
Tiba-tiba Leny berteriak "AYAH STOP!!" teriakan Leny membuat Daniel terdiam, dan ia langsung menoleh ke arah sang istri yang berjalan mendekatinya.
Leny merangkul lengan Daniel dan berkata dengan manja "Apa Ayah lupa sama janji Ayah?".
"Janji apa Honey?" tanya Daniel balik.
"Kan Ayah udah janji untuk Bunda yang melakukan eksekusi ini" jawab Leny semakin manja.
Daniel menghela nafas lalu ia tersenyum dan melepaskan cengkeramannya pada wajah Saka. Saka langsung terduduk dan memegangi wajahnya yang terasa sangat panas.
Saka melihat Daniel dan Leny sedang asik mengobrol. Merasa seperti ada kesempatan, Saka berniat ingin menyerang Daniel dan menyandra Leny agar Daniel bisa menuruti apa keinginannya selama ini. Jika Daniel menolak, maka Saka akan membunuh wanita yang paling Daniel cintai di depan matanya.
Saka tersenyum sinis dan bersiap-siap untuk menyerang Daniel, kemudian Saka berkata dengan semangat "Kesempatan".
Namun tiba-tiba dengan respon yang cepat, Daniel dan Leny juga langsung menendang wajah Saka secara bersamaan hingga membuatnya terpental menghantam sebuah lemari yang telah hancur oleh Daniel tadi.
"Diam kau di sana babi!" ucap Leny membentak Saka yang masih terkapar.
Saka terbatuk-batuk dan meludahkan darahnya ke lantai sembari berkata dengan lirih "Sial!, kenapa bisa menendang ku secara bersamaan?".
"Aku harus kabur dari sini dan membuat rencana lagi untuk membunuh si b4j!n6an itu" timpalnya menatap tajam ke arah Daniel.
"Hey, hey!, matamu itu!. Mau ku congkel hah?!" ancam Leny yang tak senang kalau ada orang yang menatap suaminya seperti itu.
"Dasar pasangan gila!, aneh!" ucap Saka terbata-bata sembari memegangi wajahnya.
"Apa kau bilang?!" tanya Leny sembari berjalan mendekati Saka.
"Coba kau katakan lagi apa yang barusan kau ucapan, aku tidak bisa mendengarnya" tanya Leny lagi.
"Pa..sangan uhuk-uhuk.. aneh" jawab Saka menantang.
"Ngomong itu yang jelas" ucap Leny dengan nada geram sembari menginjak dada Saka, dan membuat pria itu semakin kesakitan.
"ARRRRRHHHHHH" teriak Saka memegangi dadanya.
"Katakan lagi babi!" ucap Leny semakin geram dengan menendang wajah Saka lagi.
"Arkhhhhh!.... Sakit g0bl0k!"ucap Saka memaki Leny.
"Hah?, apa?, gak denger?" ucap Leny mendekatkan telinganya ke arah wajah Saka.
"Wa..wanita gila!, wani..ta aneh" jawab Saka yang semakin sulit untuk berbicara.
"Hahaha" Leny tertawa.
Di sela-sela tawanya, kedua mata Leny tertuju pada sebuah kursi yang terbuat dari besi namun berlapis dengan sebuah busa yang lumayan empuk. Kemudian Leny berjalan menuju ke tempat kursi itu berada dan langsung membawanya ke tempat Saka terkapar.
Setelah itu, Leny mengangkat kursi itu ke atas kepalanya dan berkata dengan suara yang sangat geram "Kalau ngomong itu yang jelas b4n6s4t!, jangan putus-putus gitu, aku jadi gak paham bodoh!". Lalu tanpa rasa belas kasih, Leny langsung menghantam kursi itu ke wajah Saka berulang kali.
"Bodoh!, t0l0l!, id1ot!" ucap Leny sambil memukuli Saka dengan kursi besi di tangannya.
"Waduh gawat, kak Leny sudah kesurupan suaminya" ucap Wulan yang merasa ngerih melihat amukan sang kakak. Sedangkan Daniel hanya tersenyum pahit melihat kelakuan istrinya yang seperti kehilangan kendali.
"Ini lagi suaminya. Bukannya di hentikan malah menikmatinya" timpal Wulan cemberut menatap Daniel yang masih menikmati keganasan Leny.
"Mati gak tuh anak orang?" ucap Fauzi bertanya.
"Mati mungkin" jawab Kevin yang terus menatap sang kakak.
"Udah kak, nanti tangan kakak bisa pegal loh" ucap Wulan menegur.
Namun Leny sama sekali tidak merespon perkataan dari Wulan, dan ia justru masih memukuli wajah Saka dengan kursi besi tersebut.
Lalu Leny berhenti sembari menatap wajah Saka yang sudah di penuhi dengan warna merah, bahkan beberapa gigi milik Saka juga terlepas dari gusinya.
Leny melihat ke sekeliling gedung itu, dan matanya tertuju pada sebuah pedang yang tergantung di dinding itu. Pedang yang masih tertutup dengan sarungnya.
Kemudian Leny menyunggingkan senyumnya dan membuang kursi besi itu ke sembarang tempat, lalu pergi menuju ke tempat pedang yang menggantung di diding tersebut.
Saka yang masih setengah hidup, menatap Leny yang sedang melihat-lihat pedang tersebut dengan mata yang sudah sayup dan ia juga sudah hampir tak sadarkan diri.
"Mau ngapain lagi perempuan gila itu" gumam Saka menatap Leny yang sudah mengambil pedang itu.
Setelah pedang itu sudah berada di tangan lembutnya Leny, dengan santai Leny mendekati Saka yang sudah terkapar tak berdaya itu.
Sesampai Leny di tempat dimana Saka terkapar, Leny tersenyum psikopat dan membuka pedang yang masih tertutup sarung itu, lalu membuang sarungnya ke sembarang tempat lagi.
"Aku tau kau masih hidup" ucap Leny santai sembari menatap dan menatap pedang di tangannya dari ujung sampai ke bawah.
"Jadi, permainan ini masih bisa berlanjut" timpal Leny tersenyum gila menatap Saka yang juga menatap Leny dengan tatapan jijik.
"Memang pasangan gila mereka ini" batin Saka yang sudah pasrah karena tubuhnya juga sudah tidak bisa ia rasakan lagi, dan ia sudah siap untuk mati, meskipun matinya di tangan istrinya Daniel, bukan di tangan Daniel sendiri.
"Darimana dulu ya" ucap Leny berfikir sembari menatap tubuh Saka dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Jika sudah ku cincang tubuhmu, apa anj1ng-anj1ng di sini mau memakannya gak ya?. Kan tubuhmu di penuhi dengan pemasukan ya... yang haram kan?" timpal Leny menyindir.
Ketiga adiknya Daniel di buat semakin merinding melihat kakak ipar mereka semakin gila dan kemungkinan akan segera menyusul kegilaan dari Daniel sebentar lagi.
"Aku gak habis pikir, ternyata kakakku bisa berubah jadi gila gini" ucap Fauzi.
"Aku juga gak menyangkanya. Kak Leny semakin kejam dan semakin menakutkan" sambung Kevin.
"Apa perlu harus ku belah dua dulu tubuh pria yang tidak berguna ini atau langsung ku potong-potong dari bawah sampai ke atas kepala ya?" ucap Leny bertanya-tanya seakan berfikir.
"Suamiku... Tolong bantu istrimu ini dong" pinta Leny dengan manja.
"Lakukan saja yang membuat Bunda senang dan merasa puas, dan jangan lama-lama ya Honey. Keburu mati tu binatang" jawab Daniel.
Lalu Leny menusuk perut Saka dengan pedang yang berada di genggamannya, namun Leny sedikit kecewa karena tidak mendengar suara jeritan dari Saka.
"Yah, kok diem aja?, teriak dong babi!" pinta Leny sembari menendang kepala Saka.
"Gimana dia mau teriak?, klo kakak udah menyiksanya sampe hancur gitu wajahnya" ucap Wulan menjawab.
"Jadi gimana dong dek?, gak asik dong" tanya Leny menyebikkan bibirnya menatap Wulan.
"Huumm.. Up To you kak" jawab Wulan menaikkan kedua bahunya.
"Yaudah deh" ucap Leny sembari menyeret pedang yang masih tertancap di perut Saka menuju ke kepalanya dan tubuh Saka terbelah menjadi dua dengan mudahnya.
"Iuuhhhh... Udah deh udah, Bunda mual" ucap Leny jijik dan membuang pedang di tangannya, lalu berlari menuju Daniel kemudian langsung memeluknya.
"Loh kenapa Honey?, kok berhenti?" tanya Daniel tersenyum sembari membelai kepala sang istri yang masih memeluk dirinya.
"Bunda jijik Ayah, melihat organ-organ dia" jawab Leny yang enggan melepaskan pelukannya.
"Hahaha... Tapi Bunda puas kan?" tanya Daniel dan di anggukan oleh Leny.
"Yaudah, kalo gitu kita pulang ya. Kasian Damin pasti mencari kita" timpal Daniel dan di anggukan lagi oleh Leny yang masih memeluk Daniel.
"Oh iya. Fauzi, seperti biasa" ucap Daniel tersenyum dan Fauzi juga ikut tersenyum licik.
Setelah itu, mereka berlima pergi meninggalkan gedung itu yang di penuhi dengan puluhan mayat dan darah yang membanjiri tempat tersebut.