Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PENENTUAN


William menatap ke arah Daniel dengan tatapan yang penuh dengan rasa benci dan begitu dendam. Ia ingin segera memusnahkan Daniel agar dendamnya selama ini bisa terbalaskan. Namun Daniel hanya tersenyum sinis membalas tatapan William yang penuh dengan rasa amarah itu.


"Kau pikir, dengan kau menatapku seperti itu akan membuatku takut dan memohon ampun di hadapan kakimu?" tanya Daniel tertawa remeh.


"Lebih baik kita selesaikan saja dendam kita selama ini" ucap William tersenyum sinis.


"Kau pasti juga dendam padaku setelah kejadian dua hari yang lalu kan?" tanya William tersenyum meremehkan Daniel.


"Ya, aku memang sangat ingin sekali menghabisi nyawamu sekarang juga. Tapi tujuan aku ke sini bukan untuk menghancurkan hidupmu" jawab Daniel tersenyum pahit.


"Lalu apa tujuan anda menemui saya jika kau bukan untuk membalas dendam karena perbuatan saya terhadap wanita anda itu?!" tanya William sedikit bingung.


"Aku hanya ingin berbicara padamu, berdiskusi dengan secara damai agar tidak ada yang harus menumpahkan darah di tempat ini" jawab Daniel serius.


"Berdamai?!. Dengan anda yang telah membuat seorang istri harus terpisah dari sosok lelaki yang ia cintai, dengan anda yang telah membuat seorang anak harus berpisah dari sosok pahlawan dalam hidupnya?. Anda dengan mudahnya ingin berdamai?!" tanya William seakan tidak terima. Sedangkan Daniel hanya diam dan menyimak keluh kesah yang di utarakan oleh William.


"Oke, jika anda ingin kita berdamai. Anda harus siap kehilangan salah satu orang yang sangat anda cintai. Baru aku ingin kita berdamai" timpal William tertawa jahat.


"Berani kau sentuh anggota keluargaku, akan ku musnahkan seluruh kelompok dan seluruh anggota keluargamu dengan sekejap mata" jawab Daniel menatap tajam ke arah Wiliam dengan aura yang sangat menyeramkan sehingga William bisa melihat sosok bayangan hitam yang begitu besar berada di belakang tubuh Daniel.


Seketika Wiliam langsung terdiam bahkan ia menunduk ketakutan setelah Daniel mengancamnya. Akan tetapi rasa benci dalam hatinya justru semakin membesar karena Daniel berkata ingin memuaskan seluruh anggota keluarganya.


"Apa salahnya jika Ayahku memusnahkan orang-orang yang sudah merusak hutan dan kehidupan alam di negara ini?. Bukankah itu pekerjaan yang bagus?" tanya William dengan nada dinginnya dan menatap ke lantai.


"Kenapa dulu Dark Shadow dan Green gun harus berperang?, padahal tujuan dari Green gun itu sangat bagus untuk melindungi bumi ini dari orang-orang yang sudah merusak alam kita" timpalnya bertanya-tanya seperti masih tidak bisa menerima kekejaman dari Dark Shadow terhadap kelompok yang dulunya di pimpin oleh Ayahnya William sebelum di musnahkan oleh Daniel.


"Apa dengan membunuh sesama manusia, itu bisa di katakan dengan pekerjaan yang mulia?, apa itu pekerjaan yang bagus?" tanya Daniel balik.


"Tapi, jika kita tidak memusnahkan orang-orang seperti itu, maka alam di bumi ini perlahan-lahan akan musnah, dan semua mahkluk hidup akan binasa juga!" jawab William protes.


"Tidak!. Ayahku selalu berkata kalau ia ingin membentuk sebuah kelompok yang bisa melindungi dan membangun hutan di bumi ini lagi. Ia ingin membuat kelompok yang memerangi orang-orang yang sudah merusak alam dan ekosistem di bumi ini!" jawab William membela sang Ayah.


"Dengan cara menculik anak-anak, menyiksa orang-orang tua, menjual organ dalam mereka?" tanya Daniel memojokkan.


"Ayahku bukan orang yang sekejam itu!. Dia hanya memusnahkan orang-orang yang menebang dan yang menghancurkan hutan dengan cara ilegal!" jawab William masih tidak percaya.


"Itu hanya kedok untuk menutupi semua kejahatan yang sudah di perbuat oleh kelompok milik Ayahmu!. Memang mereka sering melindungi hutan, namun cara mereka salah karena mereka membunuh manusia!" ucap Daniel menjelaskan.


"Manusia tanpa alam, maka mereka semua tidak akan bisa hidup. Sedangkan alam tanpa adanya manusia, maka alam akan baik-baik saja!. Tapi kita tidak bisa memusnahkan manusia hanya karena mereka melakukan kesalahan-kesalahan. Ada tuhan yang akan menghukum orang-orang seperti itu. Tugas kita hanya harus sadar diri untuk membentuk alam itu kembali. Masih banyak kok orang-orang yang sadar akan hal tersebut, banyak di antara mereka yang membangun hutan kembali. Seharusnya kita ikut membantu mereka!, bukan malah membunuh sesama manusia!" timpal Daniel.


"Itu memang sudah menjadi hukum di dunia ini!. Semakin canggih zaman, maka alam dan ekosistem yang akan menjadi korbannya. Tuhan hanya menciptakan alam semesta ini hanya untuk sebuah panggung untuk kita umatnya!. Jika pertunjukan itu selesai, maka Tuhan akan menyudahi panggung tersebut atau bisa di sebut dengan sebuah kiamat, bencana terbesar yang akan memusnahkan seluruh alam semesta bahkan seluruh kehidupan, karena kita hanya sementara di dunia ini!" ucapnya lagi.


"Aku tidak butuh ceramah darimu!. Aku cuma mau Ayahku hidup kembali!. Jika kau bisa menghidupkannya lagi!, maka dendam kita aku anggap usai!" jawab William penuh emosi!.


"Maaf, aku bukan Tuhan yang bisa melakukan apapun. Aku cuma hambanya yang di tugas untuk mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya" jawab Daniel.


"Jika kau tidak mampu memenuhi persyaratan untuk berdamai!. Maka kau harus bersiap-siap untuk berperang dengan kelompok Green gun yang baru!" ucap William tersenyum meremehkan.


Daniel menghela nafasnya lalu ia bangkit dari sofa itu dan berniat untuk pergi dari ruangannya William karena merasa jika berdiskusi dengannya hanya membuang-buang waktu saja. Namun pada saat Daniel ingin membuka handle pintu, tiba-tiba William mengeluarkan sebuah senjata yang merupakan sebuah pistol dan langsung ia tembakan ke arah Daniel. Dengan refleks Daniel juga mengambil pisau kecil miliknya lalu ia memutar tubuhnya kemudian ia melemparkan pisau tersebut.


Pisau dan peluru pistol yang di tembakan oleh William saling beradu. Pisau milik Daniel melesat ke arah William namun meleset hingga mengancam ke sebuah lukisan yang berada di belakang tubuhnya William. Sedangkan peluru yang di tembakan oleh William membelok dan memecahkan sebuah guci yang ada di belakangnya Daniel.


Daniel meletakkan tangannya ke dalam saku dan berbalik badan lagi. Kemudian ia melirik ke arah samping lalu Daniel berkata dengan nada dinginnya "Jika kau ingin berperang, aku akan melayaninya. Tapi bukan di sini tempatnya, aku tak ingin melibatkan orang-orang yang tidak bersalah dalam perang kita. Tentukan tempat dan waktunya saja, aku akan datang memenuhi undangan darimu". Kemudian Daniel menyentuh handle pintu dan berniat ingin keluar dari ruangan tersebut, akan tetapi ia berhenti sejenak kemudian melirik ke arah William menatapnya dari belakang.


"Oh iya, aku hanya ingin berpesan padamu. Jangan salahkan aku, jika nanti Ibumu akan menangis di atas makam milikmu nanti" timpal Daniel dan langsung pergi keluar dari ruangannya William


William hanya mengeratkan giginya menatap Daniel yang sudah pergi meninggalkan ruangan. Tiba-tiba ia merasakan sedikit perih di bagian pipi sebelah kirinya, lalu ia menyentuh pada pipi yang terasa perih itu dan ada noda darah yang mengalir dari wajahnya tersebut. Ia menatap darah yang ada di tangan kirinya kemudian ia tersenyum sinis dan ia langsung menjilat noda darah yang ada di tangannya lalu tersenyum psikopat menatap ke arah luar.