Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MEMBUKA MATA


Sudah hampir 2 Minggu Daniel di rawat di rumah sakit itu. Semenjak perawatan untuk dirinya di ambil alih oleh Alvin, kini kondisi tubuh Daniel kian membaik dan syaraf-syaraf pada tubuhnya juga sudah bekerja dengan normal.


Demi sang tuan muda, Alvin rela mengosongkan seluruh jadwalnya agar ia bisa fokus untuk menyembuhkan Daniel secepatnya dan mereka akan berkumpul kembali setelah beberapa tahun berpisah.


Setiap hari Leny dengan setia menunggu sang suami untuk membuka matanya dari tidur yang sangat panjang, tak bosan-bosannya ia mengajak Daniel mengobrol meskipun omongan Leny hanya di dengar saja oleh Daniel tanpa ada balasan dari sang suami.


"Ayah, Ayah. Kamu tau gak kalau Damin kita udah bisa berbicara. Dan Ayah tau kata apa yang pertama kali dia katakan?" tanya Leny sembari mengelus-elus pipi suaminya


"Dia berkata yayah yayah gitu loh. Mungkin putramu sudah sangat merindukan pelukan darimu sayang" timpalnya dengan wajah yang amat sedih


"Ayah bangun dong!" ucap Leny lagi memohon dengan wajahnya yang sudah ia pendamkan di tangan milik Daniel


Di sebuah taman yang luas dengan banyak bunga cantik nan indah tubuh begitu rapih di taman tersebut. Terpadat seorang lelaki yang nampak tengah kebingungan mencari keberadaan istri dan anaknya. Sudah berulang kali ia berteriak memanggil nama mereka berdua, namun tak ada jawaban dari istri maupun sang anak.


Pria itu sudah berjalan, berlari mengitari taman yang begitu luas itu. Ia merasa taman itu seakan tak memiliki ujungnya.


"Luas sekali taman ini" ucap pria itu yang sudah kelelahan karena berlarian


Pada saat pria itu melewati sebuah pohon, ia sempat tak sengaja melihat ada 4 orang yang tengah asyik mengobrol dan bercanda ria di sebuah kursi panjang.


2 orang pria dan 2 orang wanita, mereka berempat tengah menggunakan pakaian serba putih dengan wajah yang nampak berseri-seri terlukis pada wajah mereka berempat.


Pria itu seakan sangat mengenali keempat orang yang berada di kursi tersebut. Dengan perlahan dan perasaan yakin, pria itu mencoba untuk mendekati mereka berempat.


Betapa terkejutnya pria itu saat ia tau siapa mereka, matanya sampai terbelak dan tak mampu untuk berkedip sangking terkejutnya ia.


"Pa..Papa?, Mama?, Ka..Kakek?, Nenek?" panggil pria itu dengan gugupnya


Keempat orang itu langsung menoleh ke arah suara yang memanggil mereka tadi, dan mereka berempat sama-sama terkejut ketika tau orang yang telah memanggil mereka barusan.


"Daniel?!" panggil mereka berempat


Dengan buru-buru pria yang bernama Daniel itu langsung berlari ke arah mereka berempat dan langsung memeluk mereka dengan erat untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini ia pendam.


"Daniel sangat merindukan kalian semua" ucapnya yang sudah menitihkan air mata


"Mengapa kamu ada disini sayang?" tanya sang Mama yang bernama Aqila


Daniel melepaskan pelukannya, kemudian ia menjawab sembari membersihkan air mata yang berada di kedua pipinya "Daniel juga tidak tau ma. Tiba-tiba saja Daniel ada di sini"


"Daniel juga mencari istri dan anakku, namun tidak ada mereka di sini. Justru Daniel malah bertemu dengan kalian semua" timpalnya tersenyum


"Bagaimana kabar menantu dan cucu Mama nak?" tanya Mama Aqila sembari mengelus kepala putranya


"Mereka berdua baik-baik saja kok Ma. Damin juga sudah semakin besar, dia semakin imut dan menggemaskan. Siapapun yang melihatnya pasti ingin memeluknya" jawab Daniel


"Bagaimana keadaan saudara kamu nak?" sambung sang Papa bertanya


"Dion sekarang sudah menikah Pa, Ma. Dia menikah dengan teman SD Daniel, hehe" jawab Daniel


"Nampaknya kedua putra Mama sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Syukurlah, mama ikut bahagia" ucap Mama Aqila dengan senyuman indah terpancar dari wajahnya.


"Andai saja Mama bisa melihat kedua menantu Mama yang cantik itu, dan andai saja Mama bisa menggendong cucu Mama yang begitu tampan itu" timpalnya dengan wajah yang begitu sedih.


"Kalau begitu, ayo kita cari menantu dan cucu kalian Ma, Pa, Kek, Nek. Mereka pasti ingin bertemu dengan kalian semua" ajak Daniel sembari menarik jemari sang Mama.


Namun mereka berempat hanya terdiam dan menjawab permintaan Daniel dengan gelengan kepala.


"Apa maksud Mama?. Daniel tidak mengerti" tanya Daniel menatap sang Mama dengan penuh tanda tanya.


"Belum saatnya kamu berada di sini nak. Pulanglah, istri dan putramu pasti sangat merindukanmu" ucap Papa Elang


"Tidak!. Baru saja kita berkumpul, Daniel sudah tidak mau berpisah dari kalian lagi" jawab Daniel membantah


"Suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali sayang, tapi tidak sekarang" ucap Mama Aqila sambil mengelus kepala sang putra


"Daniel masih merindukan kalian semua. Daniel tidak mau berpisah lagi" ucap Daniel dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Iya sayang, kami semua juga sangat merindukan kamu. Tapi kamu belum boleh bersama kami" bujuk sang Mama


"Kenapa Mama berkata seperti itu?" tanya Daniel


"Nak, lihat di ujung sana. Istri dan putramu sudah menunggumu" ucap Papa Elang menunjuk kearah sebuah pintu yang bercahaya dengan ada sosok Leny dan Damin yang berdiri di depannya.


Daniel menoleh ke arah pintu tersebut, dan benar saja, ada sang istri dan putra mereka yang tengah tersenyum menuggu dirinya di pintu tersebut.


"Bunda?, Damin?" ucap Daniel


"Pulanglah sayang, mereka sangat membutuhkan kamu" ucap Mama Aqila


"Kalian juga harus pulang bersama kami ya" pinta Daniel memohon


"Tidak bisa nak, kami tidak bisa kesana" jawab Papa Elang tersenyum


"Pergilah sayang, kasian cucu Mama" pinta Mama Aqila tersenyum manis


"Ma, Pa, Kek, Nek?" lirih Daniel


"Pergilah nak. Jaga mereka untuk kami" ucap sang Nenek


"Kakek titip Dark Shadow ya nak. Kamu pemimpin yang terkuat di sepanjang sejarah Dark Shadow" ucap sang Kakek.


Tiba-tiba Daniel mendengar suara sang istri yang terus memanggil dirinya. Meski terdengar samar-samar, tetapi ia sangat yakin kalau itu adalah suara sang istri yang terus menerus memanggil dirinya.


"Jaga diri baik-baik ya sayang, kamu harus tetap hidup sampai hari itu tiba. Titip menantu dan cucu Mama ya sayang, jaga mereka" ucap sang Mama tersenyum


Kemudian mereka berempat tersenyum menatap Daniel, dan secara perlahan tubuh mereka terbang ke langit meninggalkan Daniel yang terus saja memanggil mereka.


"PAPA!, MAMA, KAKEK, NENEK!" teriak Daniel dengan sebelah tangannya mencoba meraih mereka. Namun mereka hanya tersenyum saja


"Papa!, Mama!. TUNGGU!!" teriak Daniel dengan tubuh yang langsung terduduk di ranjangnya


"Ayah!, Ayah!" ucap Leny yang terus mencoba memanggil sang suami yang dari tadi terus saja mengigau


Dengan perlahan Daniel membuka matanya, dan kepalanya langsung menatap sang istri yang sudah berderai air matanya yang membasahi seluruh wajah.


"Bunda?" lirih Daniel memanggil


"Ini kita dimana?" timpalnya bertanya


"Ayah!" ucap Leny yang langsung memeluk sang suami tanpa menjawab pertanyaan dari Daniel barusan.