Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 243 : Berkumpul bagian dua


Dewa Petir telah kembali ke tubuhnya. Saat matanya terbuka lebar sebuah aura Dewa mulai terpancar keluar dari tubuh tersebut.


Merasakan aura Dewa yang muncul sekilas tersebut membuat semua orang dipenuhi banyak pikiran. Mereka terkejut bukan main, karena ternyata selama ini terdapat sosok kuat yang mendukung pangeran Xiao Tian tanpa disadari oleh semua orang. Itu menjelaskan perilaku pangeran Xiao Tian yang terkadang terciduk berbicara sendiri saat sedang mandi atau berlatih di ruang pribadinya.


Ketika Dewa Petir baru membuka matanya, salah satu siluman rusa beserta salah satu perwakilan siluman harimau masuk ke ruang singgasana dengan wajah yang terlihat panik.


"Kenapa kalian berlari dengan tampang panik seperti itu?"


"Apakah terjadi sesuatu diluar sana?" tanya Xiao Tian sambil menatap perwakilan siluman rusa.


"Ampun yang mulia, bukan maksud kami mengganggu pertemuan keluarga kerajaan dengan para Dewa. Kami kemari untuk melapor bahwa jenderal Huang Cheng beserta pasukannya sedang diganggu oleh para siluman rubah merah dengan menjebak kesadaran mereka ke dalam alam ilusi."


"Kami berusaha menjelaskan bahwa jenderal Huang Cheng bukanlah musuh, tapi mereka menolak untuk melepaskan jenderal Huang Cheng beserta prajuritnya."


"Kami mencoba melawan tapi mereka malah menyerang tuanku, saat ini tuanku beserta para siluman rusa yang lainnya sedang bertarung dengan siluman rubah merah untuk mencegah mereka bertindak terlalu jauh."


"Meski para siluman harimau ikut membantu, kami tak akan bisa menghentikan para siluman rubah merah. Karena kekuatan kami benar benar seimbang."


"Tolong pergilah ke gerbang istana, untuk menghentikan perang saudara ini. sebelum ada korban berjatuhan," ucap siluman rusa sambil memberi hormat.


Mendengar penjelasan siluman rusa, Xiao Tian langsung terlihat kesal. Dia tak menyangka kalau menjadikan siluman rubah merah sebagai penjaga gerbang bisa membuat kekacauan. Dia mengepalkan tangannya begitu erat, lalu menghentakkan kedua tangan tersebut ke pegangan kursi untuk melampiaskan amarah.


"Rubah rubah sialan itu, tak bisakah mereka membedakan mana yang musuh dan mana yang teman," ucap Xiao Tian dengan kesal.


Saat berencana pergi untuk menghentikan pertarungan tak berguna, Taiwu langsung memberi melangkah maju sambil memberi hormat.


"Biar aku yang mengurus mereka pangeran," ucap Taiwu sambil memberi hormat.


"Apa kau yakin bisa mengurusnya sendiri?" tanya Xiao Tian sambil menatao Taiwu.


"Berkat bimbingan Dewa Kera sebelumnya, kultivasiku jauh diatas para siluman rubah itu. Kalau untuk mengurus keroco seperti mereka, cukup aku saja yang turun tangan," jawab Taiwu sambil tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu, pergilah," ucap Xiao Tian sambil menatap Taiwu.


"Baik pangeran," ucap Taiwu sambil mengaktifkan jurus teleportasi.


Salah satu jurus yang diajarkan Wukong, merupakan jurus teleportasi jarak pendek. Teleportasi jangka pendek bisa memindahkan penggunanya ke tempat yang dia lihat secara langsung, atau tempat yang telah dia tandai sebelumnya. Untuk menandai sebuah tempat, seorang pengguna jurus harus mengunjungi tempat tersebut terlebih dulu.


Karena Taiwu telah menandai gerbang istana, dia bisa pergi ke gerbang tersebut dalam hitungan detik dengan sihir teleportasi.


#Gerbang istana


Jenderal Huang Cheng dan pasukannya tenggelam dalam alam ilusi, mereka terkena sihir ilusi karena para siluman rubah menatap mata mereka disaat mereka lengah.


Tubuh fisik mereka berdiri tegak dengan tatapan yang terlihat kosong. Itu semua terjadi karena roh mereka terjebak dalam alam ilusi yang cukup memberikan trauma.


Mereka tak dapat melihat para siluman rubah merah yang sedang bertarung dengan siluman harimau dan siluman rusa.


Ketika para siluman masih bertarung satu sama lain, Taiwu muncul di tengah tengah kedua raja siluman yang sedang bertarung.


Raja siluman rubah merah dan raja siluman rusa yang saat itu sedang melancarkan pukulan dipukul mundur oleh Taiwu tepat saat tinju mereka hampir berbenturan.


Bukk bukk


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Berhentilah membuang buang tenaga dengan bertarung satu sama lain!"


"Ini perintah dari maharaja Xiao Tian, pemimpin tiga bangsa siluman," ucap Taiwu sambil mengeluarkan tekanan qi yang cukup besar.


Mereka langsung menatap Taiwu dengan mata yang terbelalak, kemudian membungkukkan badan secara bersamaan sambil memberi hormat.


Bersamaan dengan membungkuknya semua siluman, jenderal Huang Cheng dan pasukannya tersadar dari alam ilusi.


Hal pertama yang mereka lihat saat itu adalah para siluman rubah merah beserta siluman lain yang belum pernah mereka lihat, sedang membungkuk menghadap Taiwu.


"I ... ini ...," ucap salah satu prajurit keluarga Huang yang kehabisan kata kata karena melihat pemandangan yang cukup sulit mereka percaya.


"Bukankah itu monster yang membantai klan Lin?" bisik salah satu prajurit dengan mata yang terbelalak.


"Kau benar, aku mengingatnya dengan jelas."


"Tapi kenapa mereka membungkuk dihadapan jenderal muda Taiwu?" bisik salah satu prajurit.


"Tak hanya membungkuk, lihatlah baik baik. Para monster itu juga memberi salam hormat."


"Selain itu, ada dua tipe monster lain yang tak kalah mengerikan dari pada monster merah yang membantai keluarga Lin."


"Ini benar benar membingungkan," ucap salah satu prajurit keluarga Huang.


"Kemungkinan besar pembantaian klan Lin ada hubungannya dengan jenderal muda," bisik para prajurit.


Ketika para prajurit sedang berbisik satu sama lain, jenderal Huang Cheng melangkangkahkan kakinya mendekati Taiwu. Meninggalkan kelima prajuritnya yang masih bergosip dengan berbisik satu sama lain.


Melihat jenderal mereka berjalan pandangan yang berfokus ke depan, salah satu prajurit mencoba mencegahnya dengan menggenggam erat lengan jenderal Huang cheng sebelum berjalan lebih jauh.


"Berhentilah melangkah jenderal, lebih baik kita mundur sebelum Taiwu dan ketiga siluman itu menyadarinya," bisik salah satu prajurit keluarga Huang.


Bukannya mendengarkan prajuritnya, dia malah mengeluarkan tekanan qi yang sanggup melepas genggaman prajurit itu secara paksa.


Setelah genggamannya lepas, dia melanjutkan langkahnya mendekati Taiwu.


Taiwu sudah menyadari gerakan jenderal Huang Cheng beserta prajuritnya, namun dia pura pura tak tahu dengan mata yang fokua menatap ke para siluman.


Tap tap tap, setelah merasa sudah cukup dekat, jenderal Huang Cheng menghentikan langkahnya lalu berkata,


"Jenderal muda Taiwu, bisakah kau jelaskan semua ini?"


"Kenapa monster mengerikan yang membantai Klan Lin dan klan Jiang membungkuk di hadapanmu?"


"Dan jelaskan padaku, sejak kapan kultivasimu mencapai seorang Dewa Petarung?" tanya jenderal Huang Cheng dengan kedua telapak tangan yang terkepal kencang.


"Kembalilah ke pos kalian masing masinng," ucap Taiwu sambil menatap para siluman.


"Baik tuan," ucap para siluman sambil memberi hormat. Setelah memberi hormat, semua siluman mengaktifkan teknik teleportasi lalu menghilang dari hadapan semua orang.


"Kenapa kau malah menyuruh para monster itu pergi?"


"Bukankah seharusnya kau membantai "keluarga Huang juga karena mengetahui rahasiamu ini?"


"Diammu membuatku memikirkan banyak hal, apa kau tahu itu?"


Jenderal Huang Cheng berpikir kalau Taiwu selama ini hanyalah berpura pura lemah dan menyembunyikan kultivasinya. Karena peningkatan kultivasinya terlalu tak wajar. Benar benar melebihi bayangannya.


Dia juga berpikir kemungkinan Taiwu sedang melakukan penghianatan dengan membantai satu persatu klan kuat yang merupakan bagian dari kerajaan petir.