
Meteorit raksasa menghantam daratan dan beberapa meter lautan. Tepat sebelum meteorit tersebut mengenai mereka, Dewa Petir menteleportasikan semua orang hingga berada ribuan kilometer di atas permukaan bumi.
Saat itu posisi tubuh Xiao Tian berada di depan yang lain. Sedangkan Su Yan, putri Jia Li dan si Gendut, secara berurutan berada di belakang punggung Xiao Tian. Su Yan di sebelah kanan, putri Jia Li di tengah tengah, dan si Gendut di sebelah kiri. Mereka menyentuh punggung Xiao Tian karena tak ada pilihan lain selain percaya pada ucapannya.
Meski berada di jarak yang cukup aman, mereka tetap merasakan dampak dari gelombang ledakan dahsyat meteorit tersebut.
Demi melindungi semua orang, Dewa Petir menciptakan aura pelindung agar tak terhempas hembusan angin yang kencangnya tiada tara.
Hembusan angin yang tercipta dari ledakan meteorit raksasa begitu kencang hingga menerbangkan awan awan di sekitar mereka.
Dan menciptakan sebuah suara hembusan yang begitu berisik.
Wuushshhhh
Dewa Petir hanya bisa melindungi tubuh serta awan yang menjadi pijakan semua orang dari dampak hembusan angin.
Itupun jika semua orang masih menyentuh punggung Xiao Tian yang masih dia rasuki.
Agar tak ada yang terbawa hembusan angin, dia memperingatkan semua orang dengan berkata, "Terus sentuh punggungku jika kalian ingin selamat. Aku tak bisa menciptakan pelindung yang berskala besar karena harus menyimpan tenaga untuk musuh musuh berikutnya."
"Tolong tetap sentuh punggungku sebelum aku menyuruh kalian melepaskannya. Jika kalian tidak mau menurutinya, kalian akan terbawa hembusan angin lalu jatuh dari ketinggian ribuan kaki di atas permukaan bumi!"
"Ba ... baik," ucap semua orang secara bersamaan.
Selain Xiao Tian yang dirasuki Dewa Petir, semua orang menutup mata mereka sambil menyentuh pungung Xiao Tian.
Tanpa mereka sadari, tubuh mereka gemetaran karena merasa sedikit takut.
Saking kencangnya dampak ledakan angin yang sedang berhembus ke atas langit, tak ada satupun yang berani membuka mata mereka kecuali Dewa Petir yang sedang merasuki tubuh Xiao Tian.
Setelah suara hembusan angin menghilang dari telinga semua orang. Mereka membuka mata secara perlahan.
"Apakah anginnya sudah berhenti?" tanya si Gendut sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Ya anginnya sudah berhenti, kalian sudah boleh membuka mata kalian. Tapi jika kalian takut akan ketinggian, kusarankan agar jangan melihat kebawah," jelas Dewa Petir menggunakan mulut Xiao Tian.
Karena sudah biasa terbang menaiki naga hitam dengan ketinggian ribuan kaki, mereka semua memberanikan diri untuk menatap daratan.
Semua orang terkejut bukan main setelah melihat dampak yang tercipta dari ledakan meteorit raksasa.
Ledakan tersebut menciptakan sebuah lingkaran jurang yang dalamnya tak bisa mereka kira. Saking dalamnya jurang tersebut, air laut terhisap masuk ke dalam kurang sehingga menyeret beberapa leviant kecil yang masih selamat dari dampak ledakan meteorit.
Saking kencangnya arus air laut yang mengalir ke dalam jurang raksasa, para leviant kecil yang telah berenang cukup jauh ikut tertarik masuk bersamaan dengan arus air laut.
"Benar benar teknik yang mengerikan," ucap Putri Jia Li dengan mata yang terbelalak.
"Jika kita terlambat sedikit saja mungkin kita akan hancur berkeping keping," ucap si Gendut sambil menatap ke bawah.
"Jika kita terlambat berteleportasi, tubuh kita tak hanya menjadi berkeping keping. Tapi lenyap tanpa sisa seperti mayat para pembasmi iblis yang telah menghilang karena terhantam langsung oleh meteorit tersebut."
"Gelombangnya ledakannya saja bisa sampai terasa di tempat kita, benar benar jurus yang mengerikan," sambung Su Yan dengan wajah yang membiru.
"Ngomong ngomong sampai berapa lama kita harus berada di atas awan?" tanya si Gendut sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Sampai lautan menjadi kering dan para bangsa Leviant menghilang dari hadapan kita," jawab Dewa Petir dengan memakai mulut Xiao Tian.
"Menunggu laut kering?"
"Meski jurang yang tercipta terlihat cukup besar. Menunggu lautan yang terhubung hingga memutari seisi daratan elemen mengering, tetap saja agak berlebihan," sambung Su Yan sambil mengerutkan dahinya.
Ketika Dewa Petir ingin menanggapi ucapan Su Yan, si Gendut memotong pembicaraan dengan berkata,
"Bukannya itu mustahil?"
"Dari mana kau tahu kalau jurang raksasa itu bisa menguras habis seisi lautan?"
Belum sempat Dewa Petir menanggapi ucapan si Gendut, Su Yan memotong pembicaraan dengan berkata,
"Karena dia seorang Dewa!" sambung Su Yan sambil menatap si Gendut.
"Haih, kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Tanyakan saja padanya secara langsung."
"Aku hanya mengatakan apa yang kuketahui! Mau percaya atau tidak, itu terserah kalian!" sambung Su Yan dengan nada kesal.
"Bisakah kalian diam dan biarkan aku menjawab pertanyaan kalian satu persatu!" ucap Dewa Petir dengan kesal. Dewa Petir mengeluarkan tekanan roh yang cukup kuat untuk membuat semua berhenti berbicara.
"Ba ... baik," ucap si Gendut dan Su Yan.
"Akan kujelaskan rinciannya,"
"Ledakan dari meteorit tersebut menciptakan sebuah lubang hitam yang menghisap segalanya."
"Posisi lubang hitam itu berada jauh di dasar jurang sehingga hanya aku yang bisa melihatnya," jelas Dewa Petir menggunakan mulut Xiao Tian yang masih dia rasuki.
"Ukurannya dua ratus kali lipat dari ukuran manusia dewasa. Aku sangat mengenal sihir terlarang itu, seingatku itu adalah sihir kuno yang telah lama menghilang dari alam semesta kedua."
"Jadi wajar saja kalian tak mengenali jurus macam apa itu. Sambil menunggu air laut terkuras habis, kita manfaatkan saja situasi ini untuk istirahat."
"Mumpung kalian sudah mendengar identitasku sebagai Dewa, aku bawa saja kalian ke istana langit," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
"I ... istana langit?"
"Tu ... tunggu!"
"Memangnya di langit ada istana?" tanya putri Jia Li dengan mata terbelalak.
"Tentu saja ada, tapi kalian tak akan menemukan istana langit tanpa bimbingan para Dewa. Karena alam kami dengan alam manusia sangatlah berbeda. Persiapkan diri kalian, tetaplah berpegangan agar tak terjatuh ke daratan. Satu ... dua ... tiga ... !"
Setelah Dewa Petir mengucapkan kata tiga, semua orang langsung diteleportasikan ke wilayah istana langit.
Hal pertama yang dilihat oleh semua orang adalah sebuah istana emas yang begitu megah. Yang dikelilingi oleh beberapa prajurit surga. Para prajurit disana memancarkan aura Dewa yang begitu kuat. Mereka memakai jirah sambil memegang tombak perak yang menyilaukan mata.
Melihat Xiao Tian dan teman temannya muncul di wilayah istana langit, para prajurit surga langsung mengepung dan menodongkan tombak mereka ke arah Xiao Tian dan kawan kawannya.
"Katakan siapa kalian, dan bagaimana bisa manusia seperti kalian berada disini!" bentak para prajurit surga.
Belum sempat Dewa Petir merespon ucapan para prajurit surga, Kaisar Langit muncul dari dalam istana dan berteriak dengan begitu lantangnya,
"Turunkan senjata kalian!"
"Apa kalian tak bisa merasakan aura Dewa Petir dari dalam pemuda itu!"
Para prajurit surga menarik kembali tombak mereka lalu menempelkan ujung tombak yang tumpul ke daratan awan.
"Ampun yang mulia, aku tak bermaksud bertindak lancang dengan membawa para manusia kemari. Sebenarnya aku ... ," belum sempat Dewa Petir menyelesaikan kalimatnya, Kaisar Langit mengangkat telapak tangan kanannya seperti seseorang yang ingin menghentikan sesuatu.
"Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu apa maksud kedatanganmu kemari. Masuklah ke dalam istana, akan kubantu kau menghilangkan sihir penyegel relik di tangan muridmu itu," ucap Kaisar langit sambil menatap tubuh Xiao Tian.
"Baik yang mulia," jawab Dewa Petir sambil memberi hormat.
"Kalian boleh melepas tangan kalian dari punggung muridku, untuk sementara kupinjam tubuhnya karena harus membawanya ke dalam istana langit," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
Setelah semua orang melepaskan tangan mereka dari punggung Xiao Tian, Dewa Petir berjalan masuk ke dalam istana langit mengikuti Kaisar Langit yang berjalan lebih dulu.
Ketika baru berjarak beberapa langkah dari tubuh Xiao Tian, putri Jia Li menghentikan langkah Dewa Petir dengan berkata,
"Tunggu!"
"Bisakah kami ikut masuk ke dalam istana langit?" tanya putri Jia Li sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Maaf, kalian tak boleh masuk. Bersenang senanglah di luar istana karena kita akan kembali ketika seluruh lautan yang mengepung daratam elemen telah mengering," jelas Dewa Petir sambil menghentikan langkahnya.
Setelah semua orang mengerti, Dewa Petir melanjutkan langkahnya menuju istana langit.