
Setelah membuat pendekar misterius terluka parah, Dewa petir yang merasuki tubuh Xiao Tian, terbang mengejar naga hitam yang sudah menjauh.
#Jauh dari tempat Xiao Tian berada
"Kak Xiao Tian mana ya?"
"Kenapa dia malah melompat demi menghajar pria itu?" ucap Kaibo
"Tanpa ketua kita tak bisa menghentikan naga ini, sampai kapan kita terbang dengan kecepatam tinggi?" ucap Su Yan
"Xiao Tian apakah kau bisa mengejar kami?" pikir Huang Li
"Naga bodoh!"
"Tolong putar balik!"
"Ayah Xiao Tian tertinggal jauh!" teriak Jingmi sambil memukuli pundak naga
Pukulan Jingmi sama sekali tak bisa melukai naga itu, karena dalam mode raksasa, sisik dari naga itu begitu tebal dan kuat, hanya orang dengan kekuatan jenderal petarung yang bisa melukai naga itu.
Sedangkan teriakan Jingmi tak dapat di dengar naga itu, karena suaranya tersamarkan oleh hembusan angin, angin yang berhembus sangatlah kencang karena naga itu terbang begitu cepat, sedangkan kepala naga itu jauh dari punggungnya, sehingga tak ada suara yang bisa dia dengar, tak perduli seberapa keras pun Jingmi berteriak, naga itu tak akan mendengar.
Kalau Jingmi seorang diri, dia bisa menggunakan teriakan mautnya, tapi itu bisa membuat semua orang di dekatnya tewas, Jingmi tak ada pilihan lain selain berteriak layaknya manusia normal.
Semua orang menatap ke belakang ekor naga, karena berharap Xiao Tian datang mengejar, setelah mununggu lama mereka pun melihat sebuah cahaya kecil terbang menuju ke arah mereka.
"Lihat lah ada cahaya yang menuju kemari, kira-kira apa ya itu?" ucap si Gendut sambil menunjuk ke cahaya itu
"Apa itu pendekar yang tadi?" ucap Su Yan
"Su Yan bodoh, kalau dia pendekar yang tadi, berarti kak Xioa Tian kalah dong!" bentak Kaibo
"Semoga itu adalah Xiao Tian." pikir Huang Li
"Itu pasti ayah Xiao Tian." ucap Jingmi dengan yakin
"Sejak kapan Xiao Tian bisa terbang?" tanya Huang Li
"Kak Xiao Tian pernah terbang saat mengalahkan bandit dulu, dia terbang dan menguasai elemen air dan api, mengingatnya saja membuatku kagum." jawab Kaibo
"Ya benar, Ayah Xiao Tian bisa terbang, dia sangat hebat." sambung Jingmi
Cahaya itu semakin mendekat dengan kecepatan yang sangat tinggi, setelah mereka perhatikan cahaya itu memang Xiao Tian.
Mereka bernafas lega, setelah melihat Xiao Tian kembali dengan selamat, meski mereka memiliki banyak pertanyaan tentang bagaimana cara dia terbang secepat itu, mereka tetap merasa senang melihat Xiao Tian kembali.
Woosh
Xiao Tian berhasil menyusul dan berkumpul kembali dengan teman-temannya, Dewa petir mengembalikan kesadaran Xiao Tian saat dia sudah sampai diatas punggung naga.
Melihat Xiao Tian kembali dengan selamat, mereka sangat bahagia, ingin rasanya memeluk, tapi mereka tak bisa, karena mereka masih di atas punggung naga, yang sedang terbang dengan kecepatan tinggi .
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Xiao Tian
"Harusnya aku yang bertanya begitu, kau membuatku begitu khawatir tahu!" sambung Huang Li sambil meneteskan air mata
"Maaf maaf aku memang salah, tenang saja aku baik-baik saja, untuk sekentara pendekar itu tak akan mengganggu kita lagi." ucap Xiao Tian dengan senyum diwajahnya
"Apa kau berhasil membunuh pendekar itu?" tanya Huang Li
"Entahlah, aku langsung mengejar kemari karena takut tertinggal, aku memang menendangnya dengan keras, dia pasti terluka parah." jawab Xiao Tian
"Harusnya kak Xiao Tian memastikannya dulu, kalau orang seperti dia dibiarkan, kita akan terus dalam bahaya." ucap Kaibo
Xiao Tian melirik ke arah Dewa petir yang ada di samping kanannya, dengan menggunakan telepati, Xiao Tian berkata.
"Apa pendekar itu sudah tewas?"
"Belum, dia hanya terluka." jawab Dewa Petir
"Kenapa kau tak membunuhnya?"
"Kalau dia kembali saat kau tak ada, kami pasti akan tewas." ucap Xiao Tian lewat telepati
"Tenang saja, aku jamin dia akan tewas, akan ada yang membereskannya." ucap Dewa petir dengan wajah santai
"Memangnya siapa yang akan membereskannya?" tanya Xiao Tian
"Itu rahasia." jawab Dewa Petir
"Adeh, aku paling benci dengan rahasia, tapi ya sudahlah, yang penting pendekar berbahaya itu tak akan kembali lagi." ucap Xiao Tian dengan telepati sambil memegang kepalanya karena merasa kecewa tak diberi tahu siapa yang dimaksud dewa petir
"Ayah Xiao Tian kenapa diam saja?"
"Apakah kau pusing?"
"Duduklah, maaf Jingmi tak bisa memeluk ayah, karena naga ini terbang begitu cepat." ucap Jingmi dengan air mata di wajahnya
Xiao Tian berjalan mendekati Jingmi, Xiao Tian dapat berjalan bebas di punggung naga, karena dia tak terpengaruh oleh tekanan angin, dia bisa mengendalikan elemen disekitarnya agar tak mempengaruhi tubuhnya.
Sambil mengelus kepala Jingmi, Xiao Tian berkata.
"Jangan Khawatir, Ayah Xiao Tian tidak apa-apa, Jingmi jangan nangis lagi ya, nanti ayah sedih loh." jawab Xiao Tian dengan senyuman
"Ehm, Jingmi berjanji gak akan nangis lagi." jawab Jingmi sambil menganggukkan kepala
******
Di sisi lain, tepatnya di tempat pendekar misterius jatuh hingga terluka parah, pendekar itu berusaha bangkit, pendekar itu tergeletak tak berdaya karena luka yang begitu parah, dia mencoba berdiri agar bisa pergi dari tempat itu, dia ingin menemui temannya untuk menyembuhkan luka yang dia derita, tapi sebelum berhasil berdiri..
Atmosfir dilingkungan itu tiba-tiba berubah, area itu dipenuhi dengan hawa membunuh yang sangat luar biasa, pendekar itu tak bergerak karena hawa itu, matanya melirik ke segala arah untuk mencari seseorang yang mengeluarkan hawa membunuh.
"Hawa membunuh macam apa ini?"
"Dadaku terasa sesak, apakah itu di tunjukkan padaku atau orang lain?"
"Semoga saja itu bukan hawa membunuh yang di tunjukkan kepadaku." pikir pendekar itu
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, perlahan mendekat dari atas kawah, hanya suara yang terdengar karena pendekar itu berada di tengah kawah yang begitu dalam, kawah yang tercipta dari benturan badannya dengan daratan.
" Hebat sekali, aku tidak tahu kalau Xiao Tian bisa membuat serangan sedasyat ini, bahkan dia bisa membuat sebuah kawah yang begitu dalam, hanya dengan tendangannya." ucap suara misterius
Kalau di dengar dengan baik suara itu adalah suara seorang pria, pendekar itu tak mengenali suara asing itu, hawa membunuh yang dipancarkannya saja bisa membuat pendekar itu sesak nafas, dengan rasa takut yang begitu dalam, keringat dingin mengalir diwajahnya, dia menelan ludah setelah pemilik suara itu terlihat muncul diatas kawah.
Woosh
pria misterius itu melompat kearah pendekar yang tergeletak tak berdaya, setelah dilihat dengan jelas, dia melihat orang berpakaian serba putih, dengan topeng aneh berbentuk iblis yabg menutupi wajahnya, pedang berwarna merah dengan gambar naga di gagangnya, hawa membunuh yang mengintimidasi dan suka menyeret pedangnya ke tanah, melihat ciri-ciri itu pendekar itu gemetar ketakutan.
Dengan wajah yang begitu ketakutan, pendekar itu berteriak. " To.. topeng bencana!"
"Sepertinya kau mengenaliku ya sayang sekali ini adalah akhir darimu." ucap Topeng bencana
"Aku akan melakukan apapun, tolong jangan bunuh aku." ucap pendekar itu
"Sayangnya aku tak memerlukan dirimu."
"Siapapun yang berusaha melukai Xiao Tian, maka dia akan menjadi musuhku, saat kau menjadi musuhku, maka aku akan mengambil nyawamu." ucap topeng bencana
"Ti.. tidak, jangan... !" teriak pendekar itu
Topeng bencana mengeluarkan api biru di tangannya, dengan hawa membunuh yang tinggi, topeng bencana berkata.
"tunggu jangan bunuh aku!" teriak pendekar itu
Duarrr
Topeng bencana membakar pendekar itu tanpa ampun, dia melakukannya untuk melindungi Xiao Tian
"Xiao Tian toling hentikan perjalanan berbahayamu, meski aku terkejut dengan kemampuanmu aku tak mau kau terluka."
"Karena lawan yang kau tantang adalah orang yang jauh lebih kuat darimu." pikir topeng bencana
#Disisi lain tempat Xiao Tian dan naga hitamnya terbang
setelah terbang begitu lama, tiba-tiba saja pergerakan naga sedikit tak beraturan, dia terbang sambil bergetar, naga itu melayang kekanan dan kekiri karena terbawa oleh angin kencang,
Setelah mereka memperhatikan ke depan, mereka melihat sebuah Gurun yang dipenuhi oleh banyak angin kencang dan tornado.
"Tempat macam apa ini?"
"Kenapa banyak sekali tornado yang terlihat." ucap Jingmi
"Sepertinya kita telah mendekati wilayah kerajaan angin. " ucap Su Yan
"Kerajaan angin terkenal kuat karena, benteng mereka tak tertembus."
" Tornado selalu mengelilingi bagian luar kerajaan, tornado itu menandakan kalau kita hampir dekat dengan kerajaan angin." jawab Su Yan
"Wah kau jadi sedikit pintar kali ini." ucap si Gendut
"Kita tak bisa terbang dengan angin sekencang itu, kita terpaksa harus mendarat." ucap Xiao Tian
Xiao Tian dan rombongannya mendarat di siang hari, mereka terpaksa mendarat karena angin dan tornado yang menghalangi jalan mereka.