
Novi menoleh ke arah suara itu berasal, dan matanya langsung melotot melihat Leny. Dia langsung berjalan menuju Leny dan mereka saling berpelukan
"Sudah lama kita tidak bertemu Nov, bagaimana kabarmu?"
Novi menjawab
"Baik Len, bagaimana denganmu?. Lalu siapa pria tampan yang sedang kamu gandeng ini?
Dengan bangga Leny menjawab
"Oh. Perkenalkan ini Daniel suamiku"
Wajah Novi terkejut
"Apa suami?!, sejak kapan kamu sudah menikah?!"
Leny tersenyum dan memeluk lengan Daniel dan ia berkata
"Hehe maaf Nov, pernikahanku dilakukan dengan tertutup. Hanya kerabat dan keluarga saja yang mengetahui ini. Dan 3 bulan yang lalu kami menikah"
Novi cemberut dan berkata
"Huh. Kamu jahat!, sahabat sendiri tidak kamu beritahu"
Leny membujuk Novi dan menjawab
"Uluh-uluh. Maaf sayangku, aku tak bermaksud"
Novi menyilangkan kedua tangannya dan menjawab acuh
"Baiklah-baiklah, tapi jika ada kabar gembira tentang calon keponakanku, jangan kamu rahasiakan juga"
Dengan senyuman Leny mengelus perutnya dan berkata
"Di sini sudah ada keponakan kamu, dan usianya sudah menginjak 1 bulan lebih satu minggu"
Dengan ekspresi wajah terkejut Novi menatap Leny
"Benarkah?. Sepertinya sebentar lagi aku akan di panggil tante"
Mereka berdua terus mengobrol sampai Daniel terlupakan oleh kedua wanita cantik itu. Dengan wajah kesal Daniel angkat bicara
"Memang susah jika dua ibu-ibu sudah bertemu"
Leny mencubit area pinggang Daniel dan menjawab dengan nada geram
"Ih. Kamu ini, kamu pikir kami sedang bergosip"
Novi tertawa dan berkata
"Nama kakak Daniel kan?. Aku Novi teman dekatnya Leny, semoga kamu menyukai hubungan dekatku dengan dia"
Daniel tersenyum dan menjawab
"Tidak masalah, asalkan kamu tidak membawa singa betina ini ketempat yang salah"
Leny meninju perut Daniel dengan wajah cemberut karena julukannya itu. Novi tertawa mendengar julukan dari Daniel untuk Leny. Kemudian Novi mengajak mereka untuk masuk dan mencari tempat duduk agar obrolan mereka semakin nyaman
Mereka duduk di meja yang bertuliskan VIP. Leny dan Novi terus mengobrol tentang masa-masa indah mereka di kampus pada waktu itu. Daniel hanya mendengarkan cerita dari mereka dengan sesekali memandangi daerah mall itu.
"Lalu bagaimana? apa kamu sudah mencapai cita-citamu?"
Novi tersenyum dan menjawab dengan tegas
"Syukurnya perjalananku meraih cita-citaku sedikit lebih mudah dari apa yang aku pikirkan"
"Karena kakakku seorang inspektur, maka aku bisa sedikit lebih mudah untuk masuk ke dalam anggota kepolisian di Jakarta pusat"
Leny bertanya
"Wah benarkah?, kalau boleh tau siapa kakak kamu?"
Dengan tegas Novi menjawab
"Yuddy!"
Inspektur Yuddy dan Novi adalah dua kakak beradik, ayah mereka adalah seorang jenderal di militer sedangkan ibu mereka adalah mantan seorang polwan, keluarga mereka adalah keluarga perwira yang membela keadilan untuk Indonesia.
Leny terkejut dan matanya terbuka lebar
"Yu..Yuddy? maksud kamu inspektur Yuddy yang bertugas di Jakarta Selatan?"
Novi mengangguk dan menjawab
"Iya, dia kakakku"
Daniel memotong pembicaraan mereka
"Ternyata dunia ini sempit ya. Disini aku bisa bertemu dengan adik kandung inspektur"
"Kalian berdua kenal kakakku?" tanya Novi
Leny menjawab
"Tentu saja, kami sangat dekat dengannya. Dia selalu membantu menyelesaikan masalah yang menimpa kami"
Novi menggoda Leny dan mendekatkan wajahnya
"Wajar saja seorang aktris cantik memiliki banyak masalah, jadi sampai meminta bantuan dari kakakku"
Leny mendorong kening Novi dan menjawab
"Ini bukan masalah yang pribadiku, apalagi soal pekerjaan"
Novi tertawa dan menjawab
Daniel yang menjawab pertanyaan dari Novi itu
"Semua berawal dari Boby Liswanda. Seroang bandar narkoba yang sudah menjadi buronan negara, dia telah aku masukkan ke dalam penjara"
Novi menjadi geram dan mengeratkan giginya
"Apa?! Boby?!. Tch! aku sudah ingin sekali menangkapnya dengan tanganku ini, tapi dia sangat licin seperti belut"
"Lalu apakah bajingan itu menjadi dendam terhadap kalian, sampai meneror keluarga kalian"
Daniel menggelengkan kepalanya. Dan kini Leny yang menjawab pertanyaan Novi
"Tidak. Sebelum tertangkap oleh suamiku, Boby menyewa kelompok pembunuh bayaran. Lalu dengan mudahnya Daniel dan kakak iparku memusnahkan mereka, bahkan pemimpin mereka juga terbunuh"
Novi melotot dan menatap Daniel
"Apa benar yang dikatakan istri kamu kak?"
Daniel tersenyum dan mengangguk
"Iya"
"Ini sudah masuk kasus pembunuhan, seharusnya kamu di interogasi atau sudah masuk dalam kurungan juga. Ini justru malah kamu berada bebas disini"
Leny memukul lengan Novi dan menjawab
"Sembarangan!, jangan berkata seperti itu. Mereka hanya membela diri, jika tidak melawan, aku akan kehilangan mereka tau"
Novi tertawa dan menjawab
"Haha. Maaf-maaf aku tidak bermaksud menakut-nakuti kamu"
"Tapi semua yang aku katakan tadi benar, jika yang melakukan hal itu adalah orang biasa, pasti mereka akan mendekam dalam tahanan. Tapi suami kamu berbeda, aku yakin dia bukan orang biasa"
Daniel menatap Novi dengan serius, batinnya berkata
"Wanita ini sangat cerdas. Aku harus berhati-hati dengannya, jika tidak dia akan mengetahui identitasku"
"Hehe. Kamu jangan terlalu berlebihan memujiku, aku jadi malu bisa di puji oleh seorang polisi cantik" jawab Daniel
Wajah Novi menjadi sedikit murung, dia menatap kearah bawah dan menghela nafasnya. Daniel dan Leny menatap Novi dengan bingung.
Leny memegang pundak Novi dan bertanya
"Mengapa kamu jadi murung? apa ada masalah?"
Novi menjawab dengan nada datar
"Aku mendapatkan sebuah tugas. Untuk menangkap seorang bandar narkoba, ini tugas pertamaku. Dan jika aku berhasil, maka aku akan menjadi kapten. Tpi karena kecerobohanku, banyak teman-temanku yang gugur dalam tugas ini. Aku merasa bersalah, sebagai seorang pemimpin kelompok aku tidak berguna"
Leny tersenyum dan menghibur Novi
"Nov. Setiap keberhasilan, pasti ada awalan yang akan gagal. memang sulit untuk menerimanya, namun kamu harus tetap tegar dan terus berjuang sampai semua mengakui bahwa kamu bisa"
Novi menatap Leny dan langsung memeluknya
"Kamu benar, aku harus berusaha sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan menyerah sebelum aku berhasil menangkap mereka semua. Terimakasih Leny kamu memang sahabat terbaik"
"Tentu saja, aku akan mendukungmu jika itu di jalan yang benar" senyum Leny
Lalu Novi menatap Daniel, dia tersenyum seakan memberikan kode. Daniel hanya diam saja dan membalas senyuman dari Novi tadi
"Kamu ingin aku membantu kamu kan?"
Novi tersenyum dan menjawab
"Hehe. Mengapa kamu bisa tahu isi hatiku?, ternyata kamu memang orang hebat. Beruntung sahabat aku menjadi istri kamu, untung saja dia dulu menolak lamaran Aidil"
"Novi!" reflek Leny menjewer telinga Novi
"Haha. Apa dulu Leny pernah di lamar oleh seseorang?, dan mengapa di menolaknya"
Leny cemberut dan memotong pertanyaan Daniel
"Sudahlah suamiku, itu hanya masa lalu, tidak perlu di ungkit. Aku menjadi mual jika mengingatnya"
Novi tertawa dan menjawab
"Haha. Iya, dulu waktu kami pengumuman kelulusan, di waktu wisuda Aidil berniat untuk melamar Leny di keramaian para siswa/i dan para dosen. Namun di tolak mentah-mentah oleh Leny, akan tetapi Aidil tidak menyerah untuk mendekati Leny. Saat ini dia belum tau kalau Leny sudah bersuami, aku yakin dia pasti akan terus mengejar Leny"
Daniel menatap Leny dan menggodanya
"Haha. Benarkah? aku jadi penasaran siapa Aidil ini"
Leny cemberut dan berkata dengan ekspresi ngambek
"Sudahlah sayang, aku jijik melihat wajahnya, apalagi jika di dekatinya"
Novi melihat orang yang baru masuk dari pintu, dan orang itu berdiri, ia melihat kekanan dan kekiri, seperti mencari seseorang.
Novi mengarahkan mereka untuk melihat ke arah pintu
"Lihat, orang yang kita bicarakan sudah tiba. Sebaiknya kamu berhati-hati Leny"
Ketika Aidil menatap kearah jam 2, dia melihat sosok wanita yang telah lama ia sukai. Wajahnya berubah menjadi sinis karena melihat ada sosok lelaki yang begitu dekat duduk di sebelah Leny.
"Siapa lelaki itu?!, berani sekali mendekati Leny" Aidil melangkah mendekati Leny dan yang lainnya