Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MEMBAWA PULANG


Daniel langsung membawa Natsumi dan para sandera lain keluar dari ruangan tersebut. Pada saat mereka semua melangkah, tiba-tiba kepala Natsumi terasa sangat pusing, badannya gemetaran, dan kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya seakan ingin terjatuh.


Untung saja dengan sigap Daniel langsung menangkap tubuh Natsumi dan memapahnya agar tak terjatuh ke lantai.


"Kamu kenapa?" tanya Daniel khawatir.


"Selama berada di sini, belum ada satupun makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulutnya tuan" jawab salah satu sandera yang berada di sana.


"Apa para penculik itu pernah melakukan luka fisik pada kalian?, apa mereka juga sempat ingin melakukan hal yang senon*h pada kalian?" tanya Daniel.


"Tidak tuan, mereka semua justru memberikan makan dan minuman yang sangat mewah untuk kami, bahkan juga memberikan pakaian yang sangat mahal" jawab salah satu dari mereka.


"Tapi, hanya Natsumi-san yang tidak menyentuh itu semua. Kami semua sudah membujuknya untuk makan ataupun minum, namun dia tidak pernah mau" sambung rekannya.


"Dasar nakal!" ucap Daniel sambil menarik hidung Natsumi dengan gemas. Sedangkan Natsumi hanya tersenyum terpaksa dan wajah yang pucat.


"Selama di sini, Natsumi-san hanya terus memanggil Kakak saja, bahkan mengigau menyebut kata itu" sela temannya yang sangat mengkhawatirkan keadaan Natsumi dan yang lainnya ikut mengangguk.


"Yaudah, sebaiknya kita cepat keluar dari tempat ini, dan kalian semua harus kembali ke keluarga kalian masing-masing. Aku juga akan segera membawa gadis nakal ini bertemu dengan Kakaknya yang sangat menghawatirkan dirinya" ucap Daniel dan langsung menggendong Natsumi yang semakin lemas.


"Tapi kami takut para penculik itu datang dan menghalangi kami tuan" jawab salah satu dari mereka khawatir.


"Jangan khawatir, aku ada di sini. Aku akan mengawal kalian sampai keluar dari daerah busuk ini" jawab Daniel.


"Bagaimana caranya tuan bisa melindungi kami semua?. Tuan hanya seorang diri, sedangkan mereka ada banyak" tanya salah satu dari mereka khawatir dan yang lainnya juga memasang wajah penuh rasa khawatir.


"Lalu, bagaimana aku bisa berada di sini dan membebaskan kalian semua?" tanya Daniel balik, sedangkan mereka memasang wajah kebingungan.


"Jangan takut, aku akan menjamin tidak akan ada luka sedikitpun pada tubuh kalian" timpal Daniel tersenyum.


"Sudahlah teman-teman, percaya saja padanya. Aku berani jamin, apa yang di katakan oleh Kak Daniel itu bukan omongan belaka" sela Natsumi dengan nada suara yang lemah.


"Baiklah Natsumi-san, kami juga sangat menghawatirkan keadaan kamu" jawab salah satu dari mereka.


Lalu para gadis-gadis yang di culik itu langsung keluar dari ruangan tersebut. Dengan rasa takut, mereka berjalan sambil memperhatikan seluruh tempat itu karena mereka takut pada para penculik itu akan menyergap dan menyakiti mereka semua.


Namun, hingga mereka sampai ke ruangan tengah, tak ada satupun orang yang berada di sana. Bahkan mereka melihat beberapa orang sudah terkapar di lantai dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Kenapa dengan mereka semua?" tanya para gadis itu terkejut.


"Mungkin mereka sudah lelah dan beristirahat di situ" jawab Daniel santai.


"Masa mereka tidur dengan noda darah yang berada di tubuh mereka semua?" tanya mereka penasaran.


"Sudah, jangan banyak bertanya. Lanjutkan saja perjalanannya" ucap Daniel dan mereka semua hanya mengangguk saja sambil melanjutkan perjalanan menuju ke pintu keluar.


Setelah mereka semua berada di depan pintu utama yang begitu besar, lagi-lagi mereka semua berhenti dan takut untuk melangkah keluar, mengingat begitu banyak pria bersenjata berada di luar sana saat pertama mereka di bawa ke tempat itu.


Di saat mereka semua sedang kebingungan bercampur rasa takut, tiba pintu utama itu terbuka dan mereka semua terkejut dan semakin ketakutan.


Mereka semua hanya menutup mata dan sudah pasrah jika harus mati di tepat itu. Namun saat mereka membuka matanya, ada seorang pria berdiri sambil menyeret salah satu dari pria bersenjata itu dan sudah tak sadarkan diri dengan darah bercucuran di wajahnya.


"Jangan takut, dia itu salah satu dari kita, dan dia adalah Kakak ipar dari Natsumi" ucap Daniel menenangkan mereka.


Pria itu adalah Hyuga. Dia juga sudah menghabisi para penjaga yang berada di luar seorang diri tanpa luka sedikitpun, hanya rasa lelah saja yang menyerang dirinya.


Hyuga langsung membanting tubuh pria yang ia seret tadi dan langsung mendatangi Adik iparnya yang tengah berada di dalam gendongan Daniel.


"Kamu kenapa?, apa mereka berbuat macam-macam padamu?" tanya Hyuga khawatir sambil mengecek seluruh tubuh Adik iparnya.


"A..aku tidak apa-apa Kak" jawab Natsumi lemas.


"Adikmu ini belum ada makan ataupun minum selama berada di sini, kita harus segera membawanya ke hotel, dan aku akan menyuruh Alvin untuk memeriksa keadaannya" jawab Daniel menyela.


Tak lama kemudian beberapa mobil mewah masuk ke dalam pekarangan rumah itu, para gadis di buat ketakutan kembali karena mereka khawatir kalau mobil-mobil itu adalah rekan dari penculik itu. Namun tidak dengan Daniel dan Hyuga, mereka malah tersenyum saat mobil-mobil itu datang.


Orang-orang yang membawa mobil mewah itu langsung keluar dan langsung menghampiri Daniel.


"Aduh kenapa lagi-lagi kalian bersenang-senang sendirian?!" tanya Fauzi sedikit kesal setelah melihat banyak pria bersenjata yang sudah tumbang di halaman rumah mewah itu.


"Kalian saja yang terlalu lama" jawab Hyuga sambil merangkul bahu Fauzi.


"Setidaknya sisakan untuk kami" ucap Fauzi kesal.


"Sudah, jangan banyak mengeluh. Kita harus cepat pergi dari sini, dan bawa pada gadis ini pulang ke rumah mereka masing-masing" sela Daniel memotong.


"Apakah gadis yang berada di tanganmu itu adalah Natsumi?" tanya Rian dan di anggukan oleh Daniel.


"Sudah jangan banyak tanya!. Aku harus membawanya ke Alvin" jawab Daniel dan langsung buru-buru membawa Natsumi menuju ke dalam salah satu mobil mewah itu.


"Kenapa kalian semua malah diam?. Ayo kalian juga ikut!, apa kalian tidak ingin pulang ke rumah?" tanya Fauzi dan mereka semua langsung ikut masuk ke dalam beberapa mobil mewah tersebut.


Daniel dan Hyuga membawa Natsumi bersama dengan Rian yang mengemudikan mobilnya. Tak lupa juga Daniel menyuruh salah satu bawahannya pergi ke tempat yang dimana mobil miliknya di sembunyikan.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Rian dan yang lainnya sudah sampai di depan hotel milik Daniel.


Mama Yuni, Wulan, dan Chelsea yang tengah asik bermain dengan Damin melihat mobil Rian hanya diam sambil terus memperhatikannya saja.


"Sayang, bukankah itu mobilnya Kakak kamu Rian ya?" tanya Mama Yuni dan di anggukan oleh Wulan.


"Iya Ma, itu mobil Kak Rian" jawab Wulan.


Tiba-tiba Daniel keluar dari mobil yang sedari tadi mereka perhatikan. Mereka melihat Daniel yang tengah tergesa-gesa sambil menggendong seorang gadis yang terlihat sudah tak sadarkan diri.


"Menantuku?" gumam Mama Yuni khawatir.


Dengan sigap Mama Yuni langsung menghampiri Daniel yang tengah berjalan sedikit cepat sambil menggendong seorang gadis yang sudah pingsan.


"Siapa gadis ini sayang?" tanya Mama Yuni penasaran.


"Ini Natsumi Ma, Adiknya Koury" jawab Daniel.


"Apa yang terjadi padanya nak?" tanya Mama Yuni khawatir.


"Dia salah satu korban penculikan Ma. Daniel harus membawanya ke Alvin, semenjak dia di culik, dia belum ada makan ataupun minum" jawab Daniel semakin mempercepat langkahnya.


"Chelsea sayang, tolong kamu panggilkan Alvin ya" ucap Mama Yuni.


"Iya Tante" jawab Chelsea dan segera mencari sang kekasih yang tengah sibuk di dalam kamarnya.