
Daniel dengan tatapan dinginnya mengarahkan pedangnya ke arah Jhonatan yang hanya santai saja menanggapi Daniel. Ia seakan tidak merasa takut sedikitpun terhadap senjata andalan Daniel yang selama ini telah memakan banyak korban.
"Apa itu Ryuken?, yang konon katanya katana yang memiliki nyawa sendri?" tanya Jhonatan dengan sombongnya.
"Hahaha, aku rasa mereka semua hanya melebih-lebihkan saja!. Jelas-jelas itu hanya sekedar benda mati!" timpal tertawa sombong.
"Ya.. mereka hanya melebih-lebihkan saja" jawab Daniel dengan nada dinginnya.
Setelah berkata seperti itu, Daniel langsung berlari dan menyerang Jhonatan dengan ingin menebas pria sombong itu menggunakan katana yang ada di tangannya. Namun dengan reflek cepat, Jhonatan bisa menghindari ayunan tebasan pedang yang di berikan oleh Daniel barusan.
"Wah-wah, anda terlalu terburu-buru tuan muda" ucap Jhonatan dengan angkuhnya.
"Saya belum selesai berbicara, kenapa anda malah ingin langsung menyerang?" timpalnya bertanya dengan nada sombong.
"Manusia seperti itu!. Ingin sekali ku bungkam mulutnya dengan tinjuku ini!" gumam Hyuga geram sambil mengepalkan tangannya.
"Baiklah-baiklah, jika anda sudah tak sabar ingin bermain-main denganku, maka ayo kita lakukan saja permainan ini!" ucap Jhonatan sambil mengangkat tangan kanannya ke arah samping seakan-akan memberi kode.
Bawahan Jhonatan yang paham akan kode tersebut, langsung terburu-buru mengambil sebuah benda dan langsung ia letakkan ke telapak kanan Jhonatan yang sudah terbuka.
Dengan senyuman liciknya, Jhonatan tertawa sambil memainkan benda yang baru saja ia terima dari bawahannya yaitu sebuah percut.
"Hooo... Jadi seperti itu?, kau tipikal petarung jarak jauh?" tanya Daniel dengan santainya.
"Dengan adanya ini, tidak ada satupun manusia yang bisa menyentuhku, bahkan tak bisa mendekatiku" ucap Jhonatan dengan sombongnya sambil menjilat percut miliknya.
"Hmm!. Kita lihat saja nanti!" jawab Daniel dan dengan secepat kilat ia berlari menuju ke tempat Jhonatan berdiri.
Leny yang berada di dalam kamarnya bersama sang putra yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
Saat ini Leny tengah asik mengedit sebuah video kebahagiaan keluarga kecilnya yang ia abadikan melalui ponselnya, dan akan ia upload ke semua sosial media miliknya.
Dengan senyuman manis terukir indah pada kedua sudut bibirnya dan membuat kecantikannya semakin terpancar hingga membuat Daniel semakin jatuh cinta padanya setiap harinya.
Disaat ia sedang asyik mengotak-atik ponselnya, tiba-tiba perasaannya berubah menjadi tak tenang dan hatinya menjadi gelisah tak karuan.
Ia memberhentikan proses mengeditnya karena hati dan pikiran tiba-tiba teringat pada sosok suami yang tengah bertarung melawan kejahatan yang terjadi di kota Nagasaki.
"Ada apa ini?, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak?" gumam Leny bertanya-tanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pada suamiku di pulau itu?" gumamnya khawatir.
"Tapi di sana ada Kakak dan juga Adik-adik, Juga Hyuga bersama dengannya. Jadi aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja, lalu pulang ke sini tanpa adanya luka sedikitpun" Leny mencoba berpikiran positif.
Kemudian Leny melanjutkan aktivitasnya kembali dan mencoba tak memikirkan hal-hal buruk yang akan di alami suaminya di luar sana.
Namun lagi-lagi jemarinya tidak bisa bergerak untuk melanjutkan proses pengeditan tersebut. Karena pikiran masih saja tertuju pada sang suami.
"Ada apa ini ya Tuhan?, apa yang sebenarnya aku rasakan?, kenapa aku menjadi khawatir pada suamiku?" gumamnya berdoa pada sang pencipta.
"Tolong lindungi suamiku dan saudara-saudaranya yang tengah berperang melawan orang-orang yang berbuat kotor di bumi yang engkau ciptakan ini ya Tuhan" timpalnya berdoa.
Dengan buru-buru ia langsung mengambil bingkai foto yang telah pecah itu dan mengeluarkan isi di dalamnya yang terdapat sebuah gambar ia bersama keluarga kecilnya yang tengah tersenyum bahagia.
"Firasat buruk apa ini?" gumamnya sambil membersihkan sisa-sisa pecahan kaca yang menutupi foto keluarga kecilnya.
Saat ia membersihkan sisa-sisa pecahan kaca yang menutupi foto keluarganya, sebuah serpihan kaca menyayat jemarinya hingga mengeluarkan sebuah noda merah yaitu darah. Bahkan Damin yang tadinya masih tertidur pulas, tiba-tiba terbangun dan langsung menangis sambil mengigau menyebut-nyebut Ayahnya.
Hal itu membuat Leny semakin gelisah, dan ia langsung menggendong putranya yang semakin histeris memanggil suaminya yang tengah berjuang melawan orang-orang yang berbuat jahat itu.
"Cup-cup sayang" ucap Leny sambil menimang-nimang sang putra.
"Kita doakan semoga Ayah kamu baik-baik saja ya sayang. Di sana pada paman-paman kamu kok, pasti mereka akan saling menjaga" timpalnya mencoba menenangkan dirinya dan sang putra.
Ketika Daniel hampir mendekati Jhonatan, dengan cepat Jhonatan langsung mengayun percut miliknya ke arah Daniel. Namun dengan cepat Daniel dapat menghindarinya.
"Ooo.. Hampir saja" ucap Jhonatan meremehkan Daniel.
Daniel berhenti dan berfikir sejenak sambil melihat ke sekelilingnya seakan-akan mencari celah untuk bisa mendekati dan menyerang Jhonatan yang semakin sombong.
"Ada apa tuan?, kenapa anda diam saja?, ingin menyerah?" tanya Jhonatan tertawa dan seluruh bawahannya ikut mentertawai Daniel.
Hyuga di buat semakin geram dan berniat ingin menyerang Jhonatan. Namun saat ia melangkah, tiba-tiba tangan Rian menghalangi pergerakannya.
Hyuga menatap Rian dengan tatapan seakan bertanya kenapa ia menghalanginya. Namun Rian hanya menggeleng saja dengan ekspresi wajah seakan serahkan saja semuanya pada pemimpin mereka yaitu Daniel.
Hyuga menghela nafasnya dan membuangnya secara kasar. Lalu ia menuruti apa yang di katakan oleh Kakaknya yaitu Rian.
Daniel melihat ke arah sampingnya Jhonatan, lalu ia berfikir kalau di sanalah ia bisa mendekati Jhonatan dan bisa memberi sebuah pukulan telak untuknya.
Merasa yakin, Daniel langsung berlari ke arah sana dan dengan gerakan cepat ia sudah berada di samping kirinya Jhonatan.
Daniel ingin mengayunkan pedangnya ke arah titik buta Jhonatan. Namun, Jhonatan langsung mengayunkan cambuk miliknya ke arah samping dan lagi-lagi Daniel melompat dengan cara salto ke arah belakang.
"Sampah satu ini lumayan juga" gumam Daniel.
"Ayolah tuan, jangan berbuat konyol!" tegur Jhonatan dengan angkuhnya.
"Sebaiknya anda dan seluruh kelompok anda menyerah saja. Lalu biarkan saya mengambil kepala anda, kemudian Wild Tiger akan menjadi penguasa kegelapan yang baru! HAHAHA" tawa Jhonatan semakin sombong.
"Bocah ini!!!" ucap Fauzi geram.
"Semakin lama semakin ngelunjak!" timpalnya ikut emosi karena sedari tadi Jhonatan terus merendahkan Kakaknya.
Karena merasa tidak bisa menyerang dari satu arah, Daniel berdiri lalu berjalan ke arah depannya Jhonatan. Lalu Daniel menancapkan pedangnya ke atas tanah. kemudian ia merenggangkan kedua tangannya ke arah atas seakan-akan melakukan pemanasan pada tubuhnya yang terasa kaku.
Setelah di rasa tubuhnya menjadi lebih ringan, Daniel mengambil kembali pedangnya yang ia tancapkan di atas tanah tadi.
Lalu ia membuat sebuah kuda-kuda yang membuat Jhonatan sedikit waspada karena melihat kuda-kuda yang Daniel perlihatkan.
"Hooo... Nampaknya anda sudah mulai serius" ucap Jhonatan sambil mempererat genggamannya pada cambuk yang ia pegang.
Tanpa menjawab Daniel langsung berlari, namun gerakan Daniel saat ini lebih cepat dari sebelumnya.
Karena merasa kalau Jhonatan tidak bisa di serang melalui satu arah, jadi Daniel berlari mengelilingi Jhonatan yang berdiri di tengah-tengah.
Jhonatan merasa sedikit kebingungan mengikut arah Daniel berlari karena terlalu cepat menurutnya.
Setelah berlari mengelilingi Jhonatan beberapa putaran, Daniel langsung maju untuk menusukkan pedangnya melalui arah belakangnya Jhonatan.
Namun Jhonatan yang sadar akan hal itu, ia langsung memutar ke arah belakang dan ia mengarahkan cambuknya. Hal hasil, cambuk milik Jhonatan berhasil mengikat pergelangan tangan Daniel, dan ia langsung melemparkan tubuh Daniel ke arah sebuah drum di tumpukan sampah sampai pedang dan tubuh Daniel terpental secara terpisah.