
Dokter dan beberapa suster yang panggil Leny hanya bisa terdiam tak berani menatap wajah Leny. Mereka ingin bersuara akan tetapi aura kemarahan dari Leny membuat mereka terkena mental.
"Apa aku berada di bawah kalian hah?!" tanya Leny semakin emosi karena mereka selalu menatap ke arah lantai.
"Begini cara kalian bertanggung jawab hah?!, dengan membiarkan pasiennya menghilang dalam keadaan terluka?!" timpalnya menatap dingin ke arah dokter dan suster tersebut.
"Se.. sebenarnya tu..tuan..." penjelasan dokter itu terhenti karena Leny langsung memotongnya.
"Ah sudahlah!. Jika terjadi apa-apa pada suamiku!, kalian semua akan ku buang dari gedung ini!" ucap Leny dengan nada dinginnya dan langsung pergi dari ruangan itu dengan emosi yang memuncak.
Sedangkan sang suami malah duduk santai sambil menatap pemandangan dari puncak gunung milikinya sambil terus mengisap rokoknya dan tanpa ia sadari sudah banyak puntung rokok yang berserakan di bawah kakinya.
Daniel tak tau jika istrinya tengah panik mencari keberadaan dirinya yang malah justru bersantai di atas.
Leny yang begitu panik dan tak bisa berfikir jernih hanya bisa meluapkan emosinya pada para pekerja di rumah sakit milik sang suami. Staf rumah sakit itu sampai ketakutan karena mereka menjadi sasaran dari amarah nona muda tersebut.
Saat ini Leny berjalan dengan langkah cepat menuju ke ruangan Ayu berada. Di sana masih ada mertuanya, Alvin, Chelsea, dan juga sang Adik ipar. Setibanya ia di depan pintu, Leny langsung membuka pintu itu dengan kasar penuh emosi hingga membuat mereka yang berada di dalam terkejut.
"Ada apa sayang?, kenapa kamu terlihat sedang marah?" tanya Ibu Rani melihat wajah sang menantu yang menahan tangisnya.
Leny berlari menuju sang mertua lalu ia memeluknya dan langsung menangis meluapkan rasa khawatirnya pada sang suami.
Ibu Rani juga terkejut karena sebelum menantunya pergi untuk menemui putranya, Leny masih terlihat baik-baik saja walaupun ia pergi dalam keadaan gelisah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ibu Rani sambil mengelus pundak sang menantu yang masih menangis dalam pelukannya.
"Su..hiks...suami Leny Bu.." jawab Leny senggugukan.
"Iya, kenapa dengan suami kamu sayang?" tanya Ibu Rani sedikit panik karena menantunya semakin histeris.
"Di...dia tak ada di ruangannya Bu... hiks...hiks...hiks..." jawab Leny semakin menangis sedangkan Ibu Rani hanya menggeleng sambil tersenyum karena ia tau keberadaan putranya.
Alvin juga sudah tau dimana Daniel berada, karena mereka berdua sangat hafal kebiasaan Daniel apabila ia di rawat di jika mengalami luka. Namun tidak dengan Chelsea, ia terlihat panik sama seperti Leny.
"Kenapa Ibu dan kamu terlihat baik-baik saja?, apa kalian tidak khawatir pada Daniel?. Dia menghilang loh!, tapi Ibu dan kamu malah memasang wajah biasa-biasa saja seperti itu!" sela Chelsea bertanya-tanya.
"Shutt, Ayu sedang istirahat sayang. Kamu jangan kencang-kencang kalau berbicara" tegur Alvin meletakkan jari telunjuknya pada bibir sang kekasih.
"Ya kamu dan Ibu kenapa nampak begitu santai?, apa kalian tidak kasian melihat Leny yang hampir pingsan karena suaminya menghilang?!" tanya Chelsea lagi namun dengan nada suara yang sudah ia turunkan.
"Chelsea sayang, kamu jangan risau sayang. Putra Ibu baik-baik saja kok" sela Ibu Rani memotong.
Leny mendongak dan menatap mertuanya dengan tatapan penuh tanda tanya karena mendengar perkataan dari sang mertua barusan.
"Untuk apa kamu menangisi putra Ibu yang nakal itu sayang?, buang-buang air mata saja" ucap Ibu Rani sambil mengelus kedua pipi menantunya itu.
"Daniel itu suami Leny Bu. Saat ini dia sedang menghilang dan Leny tak tau dia berada dimana" jawab Leny masih terus menangis.
"Sudahlah, benar apa yang dikatakan oleh mertua kamu. Sayang tau air mata kamu menangisi orang yang ternyata baik-baik saja" sela Alvin memotong.
Karena merasa tak tega melihat menantunya yang terus saja menangis, akhirnya Ibu Rani menuntun Leny dan membawanya ke sesuatu tempat yang akan membuatnya tak bersedih lagi.
"Ayo, kamu ikut Ibu" ajak Ibu Rani menggenggam tangan sang menantu dan membawanya pergi dari ruangan Ayu di rawat.
"Kita mau kemana Bu?" tanya Leny kebingungan namun hanya bisa mengikuti sang mertua saja.
"Ibu akan membawa kamu ke tempat yang dimana akan membuat rasa sedih kamu menghilang sayang" jawab Ibu Rani tersenyum sambil mencubit pipi sang menantu.
"Iya tapi kemana Bu?" tanyanya lagi semakin kebingungan karena sang mertua membawanya ke lift.
"Kita mau kemana sih Bu?, kenapa menggunakan lift segala?" timpalnya kebingungan.
"Nanti kamu juga bakal tau sayang" jawab Ibu Rani tersenyum.
Lift yang itu membawa mereka menuju ke lantai paling atas. Setelah pintu lift terbuka, Ibu Rani langsung membawa menantu berjalan menuju ke sebuah pintu yang dimana jika di buka terdapat sebuah puncak gedung dan di sanalah putranya berada.
Ibu Rani langsung menarik handle pintu dan Leny semakin kebingungan karena ia yang tengah panik mencari keberadaan sang suami malah di bawa ke puncak gedung oleh mertuanya.
"Sayang, coba kamu lihat siapa pria yang tengah duduk santai sambil menikmati rokoknya di kursi panjang itu?" tanya Ibu Rani menunjuk ke arah seorang pria yang tengah duduk rileks.
Leny melihat arah dimana jari telunjuk mertuanya menuju. Matanya langsung terbelak saat ia tau siapa pria yang tengah bersantai itu.
"Ayah?!" gumam Leny terkejut.
"Itu memang menjadi kebiasaannya sayang. Setiap suami kamu terluka dan di bawa ke sini, mau itu parah ataupun ringan. Jika ia siuman, pasti dia berada di sini karena suami kamu sangat membenci bau obat" ucap Ibu Rani menjelaskan.
"Jadi, percuma saja kamu menangisi orang yang malah duduk santai di tempat itu" timpal Ibu Rani tersenyum sambil mengelus kepala Leny.
Seketika raut wajah Leny berubah menjadi geram dan terus menatapi suaminya yang malah duduk santai di kursi besi panjang tersebut. Ia sangat geram pada Daniel karena sudah membuatnya panik tak karuan, namun suaminya malah baik-baik saja bahkan bisa merokok.
"Kalau begitu, Ibu tinggal ya. Terserah kamu mau kamu kasih hukuman apa putra nakal Ibu yang satu itu" ucap Ibu Rani tersenyum sambil mengelus kepala menantunya dan langsung pergi meninggalkan pasangan muda itu untuk bermesraan di atas gedung.
"Semoga cucuku nambah lagi" gumam Ibu Rani tersenyum sambil berjalan meninggalkan Leny dan Daniel untuk bermesraan di sana.