Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SULIT DI HENTIKAN


Daniel semakin tak terkendali, emosinya semakin meledak-ledak mengingat istrinya yang hampir terluka dan sang Adik yang cidera karena perbuatan kelompok yang di pimpin oleh pria yang telah terluka parah karena perbuatannya sendiri mencari masalah pada Daniel.


Aura yang keluar dari tubuh Daniel semakin lama semakin berat di iringi dengan pukulan keras yang terus Daniel hantam kan ke wajah William.


Wajah tampan William sudah hampir tak di kenali lagi. Pelipis pecah, bibir pecah, hidung terus mengeluarkan darah, serta beberapa giginya juga copot akibat pukulan keras yang terus di berikan oleh Daniel.


Tangan Daniel sudah berlumuran darah dari orang-orang yang telah ia habiskan. Pedang miliknya yang ia jadikan sebagai paku untuk menahan tangan kanan William masih belum ia cabut karena Daniel belum merasa puas kalau orang yang ia siksa belum sampai kehilangan kehidupannya.


"SEBENTAR LAGI KAU AKAN SEGERA BERTEMU DENGAN AYAHMU DI DALAM NERAKA" ucap Daniel penuh emosi dan masih terus memukuli wajah William yang semakin lama semakin hancur.


"KAU HARUS BAHAGIA KARENA KALIAN BERDUA AKAN BERKUMPUL KEMBALI!" timpalnya menarik kerah baju William dan menghantam kepala musuhnya ke bodi mobil yang Daniel jadikan sebagai tempat untuk menyiksa William.


"A...ampun, su...sudah" lirih William yang sudah kehabisan tenaga karena terus di hajar oleh Daniel.


"APA YANG KAU KATAKAN HAH?!, AKU TIDAK MENDENGARNYA!" tanya Daniel mencengkram kerah baju William dan menghantamkan kepala William ke cap mobilnya sendiri.


"Kalau bicara itu yang jelas" timpal Daniel memukuli wajah William lagi.


Rian, Fauzi, dan Kevin. Mereka bertiga juga ikut mengamuk, tak ada satupun musuh yang mereka biarkan selamat. Sudah tak ada kata kasihan lagi dalam dirinya mereka, meskipun musuh-musuhnya mengkonsumsi obat terlarang itu, namun semua itu tak berefek karena ketiga saudaranya Daniel menghajar mereka menggunakan tenaga dalam.


"Habiskan semuanya!. Jangan ada yang tersisa dari mereka" ucap Rian sedikit berteriak.


"SIAP BOS!" jawab para bawahannya Daniel bersemangat.


Jasmine juga terlihat sangat hebat dalam hal menembaki para musuhnya. Meskipun emosi yang memuncak, akan tetapi ia masih bisa membedakan mana musuh, mana rekan. Tak ada satupun peluru yang meleset ketika ia menarik pelatuknya.


Wulan masih meratapi Dion yang masih tak sadarkan diri dalam pangkuannya. Air matanya terus menetes membasahi wajah Dion yang berada di pelukannya. Banyak perasaan tercampur aduk dalam hatinya. Rasa bersalah, marah, sedih, semua tercampur dalam dirinya.


Kemudian dengan secara perlahan Wulan meletakkan kepala sang Kakak di atas tanah. Setelah itu, ia berdiri dengan keadaan penuh rasa amarah. Ia hanya diam saja, akan tetapi aura yang ia keluarkan begitu besar bahkan mereka yang tengah bertarung sampai terhenti karena merasakan betapa panasnya hawa aura yang Wulan keluarkan.


Dengan mata yang masih berair, ia menatap tajam ke arah para bawahan William yang masih hidup. Tatapan Wulan secara refleks membuat para bawahannya William melangkah mundur karena rasa takut yang begitu besar ketika mata Wulan menatap mereka.


Wulan mengambil senjatanya yang merupakan dua buah pedang dengan tali yang terikat pada pegangan pedangnya. Fungsi tali pada kedua pedangnya adalah untuk ia bisa bebas menari menggunakan pedang miliknya.


"Jangan takut!. Wanita itu hanya menggertak saja, dia tidak ada apa-apa buat kita!" ucap salah satu dari bawahannya William menyemangati rekannya.


"Benar!. Wanita itu lemah" sambung temannya yang lain.


Kemudian beberapa dari bawahannya William berkumpul dan mengelilingi Wulan. Sedangkan Wulan yang berada di tengah-tengah mereka hanya tersenyum sinis tanpa ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya.


"Dasar bodoh!" ucap Wulan dan mulai menari-nari dengan pedang yang ia putar-putar seperti penari balet profesional.


Pedang yang Wulan putar ke seluruh arah menebas orang-orang yang mengelilinginya, pria-pria malang itu langsung banyak yang berjatuhan karena tebasan pedang terbang milik Wulan mengenai organ-organ vital mereka.


"HAHAHAHA, MATI KALIAN MATI!" tawa Wulan menggila.


"Jika para petinggi mengamuk seperti ini, kita tidak akan bisa mendapatkan mangsa lagi" ucap Mizaki mengeluh.


"Sudah jangan banyak mengeluh!, siapa cepat dia dapat" sela Banba memotong sambil terus menghajar para anak buahnya William.


Daniel tak memperdulikan rekan-rekannya yang tengah bersenang-senang, ia hanya terfokus pada musuh yang ada di hadapannya.


William yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hampir saja kehilangan nyawanya karena Daniel yang terus menghajarnya tanpa rasa ampun sedikitpun.


Sedangkan Takaoka cuma bisa menelan ludahnya secara kasar melihat Daniel yang tengah mengamuk. Karena baru pertama kali ia melihat pria yang di juluki sebagai Akai raion tengah mengamuk di depan matanya.


"Jika saja waktu itu tuan muda seperti itu, mungkin aku sudah tidak ada di bumi ini lagi" ucap Takaoka bergidik ngerih melihat Daniel yang tengah menyiksa William.


"Waktu itu tuan muda tau kau berasa dari kelompok yang berada di bawahnya. Jadi dia hanya bercanda menghadapi dan menggertak agar kau bisa lebih menghargai orang lain karena sifat sombong yang kau miliki" sela Yosuke menjelaskan.


"Dia mengetahui semuanya, walaupun kau mencoba bermain curang di belakangnya. Pasti dengan sekejap ia akan tau, namun tuan muda hanya diam saja karena menurutnya berpura-pura bodoh di depan orang yang sok pintar adalah kebiasaan untuk membuat orang bodoh itu merasa hebat" sambungnya.


Daniel masih terus menyiksa William tanpa adanya kata lelah. Lalu ia mencabut pedang yang ia jadikan paku pada tangannya William dan berniat untuk mencincang tubuhnya William.


Pada saat Daniel mengayunkan pedangnya ke arah tubuh William, tiba-tiba sebuah toya menghadang benda tajam itu dan suara nyaring terdengar begitu keras.


"Su..sudah Kak cu.. cukup!" ucap seorang pria dengan terbata-bata.


"Minggir!, jangan coba-coba menghalangi!" ucap Daniel geram menatap dingin ke arah pria yang tengah ngos-ngosan.


"Sudah Kak, ja..jangan bunuh dia" jawab pria itu berusaha berbicara dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Sebaiknya kau minggir dan jangan sampai aku menghajarmu juga!" ancam Daniel mendorong pria itu lalu mencoba menebas William sekali lagi namun pria itu berhasil menangkap tangan Daniel.


"Su..sudah kubilang hentikan!" ucap pria itu penuh penekan.


Daniel menatap geram ke arah pria yang menghalanginya. Meskipun wajahnya tertutup sebuah topeng, akan tetapi mereka bisa merasakan hawa aura pembunuh yang Daniel keluarkan.


Saat Daniel ingin memukul pria yang menghalanginya, dengan tiba-tiba pria tersebut yang terlebih dahulu memukul topeng yang menutupi wajah Daniel hingga membuat tubuh Daniel terpental. Pria itu terpaksa melakukan hal tersebut barusan agar kesadaran Daniel bisa kembali lagi dan ia tidak membunuh William yang sudah tak berdaya.


Kemudian pria itu mendekati Daniel yang masih terkapar di atas tanah dan menatap langit-langit dengan nafas yang tersengga-sengga.


Tiba-tiba pria itu terjatuh dan tubuhnya menimpah tubuh Daniel yang masih kelelahan karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya.


"Sakit bodoh!" ucap Daniel sambil menggeser tubuh pria yang menindihnya ke arah sampingnya.


"Sa...salah Kakak sendiri, siapa suruh sulit di ke...kendalikan" jawab pria itu tersengga-sengga.


Pria itu tidak lain ialah Dion yang sudah siuman lalu bergegas menghampiri Daniel karena ia melihat sang Kakak tengah menyiksa orang yang sudah tidak berdaya.