
Sudah seminggu lebih Windy dan bayinya berada di rumah sakit milik Daniel. Kini akhirnya Windy dan putranya sudah siap untuk pulang ke rumah mereka.
Awalnya Leny ingin ikut menjemput sahabatnya. Akan tetapi Windy melarangnya karena Leny sudah hampir setiap hari berada di rumah sakit menemani Windy. Windy takut dengan keadaan Damin jika terus-menerus berjauhan dari Leny.
Riski juga masih merahasiakan tentang nama dari putranya dan Windy. Daniel sampai geram di buat sahabatnya itu karena membuat dirinya penasaran.
Kini suasana kediaman keluarga Riski menjadi ramai karena hadirnya sosok malaikat kecil di tengah-tengah mereka. Nenek dan Kakek dari anak mereka pun jadi lebih sering berkunjung ke rumah Riski untuk melihat cucu mereka yang tak kalah imutnya dengan Damin.
__________________________
Pagi hari ini Leny dan Wulan di sibukkan dengan rumah mereka. Mereka berdua berbagi tugas masing-masing untuk melakukan itu. Hari ini Leny dan Wulan memasak masakan kesukaan Daniel.
Sedangkan Daniel dan sang putra sedang melakukan olahraga pagi mereka sambil menjemur tubuh Damin agar mendapat vitamin dari sinar matahari di pagi hari.
Lagi asyik menyusun makanan di meja makan, tiba-tiba handphone Leny yang berada di atas meja berdering, dan saat ia melihat nama dari penelepon, ternyata dari telepon rumah Nenek Ani yang berada di Bandung.
Pada saat Leny mengangkat teleponnya, rupanya bukan sang Nenek yang menelepon, melainkan asisten rumah Nenek Ani yang Daniel pekerjakan setengah bulan yang lalu untuk membantu dan menemani Nenek Ani.
Setelah panggilan telepon berakhir, raut wajah Leny tiba-tiba bersedih dan tidak lagi bersemangat untuk melakukan aktivitas di rumah lagi. Wulan yang melihat raut wajah sang kakak yang tiba-tiba berubah pun menjadi penasaran dan merasa khawatir dengan kakaknya.
"Kakak kenapa?, kok tiba-tiba sedih gini?" tanya Wulan.
"Tidak apa-apa kok dek" jawab Leny tersenyum terpaksa.
"Kamu bisa menyelesaikan ini semua kan dek?, kakak mau ke kamar" timpal Leny dengan raut wajah yang semakin sedih.
"Iya kak. Yaudah kakak istirahat saja di kamar" jawab Wulan dengan wajah khawatirnya melihat keadaan sang kakak yang tiba-tiba berubah.
Lalu Leny dengan langkah yang lemas berjalan menuju ke kamar. Wulan terus memperhatikan Leny, takut tiba-tiba kakaknya pingsan dan terjatuh dari atas tangga yang sudah lumayan tinggi.
"Kamu kenapa sih kak?, kok tiba-tiba jadi seperti ini?" gumam Wulan bertanya.
Sekitar 20 menit kemudian Daniel dan Damin sudah pulang kerumah dengan raut wajah yang nampak lelah karena habis melakukan olahraga pagi.
"Loh, kakak kamu mana sayang?" tanya Daniel yang mencari keberadaan istrinya.
"Ada di kamar kak" jawab Wulan.
"Oh iya kak, tadi setelah menerima telepon, tiba-tiba kak Leny berubah jadi sedih dan gak bersemangat lagi" ucap Wulan menjelaskan.
"Kok bisa?, memangnya siapa yang menelepon?" tanya Daniel.
"Gak tau kak" jawab Wulan.
"Wulan khawatir banget sama kak Leny, takut terjadi apa-apa. Tadi aja dia berjalan sangat tidak bergairah" timpalnya merasa khawatir.
"Yaudah, kamu sarapan aja dulu dek. Biar kakak ke kamar dulu mengecek keadaan kakak kamu itu" ucap Daniel, dan di anggukan oleh Wulan.
"Ayo sayang kita cek keadaan Bunda kamu itu" ajak Daniel menggendong sang putra yang berada dalam gendongan Wulan.
Karena merasa khawatir, Daniel langsung menuju ke kamar untuk mengecek istrinya. Ia takut terjadi apa-apa pada sang istri.
Setelah sampai di depan pintu kamar, Daniel mulai mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari sang istri. Merasa semakin khawatir, Daniel mengecek handle pintu kamarnya dan ternyata tidak di kunci Leny.
Lalu Daniel langsung masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sang istri yang sudah terduduk di pinggir ranjang dengan isak tangis.
"Bunda?" ucap Daniel dan langsung melangkah mendekati sang istri yang semakin menangis sesenggukan.
"Keluarkan semua kesedihan kamu Honey. Ayah akan selalu ada untuk Bunda" ucap Daniel sembari mengelus kepala sang istri yang berada dalam pelukannya. Terdengar suara isak tangis dari Leny dalam pelukan Daniel.
"Bunda kenapa?, tadi kata Wulan Bunda tiba-tiba bersedih setelah menerima telepon" tanya Daniel dengan lembut sambil membelai kepala Leny.
"Ne.. hiks.. hiks.. Nenek Ayah" jawab Leny yang masih menangis.
"Nenek kenapa Honey?" tanya Daniel penasaran.
"Tadi bibi Rahayu menelepon, ia berkata hiks... hiks.. kalau hiks... Nenek tiba-tiba muntah darah dan langsung pingsan" jawab Leny.
Daniel yang terus menerus mengelus kepala Leny, tiba-tiba langsung terhenti setelah mendengar kabar dari Nenek Ani yang tiba-tiba jatuh sakit.
"Bunda takut Nenek kenapa-kenapa Ayah" ucap Leny semakin histeris.
"Udah ya Honey, jangan menangis lagi. Kita harus doakan untuk kesehatan Nenek, bukan terus menjatuhkan air mata. Kalau Nenek Ani tau, dia pasti marah sama Bunda" ucap Daniel menenangkan Leny.
"Malu dong sama Anaknya ni, masa Bunda menangis di depannya" timpal Daniel sembari mengangkat Damin yang duduk di pangkuannya.
Damin terus menatap wajah Leny dan tiba-tiba tangannya memegang pipi Leny. Leny tersenyum saat Damin melakukan itu padanya. Kemudian ia memejamkan matanya dan memegang tangan mungil putranya. Daniel juga langsung tersenyum melihat keharmonisan dari istri dan putranya.
_______________________
Wulan yang belum sama sekali menyentuh hasil masakan dia dan Leny yang berada di atas meja makan hanya terduduk sambil menatap ke atas melihat pintu kamar sang kakak. Ia berharap Leny baik-baik saja dan mau keluar kamar agar mereka bertiga bisa sama-sama sarapan.
Pada saat ia terus menatap kamar sang kakak, tiba-tiba ia terkejut melihat kedatangan dari Mama Yuni dan Papa Galuh yang tiba-tiba datang kerumah mereka dengan raut wajah khawatir.
"Loh, Mama?, Papa?" tanya Wulan yang langsung berdiri dan memeluk Mama Yuni.
"Kakak kamu mana sayang?" tanya Mama Yuni yang masih memeluk Wulan.
"Ada di atas Ma. Tapi Wulan liat tadi kak Leny kok tiba-tiba sedih gitu Ma" jawab Wulan menjelaskan setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Dia gak ada bilang apa-apa sama kamu?" tanya Mama Yuni dan Wulan menggeleng.
"Wulan sangat khawatir Ma" ucap Wulan dengan raut wajahnya yang nampak cemas.
"Daniel dan Damin mana sayang?" tanya Mama Yuni lagi.
"Mereka semua ada di kamar Ma. Setelah Wulan memberi tau soal keadaan kak Leny, kak Daniel langsung masuk ke dalam kamar" jawab Wulan.
"Hmmm" Mama Yuni menghela nafasnya.
"Sebenarnya ada apa sih Ma?, Pa?. Kok kalian semua nampak sedih begini?" tanya Wulan penasaran.
"Nenek Ani masuk rumah sakit sayang. Tadi bibi Rahayu menelepon, dia berkata kalau Nenek Ani tiba-tiba muntah darah dan langsung pingsan" jawab Mama Yuni menjelaskan.
"Ha?, kok bisa Ma?" tanya Wulan yang semakin khawatir.
Mama Yuni menggeleng sembari menjawab "Mama juga gak tau Sayang. Papa dan Mama kesini itu ingin mengajak kalian ke Bandung untuk melihat keadaan Nenek Ani".
"Yaudah Wulan bersiap-siap dulu ya Ma" ucap Wulan dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Iya sayang. Mama juga mau mengecek keadaan kakakmu" jawab Mama Yuni sedikit berteriak karena Wulan yang sudah berada di atas tangga.