
Xiao Tian melesat maju bagai tanpa hambatan berkat bantuan kelima klon yang memiliki setengah dari kekuatan penuhnya saat itu. Hingga berhasil memanjat ke atas ekor Blood Chameleon.
Tap!! Sring sring!! Xiao Tian mencoba menebas kulit makhluk yang dia injak, namun pedangnya tak mampu melakukan apapun. Rasanya sama persis seperti saat dia mencoba menggores barrier inti dari Blood Chameleon.
"Menyingkir dari tubuh ayah kami, manusia!" Para kloning blood Chameleon berukuran manusia dewasa terus bermunculan dari lubang lubang besar di kulit Blood Chameleon raksasa.
"Cih, ini benar benar tak ada habisnya," ucap salah satu kloning Xiao Tian dengan kesal.
"Kulit luarnya terlalu keras, sekeras barrier sebelumnya. Bahkan pedang Draconic aurora yang dapat menghancurkan apapun di dunia ini, tak dapat menggoresnya sedikitpun."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Apakah pedang Draconic Aurora ini kehilangan kemampuannya?" Xiao Tian berpikir sembari mencoba menebas kulit luar Blood Chameleon Raksasa.
Disaat dia sedang berada dalam kebingungan, Kaisar Langit muncul seketika di belakang Xiao Tian dan berkata, "Bukan pedangmu yang bermasalah, tapi lawanmulah yang membuatnya terlihat seperti itu."
"Ka ... Kaisar Langit?"
"Sejak kapan anda ... ," Belum selesai bertanya, Kaisar Langit segera membuat lingkaran pelindung agar dia dapat melihat jelas tubuh Xiao Tian dan langsung memotong ucapan Xiao Tian dengan berkata, "Nampaknya seseorang telah menghancurkan pengekang teknik perpindahan ruang, berkat itu aku mampu mengaktifkan teknik teleportasi menuju koordinat keberadaanmu," jawab Kaisar Langit sembari tersenyum.
"Bukankah lebih baik jika kau berteleportasi ke luar barrier dan meminta bantuan yang lain?" tanya Xiao Tian dengan heran.
"Maunya sih begitu, tapi sayangnya barrier yang menyebalkan itu mencegahku untuk mengakses keberadaan diluar sana. Jangankan berteleportasi ke luar, berkomunikasi dengan orang diluar barrier saja susahnya minta ampun. Belum lagi kabut merah tebal ini yang mematikan indra penglihatanku, tanpa pelindung yang kuciptakan, aku mana mampu melihatmu dengan jelas seperti sekarang," Kaisar Langit menghela napas dengan kesal.
"Jadi begitu ya?" tanya Xiao Tian sembari menganggukkan kepala.
"Oh iya, ngomong ngomong apa maksudmu dengan musuhku yang membuatnya terlihat seperti itu?" Xiao Tian kembali bertanya.
"Pedang Draconic Aurora memang dapat menebas segala hal yang berasal dari dunia ini. Maksud dari kata dunia disini adalah alam semesta ini. Tak peduli se-aneh dan sekokoh apapun benda maupun permukaan kulit makhluk hidup di seluruh alam semesta ini, pedang tersebut seharusnya bisa menebasnya tanpa kendala. Fakta bahwa Blood Chameleon berasal dari alam suci yang tidak termasuk dalam alam semesta kita, adalah alasan mengapa pedangmu tak dapat memeotongnya," Kaisar Langit menjelaskan dengan serius.
"Kalau pedang yang ketajamannya bisa memotong apapun didunia ini saja, tak dapat menebas kulit Blood Chameleon raksasa. Lalu apa yang harus kupakai untuk melukainya?" Xiao Tian kembali bertanya dengan bingung.
Wooshh, Dewa Erlang muncul menyusul Kaisar Langit. Dia datang terlambat karena baru selesai menata ulang aura Dewanya yang habis banyak saat membuat barrier untuk melindungi Kaisar Langit. Wajahnya nampak dibasahi keringat karena begitu kelelahan.
"Hosh hosh hosh,"
"Kau kenapa?" tanya Kaisar Langit heran.
#####
Beberapa menit sebelum Dewa Erlang muncul dihadapan Xiao Tian .
Dewa Erlang terus memfokuskan Aura Dewanya untuk mempertahankan ketebalan bola pelindung yang mengurung tubuhnya beserta Kaisar Langit.
Dia begitu fokus hingga tak sadar ketika Kaisar Langit pergi meninggalkannya.
"Uh ... , ini sudah terlalu lama sejak para klon Blood Chameleon berhenti menyerang barrier. Apakah keadaan diluar sudah benar benar aman ya?" pikir Dewa Erlang sembari menahan pelindungnya dengan tampang yang nampak kewalahan karena terus meningkatkan ketebalan serta kekokohan pelindungnya.
Tepat disaat Aura Dewanya sudah hampir terkuras habis, Dewa Erlang menoleh ke belakang untuk meminta Kaisar Langit menyuplai aura Dewa ke tubuhnya. Namun dia dikejutkan oleh ketidak hadiran sang Kaisar yang pergi tanpa perimgatan sedikitpun.
Bingung sekaligus kesal melanda dirinya, namun kekesalannya sedikit mereda setelah melihat kloning Xiao Tian muncul seketika tepat dihadapannya. Dia pun tersadar bahwa teknik teleportasi sudah tidak terkekang lagi, dengan kata lain tenik pelacakan keberadaan makhluk hidup pun dapat berfungsi seperti sedia kala.
"A ... ," belum sempat kloning Xiao Tian menyelesaikan kalimatnya, Dewa Erlang langsung menarik kembali aura Dewanya dari pelindung. Mengecilkannya hingga senyerupai aura tipis yang menyelimuti tubuhnya. Tepat setelah itu, dia pun pergi tanpa peringatan.
####
"Kau kenapa?" tanya Kaisar Langit heran.
Dewa Erlang tak menjawab dan hanya memelototi Kaisar Langit dengan tampang kesal.
"Aku tak mengerti tentang masalah apa yang terjadi diantara kalian, tetapi bisakah kalian akur untuk sebentar saja dan memberitahuku cara untuk mengalahkan Blood Chameleon?" Gumam Xiao Tian sembari menatap kedua orang dihadapannya.
"Ah ... , kulit luarnya mungkin sangatlah keras dan tak tertembus. Tapi tidak dengan bagian dalamnya," Kaisar Langit menoleh ke arah Xiao Tian untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya lebuh penting untuk dijawab.
Tanpa bertanya lagi, Xiao Tian langsung menyadari maksud dari ucapan Kaisar Langit. 'Jika tak bisa ditebas dari luar, maka tebas saja dari dalam,' itulah pikiran yang terlintas di dalam benak Xiao Tian.
Karena pikiran Xiao Tian terhubung dengan pikiran kloning kloningnya, dia dan kelima kloningnya pun saling bertatapan lalu langsung bergumam di dalam hati dengan berkata, "Bantu aku menerobos ke dalam lubang!"
"Dimengerti!" kelima kloning Xiao Tian mengangguk meskipun pelindung milik Kaisar Langit menghalangi pandangan mereka, para kloning Xiao Tian dapat mendengar dan memahami pikiran Xiao Tian karena pikiran yang terhubung.
Wooshh
Sratt sratt, keempat kloning Xiao Tian menebas para kloning Blood Chameleon berukuran Dewasa yang hendak keluar dari lubang lain. Sedangkan satu dari kelima kloning tersebut, langsung menerobos masuk ke dalam salah satu lubang di tubuh Blood Chameleon raksasa terlebih dahulu sembari menusuk dan mendorong masuk, kloning Blood Chameleon yang muncul di lubang yang menjadi target untuk dimasuki.
Sambil menunggu kelima kloning membereskan jalan untuk dia lewati, Xiao Tian berkultivasi untuk menstabilkan energi aura yang dia serap melalui pedang draconic aurora setiap kali menebaskan pedang tersebut ke targetnya. Setelah energinya sudah cukup stabil, dia meminta Kaisar Langit untuk membatalkan pelindungnya, lalu bergegas masuk ke dalam lubang di tubuh Blood Chameleon raksasa. Menyusul kloning pertamanya yang menerobos terlebih dulu.
####
Stab!! Kiiiekk!!! Wooshh Bruakkk!! Tubuh kloning Blood Chameleon terjatuh terlebih dulu menghantam dinding daging yang yang nampak lembek dan dilapisi oleh darah.
Splashh!!! Xiao Tian beserta keempat kloningnya menyusul masuk, diikuti oleh Kaisar Langit dan Dewa Erlang. Kaki mereka menginjak lautan darah yang menggenang di bawah dinding daging dimana mereka mendarat.
Genangan darah yang mencapai mata kaki, dinding daging yang dilapisi kabut merah tebal, selang panjang yang nampak seperti pembuluh darah terlihat mengambang di atas genangan darah dengan ujung selang yang tersambung kepada gumpalan daging yang menyerupai kuncup bunga yang hampir mekar. Dari dalam kuncup bunga yang terbuat dari dinding daging itulah, asap merah serta kloning Blood Chameleon keluar.
"Kkrrrrr," kloning blood Chameleon yang baru lahir mengeluarkan suara geram saat merasakan keberadaan makhluk asing di wilayah mereka.
"Beraninya kalian masuk ke dalam tubuh ayah, para makhluk alam bawah!" suara para kloning Blood Chameleon terdengar menggema di semua arah, sumber suara tersebut tidak lain berasal dari dalam kuncup bunga yang terbuat dari gumpalan daging.
Disaat fokus Xiao Tian dan yang lainnya berpecah ke kuncup bunga yang berbeda, Ujung kuncup bunga bunga yang terbuat dari daging tersebut, menjatuhkan diri mereka secara perlahan, lalu memuntahkan Blood Chameleon yang sudah siap bertarung dari dalam kuncupnya.
Splashhh!!!! Kuncup daging tersebut kembali ke posisinya setelah berhasil melakukan hal tersebut.
"Nampaknya kita harus memusnahkan semua kuncup itu untuk mengakhiri produksi klon Blood Chameleon," ucap Xiao Tian tegas.
"Mataku saat ini tak dapat melihat apapun, hanya bisa merasakan hawa kehidupan. Aku tak begitu memahami detailnya, tapi sepertinya benda yang memiliki hawa kehidupan yang cukup kuat itulah yang membuat kloning Blood Chameleon tanpa henti, bukankah begitu," ucap Kaisar Langit sembari menutup mata. Dia menutup matanya agar dapat fokus membaca hawa kehidupan dan tidak menjadi beban yang merepotkan. Begitu pula dengan Dewa Erlang, yang juga melakukan hal itu.
"Tak hanya klon yang diproduksi dari semua gumpalan daging berbentuk kuncup itu, tapi asap merah yang menyatu menjadi kabut tebal hingga dapat mengganggu indra penglihatan para Dewa juga diproduksi oleh kuncup kuncup itu," tegas Xiao Tian untuk menjelaskan situasinya.
"Aku mengerti," Kaisar Langit dan Dewa Erlang menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
"Karena target kita sudah jelas sekarang, maukah kau lupakan perdebatan kita untuk sejenak?" Kaisar Langit bertelepati terhadap Dewa Erlang.
"Cih, baiklah," Dewa Erlang merubah tubuhnya menjadi kilauan cahaya yang cukup menyilaukan. Saking silaunya, Kaisar Langit bahkan dapat melihat di dalam kabut merah tersebut.
Disaat posisi Dewa Erlang terungkap, Kaisar Langit segera menyedot wujud cahaya menyilaukannya.
Seketika tanda dahi milik Dewa Erlang muncul di dahi Kaisar Langit. Matanya pun berubah warna dari biru menjadi putih menyilaukan. Aura Dewa yang menyelimuti tubuhnya pun ikut berubah, dari emas dengan kilatan listrik, menjadi putih dengan kilatan emas di sekujur tubuhnya.
"Gunakanlah kekuatanku baik baik, jika tidak aku akan mengutukmu melalui mimpi!" Dewa Erlang mengancam melalui pikiran yang telah terhubung dengan Kaisar Langit.
"Iya iya, perhatikan saja kaisar ini memanfaatkan kekuatannya. Kau cukup diam dan tunggulah efek samping dari teknik ini nanti," pikir Kaisar Langit dengan maksud menjawab ucapan Dewa Erlang.
"Cih, setidaknya hibernasi selama seratus tahun lebih baik dari pada terus menyatu dengan pikiranmu," Dewa Erlang mengumpat karena dapat membaca pikiran buruk Kaisar Langit terhadap bibinya.
"Kuharap bibi, maksudku ratu Langit kembali hidup dan menegur pria tua nakal ini," Dewa Erlang mengumpat kesal.