyum sinis menatap Daniel.
"Tapi aku sangat tidak suka dengan sikapnya itu. Dia seakan-akan tidak memiliki rasa takut sedikitpun pada kita" sambung rekannya yang lain.
"Tcih, hal apa yang mengharuskan aku takut dengan kalian?!" tanya Daniel malas.
"Apa telingamu itu tuli?!, apa kau tidak mendengar perkataan kami tadi hah?!" tanya salah satu dari mereka geram.
"Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi apa aku harus takut?, apa aku harus lari?, atau aku harus bersujud di kaki kalian semua gitu?" tanya Daniel balik.
"Memangnya kalian itu siapa hah?! Tuhan? sampai-sampai aku harus tunduk pada orang-orang seperti kalian iya?!" tanya Daniel lagi.
"Hahaha, kalian hanya sekumpulan manusia yang cuma bisa mengandalkan pakaian yang kalian kenakan saja hanya untuk menakut-nakuti orang lain" ucapnya lagi.
Mendengar ucapan itu membuat Takaoka merasa sangat emosi dan ingin sekali memukul wajah Daniel dengan tangannya sendiri. Dia mengepalkan tangannya dengan rahang yang bergetar geram dan tatapan matanya juga sangat tajam menatap Daniel yang hanya santai menghisap rokoknya.
"Apa?, marah?, mau memukul ku?" tanya Daniel menantang dan membuat Takaoka semakin emosi.
"Apa kau tidak sadar akan posisimu saat ini?, apa kau tidak takut akan kematian?" tanya Takaoka geram karena Daniel yang semakin merendahkan mereka semua.
"Kau hanya sendirian, sedangkan kami ada delapan orang. Apa kau tidak sadar?" tanya salah satu dari mereka merasa di atas angin.
"Berapapun jumlah kalian, kalau melawan, akan ku lempar" jawab Daniel menatap dingin ke arah mereka.
"Banyak omong kau!" ucap salah satu dari mereka sambil mengarahkan tinjunya ke arah wajah Daniel.
Mata Daniel masih terus menatap dingin Takaoka tanpa menatap orang yang sedang menyerang Daniel. Namun tinju dari pria itu bisa di tangkap oleh Daniel dengan sangat mudah tanpa menatap orang tersebut, dan Daniel langsung menggenggam tangan pria itu sampai menyebabkan tulangnya patah.
Pria malang itu hanya bisa menjerit kesaksian sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Daniel yang terus menggenggam tangannya semakin kuat.
"ARRKKHHHHH!!! LEPASKAN B4J1NG4N" teriak pria itu menjerit kesaksian.
Bukanya melepaskan tangannya, Daniel malah menarik tangan pria itu dan langsung memiting leher pria itu dengan jari telunjuknya yang sudah menempel ke leher pria itu.
"Apa masih perlu kita lanjutkan permainan anak-anak ini?" tanya Daniel tersenyum psikopat menatap mereka semua.
Mereka hanya melotot dengan tubuh yang tiba-tiba sedikit melangkah kebelakang seperti ketakutan melihat temannya yang sudah menjadi sanderanya Daniel.
"Kenapa mundur?, ayo kita lanjutkan lagi. Aku masih belum puas" tanya Daniel menatap mereka semua dengan senyuman anehnya.
"Telunjukku ini bisa saja menembus urat lehermu hingga menyebabkan kematian jika aku mau. Tapi jika aku melakukan hal seperti itu, sama saja aku tidak menyayangi seekor binatang" timpal Daniel bersuara dingin namun penuh penekanan yang membuat pria yang berada di tangannya semakin ketakutan.
"A...a..ampun, to..tolong lepaskan saya" rengek pria itu ketakutan.
"Dia hanya menggertak saja, kalian semua jangan takut" ucap Takaoka menyemangati rekannya.
"Iya, kau bener Takaoka-San. Jika kita menyerang dia secara bersamaan, pasti dia bakal kalah" sambung rekannya.
"Kalau begitu. SERANG!!!" teriak Takaoka dan mereka semua langsung berlari menuju Daniel untuk mengeroyoknya.
Namun ketika ingin menyerang, mata Daniel menatap tajam kearah mereka dan telinga mereka tiba-tiba mendengar suara aungan singa dengan sangat jelas hingga sampai membuat mereka terjatuh karena terkejut.
"A..a..apa kalian semua mendengarnya?" tanya salah satu dari mereka memastikan kalau ia memang mendengar suara aungan singa tersebut.
"Iya, aku benar-benar mendengar suara itu" jawab salah satu dari mereka.
"Bu...bu..bukan hanya mendengarnya saja. Mataku bahkan bisa melihat sosok singa yang begitu besar berada di belakang pria itu" sambung rekannya menunjuk ke arah Daniel.
"Ja...ja...jangan takut, itu mungkin hanya halusinasi kita saja" ucap Takaoka terbata-bata sambil berusaha bangkit.
"Keluarkan senjata kalian" perintah Takaoka setelah mereka bangkit lagi.
"Takaoka-San, bukankah itu mobil milik Banba-San?" tanya salah satu rekannya menunjuk salah satu mobil militer itu.
"Untuk apa ketua kita sampai ke sini?, apa dia ingin membantuk kita untuk menghabisi guru yang sok hebat itu?" ucap Takaoka bertanya-tanya.
"Tapi, siapa yang membawa mobil militer yang lainnya?, mobilnya terlihat bukan dari pasukan yang sama?" sambung rekannya bertanya.
Lalu orang-orang yang berada di mobil-mobil itu keluar dan langsung mendatangi Daniel kemudian mereka semua mengelilingi Daniel juga. Takaoka hanya bisa tersenyum karena ia merasa kalau orang-orang yang tengah mengelilingi Daniel akan habis di tangan mereka.
Namun di luar perkiraan Takaoka. Ternyata mereka semua malah memberi hormat pada Daniel bahkan pemimpinnya juga melakukan hal yang sama ikut memberi hormat pada Daniel.
Takaoka dan teman-temannya hanya bisa tercengang melihat pemimpin mereka yang merupakan ketua dari rembulan Hijau itu memberi hormat pada Daniel yang masih memiting salah satu dari rekannya Takaoka.
"Ma...ma..maafkan saya tuan muda, lagi-lagi saya membuat masalah dan merepotkan anda" ucap Banba sambil terus membungkuk karena ketakutan.
Tanpa menjawab, Daniel langsung melemparkan orang yang tadi ia siksa tadi ke hadapan Takaoka serta teman-temannya, kemudian Daniel bersandar lagi pada mobilnya sambil bersilang dada. Takaoka serta rekan-rekan hanya keheranan melihat situasi yang dimana ada pemimpin mereka tengah memberi hormat pada Daniel.
"Apa yang terjadi?, kenapa ketua kita memberi hormat pada pria itu?. Lalu siapa mereka semua?, mereka terlihat seperti seorang anggota militer juga namun dengan seragam yang berbeda-beda?" tanya salah satu dari teman Takaoka kebingungan.
Daniel menyuruh mereka semua untuk membenarkan posisi berdiri mereka, namun pemimpin dari rembulan Hijau itu masih terus membungkuk seakan malu untuk menatap wajah Daniel karena sudah dua kali membuat kesalahan.
"Bangkit Pak tua" ucap Daniel, namun pria paruh baya itu masih tetap membungkuk.
"Jika kau tidak bangkit, akan ku pastikan Ryuken milikku pasti menancap di atas kepalamu itu" timpal Daniel mengancam dan sontak membuat Banba langsung bangkit dengan wajah yang penuh rasa takut.
"Mohon maaf tuan muda. Ada apa anda memanggil kami semua ke sini?" tanya salah satu dari mereka.
Tanpa menjawab, Daniel hanya menatap kearah Takaoka serta teman-temannya kemudian Daniel menatap ke arah Banba yang merupakan pemimpin dari rembulan Hijau.
"Apa ini semua ada sangkut pautnya dengan ketua Rembulan Hijau tuan muda?" tanya salah satu dari mereka, dan di anggukan oleh Daniel sedangkan Banba hanya menunduk ketakutan.
"Banba-San!. Ada apa ini?, kenapa anda yang merupakan seorang pemimpin dari rembulan Hijau, mau memberi hormat pada lelaki sampah seperti dia?" tanya Takaoka merasa tidak terima melihat pemimpin yang begitu ia hormat memberi hormat pada Daniel.
Banba hanya diam saja lalu berjalan mendekati Takaoka dengan tatapan wajah penuh amarah. Sesampainya ia di hadapan Takaoka, Banba langsung menampar wajah Takaoka sampai membuatnya tersungkur ke tanah. Setelah Takaoka tersungkur Banba masih tetap menghajar Takaoka tanpa mendengar kata ampun yang keluar dari mulut bawahannya itu.
"Dasar sampah!. Berani sekali kau mencari masalah!. Daripada aku yang mati di tangan tuan muda, lebih baik aku membunuhmu di sini!" ucap Banba sambil terus menghajar Takaoka yang sudah tak berdaya.
Ketika Banba ingin memukul Takaoka dengan menggunakan seluruh kekuatannya, tiba-tiba tangannya di tangkap oleh Daniel dan menenangkan emosinya.
"Sudah cukup Pak tua" ucap Daniel sambil terus menahan tangan Banba, dan pria paruh baya itu langsung menghela nafasnya untuk mendinginkan hati dan pikirannya.
Kemudian Daniel mendekati Takaoka yang sudah terluka parah lalu ia membantu Takaoka berdiri dan membersihkan pakaiannya yang sudah kotor dengan tangannya.
"Apakah kau baik-baik saja Takaoka Sensei?" tanya Daniel dengan penuh kata penekanan pada bagian kata Sensei.
"Tuan muda, tolong biarkan saya saja yang menghukumnya. Anda tidak perlu sampai mengotori tangan anda untuk menghabisi si pembuat onar itu" ucap Banba yang berdiri di belakang Daniel.
Daniel melirik kearah kanan dengan tatapan dinginnya hingga berhasil membuat Banba langsung terdiam dengan wajah penuh rasa ketakutan melihat tatapan dari Daniel.
"Apa kau tidak mendengar perkataan dariku tadi Pak tua?, apa kau ingin membantah perkataan ku?" tanya Daniel dingin dan membuat Banba semakin ketakutan.
"Ti..ti..tidak tuan muda saya tidak berani menentang anda" jawab Banba ketakutan dan langsung terdiam.
"Ta..ta..tapi tolong biarkan saya saja yang memberitahu siapa anda yang sebenarnya pada para bawahan saya yang kurang ajar ini tuan" timpalnya memohon.
"Baiklah, silahkan. Tapi aku minta agar kau tidak menghajar mereka lagi!. Paham!" jawab Daniel sambil mengancam.
"Iya tuan muda, saya tidak akan memukuli mereka lagi" jawab Banba.
Kemudian Daniel mundur dan membiarkan Banba menyeramahi para bawahan dan memberi tau siapa Daniel sebenarnya agar mereka bisa lebih hormat lagi pada pemimpin mereka semua.
"Apa kalian semua tidak tau siapa pria itu hah?!" tanya Banba membentak dan mereka hanya menggeleng sambil menunduk saja.
"Beliau adalah Akai raion, pria nomor satu di Asia, pemimpin kami semua!" timpalnya.
"Saber, Black Dragon, Petir Hitam, Rembulan Hijau, Red Hunter, Blue Fire, dan yang lainnya itu semua ada di bawah kepemimpinan Dark Shadow yang di pimpin oleh pria yang ingin kalian keroyok itu!" ucapnya lagi terus memarahi bawahannya. Sedangkan mereka semua hanya terdiam ketakutan karena sudah berani mencari masalah pada pemimpin besar mereka yang bahkan pemimpin mereka saja tunduk pada Daniel.