Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
ORANG KEPERCAYAAN


Setelah datangnya Kevin ke Indonesia, membuat hidup Wulan seperti di teror oleh kelakuan Kevin yang terus saja mengganggu dan menggodanya.


Kini Kevin sudah tinggal di apartemen milik Daniel. Sebenarnya ia tak ingin terus merepotkan sang Kakak, namun karena paksaan dari Leny, akhirnya mau tak mau ia harus menerima penawaran itu agar sang Ibu hamil tak sampai kecewa terhadapnya.


Kevin tengah santai di balkon kamarnya. Matanya tertuju pada langit, namun pikirannya hanya tertuju pada bayangan sosok Wulan, wanita yang selalu galak dan selalu menghindar jika di dekatinya, sukses membuat hati Kevin semakin dalam menyukai teman seperguruannya itu.


"Kau semakin galak dan semakin manis saja kucing kecilku" gumam Kevin tersenyum melamunkan sosok Wulan.


Di kantor...


Daniel yang tengah sibuk dengan banyaknya tumpukan dokumen-dokumen, membuat kepalanya seperti ingin meledak rasanya. Namun pikirannya terus mengarah pada si pembunuh kedua orangtuanya, membuat konsentrasinya menjadi buyar.


Pekerjaan semakin tak bisa ia selesaikan karena pikiran yang semakin lama semakin entah kemana.


Daniel mengeluarkan ponselnya dan mengubungi seseorang di luar sana.


Kevin yang tengah termenung, langsung terbuyarkan karena ponselnya berdering. Ia melihat nama si penelepon dan membuatnya tersenyum lebar.


"Halo Kak?" Kevin menjawab teleponnya


"Kamu dimana?" tanya Daniel


"Di apartemen" jawabnya


"Aku ingin bertemu dan membahas hal penting, nanti akan ku kirim lokasinya" ucap Daniel to the point dan langsung menutup telponnya


TUT..TUT..TUT..


"Haih!, Anak ini" gumam Kevin geleng-geleng dan tersenyum


Setelah menerima telepon dari sang Kakak, Kevin langsung bersiap-siap pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan Daniel.


Daniel memanggil Riski agar ikut bersama dengannya untuk bertemu dan mengenalkan Kevin padanya.


Setelah 15 menit membelah jalan raya, akhirnya Daniel dan Riski sampai ke tempat tujuan mereka. Ternyata Kevin sudah sampai terlebih dahulu dan menunggu sekitar 10 menit.


"Sorry lama" Ucap Daniel setelah sampai di meja mereka


"No problem" jawab Kevin tersenyum


Setelah mereka bertiga duduk, tak lama pelayanan datang menghampiri mereka. Pelayan wanita yang terbilang masih muda itu terpesona melihat ketampanan dari Wajah Daniel sampai ia tak bisa berkedip saat menatap wajah serius Daniel saat melihat daftar menu.


Kevin menyadari kalau pelayan itu sedari tadi terus memperhatikan wajah tampan milik Daniel, dia menyenggol kaki Daniel yang berada di bawa meja untuk memanggilnya. Daniel menoleh dan bertanya dengan menggunakan ekspresi wajah bertanya.


Kevin memberi kode dan Daniel langsung menoleh kearah sang pelayan itu. Senyuman Daniel membuat sang pelayan menjadi salah tingkah.


Setelah memberi tahu pesanan mereka, sang Pelayan langsung pergi dengan masih bersalah tingkahnya.


"Susah memang kalau punya Kakak yang tampan" ejek Kevin dan sukses membuat mereka bertiga tertawa.


"Oh iya, perkenalkan ini Riski. Riski, ini Kevin" ucap Daniel memperkenalkan mereka berdua


"Riski" ucap Riski menyodorkan tangannya


"Kevin" jawab Kevin menyambut jabatan tangan dari Riski


"Ada apa kau membawaku ikut denganmu?" tanya Riski pada Daniel


"Sabar. Kita makan dulu" jawab Daniel melihat pelayan yang sedang membawa pesanan mereka.


Setelah selesai makan, barulah Daniel memberi tahu maksud dia mempertemukan mereka bertiga.


"Aku ingin Kevin ingin menjadi asisten pribadiku" ucap Daniel


"Uhuk-uhuk" Kevin yang tengah meminum minumannya sampai terkejut mendengar perkataan Daniel


"Apa-apaan Kak?" ucap Kevin protes


"Karena kau adalah wakilku, jadi aku harus meminta persetujuan darimu Ki" ucap Daniel


"Ya aku sih setuju-setuju saja" jawab Riski santai


"Iya tapi aku yang keberatan Kak!" protes Kevin


"Mengapa kau tidak mau?" tanya Daniel


"Wajar, kau itu Adikku dan juga orang kepercayaanku di Dark Shadow" jawab Daniel serius


"Aku sudah cukup dengan kedudukan sebagai tangan kananmu di Dark Shadow Kak" ucap Kevin masih tak terima


"Kalau kau menolak, maka aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Wulan kelak" ancam Daniel tersenyum sinis


"Ah. Curang ancamannya" ucap Kevin cemberut


"Hahaha. Sudahlah terima saja, kau tau kan bagaimana kerasnya kepala Kakakmu ini" ucap Riski memberi nasehat dan mau tak mau Kevin menerimanya karena takut jika Daniel menentang hubungannya dengan Wulan.


"Baiklah baiklah" jawab Kevin pasrah


"Hahaha, gitu dong" ucap Daniel tersenyum penuh kemenangan


"Huh!, Kakak curang" ucap Kevin menyebikkan bibirnya


"Hahaha. Udahlah, macem wanita saja kau tu merajoknya" ejek Daniel


"Jadi kapan aku mulai bekerja" tanya Kevin


"Besok" jawab Daniel tegas


Keesokan harinya seperti yang telah di janjikan, Kevin mau tak mau terpaksa menuruti perintah dari sang Kakak untuk menjadi asisten pribadinya, ini semua karena dia tak mau kalau Daniel menentang hubungannya dengan Wulan kelak.


Memang untuk saat ini Wulan tak pernah membalas perasaan cinta yang tulus dari Kevin, namun Kevin yakin jika suatu saat nanti Wulan dan dirinya akan benar-benar saling mencintai.


Kevin dengan langkah yang malas masuk menuju kantor milik sang Kakak.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan Daniel Syahputra" ucap Kevin pada resepsionis wanita itu.


Sang resepsionis yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, menjawab tanpa melihat wajah tampan milik Kevin itu.


"Ada perlu apa? dan apakah sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu masih fokus dengan pekerjaannya


"Iya, dia yang menyuruhku untuk datang ke kantornya" jawab Kevin


"Baiklah, saya akan..." ucapan sang resepsionis terhenti saat terkejut melihat seorang lelaki tampan tengah tersenyum melihatnya


Deg...


"Tampangnya" gumam resepsionis tersebut


"Halo mbak?, mbak!" ucap Kevin mengibas-ngibaskan tangannya dan membuat resepsionis itu tersadar dari lamunannya


"Ah. I..iya, mari saya antar ke ruangannya" ucap resepsionis itu gugup


"Lumayan bisa dekat" batin sang resepsionis itu


"Terimakasih" jawab Kevin tersenyum dan membuat sang resepsionis semakin tergila-gila padanya.


Mereka berdua menuju lift untuk segera ke tempat Daniel bekerja. Didalam lift tak ada obrolan di antara mereka, hanya tatapan penuh suka saja dari sang resepsionis pada Kevin, sedangkan Kevin hanya fokus menatap lurus


"Ka..kalau boleh tau, ada perlu apa tuan ingin bertemu dengan pak direktur?" tanya resepsionis itu sedikit gugup


"Dia memaksaku untuk menjadi asisten pribadinya, dan aku harus terpaksa menurutinya saja" jawab Kevin malas


"Jadi tuan akan bekerja disini?!" tanya resepsionis itu antusias


"Ya mau tak mau aku harus menuruti apa perkataan Kakakku dong" jawab Kevin santai lagi


"Jadi dia adiknya tuan Daniel?. Wah bisa jadi kesempatan untukku agar bisa mendekati adiknya ini" batin resepsionis itu tersenyum penuh arti.


Pintu lift terbuka tepat pada tingkat ke 20, tempat dimana ruangan megah milik Daniel berdiri.


Dengan langkah malas Kevin berjalan menuju ruangan sang Kakak, dengan membuang nafasnya secara kasar dia mencoba mengetuk pintu


"TOK TOK"


"Masuk!" ucap Daniel dari dalam ruangan


Saat Kevin membuka pintu, betapa terkejutnya dia melihat seorang wanita yang sedang tertidur pulas dalam pangkuan Daniel...