Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 85 : Tubuh yang tak berdaya


Xiao Tian mencoba segala hal untuk mencoba menyembuhkan Huang Li, tapi Huang Li tak kunjung sadar, luka ditubuhnya pun tak sembuh sedikitpun, detak jantung dan denyut nadi masih berhenti, hembusan nafas tak terasa, untuk pertama kalinya Xiao Tian merasa tak berdaya.


"Huang Li kau harus bangun, jangan tinggalkan aku, maafkan aku karena tak bisa melindungimu, tolong bukalah matamu!" ucap Xiao Tian dengan penuh air mata


Xiao Tian terus memasukkan pil kemulut Huang Li dia sudah membuka pakaian Huang Li, bagian bawah masih tertutup bagian atas hanya memakai pakaian dalam yang menutupi dadanya, Xiao Tian melakukan ini untuk mempraktekkan teknik akupunturnya, dia tak perduli dengan orang disekitarnya, dalam pikirannya kali ini hanyalah ingin menyelamatkan nyawa Huang Li.


Sayangnya sekeras apapun dia mencoba tubuh Huang Li tak merespon, melihat Xiao begitu terpukul dan tak berhenti mencoba walau tak ada perubahan, si Gendut pun berkata.


"Cukup guru!"


"Huang Li sudah tak ada, kita sudah kehilangan dia, berhentilah membuang tenagamu!" ucap si Gendut dengan wajah murung


"Maafkan aku ayah Xiao Tian, Ini semua karena aku tak bisa melindungi diri, ini semua karena aku lemah, kalau bukan karena melindungiku, kak Huang Li tak perlu melawan iblis itu, maafkan aku." ucap Kaibo dengan wajah murung dan air mata yang mengalir deras


"Apa kak Huang Li benar-benar tak bisa diselamatkan?" tanya Jingmi


"Guru sudah melakukan semuanya, dari wajahnya saja sudah terlihat jelas, dia tak bisa menyembuhkan Huang Li." sambung si Gendut


"Guru.. " ucap Gendut sambil memegang pundak Xiao Tian


"Diam kau!"


"Huang Li belum mati, aku yakin itu!" bentak Xiao Tian


"Dewa petir, benar dewa petir pasti tahu cara menyelamatkan Huang Li, meski Huang Li tak sadar, aku merasakan rohnya masih ada di dalam tubuhnya, aku yakin dia masih hidup, orang awam tak akan mengerti hal ini, tapi jika seperti ini terus dia akan mati karena luka yang tak bisa sembuh, aku harus membawanya ke penginapan.." pikir Xiao Tian


Xiao Tian menggendong tubuh Huang Li dengan meletakkan salah satu lengannya melingkari punggung Huang Li dan lengan yang satunya melingkari bagian bawah lutut, dengan wajah yang terlihat begitu terpukul, Xiao Tian menggendong Huang Li menuju ke Gerbang kerajaan angin.


Si Gendut dan yang lainnya mengikuti Xiao Tian dengan berjalan disampingnya.


Sebelum mendekati gerbang, mereka berpapasan dengan Feng Ling dan Jenderal Feng Long yang sudah sadar.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Jenderal Feng Long


"Dia akan baik-baik saja, minggirlah, aku harus pergi ke penginapan untuk menyelamatkannya." jawab Xiao Tian dengan ketus


Xiao Tian tak bisa bersikap sopan kepada jenderal Feng Long, karena dia sekarang sedang terburu-buru menuju penginapan untuk menemui Dewa Petir.


Melihat sikap Xiao Tian yang sangat emosional, dan mudah marah, jenderal Feng Long pun menyingkir dari hadapan Xiao Tian dan membiarkan Xiao Tian melanjutkan langkahnya. Namun sebelum berhasil melangkah memasuki gerbang, Xiao Tian kehilangan kesadarannya, dia pingsan dan terjatuh ke arah belakang hingga membuat tubuh Huang Li yang di gendongnya menimpa tubuh Xiao Tian yang pingsan.


Brukk(Tubuh Xiao Tian terjatuh)


"Ayah!" teriak Kaibo dan Jingmi berlari mendekati Xiao Tian


"Guru!" teriak si Gendut


Mereka mengecek nafas Xiao Tian dengan wajah yang begitu panik, untunglah nafasnya masih terasa, walau detak jantungnya sedikit lebih lemah dari biasanya.


Xiao Tian pingsan, karena telah kehabisan kekuatan jiwa dan ki, dia telah menguras banyak energi ki dan kekuatan Jiwa karena mempraktekkan akupuntur terlalu banyak, jika hanya akupuntur biasa, dia tak akan kehabisan energi, dia menggunakan kekuatan jiwa dan energi Ki untuk mempercepat efek pil pemulih tubuh, Xiao Tian berusaha begitu keras tanpa memikirkan kondisinya, tapi karena sudah putus asa dia pun berhenti sebelum kekuatannya habis total, sayangnya kekuatan yang tersisa hanya mampu membuatnya sadar dalam beberapa menit saja.


Jenderal Feng Long mengecek tubuh Huang Li yang menindih Xiao Tian, dia terkejut karena tak merasakan tanda kehidupan dari Huang Li, nafas, detak jantung, denyut nadi, sekuanya tak dapat dirasakan, setelah mengetahui kondisi Huang Li diapun menatap kearah si Gendut. Si Gendut menggelengkan kepala, mengisyaratkan kalau Huang Li tak bisa diselamatkan.


Wajah Jenderal Feng Long terlihat sedih melihat ekspresi si Gendut, dia mengangkat tubuh HuangLi, dan menyuruh si Gendut menggendong Xiao Tian.


Sambil menggendong Xiao Tian, si Gendut berkata." apa yang akan anda lakukan dengan tubuh Huang Li?"


"Aku akan membawanya ke istana kerajaan dan meletakkan tubuhnya di sebuah kamar yang nyaman, meski dia sudah tak bisa diselamatkan, kita tak boleh mengubur atau membakar tubuhnya tanpa sepengetahuan Xiao Tian, tunggu hingga Xiao Tian sadar, baru kita putuskan, apa yang harus kita lakukan terhadap tubuh Wanita ini." jawab Jenderal Feng Long


"Terimakasih karena mau membantu kami, tapi anda tak perlu membawanya ke istana, kita cukup pergi ke penginapan kami saja." sambung Gendut


"Maaf ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi raja memintaku untuk membawa kalian ke istana untuk bertemu raja."


"Lagipula Xiao Tian juga ingin keistana untuk melihat kondisi Su Yan, jadi tolong ikuti aku ke istana ya." ucap Jenderal Feng Long


"Ayah, apa ayah baik-baik saja?"


"Ayah kan baru sadar, ayah tak perlu menggendong wanita itu, biar aku yang menggendongnya." ucap Feng Ling sambil menggendong naga hitam versi kadal


"Feng Ling er, jangan khawatir, ayahmu ini sudah sembuh total, ayah masih sangat kuat, bahkan ayah bisa menggendong naga jika perlu, ngomong-ngomong sejak kapan kau memelihara kadal?" tanya Feng Long


"Ini adalah peliharaan Xiao Tian, aku menggendongnya karena terlihat imut." jawab Feng Ling


Setelah berjalan melewati gerbang, mereka disambut penduduk yang menunggu di dalam gerbang.


"Hidup jenderal!"


"Hidup Jenderal!" ucap para penduduk


"Berhenti memanggilku dengan bangga, pahlawan yang sebenarnya bukanlah aku, tapi para pemuda yang ikut bersamaku, mereka melawan jutaan iblis dan berhasil mengusir mereka tepat sebelum matahari terbit, jadi berhenti menyanjungku dan sanjunglah mereka!" sambung jenderal Feng Long


"Hidup pahlawan!"


"Hidup sekte gunung api!"


"Hidup pahlawan!" para penduduk mengawal Jenderal dan kelompok Xiao Tian menuju ke istana sambil bersorak memuji keberanian mereka


#Istana kerajaan Angin


"Yang mulia, Jenderal Feng Long dan para penduduknya telah datang menuju istana sambil menggendong seorang gadis yang terluka." ucap penjaga istana


"Baiklah ijinkan mereka masuk." jawab raja kerajaan angin


"Baiklah, kalau begitu hamba undur diri." sambung penjaga istana


"Jenderal Feng Long dan rombongannya mulai memasuki istana... , semuanya berikan hormat kalian." ucap penjaga istana


para prajurit istana berbaris menyamping, mereka berdiri di samping karpet merah yang terurai panjang dari pintu hingga singasana raja, ketika jenderal Feng Long dan rombongannya sampai, semua prajurit memberi hormat, mereka membungkukkan badannya ketika Jenderal Feng Long melewati mereka.


"Wah penyambutan disini luar biasa ya." ucap si Gendut


"banyak orang yang memberi hormat." ucap Kaibo


"Apa mereka semua orang baik?" tanya Jingmi


"Tenang saja mereka orang baik." sambung si Gendut


"Ayah Xiao Tian tak akan apa-apa kan?" tanya Jingmi


"Tenang saja, ayahmu pasti akan segera sadar, disini ada tabib istana yang bisa membantu menyembuhkan ayahmu, kau cukuo berdoa saja ya." sambung Jenderal Feng Long


"Ehm." jawab Jingmi


"Wah imutnya, aku jadi ingat ketika Feng Ling er masih kecil." pikir Feng Long sambil menatap Jingmi


"Oh iya, maaf ya Feng Ling Er, untung sudah kau ingatkan." sambung Jenderal Feng Long


Si Gendut menatap kearah raja yang duduk jauh di singgasa, Wajahnya terlihat galak, tubuhnya dilapisi zirah berwarna emas dan tangan kanannya memegang tombak berwarna emas dengan ukiran naga di batang tombaknya.


Jenderal Feng Long berjalan menghadap raja sambil menggendong Huang Li, Zirah bagian depannya terlihat hancur terbakar, sedangkan Zirah bagian belakang masih utuh, dia tak sempat mengganti busana, karena khawatir akan kondisi Xiao Tian, sedangkan tombak kesayangannya dipegang oleh Feng Ling.


"Salam yang mulia." ucap Feng Long sambil menundukkan kepala


melihat Jenderal Feng Long membungkukkan kepala, Kaibo , Jingmi dan si Gendut pun ikut menundukkan kepala.


"Siapa gadis itu?"


"Saat penjaga bilang kau menggendong gadis terluka, kupikir kau sedang menggendong putrimu, aku sampai berlatih mencari ucapan yang cocok untuk menghiburmu."


"Aku lega ternyata yang terluka bukan putrimu, tapi aku ingin bertanya, siapa Gadis itu?"


"Apakah dia calon istri barumu?" tanya raja kerajaan Angin


"Enak saja, dia bukan calon ibuku." sambung Feng Ling


"Feng Ling er, jangan begitu, bicaralah sopan kepada raja." sambung jenderal Feng Long


"Habis raja duluan yang memancingku, dia kan tahu kalau aku paling tak suka kalau membahas pengganti ibuku." sambung Feng Ling dengan wajah cemberut


"Pft, melihat Feng Ling cemberut memang yang terbaik." ucap Raja Kerajaan Angin


"Aih apa dia benar-benar raja, kenapa terlihat begitu dekat dengan putrinya Jenderal Feng Long ya?" pikir si Gendut


" Ih sebel deh, bisa tidak kalau paman berhenti menggodaku!" ucap Feng Ling


"Paman?" ucap si Gendut


"Kau pasti bingung ya?"


"Raja kerajaan angin sebenarnya adalah kakakku, dia tak bisa bersikap serius ketika Feng Ling ada disini, itulah yang membuat suasana disini menjadi berubah." jawab jenderal Feng Long


"Ehm, kenapa kau malah mengobrol dengannya?"


"Jawab pertanyaanku, siapa gadis yang sedang kau gendong itu." sambung raja Kerajaan angin


"Maafkan ketidak sopananku Yang mulia, Hamba tak bermaksud mengabaikan pertanyaan darimu, gadis ini adalah murid dari sekte Gunung Api, dia dan 4 orang di belakangku adalah anggota sekte Gunung api, yang berhasil mengusir para iblis, tanpa bantuan para penduduk dan sekte pedang bencana." sambung jenderal Feng Long


"Apa maksudmu dengan berkata tanpa bantuan sekte pedang bencana, apa mereka menolak membantu kalian?" tanya raja kerajaan angin


"Mereka berselisih paham dengan sekte Gunung api, dan pergi keluar kerajaan." jawab Jenderal Feng Long


"Begitu ya, tapi ngomong-ngomong bisakah kau panggil aku kak Feng JuanYun?"


"Berhenti bersikap formal dihadapan Feng Ling er." ucap raja Kerajaan Angin


"Maaf Yang Mulia, sekarang kita di ruang singgasana, status kita tak sama , Hamba tak bisa bersikap tak hormat di hadapan semua orang." jawab Jenderal Feng Long


"Ayolah, meski kita beda ibu, kau kan tetap adikku, jangan begitu, kenapa kau sulit sekali bersikap lebih akrab denganku." sambung Feng JuanYun


"Kita sudahi saja percakapannya, pertemuannya 1 jam lagi, sebelum itu hamba ingin meminta bantuan, bisakah yang mulia memanggilkan tabib istana untuk menyembuhkan luka para pahlawan ini?" tanya Feng Long


"Tentu saja bisa." sambung Feng Juanyun


"Pengawal, panggil tabib istana kemari!" ucap Feng Juanyun


"Baik yang mulia." ucap para pengawal


Xiao Tian dan Huang Li dibawa ke ruang tamu untuk di cek tabib istana, tabib istana hanya bisa menggelengkan kepala saat memeriksa tubuh Huang Li, sedangkan ketika memeriksa tubuh Xiao Tian dia terlihat panik, dan berusaha sekuat tenaga.


"Tubuhnya terlalu lemah, bawakan aku bahan-bahan ini!" ucap tabib istana


Tabib istana kerajaan angin adalah seorang alkemis bintang 3, berdasarkan pengetahuannya, kondisi Xiao Tian begitu parah, jika tak segera ditolong dia akan mati kehabisan energi.


"Tabib chu, apakah mereka baik-baik saja?" tanya Feng Ling


"Untuk gadis yang disana sudah tak bisa diselamatkan lagi, sedangkan pria ini jantung dan nafasnya sudah begitu lemah, jika tak segera ditangani, dia juga akan bernasib seperti gadis disana." ucap tabib Chu sambil melirik kearah HuangLi yang terbaring tak berdaya


"Apapun yang terjadi tolong selamatkan dia!" teriak Feng Ling


"Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Kaibo dan Jingmi


"Tak ada, anak kecil diam saja, biar para orang dewasa yang menanganinya." jawab tabib Chu


Para pelayan diperintahkan mencari bahan yang diminta tabib Chu, mereka berlari kesana kemari mencari bahan yang diminta, karena keadaan yang begitu mendesak.


Setelah begitu lama mencari, para pelayan kembali ke ruang tamu untuk menemui tabib Chu.


"Maafkan kami tabib Chu, bahan yang anda minta semuanya ditemukan kecuali gingseng api, persediaannya sudah habis." ucap salah satu pelayan


"kenapa bisa tidak ada!"


"Itu adalah bahan yang paling penting, kenapa bisa tidak ada kalau begini pria ini tak akan bisa diselamatkan!" bentak tabib Chu


Dalam kondisi yang lemah Xiao Tian secara ajaib membuka mata dan berusaha berbicara.


"Gantikan gingseng api dengan rumput naga, hanya itu yang bisa menyelamatkanku.." ucap Xiao Tian dengan pelan


"Rumput naga hanyalah parasit tak berguna yang tumbuh dimanapun, kenapa kau menyuruhku menggantikan gingseng api dengan rumput itu." ucap tabib Chu


"Aku tak main-main dengan nyawaku sendiri, tambahkan juga akar api naga, itu akan membantu menguatkan efektivitas, dengan menggabungkan kedua bahan itu bersama semua bahan yang ada kujamin kau bisa menyelamatkanku." sambung Xiao Tian


"Tapi, apa kau yakin?"


"Aku tak pernah mendengar kalau.." sebelum menyelesaikan kalimatnya, dia melihat Xiao Tian kehilangan kesadarannya lagi


Karena tak punya pilihan lain, tabib Chu melakukan apa yang dia dengar dari Xiao Tian, dia menyuruh para pelayan mencari bahan yang disebutkan, setelah bahan terkumpul dia pun menyuling obat dengan tungku dan api sedang, setelah setengah jam lebih, akhirnya pil berhasil disuling.


Tabib Chu terkejut akan pil yang baru saja dia ciptakan, dia tak pernah melihat pil yang memiliki efek sekuat pil itu, dia jadi semakin penasaran dengan identitas Xiao Tian.


Tabib Chu menelankan pil itu kemulut Xiao Tian, dan mendorongnya dengan meminumkan air, setelah selang beberapa menit, tubuh Xiao Tian perlahan pulih, nafas dan detak jantungnya kembali normal


"Ini luar biasa!" ucap tabib Chu dengan wajah gembira


"Pertama kalinya aku mengetahui kalau rumput naga memiliki khasiat yang luar biasa, kalau begini dunia medis akan segera berubah." ucap tabib Chu


Xiao Tian perlahan tersadar setelah pingsan begitu lama, dia menatap kearah Huang Li yang masih terbaring tak berdaya.